Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Pembalasan Dimulai


__ADS_3

Reyhan meremas surat undangan berwarna merah marun berpita emas itu. Tanggalnya sudah terlewat dua hari yang lalu. Hatinya bergejolak, darahnya mendidih melihat nama seseorang yang amat dicintainya bersanding dengan pria lain. Meski surat itu bukan ditujukan untuknya tapi, nama yang tertulis di sana adalah kekasihnya yang selama ini ia perjuangkan.


Di depannya bediri Sinta teman lamanya, yang juga menaruh hati padanya sekian lama. Sampai ia rela mengkhianati sahabatnya demi mendapatkan cinta pemuda ini. Ia diundang di pernikahan Hanna, dari sekian banyak teman kantornya hanya Sinta yang menerima surat undangan itu.


Tapi, yang jadi pertanyaan kenapa undangan itu sudah terlewat dan baru sampai padanya? Saat ia menanyakan pada OB memang surat itu baru saja diantar. Ia berusaha menepis keheranan itu.


"Apa yang gue bilang kenyataan kan? Lu hanya alat buat penyembuhan traumanya, setelah sembuh dia akan memilih pria kaya raya untuk melangsungkan hidupnya."


Pria itu masih terdiam, pandangannya kabur, sejenak pikirannya kalut tak bisa berpikir jernih. Senyum wanita itu masih saja terbayang dalam benaknya. Walaupun perlahan pudar dan menghilang.


Dia merasa ada yang janggal dengan semua ini.


"Kenapa harus Michael?" tanyanya dalam hati.


Lalu, dia menuju mobil dan menjalankannya dengan kecepatan penuh.


"Reeeyy! Reyhaaannn!" teriak Sinta di kejauhan.


Tentu saja hal itu diabaikan Reyhan, membuat gadis itu kesal dan merutuk.


"Setidaknya peluang gue buat dapetin Reyhan semakin terbuka, pekerjaan dan cinta yang lu punya berhasil gue ambil alih, Hanna." gumamnya pelan merasa bangga.


Kling...


Tiba-tiba pesan masuk pada ponselnya.


"Gue nggak berharap lu hadir, makannya baru gue suruh anterin tuh undangan. Gue cuma ngasih kesempatan lu buat menikmati bekas gue. Semoga iri dan dengki di hati lu bisa terpuaskan setelah ini. Gue nggak nyangka aja, persahabatan tulus kita harus berakhir dengan keegoisan lu!"


"Bekas? Dia kira barang apa seenaknya ngatain orang!" gerutunya kesal menghiraukan pesan itu.


Ponselnya kembali bergetar.


"Kenapa pria itu ninggalin lu gitu aja? Padahalkan udah semangat banget ya nunjukkin undangan itu sama dia, kasian."


Sinta celingukan, dia curiga Hanna ada di sekitar situ.


Dia berjalan dengan cepat menuju kantornya yang hanya berjarak beberapa meter di depan. Sejenak tadi hatinya bahagia saat akan bertemu Reyhan, untuk memberi tahu perihal surat undangan itu. Ia pikir pria itu akan legowo dan bersikap baik padanya.


Namun, di luar dugaan dia malah meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.


"Jalan pak," seru seorang wanita memakai kaca mata hitam di dalam mobil sedan mewah yang terparkir tak jauh dari kantor Sinta.


"Baik, Nyonya." jawab supir di depannya dengan hormat.


Suasana kantor terlihat riuh, semua karyawan terlihat santai mengobrol dan tertawa lebar. Bahkan ada beberapa yang tengah makan di meja kerjanya.

__ADS_1


Sudah beberapa hari ini bos mereka tidak ke kantor. Chandra tengah fokus pada pengobatan keponakannya, Hendi. Tentu saja hal itu membuat karyawan merasa bebas, dua orang yang disegani tidak masuk kantor di saat bersamaan. Benar-benar peristiwa langka dalam sejarah kantor mereka.


Sinta tampak tertegun di depan pintu lantai dua, ruangannya dulu bersama Hanna. Sejenak hatinya berdesir, bayangan mereka tertawa bahagia tergambar di sana. Saling meledek, menyinggung dan sesi curhat sering mereka lakukan.


Ia berjalan menuju ruangannya di lantai tiga. Kini, semuanya tampak berubah ruangan kosong itu tampak sepi. Tak ada senda gurau dan tawa, yang ada hanya kerja serius, fokus penuh ketegangan.


"Ah, mikir apa sih gue!" rutuknya mengalihkan fokusnya kepada laptop di depannya.


"Bagaimana pun persahabatan lebih indah dari permusuhan. perdamaian lebih membuat nyaman dibanding peperangan. Dan ketulusan hanya akan datang sekali dari setiap orang."


Kling, ponselnya kembali mendapat pesan.


"Ngomong apa si ini orang?"


Sinta kembali meletakkan ponselnya dan mencoba menghiraukan pesan dari Hanna. Seperti biasa ia membuka surel untuk memeriksa dokumen dan invoice yang masuk.


Tiba-tiba sebuah email masuk atas nama PT. Gemilang Grup. Ia lalu membuka dan membacanya.


"Gue nggak salah baca ini?" tanyanya mencoba mencerna kata demi kata yang terlampir dalam email itu.


"Aduh, gimana ngomongnya sama pak Chandra nih? Dia pasti syok berat kalo gue forward email ini. Tapi kalo gue diemin juga nggak mungkin," lanjutnya.


Keningnya tampak berkerut, ia bingung langkah apa yang akan diambilnya.


"Apa gue coba kesana aja kali yah? Menanyakan langsung maksud email ini? Mereka kan juga bakal kena penalti kalo memutuskan kontrak sebelah pihak."


"Sinta, coba cari dokumen terkait perjanjian kerja dengan PT. Gemilang!" perintahnya.


Raut wajah pria paruh baya itu tampak kusut dan penuh kecemasan. Bahkan ia hanya memakai kaos dan celana jeans tanpa kemeja dan jasnya, apalagi dasi. Sepertinya dia terburu-buru menuju kantor sesaat setelah membaca email yang juga masuk pada ponselnya.


"Baik pak," jawabnya singkat.


"Kamu sudah baca kan emailnya?"


"Sudah pak."


Sinta terus membongkar tumpukan map yang ada di lemari belakangnya. Sementara Chandra sibuk menatap layar laptop untuk mencari file pdf surat perjanjian itu.


"Brengsek si Michael itu! Apa masalahnya dia seenaknya memutuskan kontrak begini!" gerutunya kesal.


Sinta yang mendengarnya hanya melirik sekilas.


"Baru menjabat beberapa bulan saja sudah berani menggoncang perusahan bapaknya! Membuat masalah dengan kita, mau jadi apa dia ke depannya," lanjutnya masih saja mengumpat geram.


"Maaf pak, bukannya perusahaan mereka akan kena penalti jika memutus kontrak sepihak?" Sinta memberanikan diri bertanya.

__ADS_1


"Tentu saja, dia yang harus bertanggung jawab untuk sisa upah karyawan."


"Masalahnya dia berdalih ada beberapa pekerjaan yang hasilnya tidak sesuai dengan perjanjian. Hasil yang mana coba? Selama ini kita sangat teliti untuk memberikan yang terbaik, awas aja kalo sampai ini hanya alibi mereka untuk tidak membayar biaya penaltinya!"


Sinta kembali terdiam, dia mendengar ponselnya bergetar tanda pesan masuk.


"Udah ketemu belum?" tanya Chandra tak sabar.


"Be-belum, pak. Saya juga tidak tahu seperti apa warna map-nya," jawabnya terbata.


"Coba kamu tanya si Hanna, kali aja dia masih ingat."


"Tanya Hanna? Jelas tidak mungkin," bisiknya dalam hati.


"Bagaimana kalo nanya pak Hendi pak? Beliau kan yang megang proyek ini."


"Gimana mau nanya wong dia lagi sakit, Sinta! Kalo bisa ditanya juga udah dari tadi pas saya jagain dia di RS."


"Maaf pak."


"Udah cepet kamu hubungi Hanna!" perintahnya lagi.


"Ah sial! Gimana gue ngomongnya coba," keluhnya dalam hati.


Dengan berat hati Sinta meraih ponselnya, dan menyempatkan untuk membaca pesan tadi.


"Ini baru permulaan, siap-siap aja yah. Lu nikmati deh posisi gue yang sangat lu idamkan itu. Gue yakin si, bentar lagi juga lu bakal hubungi gue buat nanya dokumen itu. Karena apa? Karena pak Chandra sangat ketergantungan orangnya, apalagi sama gue."


Sinta mengepalkan tangannya, ia mengehela napas dalam. Menekan nomor itu.


"Gila, kenapa ni orang jadi nyeremin gini yah." gerutunya dalam hati.


Beberapa detik berlalu, tak ada jawaban. Hingga panggilan berakhir tanpa terjawab.


"Gimana? Nggak diangkat?"


"Enggak pak," jawabnya.


Dalam hati ia lega tak dijawab oleh wanita itu. Karena dia pun merasa belum siap mendengar suara Hanna. Entah kenapa, mungkinkah rasa bersalah mulai menghinggapinya?


"Coba lagi!" seru Chandra.


Kini pria itu mencoba mencari sendiri di tumpukan lemari yang penuh kertas-kertas dan map.


Sinta mencoba menekan kembali nomor Hanna, entah kenapa jantungnya pun berdegup kencang seolah takut ketahuan sesuatu. Seolah rasa bersalah itu memang benar adanya.

__ADS_1


"Ha-halo," sapanya terbata saat panggilan itu terjawab.


Bersambung...


__ADS_2