
Hanna terus menyusuri jalanan sambil sesekali menengok ke belakang, berharap ada angkutan umum yang bisa melewati kostannya. Tapi, hampir satu jam tak satu pun angkutan terlihat. Hari makin gelap hatinya pun merasa cemas. Dia terus menimang ponselnya yang mati sedari tadi.
"Ah, sial! Kenapa gue bisa lupa sih cas hp?" keluhnya dengan wajah tertunduk.
Selang beberapa menit terlihat sebuah mobil menepi, "Reyhan!" pekiknya kegirangan saat melihat sosok itu keluar dari mobil.
"Kamu baik-baik aja kan? Ada yang luka?" tanya Reyhan cemas memeriksa wajah dan lengannya.
"Nggak ada, Rey. Aku baik-baik aja," jawab Hanna meyakinkan kekasihnya itu.
"Syukurlah, padahal dari tadi lewat jalan ini nyariin kamu. Kenapa baru ketemu sekarang yah? Maaf yah sayang," ucapnya seraya memeluk wanita itu dan mengecup keningnya lembut.
"Iya aku tau, kamu pasti nyariin aku." jawab Hanna membalas pelukan itu.
"Ponsel kamu kenapa nggak aktif? Bikin orang khawatir aja sih," keluhnya sembari melepaskan pelukannya.
"Maaf, aku lupa cas tadi waktu di kantor."
"Si Brengsek itu kemana? Dia nurunin kamu di sini?"
"Engga, emang aku yang maksa diturunin di sini."
"Ada apa lagi sih dia? Nggak bosen-bosen gangguin kamu?"
"Entahlah," jawab Hanna lelah dengan wajah murung.
"Ya udah masuk, aku antar pulang." Reyhan membukakan pintu mobil kemudian berlari kecil menuju pintu kemudi.
"Makasih ya," bisik Hanna pelan saat mereka sudah di dalam mobil.
"Aku ingin kita menikah secepatnya Hanna," ucap pria bertubuh besar tinggi itu
Hanna terdiam lalu menoleh ke arah wajah Reyhan yang baby face itu. Perlahan mobil melaju membelah keramaian senja, berbaur dengan puluhan kendaraan lain.
"Akhir bulan depan aku bawa keluarga ke rumahmu yah?" lanjutnya lagi saat melihat Hanna masih terdiam.
"Secepat itu?"
"Aku nggak mau si brengsek itu terus saja ganggu kamu, belum lagi si Ansell. Dan mungkin siapa lagi yang aku nggak tau," protes Reyhan.
"Siapa lagi? Bahasanya nggak enak banget di denger," ujarnya memalingkan wajahnya.
"Ya kan aku nggak tau, makannya kamu harus aku halalin secepatnya. Dan kita bisa tinggal bersama, supaya aku tau siapa aja pria yang ada di sekitarmu."
"Dikira aku cewe apaan kali,"
"Kamu itu cewe cantik, manis, pintar, imut dan calon istri aku." ucapnya menarik tangan Hanna ke pelukannya dan mengecup gemas pipi kanannya.
"Kamu itu lagi nyetir fokus aja, nggak usah cium-cium." Hanna mengelak sedikit menjauh.
"Ngambek?"
"Lagian secara nggak langsung kamu itu ngatain aku banyak cowo tau."
__ADS_1
"Jadi nggak ada yang lain selain aku?" godanya melirik senang dengan senyum meledek.
"Au ah gelap!"
"Hari ini ke rumahku dulu yaah," pinta Reyhan.
"Nggak! Dandanan aku lagi acak-acakan gini, Rey."
"Kan kita bisa ke salon dulu," ucapnya mengedipkan mata.
"Tapi, Rey, masa aku pake baju begini ketemu keluarga kamu." Hanna melirik baju kantornya yang sudah lecek.
"Mmm, ya udah kita mampir toko pakaian dulu kalo gitu."
"Tapi, Rey, aku juga belum mandi."
"Ya udah kita ke hotel aja gimana?" tanyanya melirik nakal.
"Iiihh dasar mesum!" seru Hanna memukul lengan kiri pria itu.
"Kebanyakan tapi sih kamu itu, greget jadinya. Pengen gigit kamu tau," ucapnya kembali mengedipkan matanya.
Hanna merasa nyaman dan bahagia bersama pemuda itu. Dari dulu Reyhan selalu berhasil meluluhkan hatinya. Bayangan pernikahan yang gagal di masa lalu perlahan sirna, berganti harapan indah untuk masa depannya.
Mereka pun berhenti di sebuah butik, membiarkan Hanna memilih pakaian yang disukainya. Reyhan mengekor di belakang dengan terus memandangi wajah ayu Hanna. Ia sama sekali tak menyangka akhirnya selangkah lagi bisa memiliki wanita itu.
"Aku mau coba baju ini dulu yah," ujarnya dengan beberapa helai pakaian di lengannya.
"Ikuuutt," goda Reyhan.
Beberapa menit kemudian muncul. "Loh, mana bajunya? Aku mau liat kamu pake," tanya Reyhan.
"Ya nantilah bayar dulu, dikira bakal kaya di film-film apa nyobain baju seabreg gini? Sambil pose sok seksiihh ogah, capek!"
Reyhan hanya bisa menepuk jidatnya pasrah kembali mengekornya di belakang.
"Aku aja yang bayar," katanya saat tengah mengantre di kasir.
"Asiikk, makasih." jawab Hanna memonyongkan bibirnya.
"Ada syaratnya."
"Syarat? Apa?" tanyanya penasaran.
"Gantinya di mobil," bisiknya di telinga wanita itu.
"Iiihh mesuumm!" pekik Hanna pelan tepat di telinga Reyhan.
Mereka pun tertawa bersama, setelah selesai membayar kini keduanya mencari salon untuk mendandani wajah lusuh Hanna.
Satu jam kemudian serangkaian persiapan menuju rumah calon mertua sudah selesai. Gaun mint dan riasan flawless terlihat cocok untuk Hanna. Kecantikannya terpancar alami di wajahnya.
"Cantik banget sih, makan apa?" ledek Reyhan lagi.
__ADS_1
"Makan kamu."
"Beneran? Yuk ah, aku siap."
"Udah yuk buruan, udah jam 7 lewat ini nanti kemaleman aku pulangnya." ajak Hanna.
"Emang siapa yang mau nganterin kamu pulang? Malam ini kamu milik akuu," desahnya di telinga Hanna.
"Reyhaaann, udah di ubun-ubun banget kayanya nih laki pengen kawin."
"Nah itu tau, apa kita majukan aja minggu depan?"
"Gila!" Hanna menepuk pundak Reyhan pelan.
"Eehh, sembarangan ngatain calon suaminya gila. Mau emang punya suami gila?"
"Idih amit-amit. Tapi, kalo tergila-gila sama aku sih nggak papa, seneng malah aku." jawabnya terkekeh.
"Cieeee, udah bisa ngegombal niii."
Begitulah, akan selalu ada tawa di hubungan mereka. Hanna dan juga Reyhan berharap, kisah ini selamanya akan penuh dengan canda tawa.
***
Tepat jam 8 malam mobil silver itu terparkir di halaman yang luas, dengan rumah bercat abu tua mendominasi. Di kiri rumah terdapat taman yang mini dan asri dengan dua kursi di tengahnya. Jejeran bunga dalam pot tersusun rapi. Hamparan rumput terawat dengan baik.
Hanna berdecak kagum menelan ludahnya, lalu berkata. "Buseet ini tipe perfeksionis banget yang merawat," celetuknya.
"Mama aku memang tipe gitu, nggak mau ada yang kurang di pandangan matanya. Yuk masuk," ajak Reyhan dengan senyum.
Namun, Hanna tak bergeming ia menatap lekat mata pria di depannya itu.
"Kenapa? Ko liatnya gitu?" tanyanya keheranan.
"Kamu nggak lihat ada yang kurang dalam diri aku?"
Sejenak Reyhan terdiam membalas tatapannya dalam. Lalu, ia membelai rambut Hanna yang tertiup angin menutupi matanya.
"Kekuranganmu, akan kututup. Kelebihanmu akan kuperlihatkan," ujarnya kemudian.
"Bagaimana kamu menutupi kekuranganku ini?"
"Bisakah hanya aku yang tau soal kekuranganmu?"
"Bagaimana mungkin, Rey. Anin terlihat jelas sebagai bukti,"
"Kita cukup tidak membahas Anin di sini, bisa?"
Deg! Hanna merasa ada benda besar yang menghantam hatinya.
"Maksud kamu, aku harus menyembunyikan statusku dari keluargamu?"
Reyhan mengangguk, mengganggam jemari Hanna. Wanita itu menatap tak percaya pria di depannya.
__ADS_1
Bersambung....