Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Penculikan Hanna


__ADS_3

"Halo Bos, kita sudah meluncur membawa pesanan nih."


"Bagus Agra, akan saya siapkan sambutan yang paling meriah untuknya."


"Tapi ma-af, saya lupa membawa kunci villanya, Bos. Sepertinya ada di laci meja,"


"Kau ini! Tunggu saya di halaman."


Michael berjalan keluar ruangan dengan senyum yang terus mengembang. Baru saja beberapa langkah, seseorang memanggil setengah berlari menghampirinya.


"Pak, maaf, saya Ansell dari PPIC. Ini dokumen planning produksi untuk minggu depan."


"Simpan di meja nanti saya cek," ucapnya seraya meneruskan langkahnya.


"Tapi, maaf Pak ini urgent. Semua divisi sedang menunggunya untuk persiapan bahan baku produksi." protes Ansell.


"Masih bulan depan, kan?" Michael menghentikan langkahnya berbalik menatap tajam Ansell.


"Iya Pak, tapi biasanya Pak Martin sudah mempersiapkan dan menandatangani jauh hari untuk menghindari kekosongan produksi nanti."


"Jadi kamu meragukan keputusan saya?" Matanya mendelik seraya berkacak pinggang.


"Bukan Pak. Lebih cepat semakin baik kan?" Ansell tetap tenang menghadapi bos barunya itu.


"Kamu siapa berani mengatur saya, hah?" Nada suara tinggi terdengar jelas.


"Saya Ansell, Pak. Hanya menjalankan apa yang seharusnya dikerjakan. Jika Bapak menundanya sekarang, bagian sampel akan kosong, ditambah gudang yang akan kalang kabut jika diberitahu mendadak. Dan efeknya produksi akan terlambat dari target yang sudah ditentukan."


Michael geram giginya gemerutuk menahan emosi, tangannya terkepal. Lalu dengan kasar ia meraih dokumen dari tangan Ansell.


"Tunggu di sini!" perintahnya tanpa membiarkan karyawannya itu masuk.


"Sialan! Benar kata yang lain, menghadapi dia harus tanpa rasa takut. Mentang-mentang berkuasa seenaknya sendiri kerja. Untung gue udah persiapkan diri." rutuk Ansell dalam hati


Tiga puluh menit kemudian bosnya itu muncul melemparkan dokumen ke tangan Ansell.


"Lain kali kamu buat planning dua bulan sebelumnya! Jangan mendadak seperti ini, jika saya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan bagaimana? Mau kamu tanggung jawab!"


"Baik, Pak. Saya permisi," ucapnya tak mau panjang lebar lebih lama lagi.


"Sebentar. Kamu Ansell Arian Rendra?"


"Iya Pak, saya."


"Menarik sekali, menyuruh istri untuk menghancurkan lamaran mantan istrinya."


"Hahaahaa." Suara tawa meledek menggema di lorong ruangan itu.


Ansell tertegun, alisnya berkerut memandang punggung lelaki yang baru saja berlalu dari hadapannya. Ingin sekali mengejar dan menanyakan apa maksudnya. Tapi ia urungkan, karena akan berefek pada pekerjaan jika ia menggubris perkataan bosnya itu.


"Aku harus bertanya pada Zea," gumamnya.

__ADS_1


***


Hanna merasakan seluruh tubuhnya lemas, kepalanya pusing dan perutnya mual. Perlahan ia membuka mata dan terkejut mendapati dirinya masih di dalam mobil. Tapi, tak ada siapapun di sampingnya. Mobil itu kosong ditinggalkan masih dalam keadaan menyala.


Namun saat ia mendongakkan kepala keluar, terlihat empat pria tengah berkerumun di samping mobil. Mereka terlihat sedang menghubungi seseorang. Dari wajahnya mereka kebingungan, seraya terus menengok ke belakang.


"Aku diculik?" gumamnya pelan.


"Nggak boleh panik, aku harus tetap tenang dan pikirkan jalan keluarnya. Aku harus cepat menghubungi polisi atau Reyhan," bisiknya dalam hati.


Saat hendak mengambil ponsel di tasnya, seorang pria tampak menengok ke arah jendela. Segera ia pura-pura tertidur seperti tadi. Tangannya dengan cepat meraba tas, namun tak ada ponsel di sana.


"Dimana ponselku?" batinnya panik. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.


"Gue harus bisa kabur. Jalan satu-satunya menerobos mereka, tapi nggak yakin bakal berhasil. Lagi pula gue nggak tau ini di mana," keluhnya putus asa.


Tangannya merogoh saku blazer dan mendapati ponselnya di sana. Hatinya bersorak akhirnya ada setitik harapan. Tapi, pria itu berkali-kali memeriksanya mengintip melalui jendela.


"Ah sial! Gimana gue mau telepon polisi atau Reyhan. Mereka terus saja mengawasi." gumamnya kesal melirik dengan ekor matanya.


Tiba-tiba terdengar kedua pintu depan di buka, Hanna pun segera menekan tombol cepat untuk rekaman di ponselnya. Paling tidak ia bisa merekam pembicaraan mereka.


"Pengaruh biusnya pasti sebentar lagi akan hilang, si bos kemana sih? Dari tadi dihubungi tidak diangkat!" seru seorang pria di kursi kiri.


"Gue mau ke kamar mandi dulu, lu jagain ni orang yah!" ujar seorang laginya yang di kursi kemudi.


"Nantilah, nunggu yang lain dateng dulu gantian b**o!" protesnya.


Pria itu berlari menuju toilet.


"Ini kesempatan bagus, gue harus bisa kabur sekarang!" pekik Hanna dalam hati.


Dengan cepat ia membuka pintu samping dan berlari sekuat tenaga. Dari belakang terlihat pria yang tadi di dalam mobil mengejarnya.


Matanya nanar memandang sekeliling, sebuah rumah besar di tengah-tengah dengan halaman yang dipenuhi pepohonan dan taman yang sangat luas. Terlihat tembok kokoh mengelilinginya menjulang tinggi, membuat lutut Hanna mendadak lemas. Jantungnya berdegup kencang.


Berulang kali ia menengok ke belakang, rambut kusutnya tertiup angin acak-acakan.


"Pasti ada jalan keluarnya! Pintu kecil atau sebuah gerbang," gumamnya pelan dengan terus berlari.


Hanna berhasil menuju jalan yang mengarah ke gerbang, di depan sana terlihat pintu besar dan lebar warna hitam yang tertutup rapat.


Namun, saat ia fokus melihat ke belakang tak sadar ada sebuah mobil masuk dan terus melaju ke arahnya. Dia pun terus berlari dengan mata menyisir ke belakang merasa aman karena belum terlihat ada yang mengejarnya.


Dia jadi teringat saat masa sekolah dulu menjadi juara lomba lari. Mau lari kemana sampai sekeras ini berlatih, pikirnya dulu. Dan ternyata inilah fungsinya kejuaraan itu.


Dan ... bugh!


Tubuh mungilnya menghantam mulut mobil sedan berlogo jaguar itu.


"Aawwww," rintihnya sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


Seseorang keluar dari dalam mobil, memakai setelan jas hitam dan kacamata senada. Sejanak dia tertegun melihat ketampanan pria di depannya itu. Tapi, sejurus kemudian mata Hanna terbelalak saat kacamata hitam itu dibuka.


"Michael!"


"Ja-jadi dia yang merencanakan ini?"


Hanna meringis kesakitan, dan berusaha menerobos pria tinggi putih itu. Namun, dia kalah cepat tangan jenjang itu telah berhasil meraih pinggangnya.


Dari belakang terlihat empat orang pria yang mengejarnya sampai di hadapan mereka. Hanna melihat dengan sangat ketakutan. Jantungnya berdetak lebih cepat, lututnya gemetar.


"Tolooooonngg!" teriaknya mengarah ke gerbang yang tinggal beberapa langkah lagi.


Pinggangnya dengan kuat di cengkram Michael dengan senyum terkulum di bibirnya.


"Percuma kamu teriak, tak ada satupun yang akan mendengarnya."


Hanna melirik sinis.


"Lepaskan saya! Apa maksud anda kurang ajar seperti ini?" Dia terus berusaha meronta.


Lalu pria itu melemparkan tubuh lemas Hanna kepada beberapa orang di depannya.


"Jagain satu cewek aja nggak becus! Darimana saja kalian, hah?" teriaknya memekakkan telinga.


"Maaf tuan, tadi saya ke toilet. Si Bimo kecolongan, ternyata ni cewek sudah keburu sadar."


"Cepat ikat dia!" perintahnya.


"Toloonngggg, tolong pak lepaskan saya!" rintih Hanna. Ia diseret paksa oleh dua orang yang memegangi tangannya.


"Apa salah saya, Michael? Tolong katakan!" teriaknya dengan suara parau.


Hatinya bergetar, ia berharap ini mimpi. Mimpi buruk yang ingin segera ia tinggalkan. Tapi, terlalu nyata untuk sebuah mimpi rasa sakit di perut dan kedua tanganya itu.


"Bangun Hanna! Kamu sedang mimpikan?" bisiknya dalam hati


"Simpan suara indahmu itu untukku nanti," bisik Michael di telinga Hanna.


"Pendidikan tinggi dan hidup terhormat tapi kelakuanmu biadab! Menindas wanita dengan alasan yang tidak jelas!" teriaknya.


Michael menghentikan langkahnya ketika hendak masuk ke dalam mobil. Lalu berjalan mendekati wanita itu.


"Kalau kamu tidak mencoba kabur, kelembutan ini tak akan terjadi." ucapnya seraya menarik rambut Hanna ke belakang. Sehingga wajahnya berhadapan dengan pria itu.


"Aaww!" rintihnya menahan sakit.


"Sebagian orang bahkan pasrah dan mengikuti perintahku." bisiknya lagi tangannya menyentuh beberapa helai rambut yang menutupi wajah Hanna.


Deg! Jantung Michael berdetak kencang saat ia menyentuh kulit mulus wanita di depannya itu.


"Cepat bawa dia!" Michael melempar sebuah kunci kepada Agra.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2