
Michael yang mendengar penuturan gadis itu mendadak salah tingkah, ya cintanya pada Jessica memang kandas sebelum berlayar. Dia keburu mendapat seseorang yang berhasil merebut perhatiannya, ketimbang mengejar cintanya yang sudah pergi keluar negeri.
"Dasar anak kecil! Tidak menyadari kesalahan sendiri malah dengan gampangnya membuat masalah lagi," kata Martin merasa ilfeel dengan gadis di belakangnya itu.
"Asal om tahu, jika tidak ada wanita itu aku yang bakal jadi istri Kak Michael. Dia sampe ngejar aku ke bandara dan gara-gara wanita itu jugalah akhirnya kami tak bertemu."
Sudah terlanjur membuat dirinya malu, Jessica terus berusaha membela diri untuk menghindari hukuman itu.
"Kalo kamu yang bakal jadi istrinya Michael sudah dari dulu itu terjadi. Pokoknya sekarang, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" ucap lelaki itu.
"Kak, tolong aku! Bagaimana dengan kuliahku? Lalu apa kata mamih sama papih juga? Kakak tahu kan sifat mereka seperti apa?" rengeknya melihat Michael lewat kaca spion.
Michael masih terdiam fokus menyetir, meski pikirannya melayang entah kemana. Dia pun dilema, kesalahan Jessica memang fatal tapi dalam hatinya ia tak tega membiarkan gadis itu dipenjara.
"Jangan dengarkan dia! Cepat ke kantor polisi!" suruh Martin tegas.
"Om, saya janji bakal ngelakuin apa aja perintah Om Martin tapi tolong jangan bawa saya ke polisi," rengeknya lagi dengan menelungkupkan kedua tangannya.
Air mata Jessica sudah menganak sungai ketika mobil yang ditumpanginya memasuki halaman kantor polisi.
"Dad,-"
"Stop! Daddy tidak mau dengar apa pun cepat bawa dia," ucapnya memotong perkataan sang anak.
Ia lalu membuka pintu dan berjalan lebih dulu menuju kantor yang tampak sepi itu.
"Kak, tolong maafin aku, jangan bawa aku ke dalam!" seru Jessica histeris ia bersujud memeluk kaki Michael erat.
"Bila perlu aku akan bersujud di kaki Kak Hanna, aku akan lakuin apa pun yang kalian mau." Suara Jessica bertambah memelas, membuat batin Michael semakin tersiksa.
Senja di cakrawala memancarkan guratan orange memenuhi langit sore itu. Sungguh hati pria itu dibuat bimbang, sebuah rasa yang dulu dipendamnya mendadak muncul kembali.
Ia mengangkat pundak gadis itu, jarinya perlahan memegang pipi dan menghapus air mata yang mengalir deras.
"Kamu ikutin saja prosedur hukum ini, nanti Kakak akan usahakan untuk membebaskanmu. Tahu sendiri kan bagaimana om Martin?"
"Nggak mau Kak, aku nggak mau dipenjara!"
Jessica berhambur ke pelukan Michael dan kembali menangis di dada bidangnya.
Martin yang melihat itu geleng-geleng kepala, Jessica dan Michael memang cukup dekat. Karena dia sering melihat mereka bersama Laura hangout bareng.
Lalu pria paruh baya itu mengirimkan video rekaman cctv kepada kedua orang tua Jessica.
"Cepat Michael!" teriaknya.
"Kamu percaya deh, nanti aku bakal ngomong ke orang tuamu untuk membebaskanmu." bujuk Michael.
Ia juga tak sanggup melawan keputusan ayahnya, terlebih karena ia juga sedang merasa sedih karena kehilangan calon anak pertamanya. Anak yang bisa menjadikannya lebih kuat untuk mendapatkan perusahaan sang ayah.
"Kalo gitu, Kakak juga pecat satpam bernama Santo itu. Dia berjanji akan menghapus video rekaman itu, bahkan dia juga berani melecehkanku dan menerima uang 25jt dariku."
__ADS_1
"Tapi, dia malah mengkhianatiku dengan tetap mengirimkan video itu ke Om Martin," ucapnya di tengah isakan tangisnya.
"Santo melecehkanmu? Kurang ajar!" serunya seraya mengepalkan tangan.
"Michael!" teriak Martin lagi.
Kini, mata pria itu sudah membulat menatap tajam ke arahnya. Dengan cepat Michael menarik tangan Jessica masuk ke kantor polisi.
Sementara di rumah Jessica, kedua orang tuanya yang baru tiba di parkiran rumahnya langsung putar balik menuju kantor polisi ketika mendapat pesan dari Martin. Perasaan campur aduk antara tidak terima dan pasrah atas kelakuan anak semata wayangnya.
***
Ardi membawa buah-buahan saat berkunjung ke rumah pak Lurah selepas sholat maghrib, ia ditemani Ratna dan Anindira sang cucu.
"Waahh repot-repot bawa bingkisan segala," ucap bu lurah menerima sekeranjang yang berisi berbagai jenis buah itu.
"Nggak repot ko Bu, tadi kebetulan mampir di jalan sebelum kesini." jawab Ratna dengan senyum ramahnya.
"Terimakasih ya, mari masuk silahkan duduk," ajaknya pada keluarga itu.
"Bapak ada Bu?" tanya Ardi yang tak melihat pak Lurah di dalam rumah.
"Ada, nanti saya panggilkan yah."
Wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumahnya.
Beberapa menit kemudian muncullah seorang pria bertubuh tinggi besar masih memakai sarung dan pecinya.
"Maaf Pak, kami mengganggu istirahatnya."
"Oohh nggak papa, santai saja. Ada perlu apa, Pak?"
"Jadi bagini Pak, saya langsung saja ya."
"Ya, monggo-mongo."
"Apakah akhir-akhir ini ada orang yang bertanya tentang saya dan keluarga?"
Pria itu tampak mengerutkan dahinya, berpikir sejenak.
"Seseorang?" tanyanya sembari mengelus jenggot tipisnya.
"Iya, yang bertanya soal tanah Pak Wiyatna mungkin." kata Ardi memancing.
"Oohh iya ada, katanya dia karyawan perusahaan menantu anda. Dia bertanya apakah surat tanah rumah baru Pak Adri sudah jadi. Karena kan katanya mau dijadikan kantor yah? Dia yang akan bertugas mengurus semuanya," jawab Pak Lurah.
Ardi tampak berpandangan sejenak dengan istrinya.
"Iya memang mau dijadikan kantor, di lantai bawah. Lalu, beliau bertanya soal apa lagi, Pak?"
"Apa lagi yah, saya juga lupa Pak."
__ADS_1
"Apa Pak Lurah bercerita atau bertanya soal tanah Pak Wiyatna yang saya tanyakan tempo hari kepada orang itu?"
"Oohh itu, saya cuma titip pesan buat bapak kalo Pak Wiyatna ingin bertemu membahas terkait kesepakatan harga tanah. Memang beliau tidak menyampaikannya?"
"Sebelumnya mohon maaf Pak, apa beliau menyebutkan nama dan pekerjaannya?"
"Iya dia menyebutkan namanya tapi saya lupa, ini ada apa sebenarnya ko saya merasa seperti diinterogasi gini ya?" tanya Pak Lurah yang mulai menyadari.
"Pak, saya maupun anak saya tidak pernah mengirim orang untuk mengurusi sertifikat tanah selain saya sendiri. Dan sepertinya orang itu semacam mata-mata entah dari pihak mana," jelas Ardi.
"Ooh jadi gitu, iya memang agak janggal juga saya perhatikan. Tapi, saya juga benar-benar tidak menyangka kalo ternyata bukan orang suruhan Pak Ardi."
"Yang saya takutkan kedatangannya memang sengaja mengorek informasi. Jadi, saya minta tolong Pak Lurah atau siapapun di kantor desa untuk tidak memberikan informasi apa pun terkait saya dan keluarga saya."
"Iya baik, Pak. In Syaa Allah, kalo sudah tahu begini ke depannya saya tidak akan memberikan informasi apa pun."
"Kalau tidak salah dia juga memberikan tanda pengenal perusahaan menantu anda. Makannya saya percaya kalo dia adalah karyawan yang memang disuruh," lanjutnya.
Dalam hati Ardi membenarkan mungkin saja wanita itu adalah orang suruhan Michael.
"Saya sudah konfirmasi dia tidak mengirim siapa pun," jawab Ardi berbohong.
"Baiklah, saya mohon maaf Pak Ardi jika karena informasi dari saya anda merasa dirugikan."
"Tidak papa Pak Lurah, namanya nggak tahu ya mau gimana lagi. Oh iya Pak, apa besok saya boleh melihat rekaman cctv yang menunjukkan orang tersebut?"
"Ya silahkan, Bapak datang saja ke kantor dan bertemu staf saya besok."
"Baiklah terimakasih banyak, Pak. Sekali lagi saya mohon maaf sudah mengganggu istirahatnya," ucap Ardi seraya bangkit berpamitan.
"Loh ko buru-buru, minum dulu Pak."
"Tidak usah repot-repot Pak, saya permisi nggih. Besok In Syaa Allah saya ke kantor."
"Oke-oke siap."
Mereka pun menaiki motor dan melaju meninggalkan halaman luas itu. Rumah Pak Lurah berada di desa sebelah, sehingga jaraknya tidak terlalu jauh.
"Pak siapa ya kira-kira?" Ratna yang sedari tadi terdiam angkat bicara.
"Entah Bu, Pak Lurah juga mulutnya ember. Harusnya kan dia lebih waspada dan menjaga kerahasiaan terhadap informasi apa pun milik warganya. Apalagi kan orang asing gitu maen beberin aja," gerutu Ardi di sela perjalanannya.
"Lha wong orang itu ngaku karyawan si Michael kan, kita juga kalo ada orang yang tiba-tiba dateng ngaku karyawan Hanna mana bisa tahu?"
"Ya kita memang nggak bisa tahu, tapi kan kita bisa nanya dan konfirmasi dulu ke Hanna terkait orang itu. Sebelum memberikan informasi apa pun."
"Seperti sumpahnya dokter mereka merahasiakan rekam medis pasiennya, bagus itu untuk menghargai dan menjaga data diri seseorang." lanjutnya.
"Istrimu ini disamain sama dokter, yang sekolahnya udah ss-an mana adil to Pak."
"Bukan kamu, tapi Pak Lurah itu lhoo." jawabnya ngeles.
__ADS_1
Bersambung...