
Matahari perlahan tenggelam di garis cakrawala barat, memancarkan sinar senja yang semakin lama semakin pudar dan berganti sinar rembulan yang dingin. Daun-daun bergoyang tertiup angin malam, sejuk menusuk sampai ke tulang. Suara binatang mulai terdengar sayup saling bersahutan, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Namun, suasana berbeda di tempat Hendi tinggal. Di kelilingi tembok yang menjulang tinggi nan kokoh. Serta taman bunga yang luas dan penuh warna, terhampar di halaman rumah Pak Chandra bos sekaligus adik dari papahnya itu.
Semenjak papahnya meninggal10 tahun lalu, dia tinggal bersama om dan tantenya, Viona. Dan juga Andrew, anak semata wayang mereka yang masih SMA.
Pak Chandra sudah menganggap Hendi seperti anaknya sendiri. Dia sangat rajin, pekerja keras dan penuh semangat. Tetapi, terlihat pendiam semenjak papahnya meninggal dan ibunya juga meninggal sejak ia masih kecil. Kini, anak berkulit putih dan tampan itu yatim piatu.
Hampir tidak pernah terlihat bermain dengan teman sebayanya. Hari-harinya di isi dengan terus belajar, berbeda dengan Andrew yang tumbuh menjadi pemuda yang arogan dan pemalas. Karena apapun yang ia inginkan, selalu dituruti. Hal itu menjadikannya anak yang manja dan tidak bisa mandiri, tak ayal membuat dia selalu dibandingkan dengan Hendi.
Diusia 28 tahun, baru satu kali mengenal wanita. Tiga tahun lalu. Dan kali ini, hatinya kembali terusik oleh sosok wanita yang membuatnya penasaran. Hingga terus memikirkannya.
Hanna Kartika.
Satu nama yang membuat hari-harinya kembali bersemangat, entah perasaan apa yang dimilikinya. Dia sendiri masih bingung. Yang pasti mulai tertarik apa pun tentangnya dan berniat untuk mengenalnya lebih dekat lagi.
"Hen, sedang apa kamu di sini? Tumben nongkrong di taman."
Lamunannya terhenti, saat teguran Pak Chandra menghampirinya yang sedang termenung di kursi taman.
"Tidak ada om, hanya sedang menikmati pemandangan malam saja." Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Semua persiapan proyek baru gimana? Tidak ada kendala kan?"
"Sejauh ini aman, semua berjalan seperti biasanya, om."
"Lalu, kapan kamu punya istri?"
Mendadak Hendi menoleh dan kembali tertunduk, pertanyaan yang belum pernah dia pikirkan sebelumnya. Yang ada dalam pikirannya adalah bekerja dan berusaha untuk membantu mengembangkan perusahaan milik omnya itu.
"Istri?" gumamnya pelan.
Rasanya masih belum terbersit dalam benaknya.
"Saya belum punya pikiran ke arah situ om." Hendi menjawab seraya memandang rembulan yang terlihat indah dari kejauhan. Tiba-tiba wajah seorang wanita terlihat di sana. Ia berulang kali memejamkan mata serta menggosoknya dan kemudian menggelengkan kepala.
"Ah, gila aku ini. Semua yang kupandang terlihat wajah gadis itu!" Bisiknya dalam hati.
"Hendi, memang, di dalam hidup ini kita tidak bisa membuat semuanya berjalan secara bersamaan. Antara karir dan cinta. Tapi perlu kamu tau, keduanya sangat penting untukmu. Jadi, mau tidak mau kamu harus memikirkannya dari sekarang." Pria bertubuh jangkung itu menepuk pundak keponakannya.
"Cinta? Apa sesungguhnya arti dari cinta Om?"
"Hahahhaa ... kamu itu kaya anak SD, yakin kamu nggak paham soal cinta?"
"Saya ingin mendengar dari yang sudah berpengalaman, om." Hendi terkekeh diiringi tawa dari keduanya.
"Definisi cinta itu sangat luas Hen, dan tergantung dari sisi mana kamu melihatnya. Bagi laki-laki, cinta dan nafsu itu beda tipis."
Hendi mengernyitkan dahinya, mulai tak paham tapi penasaran.
__ADS_1
Obrolan mereka semakin seru terkadang Hendi mengangguk-angguk dan termenung. Sampai larut malam, mereka baru beranjak masuk ke dalam rumah. Hendi menerima banyak pelajaran hidup malam ini.
**********
Pagi sekali Hanna mengantar ibunya dan Anin ke terminal, dia menyuruhnya pulang dan berjanji akan lebih sering pulang dan menelponnya nanti.
"Hanna, kamu harus ingat bekas suami mungkin ada. Tapi, bekas anak itu tidak pernah ada. Seringlah pulang dan tengok anak dan ibumu ini."
"Iya, Mah," jawabnya datar.
"Apa kamu tidak ingin menggendong atau memeluk Anin, Nak?"
"Mah, tolong ngerti kondisi aku, untuk saat ini aku masih belum mampu menerimanya, tolong Mah." pintanya seraya tertunduk.
Bu Ratna terdiam, dia mendadak punya ide untuk ke kamar mandi sebelum mobil berangkat.
"Ya udah, tapi tolong juga, Mamah mau ke kamar mandi titip Anin sebentar ya, bisa kan?"
Wanita setengah baya itu pun, lantas memberikan Anin ke gendongan Hanna dengan cepat tanpa menunggu jawaban darinya.
"Eeeh ... Mamah! Jangan lama-lama donk," Teriaknya.
Hanna menggendong Anin dengan kaku, setelah satu tahun tidak pernah menyentuhnya. Dia menatap anak itu yang masih terlelap, mendadak hatinya sakit ada kerinduan yang terselip di dalam relung hatinya.
Dengan rasa sakit ini jelas ia masih terluka, meskipun sudah berusaha keras melupakan masa lalunya dan melupakan Ansell dalam hidupnya.
Perlahan air matanya mengalir, pikirannya menerawang peristiwa lalu saat pengkhianatan yang dilakukan mantan suaminya itu.
Bu Ratna datang dan duduk di sampingnya.
"Pikirkan dengan kepala dingin semua perkataan mamah, Nak."
Hanna mengangguk dan memberikan Anin kepada neneknya, karena bis sudah siap untuk berangkat.
********
Tepat pukul 7 Hanna sampai di kantornya, matanya sembab karena sepanjang jalan tak berhenti air mata mengalir di pipinya. Kantor masih sepi ketika ia masuk, terlihat Hendi tengah duduk di kursi ruang tunggu sembari membaca koran.
Hanna tak menoleh ke arah Hendi, ia hanya melirik dengan ujung matanya dan terus berjalan menaiki tangga.
"Tunggu ...!" Seru Hendi seraya beranjak dari tempatnya duduk.
Wanita itu terhenti dan menoleh. "iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tawarnya.
Deg! Jantung Hendi seakan berhenti, melihat rambut basahnya terkibas ke belakang. Mendadak ia salah tingkah.
"Saya mau bicara sama kamu. Ada waktu pagi ini?" Dengan gaya sok cool dia memberanikan diri mendekatinya.
"Tumben amat ini orang ada suaranya, kesambet apa yak?"Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Saya, Pak?" Tanyanya ragu.
"Iya kamu, namamu Hanna Kartika kan?"
"I-iya, Pak."
"Oke, saya tunggu sekarang di ruangan saya." Hendi berlalu pergi menaiki tangga, yang disusul Hanna dari belakang masih dengan kebingungannya.
Hendi terkenal pribadi yang pendiam dan dingin, dengan wajah gantengnya membuat banyak wanita mengaguminya. Namun, karena cuek dan jarang sekali terlihat dekat dengan karyawan manapun, mereka sungkan untuk mendekatinya. Terlebih dia adalah keponakan Pak Chandra dan memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding mereka di kantor.
Sesampainya di ruangan, Hanna dipersilahkan duduk di kursi depan mejanya. Suasana Canggung jelas terlihat, wanita itu melirik ruangan yang penuh rak buku berjejer di kiri dan kanan. Dia merasa seperti sedang di perpustakaan yang mengharuskan sepi dan senyap. Bahkan, untuk bernapas pun sangat hati-hati.
"Bisa pingsan nih gue kelamaan di ruangan cowok satu ini." Gumamnya.
Hendi masih sibuk memegang ponselnya, membuat Hanna kali ini yang salah tingkah.
"Ada perlu apa ya Pak, memanggil saya?" Akhirnya Hanna memberanikan diri membuka percakapan.
"Berapa lama kamu kerja di sini?"
"Kurang lebih 1 tahunan," jawabnya.
"Hhmm ... lumayan lama yah? Bagaimana dengan kerjaan yang sekarang kamu pegang, ada kendala?"
"Sejauh ini masih aman, Pak."
"Oke, jadi gini, saya ingin mengajak kamu bergabung, untuk membantu menangani proyek baru yang sedang saya jalankan. Kamu bersedia?"
"Tapi Pak, bagaimana dengan pekerjaan saya? Siapa yang handle?"
"Saya akan bicara dengan sinta nanti, untuk menghandle pekerjaan kamu. Saya juga sudah bicara dengan Pak Chandra perihal ini."
Sebenernya Hanna merasa segan jika harus bekerja sama dengan Hendi. Karena mereka tak cukup dekat, sepertinya pria ini juga bukan atasan yang menyenangkan seperti Pak Chandra, yang selalu menebar senyum pada karyawannya.
Hendi terkesan cuek dan dingin.
"Boleh saya meminta waktu untuk memikirkan ini, Pak?"
Hendi menatap mata Hanna, seolah ada rasa ragu dari nada bicaranya.
Hari ini, wanita itu terlihat sangat cantik, memakai kemeja warna oranye, celana hitam serta syal warna senada melingkar di lehernya. Penampilannya tampak segar. Dengan mata sipit, hidung mancung dan rambut yang dibiarkan tergerai. Hendi terus mencuri pandang sedari tadi.
Dia baru menyadari, merasa nyaman dekat dengan wanita di depannya. Dan baru kali ini dia berani untuk menatap mata seorang wanita, dengan perasaan bergemuruh di dalam hatinya.
"Tok ... tok ... tok! Suara pintu mengagetkan lamunan Hendi.
"Masuk!"
"Reyhan!"
__ADS_1
Mata Reyhan menatap heran ke arah Hanna dan bergantian menatap sinis ke arah Hendi. Kedua alisnya bertemu.
Bersambung...