Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Keguguran


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Michael memburu seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


Di belakangnya Martin dan Belinda dengan wajah tegangnya, ikut berdiri dan menantikan jawaban sang dokter.


"Sejauh ini kadaan Bu Hanna sudah stabil, tapi kita masih harus tunggu hasil ct scan kepalanya. Untuk luka di tangan dan kakinya hanya memar saja tidak ada luka yang cukup serius," jelas pak dokter.


"Lalu, bagaimana kandungannya, Dok?" Martin langsung bertanya apa yang jadi pikirannya sedari tadi.


Dokter paruh baya itu terlihat diam sejenak dan menarik napas dalam.


"Maaf ... pasien mengalami keguguran," lanjutnya pelan.


"A-apa?" seru Martin.


Seolah ada yang menghimpit dadanya terasa sesak. Pria berambut putih itu terhempas ke sisi dinding. Ia memegangi lututnya yang mendadak lemas tak bertenaga.


Belinda dengan sigap menopang tubuh sang suami, ia yang terlihat lebih tegar menepuk pelan pundak Martin dan merengkuh kepalanya ke dalam dadanya.


Sementara Michael berdiri kaku, tak lagi dapat berkata-kata. Matanya mengembun dan wajahnya berubah sendu. Pupus sudah harapannya untuk menjadi seorang ayah. Hal yang baru saja ia banggakan kepada sang ayah terenggut paksa dari rahim istrinya.


"Maaf saya permisi," ucap dokter itu berlalu dari hadapan mereka semua.


"Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat ya, Pak." kata suster melihat Michael yang masih diam terpaku.


"Baik, sus, terimakasih."


Belinda yang akhirnya menjawab melihat anaknya diam saja.


Beberapa menit kemudian ranjang besar itu terlihat keluar dari UGD didorong dua orang suster.


"Mich, bantu susternya mendorong!" titah Belinda menyenggol lengan anaknya.


Hanna yang terlihat lemas tak berdaya terus memejamkan matanya. Tubuhnya terasa remuk hingga ke tulang, bahkan untuk membuka mata pun rasanya ia tak punya kekuatan.


Di kepalanya terlilit perban yang sedikit rembes noda darah. Sepertinya benturan lantai marmer dan dinding besi mengenai kepalanya.


Lelaki itu perlahan menyentuh jemari istrinya, lalu tangan yang satunya mendorong bed itu menyusuri lorong menuju ruangan VVIP yang dipesan keluarga Delopez.


Sesampainya di kamar, dua orang suster berpamitan setelah mengecek selang infus yang tertancap di punggung tangan Hanna.


"Gimana keadaanmu, Hanna?" Martin bertanya saat wanita itu membuka matanya.

__ADS_1


Namun, tak ada jawaban hanya air mata yang tiba-tiba mengalir mendengar ucapan dokter tadi. Bahwa janinnya tak bisa bertahan akibat benturan keras dan berulang pada perutnya.


"Laporkan Jessica ke polisi!" serunya melihat ke arah suaminya.


"Jessica? Kenapa dengan dia?" Michael mengerutkan keningnya bingung.


"Dia telah mendorongku," jawabnya seraya terisak.


Mata Belinda membola, dia memang sudah menduga gadis itu yang melakukannya.


Sontak Martin langsung menghubungi seseorang dengan berjalan tertatih keluar ruangan.


"Kamu yakin?" tanya Michael.


"Kamu nggak percaya aku?"


"Bukan ... untuk apa dia melakukan itu?"


"Untuk apa? Bukankah dulu kamu mencintainya? Atau bahkan masih sampe sekarang?"


Michael memalingkan wajahnya, menghiraukan pertanyaan Hanna.


"I-iya ada," jawab Belinda terbata.


"Daddy sudah meminta Santo dan Wegi untuk mengecek dan mengirimkan videonya segera. Kita tunggu saja. Kalo sampe terbukti gadis itu mendorong Hanna, kita tidak akan tinggal diam."


Martin dengan wajah memerah dan tangan mengepal kembali masuk ruangan. Belinda ketar ketir melihat ekspresi suaminya, dia paham betul sifat pria itu. Sepertinya gadis itu telah terprovokasi ucapannya tadi.


"Apa dia sengaja mendorongmu?" tanya Michael lagi.


"Kamu meragukanku?"


"Ya bukan gitu, harusnya tak ada alasan baginya untuk berbuat sejahat itu. Setauku dia juga bukan gadis yang nekat," ucapnya membela gadis itu.


"Kecemburuan bisa membuat orang gelap mata, sepertinya dia tak terima kamu menikahiku bukan dia."


Hanna memalingkan wajahnya keluar jendela.


"Dia bahkan belum tau apa-apa tentang perasaanku."


"Kamu yang tidak tahu apa-apa tentang perasaannya, kamu yang telat memahami perasaannya. Mungkin saja dia sudah menunggu dan menahannya selama ini, hanya saja kamu yang tidak peka!"

__ADS_1


Michael terdiam, ia menyadari sesuatu memang dia merasa seolah memiliki perasaan yang sama dengan gadis itu. Tapi, dia butuh waktu lama untuk kemudian memahami apa yang dirasakannya, ternyata adalah sebuah perasaan cinta.


Perasaan yang terus ditepisnya karena merasa tidak mungkin mencintai gadis yang usianya terpaut hampir 10 tahun itu.


Namun, ketika dia mendengar kabar gadis itu akan kuliah ke luar negeri, ada perasaan kecewa karena merasa ada sesuatu yang hilang dari hatinya. Saat ia hendak mengutarakan semua perasaannya, waktu tak berpihak padanya. Pesawatnya sudah landing ketika ia sampai di bandara.


"Tidak mungkin Michael memiliki perasaan pada gadis manja itu. Usianya terpaut jauh, perasaanya timbul karena mereka sering bermain bersama."


Martin yang kemudian menjawab pernyataan Hanna barusan.


"Sudah, sekarang kamu istirahat saja dulu. Jangan pikirkan macam-macam, biarkan Daddy yang urus dia."


Hanna mengangguk dan kembali memejamkan matanya.


Sementara Belinda dan Martin duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. Pria itu terus melihat ke ponselnya menunggu dengan wajah risau.


Michael kemudian mendekati mereka setelah memesan kopi melalui aplikasi.


"Dad, kita tidak mungkin melaporkan Jessica ke polisi kalopun dia terbukti bersalah," ucap Michael melihat ayahnya.


"Kenapa?"


"Iya Dad, apa tanggapan orang tuanya nanti? Apalagi hubungan kita dengan mereka kan selama ini tak pernah ada masalah apa-apa. Gadis itu juga tengah kuliah bagaimana dengan masa depannya nanti?" Belinda menimpali.


Martin menghela napas panjang.


"Kalian ini kenapa sih? Dia sudah menyebabkan Hanna seperti itu! Dia juga secara tidak langsung sudah membunuh calon cucu kita yang tidak berdosa!" serunya naik pitam melihat kedua orang di hadapannya bergantian.


"Kamu juga Michael! Apa tidak ada rasa sakit dalam hatimu? Anak kamu sudah dibunuh olehnya, anak yang bahkan punya hak untuk hidup. Anak yang belum sempat kita liat wajah dan bentuknya!" lanjutnya dengan mata yang membola dan memanas.


Hanna menahan isak tangis yang terus mengguncang tubuhnya, hatinya mendadak sesak mendengar perdebatan itu. Yang lebih membuatnya sakit adalah, sikap Michael yang seolah tak rela Jessica akan dilaporkan ke polisi.


"Sepertinya rasa itu masih tersimpan dalam hatinya," bisik Hanna dengan air mata yanh tak dapat dibendung.


"Apa yang kutangisi? Kehilangan calon anakku? Atau megetahui fakta bahwa suamiku masih mencintai wanita lain? Ah, sudahlah, toh pernikahan ini juga palsu dan sikap pedulinya hanya karna dalam rahimku tersimpan darah dagingnya. Kini, semua akan kembali seperti semula." batinnya terus berkecamuk.


"Bukan gitu maksud Michael, Dad. Ayah mana yang tidak akan sedih kehilangan anaknya. Apalagi dia sendiri belum sempat melihat wajahnya. Orang tua mana yang tak sakit hati mendengar anaknya dilenyapkan begitu saja. Michael juga sakit, Dad," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang bergetar.


Inilah kali pertama Hanna mendengar suara bariton suaminya terdengar lemah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2