
Mereka sampai di depan sebuah butik, deretan baju pengantin terpajang anggun di dalamnya. Hanna berbinar memandang puluhan gaun putih mewah itu saat keduanya memasuki aula tokonya.
"Silahkan tuan, nona ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu karyawannya ramah.
"Eemm, saya ada janji dengan pak Chandra." Hendi celingukan mencari sosok omnya itu.
"Oh bapak Chandra, mari saya antar." Ajak si mbanya seraya mengantarkan mereka berdua memasuki ruangan lainnya.
Benar saja, terlihat Chandra dan Viona tengah melihat salah satu gaun mewah yang dipajang di etalase kaca.
Saat menyadari kedatangan kedua sejoli itu, raut wajah Viona berubah. Dia memandang sinis Hanna, lalu mundur beberapa langkah. Meski begitu, Hanna tetap menyalami mereka bergantian.
"Sepertinya tak perlu ada penjelasan resmi antara kita ya, om, tante." Ucap Hendi sambil menggaruk belakang telinganya merasa canggung dengan situasi ini.
"Ya, sebagai orang tua sudah tugas kami untuk menikahkan kalian. Maka dari itu, tak perlu malu untuk berkata jujur apa pun yang sudah terjadi." Chandra melirik Hendi sekilas.
"Maaf pak, bu sebelum melangkah lebih jauh saya ingin meluruskan sesuatu," ucap Hanna.
"Mba, tolong bisa tinggalkan kami sebentar? Ada beberapa hal penting yang perlu dibahas dulu," pinta Hendi sopan.
"Oh boleh, silahkan. Nanti panggil saja salah satu staff kami jika sudah menemukan pilihan yang tepat." Ujarnya seraya tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka.
"Sebenarnya, memang tak terjadi apa pun di antara kita semalam, Pak." Hanna mulai membuka percakapan setelah suasana hening.
"Hanna, kamu tidak perlu takut dan tidak perlu menutupi sesuatu. Bicara terus terang, anggap kami keluargamu." Chandra menyikut lengan sang istri berharap dia ikut menimpali.
"Kami juga bukan anak kecil yang harus diceritakan gamblang apa yang telah terjadi. Ketidakpulangan Hendi sudah bisa membuat kami menyimpulkan sesuatu. Mungkin bagi kamu bukan apa-apa ya hal seperti itu? Tapi, bagi kami tetap harus ada pertanggungjawaban agar tidak timbul masalah yang lebih jauh lagi." terang Viona.
"Aduuhh, apaan sih tante sarkasnya masih aja belum hilang." gumam Hendi dalam hati.
"Ya memang bukan apa-apa, tapi kenapa gue agak emosi ya denger kata-kata bu Viona." bisik Hanna dslam hati.
"Udah, sekarang kamu fitting baju syukur-syukur ada yang pas jadi nggak harus nunggu lebih lama lagi untuk dirombak." Chandra terlihat memegang sebuah gaun yang diikuti Viona juga tengah menuju satu gaun yang di pojok.
"Kenapa jadi mereka yang antusias nyari gaunnya sih?" batin Hendi heran melihat dua orang itu.
Hanna dan Hendi saling berpandangan, raut wajah mereka tak bisa digambarkan. Antara senang, bingung berbaur jadi satu.
Ddrrttzzz
Drttzzz
__ADS_1
Ponsel Hanna bergetar sedari tadi, ia coba meraih benda pipih di dalam tasnya itu. Hendi melirik was-was ke arahnya. Pikirannya tertuju pada isi pesan Siska.
"Sinta?" bisik Hanna pelan. "ada apa ya dia telpon terus dari tadi?" tanyanya dalam hati. Tangannya menuju sebuah pesan masuk.
"Han, hati-hati sepertinya ada yang disembunyikan Hendi mengenai hubungannya dengan Siska. Tadi gue ketemu dia lagi di lobi kantor, dan lu tau dia nyebut Hendi siapa? CALON SUAMI!" tulis Sinta.
"Coba yang ini." Viona menyodorkan satu gaun ke Hanna membuatnya terlonjak.
"Bu, pak maaf. Saya rasa perlu menghubungi kedua orang tua dulu sebelum melangkah lebih jauh." pinta Hanna sopan.
"Udah nanti biar saya yang hubungi, toh nanti kita akan ke sana kan untuk minta doa restu." ucap Viona jutek.
"Maaf, saya tidak bisa seperti ini. Pernikahan itu sakral dan saya ingin mereka tau dan kenal dulu pak Hendi. Terlebih ini adalah pernikahan kedua bagi saya, jadi harus benar-benar dipikir secara matang." Hanna menatap mereka bertiga bergantian.
"Gue kira dia bakal nurut aja dan lonjak bahagia dengan semua ini," ucap Viona dalam hati.
"Tapi nggak papa kan kita fitting dulu, Hanna." Hendi yang mulai curiga melihat gelagat Hanna berubah setelah melihat ponselnya tadi buka suara. Tangannya memegang pundak Hanna meyakinkan.
Hanna terdiam, "ya gue juga yakin ada sesuatu yang ditutupi Hendi. Perihal 2 cup minuman di jok belakang dan beberapa helai rambut di dalam mobil dia pun, belum sempat gue tanyain." gumamnya dalam hati.
"Sebaiknya kita tidak perlu terburu-buru ya kan, Hen? Toh, di antara kita juga belum ada bahasan mau seperti apa konsep pernikahan ini." Ucap Hanna memandang penuh isyarat pada Hendi.
"Kamu pilih dulu salah satu, besok kita akan ke rumah kedua orang tuamu," ucap Chandra sambil menggaet tangan istrinya mengikutinya.
"Aku rasa mereka malu buat ngomong urusan ranjang deh, pih." ujar Viona setelah mereka berdiri agak jauh dari sejoli itu.
"Ya, Papi juga nebak gitu."
"Tapi, Hanna ini sepertinya wanita baik-baik ya? Nyatanya dia nggak langsung setuju aja dinikahkan sama Hendi, pih? Tapi, kenapa dia nggak mau ngakuin apa yang terjadi dua malam mereka tidur bersama yah. Atau jangan-jangan emang udah biasa kali yah?"
"Udah deh, mami jangan mulai. Pokoknya yang kita lakuin sekarang adalah, menjaga martabat keluarga dan juga reputasi bisnis kita." terang Chandra.
"Nggak bagus juga kan kalo ada yang melihat Hendi keluar dari kamar kostan Hanna, lalu dia lapor ke media. Headline yang muncul pasti, CEO kepergok meniduri sekertarisnya!" imbuhnya memandang mereka berdua yang saat ini sudah mulai memilih sebuah gaun.
"Udah deh Han, kita turuti dulu mereka biar diem. Nanti setelah itu kita pelan-pelan jelasin ke mereka bahwa nggak perlu buru-buru."
"Ya udah deh, aku bakal pilih baju yang ukuran besar supaya mereka butuh waktu lama untuk menjahitnya sesuai ukuranku." Ucapnya seraya berjalan memilih baju yang berderet indah di depannya.
Setelah memilih salah satu gaun, dia memanggil pelayannya untuk mencobanya. Dan benar saja, ukuran itu tidak ready yang sesuai dengan tubuh Hanna. Si mbanya pun mengukur tubuh mungil Hanna.
Selang satu jam lebih, semuanya selesai.
__ADS_1
"Jangan lupa untuk menambahkan bordiran inisial kami yah?" pinta Hendi pada wanita yang tadi mengukur Hanna.
"H & H?" tanyanya memastikan
"Betul sekali." Senyum sumringah tersungging dari bibir keduanya.
"Sebentar lagi, tugas om akan selesai Hendi. Kau akan memasuki gerbang kehidupan yang sesungguhnya," bisik Chandra dalam hati.
Hal ini sudah lama dinantikannya, sesuai janjinya pada sang kakak bawha dia akan mendampingi keponakannya itu hingga menikah dan mempunyai keluarga baru.
"Om balik kantor dulu yah, kalian jangan lupa ada meeting sama perusahaan Gemilang grup kan?" katanya kemudian.
Deg! Hati Hanna tersentak. Ah, dia malas harus bertemu mantan suaminya lagi. Terlebih, kejadian malam itu di kostan membuatnya terus terngiang perkataan Ansell.
"Baik, Pak." Jawab Hendi dan Hanna bersaman.
Setelah kepergian bosnya, Hanna melirik Hendi yang tengah sibuk dengan ponselnya. Mereka duduk di sofa untuk istirahat dan meminum lemon tea yang disuguhkan pelayan toko.
"Aku mau nanya sesuatu boleh?" tanya Hanna hati-hati.
"Nggak boleh! Sebelum password diberikan," ujarnya tak melepaskan pandangan dari benda pipih itu.
"Password? Password apaan?"
Sedetik kemudian Hendi mengecup bibir Hanna, yang spontan di dorong wanita itu.
"Hey! Kamu apa-apaan? Ini di tempat umum, Hendi!" seru Hanna dengan wajah memerah bak tomat menempel di pipinya.
"Kenapa? Aku rasa tak akan ada keberatan. Mulai sekarang password-nya itu," ucapnya seraya menatap lekat wajah wanita di depannya itu. Rasa cintanya semakin besar, menggebu dalam dadanya.
"Mau nanya apa?" tanyanya kemudian yang melihat Hanna malah menunduk.
"Baiknya aku tanyakan apa engga yah? Kalo nggak ditanyain penasaran banget, tapi takut denger jawaban yang bakal bikin hati sakit." bisiknya dalam hati.
"Eemmm ... dua cup minuman di jok belakang punya siapa aja?" tanyanya ragu.
Deg! Kali ini jantung Hendi yang terhantam sesuatu.
Akankah ia mengatakan semuanya sekarang?
Bersambung....
__ADS_1