Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Keputusan


__ADS_3

"Apa yang kamu sembunyikan, Michael!" Suara bariton Martin terdengar menggema di lorong kamar-kamar sunyi itu.


"Suara siapa itu, Nak?" tanya Belinda menatap cemas putra tertuanya.


Martin berjalan menuju kamar yang bertuliskan nomor 01 itu. Meski dengan tertatih karena kondisinya yang masih belum pulih benar, ia terus meraba dinding-dinding kamar. Tangannya dengan cepat meraih handle pintu. Namun terkunci.


"Buka!" teriaknya.


"Daddy, ini urusanku. Michael sudah dewasa, tak bolehkah melakukan sesuatu sesuai keinginanku? Bukan terus-terusan distir seperti ini?" protesnya.


"Sesuai keinginan? Dengan menyiksa wanita? Pengecut sekali kamu. Cepat buka!" teriaknya lagi.


"Michael tidak menyiksanya, Dad."


"Cepat buka, sebelum Daddy panggil polisi!"


"Ayolah, Nak. Menolaknya hanya akan memperburuk keadaan."


"Apa yang telah dilakukannya di belakang kami? Sudah sejauh apa langkahnya?" batinnya risau menantikan kamar dibuka.


Dengan enggan pria itu berjalan mendekati kamar yang dimaksud. Wajahnya putus asa tertunduk pasrah. Perlahan ia menempelkan kartu dan tak lama pintu terbuka.


Kedua orang tuanya bergegas masuk, penasaran apa yang terjadi di dalamnya.


Matanya membulat saat melihat seorang wanita tengah terbaring tak berdaya di atas kasur. Tubuhnya tertutup selimut putih sampai leher hanya menyisakan kepalanya.


"Sial! Kemana si Agra? Dan apa rencananya? Malah membiarkan wanita ini tetap di sini." gumamnya dalam hati.


"Siapa dia?" tanya mereka berbarengan.


"Teman," jawabnya ngasal.


"Terus, tadi siapa yang teriak minta tolong?" Belinda bertanya melihat sang anak.


"Mungkin dia mengigaulah, Mom. Dia juga sedang tidur itu," jawabnya dengan hati tak karuan melihat ekspresi orang tuanya.


Wanita setengah baya itu mendekati ranjang dan tanpa diduga dia membuka selimut yang menutupi Hanna. Sontak dia menutup mulutnya terkejut, melihat kemeja yang sobek tanpa kancing baju itu. Lalu dengan cepat menutupnya kembali.


Matanya melihat sang anak tajam.


"Apa yang terjadi Belinda?" Martin yang penasaran mendekatinya.


Lalu, ia meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung serta leher. Alisnya berkerut saat tak sengaja menatap wanita di depannya itu.


"Wajahnya seperti tidak asing," gumamnya.


Sejenak mereka menghela napas lega. Kini pandangannya tertuju pada si tersangka utama yang tengah tertunduk itu.


Sebelumnya Agra memang membekap mulut Hanna kemudian membiusnya. Meski sempat lepas dan berteriak minta tolong, tak lama obat itu bekerja dengan baik.


Setelah meyakini wanita itu pingsan segera ia baringkan di atas ranjang. Sementara dia lompat menuju balkon dan bersembunyi di sana, karena mendengar suara Martin dan Belinda.


"Apa yang kamu lakukan dengan gadis ini?"


Michael terdiam menyembunyikan gugup di wajahnya.


"Dia pacarmu?" tanya Belinda berjalan ke arah putra sulungnya.


"Bukan," jawabnya singkat.


"Lalu kalian sedang apa di dalam kamar berdua, dengan kondisi pakaiannya seperti itu?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Hening tak ada jawaban.


"Nikahi dia," kata Martin seraya berjalan keluar kamar, tanpa mendengar penjelasan sang anak.


"Daddy tunggu! Ini tidak seperti yang kalian kira," jelasnya memegang lengan orang tuanya itu.


Tapi pria itu menghempaskan tangan sang anak.


"Daddy kecewa, Michael!" serunya dengan menutup pintu keras.


"Daddy ayolah, ini salah paham!" teriaknya menggedor pintu kamar itu.


Tetap saja pria itu tak menghiraukan teriakan sang anak. Belinda menyusul hendak membuka pintu.


"Mom, bicaralah dengan Daddy. Tidak mungkin Michael menikahinya," rengeknya.


"Kau tau seperti apa Daddymu kan?"


Pintu kamar tertutup. Michael tertegun di depan pintu itu.


Ya, dia paham betul seperti apa Daddynya. Itulah mengapa ia menghindari hal yang berurusan langsung dengannya, kecuali hanya mengenai pekerjaan.


Sementara di kamar kedua orang tua Michael


"Wajah gadis itu serasa tidak asing," gumamnya lagi sambil terus memijat pelipisnya.


"Kau mengenalnya?"


"Entahlah, sepertinya begitu."


"Kau yakin akan menikahkan anak kita dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya itu?"


"Tapi kita masih bisa pakai cara lain untuk mencegahnya kan?"


"Aku tak bisa mempercayai orang lain,"


Pria itu lantas mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Hallo, Agra. Ke kamar 03 sekarang!" perintahnya.


"Kita liat siapa wanita ini? Takdir apa yang membawanya kemari," kata Martin memandang pepohonan hijau di luar sana.


Belinda hanya menghela napas panjang. Keputusan sang suami tak akan bisa diganggu gugat.


***


"Sial! Gue terjebak di antara bapak sama anak, mana yang harus gue turuti ini." keluhnya seraya berjalan keluar dari persembunyiannya.


Baru saja beberapa langkah memasuki kamar, terlihat Michael sudah bersiap mengayunkan tinjunya ke arah pemuda itu.


"Bo-bos tu-tu-tunggu!" teriaknya terbata.


Namun tetap saja tinju mendarat sempurna di perutnya.


"Aw," erangnya menahan beberapa pukulan yang bersarang di sana.


"Kenapa tidak kau bawa pergi wanita ini, hah?" teriaknya dengan wajah yang memerah.


"Bos, menyeretnya pergi dengan pakaian seperti itu gimana caranya?"


"Itu aja saya dikira mau memperkosanya, dia terus menerus menghindar dan berlari." sambungnya seraya memegangi perutnya.

__ADS_1


"Ngurusin satu cewek aja nggak becus! Cepat bawa dia pergi!" perintahnya.


"Dengan pakaian seperti itu?"


"Kau ambil sweaterku di lemari dan pakaikan kepadanya!"


"Tapi bos, saya takut khilaf."


"Cepat! Kita sudah tak ada waktu lagi."


Agra segera mengambil salah satu baju Michael dan memakaikannya. Berulangkali ia menelan salivanya saat matanya tertuju pada tubuh mulus itu.


"Cepat!" bentak Micahel membuat pemuda itu terlonjak.


Dia sendiri pun tak sanggup melihatnya, takut khilaf berpindah pada otaknya.


"Nanti kalo dia buka mulut pada orang lain gimana bos?"


Michael terdiam, terlihat berpikir sesuatu.


"Agra benar, bagaimana jika gadis ini menceritakan apa yang terjadi padanya di sini. Tentang pelecehan yang dilakukan oleh Michael Delopez ceo perusahaan besar gemilang grup dan juga anak tertua dari Martin Delopez."


Tiba-tiba Belinda muncul dari balik pintu. Agra segera beringsut menjauhi tubuh Hanna.


"Kamu bukannya dipanggil Tuan, tadi?" tanyanya pada Agra.


"I-iya nyonya," jawabnya terbata dan segera berlari keluar kamar.


"Selamat dari kandang macan masuk ke kandang singa nasib ya nasib," keluhnya dalam hati.


"Mom, apa tak ada jalan lain selain menikahinya?"


"Michael tidak mencintainya."


"Ini bukan soal cinta, tapi lebih ke tanggung jawab."


"Untuk saat ini tidak ada jalan lain, kamu hanya perlu menikahinya menuruti keputusan Daddy. Setelah itu mungkin bisa dibicarakan kembali jalan selanjutnya," ucapnya seraya merapikan baju yang dipakaikan Agra kepada Hanna tadi.


"Tapi Mom, ini tidak sesederhana itu. Michael tak yakin Daddy akan mengubah keputusannya meski telah menikahinya. Lagi pula ini lucu, wanita seperti itu akan menikah denganku?"


"Kamu sendiri yang memilihnya, membawanya ke kamar utama di villa ini. Melakukan pelecehan terhadapnya. Semua itu keinginanmu sendiri kan?"


"Lagi pula gadis ini sangat cantik," ucapnya seraya menyingkap rambut yang menutupi wajahnya.


Sebenarnya dalam hati Michael membenarkan ucapan ibunya.


"Ya dia memang cantik," gumamnya tanpa sadar.


"Nah kan kamu mengakuinya." Senyum terkulum di bibir Belinda menyadari sang anak yang keceplosan.


"Eh, bu-bukan maksudku dia tidak secantik itu, Mom!" Michael tamoak salah tingkah berjalan menuju balkon.


"Gila! Ngomong apa sih gue barusan," umpatnya dalam hati.


***


"Apa? Dia Hanna Kartika?"


"Mantan sekertaris di gemilang grup?" Martin menatap tak percaya Agra yang tengah menceritakan identitas wanita itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2