
Menjelang malam Hanna baru sampai di pelataran rumah mewahnya. Terlihat mencolok dibanding bagunan rumah lainnya. Lebih besar dan terang dengan cat warna putih bersih, ditambah sorot lampu yang menambah kemegahan bangunan dua lantai itu.
Hujan masih setia mengguyur desa kecil itu membuat jalanan licin dan kabut tipis menutupi pandangan.
Wanita itu terdiam sejenak, ia meraih ponsel dan memotret tetesan hujan di kaca mobilnya. Saat hendak mengirimkan foto itu pada suaminya terlihat lima panggilan tak terjawab darinya.
Hanna lalu mengirimkan foto itu ke whatsapp suaminya, dengan tulisan di bawahnya 'Aku akan menginap di rumah Mama, hujan dan kabut menutupi pandangan'.
Ia lalu keluar menyusul anak dan ibunya yang sudah lebih dulu berlari di bawah payung.
"Bu, Tuan Michael berulang kali menghubungi saya, menyuruh anda kembali ke rumah." Agra sudah menghadangnya saat Hanna baru sampai pintu.
"Saya ingin bermalam di sini, kalo kamu mau kembali nggak papa. Besok bisa jemput saya lagi," ucapnya pada sang supir.
"Baiklah, saya pulang saja. Besok saya jemput Bu Hanna jam berapa?"
"Nanti saya kabarin."
"Oh iya, kamu sudah buat keputusan?" tanyanya menghentikan langkah Agra.
"Sudah Bu," sahutnya tegas.
"Saya memilih untuk pura-pura tidak tahu tentang masalah ini," lanjutnya seraya tertunduk.
Pemuda itu menuruti apa kata hatinya. Karena ia juga lelah jika harus terus menerus menyingkirkan sisa ulah majikannya. Meski logikanya menolak tapi hati nuraninya berkeyakinan ini jalan yang benar.
"Oke, terima kasih. Semoga kebaikanmu dibalas Allah," ucap Hanna sembari melanjutkan langkahnya menuju tangga.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat sorotan lampu mobil mengenai kaca jendela rumahnya dan memantulkan cahaya pada dinding tangga. Itu bukan dari mobilnya, karena Agra baru saja keluar pintu.
"Siapa yang datang?" tanya Hana dalam hati. Kepalanya celingukan begitu pula sang ibu yang mendekati pintu.
Sesosok pria bertubuh besar dan tinggi keluar dari mobil itu. Ia berpapasan dengan Agra yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Namun terhenti dan matanya beradu pandang dengan pria itu.
Tapi, mereka diam tanpa kata hanya saling menundukkan kepala saat pria itu melintasi Agra.
"Siapa pria ini? Rasa-rasanya tidak asing," bisiknya dalam hati.
"Assalamualaikum," sapa pria itu di depan pintu.
"Waalaikumsalam. Nak Reyhan! Ada apa malam-malam begini?" Adri yang baru keluar dari samping rumah langsung menanyainya.
__ADS_1
"Boleh saya masuk?" tanyanya.
"Bo-boleh," sahut Ratna terbata melirik Hanna yang masih berdiri di ujung tangga.
Mendadak jantungnya berdebar, lututnya terasa kaku dan lidahnya seolah kelu tak sanggup berkata-kata. Ia hanya diam mematung. Kisah yang memang belum usai itu sepertinya datang meminta pertanggung jawaban. Lebih tepatnya terpaksa disudahi.
Begitu pula Agra, langkahnya terhenti sorot matanya tajam menelisik ke dalam rumah. Pikirannya menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dan siapa pemuda itu. Namun, dia ngerasa nggak enak kalo harus balik lagi atau sekedar nanya siapa orang itu.
"Ah, mungkin temannya atau tamu orang tuanya. Perlu laporin Tuan nggak yah?" tanya Agra dalam hati.
Mendadak pikirannya bimbang antara lapor atau tidak. Pada akhirnya dia merogoh ponselnya dan memotret pria itu dari belakang. Lalu menyimpan kembali benda pipih itu dan menyalakan mobilnya.
Baru beberapa meter meninggalkan rumah itu tiba-tiba ponselnya berdering, tertulis nama sang tuannya di layar. Sontak dia menginjak rem dan menerima panggilan itu.
"Perasaan gue belum kirim fotonya deh, ko doi udah telepon aja." gumamnya.
"Iya halo, bos."
"Emang masih hujan?" Suara bas terdengar kencang di sebrang sana.
"Masih bos, kabutnya juga lumaya ini. Ini saya baru saja jalan dari rumah Bu Hanna," sahutnya.
"Oh, jadi akhirnya kalian pulang juga. Oke," ucap suara Michael melunak.
"Jadi kamu pulang sendiri?" tanya pria itu dengan suara kembali mengeras memotong jawaban Agra.
"I-iya bos, kenapa?"
"Ngapain kamu pulang kalo sendiri? Cepat kembali! Besok dia pulang gimana?" bentak Michael.
"Anu bos, katanya nanti dikabarin jadi saya bisa jemput."
"Tidak-tidak! Kamu tetap di sana dan awasi dia!" serunya seraya mengakhiri paggilannya.
"Etdaahh, nggak ketemu sehari aja kaya kehabisan obat!" gerutu Agra menghentikan laju mobilnya.
Dia mencari lahan kosong untuk memutar balik mobilnya. Malam ini pun dia terpaksa menginap di rumah itu.
"Hanna," gumam Reyhan saat tatapannya bertemu dengan wanita yang masih sangat ia cintai itu.
Dari ekpresinya dia seolah tahu kalo di rumah itu ada Hanna. Berbeda dengan wanita itu, ia sibuk mengendalikan diri dan hatinya menerima situasi yang di luar pikirannya ini. Ia tak menyangka Reyhan akan datang ke rumah itu.
__ADS_1
Sembari terus menguasai dirinya dia menuruni tangga.
"Ada perlu apa?" tanyanya melihat Reyhan saat sudah berada tak jauh dari pemuda itu.
"Boleh kita bicara?"
Hanna melirik mobilnya sudah tidak ada di halaman. Ia berpikir sepertinya Agra sudah jalan. Lagipula tak mungkin ia mengusir Reyhan yang sudah jauh-jauh datang ke desa ini. Meski ia curiga dengan kebetulan yang terjadi.
Wanita itu pun keluar rumah duduk di kursi kayu yang memag diletakkan di teras. Reyhan duduk tak jauh darinya. Sementara Ratna dan Adri kembali ke rumah Bu Darmi tetangga mereka, untuk menidurkan Anin yang sudah mengantuk.
"Maaf aku mengganggumu," kata pemuda itu memulai pembicaraan.
Hanna diam saja ia menyapu sekeliling yang gelap, dengan tetesan hujan yang semakin membesar. Bahkan suara Reyhan pun terdengar sangat kecil ditelan gemericik air di depan mereka.
Di kejauhan sepasang mata tengah memperhatikan mereka berdua.
"Apa kamu baik-baik aja?" tanya Reyhan lagi.
"Aku baik, seperti yang kamu lihat."
"Hatimu juga baik-baik aja?"
"Meski dia tak terlihat, aku pastikan semua baik-baik aja. Tak perlu khawatir, di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi." tegasnya.
"Ya benar sekali, traumamu sepertinya sudah pulih dengan baik. Mata hatimu juga sepertinya sudah terbuka lebar, aku berharap kali ini hatimu memilih yang terbaik."
Hanna hanya tersenyum simpul dan mengangguk-angguk.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya. Karena cara kita berpisah sangat mengganggu pikiranku."
"Sepertinya benar, aku hanya dijadikan batu loncatan olehmu. Setelah kau sembuh dan membuka hati, bukan pria sepertiku yang kau inginkan."
"Aku tak peduli, bagaimana pikiran liarmu menguasai hati. Yang pasti, semua tak akan berakhir jika tak ada yang memulai. Tapi, stop! Aku tidak mau membahas hal pribadi denganmu. Biarlah semua menjadi seperti ini, agar kita sama-sama bisa melangkah menuju takdir yang sudah disiapkan di depan sana."
"Sinta sebenarnya gadis yang baik, dia pantas mendapatkanmu. Lagipula, dia pun sangat mencintaimu," sambungnya.
"Hanna pun sebenarnya wanita yang baik, aku sangat mencintainya. Dia juga pantas kumiliki. Namun, takdir berkata lain pria yang jauh lebih baik dariku telah mengambilnya. Aku bisa apa? Karena cinta saja tidak cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga," kata Reyhan melirik bayangan mobil di kejauhan.
"Siapa dia? Kenapa masih di sana?" bisik Reyhan dalam hati.
Hanna terdiam hatinya meronta, ia berusaha sekuat tenaga menahan perasaannya. Ingin rasanya berteriak di bawah hujan meluapkan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Kelak, hujan ini akan terus mengingatkanku padamu." bisiknya dalam hati.
Bersambung...