Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Aku Mau Kita Cerai!


__ADS_3

Zea merasa Akhir-akhir ini sikap Ansell berubah, dia terlihat sering menyendiri, cuek dan dingin terhadapnya. Hingga suatu malam wanita bermata hitam pekat itu, mengetahui sesuatu yang selama ini jadi masalahnya. Ketika suaminya pulang kerja, dalam keadaan mabuk dan basah kuyup.


"Mas, kamu kenapa? Lagi ada masalah di kantor, yah?" Zea bertanya sembari membantu Ansell melepaskan pakaian basahnya dan mencium aroma kuat alkohol.


Laki-laki itu melirik sekilas istrinya, yang memakai daster sobek dengan rambut digulung ke atas serta wajah yang kusut. Belum lagi, badannya bau minyak telon karna baru saja mengoleskan ke tubuh kedua anaknya. Otaknya berputar membayangkan Hanna yang memakai jas hitam dan rok selutut kala itu. Serta wangi parfum yang masih teringat jelas.


"Aku nggak papa!" jawabnya singkat sambil sempoyongan, dia ngeluyur ke kamar mandi.


Belum puas dengan jawaban suaminya, Zea ke dapur membuatkan teh manis hangat dan mengantarkan ke kamarnya. Ansell masih di kamar mandi, dengan cepat ia berganti pakaian mengenakan lingerie hitam yang baru dibelinya.


Dia menyadari, sejak kelahiran anak kembarnya, hubungan mereka di ranjang hanya sekedar melepas kewajiban saja. Mata suaminya tak pernah dimanjakan, belaian dan sentuhan pun ala kadarnya. Terlebih, Zea merasa mengurus anak pun sudah cukup melelahkan dan berharap suaminya itu selalu bisa mengerti keadaannya.


Terlihat Ansell keluar kamar mandi hanya memakai handuk, pria itu berjalan menuju lemari. Zea segera mengikutinya dari belakang, perlahan tangannya memeluk suaminya dari belakang. Hingga tubuh mereka saling melekat.


Sedetik kemudian, wanita berkain tipis itu meraba seluruh tubuh suaminya. Hingga untuk sesaat Ansell hanyut dalam belaian sang istri. Hatinya bergetar, darah mengalir seluruj nadinya dengan cepat. Seluruh tubuhnya terbuai sentuhan yang membuat napasnya tercekat.


Namun, ketika Zea hendak membuka handuknya, tiba-tiba Ansell menghentikannya.


"Cukup, Ze. Aku cape. Ada yang mau kubicarakan juga denganmu," ucapnya seraya membuka lemari dan mengambil baju.


Zea mematung, memandangi Ansell yang menuju ranjang. Ada kegetiran dalam tatapannya.


"Ya, benar, laki-laki ini berubah." bisiknya dalam hati.


Wanita itu duduk di tepi ranjang, masih dengan gaya menggoda menggelayut manja pada lengan kekar suaminya. Lirikan mereka bertemu, sejenak laki-laki itu tertegun tapi segera mengalihkan pandangan.


"Aku merasa ada sesuatu yang aneh, Mas. Tumben kamu cuek dan dingin sama aku?"


Pria itu terdiam, sambil melihat ponselnya.


Istri memang memiliki insting yang sangat kuat. Dia mampu melihat perubahan hanya dari mimik muka dan tingkah laku pasangannya.


Itulah yang Zea rasakan, dia merasa laki-laki di sampingnya ini sedang menyimpan sesuatu.


"Kamu nggak mau cerita sama aku?" tanyanya lagi.


Dia tak menyadari bahwa laki-laki tidak seperti wanita, yang bisa menceritakan apa yang sedang di alaminya. Mereka lebih banyak diam dan menyimpan masalahnya sendiri serta mencoba menemukan jalan keluarnya.


"Aku mau kita pisah," ucapnya datar tanpa menoleh.


Jlegeeerrr ...!


Petir di luar seolah menyambar wanita itu, hujan yang deras terdengar sayup. Tapi, kata-kata Ansell barusan sangat jelas di telinganya.


"Apa?! Pisah? Maksud kamu apa, Mas?" Dia berdiri memandang tak percaya pria di depannya itu.

__ADS_1


Zea berharap salah dengar dan mencoba mencari kebohongan dari mata laki-laki yang sangat dicintainya itu. Namun dia melihat Ansell tak bergeming dengan muka datar menatapnya.


"Aku mencintai wanita lain ... aku ... sudah berusaha untuk tetap bersamamu dan melupakannya. Tapi, ternyata tak berhasil. Justru terus menerus menyakitimu dan menyiksa diriku sendiri."


Plaaakkk ... tamparan keras menyambar pipi kiri Ansell.


Air mata menetes perlahan membasahi pipi Zea. Luka di hatinya kembali menganga, setelah tiga tahun lalu Ansell juga sempat meminta bercerai. Kalo saja bukan karna dia sedang hamil kala itu, mungkin mereka sudah berpisah.


"Apa ini masih tentang wanita ****** itu? Atau ada wanita lain yang telah menggoda hatimu kembali, Mas?"


"Berhenti memanggilnya ******! Dia wanita baik-baik, Zea!"


"Oh, jadi masih tentang si ****** itu. Jika memang wanita baik-baik, tidak mungkin dia hadir menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain, Mas. Dia telah merebutmu dariku, kemudian meninggalkanmu dan kini datang kembali, merusak masa depan anak-anakku. Apa sebenarnya maunya? Apa salahku, Mas? Sampe kalian tega terus menerus menyakitiku!". Suara Zea meninggi, tepatnya dia berteriak meluapkan emosinya.


"Dia tidak salah Zea, jika ada yang patut dipersalahkan itu semua salahku!!"


Zea terdiam, dia tertunduk lesu air mata mengalir semakin deras, dia tak menyangka hal ini kembali terjadi.


"Mas, apa salahku? Tidakkah kau melihat pengorbananku untukmu? Atau setidaknya kau lihatlah anakmu jangan liat aku. Tak adakah sedikit rasa sayangmu kepada mereka? Mereka masih terlalu kecil untuk melihat dan merasakan perpisahan ini." Suara wanita itu melemah matanya nanar mencari tatapan suaminya.


"Kita bisa besarkan mereka bersama-sama, meski tidak satu atap. Aku akan tetap menafkahimu dan memberikan kewajibanku terhadap anak kita."


"Kamu egois, Mas. Hanya demi cinta sesaat, lantas kau korbankan keluargamu. Kau hancurkan hati dua anak tak bersalah."


"Aku hanya tak ingin terus menerus menyakitimu dan menyiksa diriku sendiri seperti ini, Zea!" 


Perlahan dia usap dengan lembut rambut kedua anak kembarnya dan mencium kening mereka.


"Maafkan mama, Nak. Tak bisa menjaga papamu dan kini orang jahat telah mengambilnya dari kita. Tapi kalian tenang aja, mama tak akan membiarkan mereka hidup bahagia. Suatu saat nanti, akan ada balasan atas perbuatan menyakitkan yang telah mereka lakukan kepada kita," ungkapnya seraya terisak.


*************


"Seperti bunga ini, kau selalu terlihat cantik dan segar meskipun waktu telah lama memisahkan kita. Tapi rasa ini, masih sama seperti dulu."


Bisakah kita bertemu?


Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.


Ans 08xxxxxxxx


"Ansell?!" gumamnya.


Seketika buket bunga itu terjatuh, dia tak menyangka Ansell bisa nekad mengiriminya bunga. Dengan cepat ia kembali memungutnya dan meremas kertas merah kecil di tangannya, lalu masuk ke dalam ruangan menyambar tas dan bergegas menuruni tangga dengan wajah memerah memendam emosi.


Hendi yang penasaran siapa pengirimnya, mengikuti Hanna dan tertegun di tong sampah. Sementara orang yang diikutinya sudah menghilang keluar kantor. Perlahan dia mengambil buket mawar itu, serta secarik kertas yang telah kusut lalu membacanya.

__ADS_1


Kini muka Hendi yang memerah, jarinya mengepal penuh emosi. Dia pun melempar bunga ke tong sampah lagi dan naik menuju ruangannya.


Sesampainya di ruangan, Hendi melemparkan tas dan menyambar telpon di mejanya.


"Halo Sinta, saya liat Hanna keluar kantor, pergi kemana dia?"


"Dia tidak enak badan pak, tadi ijin setengah hari." jawaban Sinta terdengar hati-hati.


"Owh oke ,thanks."


"Tidak mungkin Hanna menemui Ansell sendirian. Aku coba hubungi dia ...." batinnya.


Tiba-tiba Pak Chandra memasuki ruangan dengan muka masam. Dia melempar dokumen di atas meja Hendi.


"Kenapa kontrak kerjanya kamu batalkan?"


Hendi sudah menduga pak Chandra pasti akan marah jika ia membatalkan kontrak kerja dengan Ansell. Tapi, dia tak punya pilihan selain membatalkannya, setelah mendengar syarat yang di ajukan pria itu.


Jika ingin kerjasamanya berjalan mulus maka, dia harus membantunya untuk mendapatkan Hanna kembali. Tentu saja Hendi menolak dan memperingatkan untuk tidak mengganggu kehidupan mantan istrinya itu. Terlebih dia sudah beristri dan memiliki anak.


"Maafkan saya, Pak. Tetapi, perusahaan itu tidak sebaik yang kita dengar. Serta profit yang ditawarkan pun masih belum bisa untuk mengembalikan cost kita."


"Kamu tau dari mana? Gemilang Wijaya group sudah berpuluh tahun berdiri dan memiliki reputasi yang sangat baik. Keuntungan yang sangat besar jika kita dapat menjalin kerja sama dengannya Hendi. Bukan saja soal profit, juga akan menambah banyak relasi yang tergabung dalam group-nya."


"Tapi, Pak sa ...."


"Saya tidak mau tau! Pokoknya kamu harus mendapatkan kontrak ini kembali, apapun caranya!" Pak Chandra memotong jawaban Hendi.


"Satu hal yang harus kamu tau, Gemilang Wijaya Group memiliki banyak anak perusahaan yang juga harus kita gandeng. Dengan kita menaklukan induknya maka, semua akan sangat mudah untuk kita dapatkan, kamu harus pikirkan itu baik-baik Hendi."


Pak Chandra membuka pintu dan keluar dari ruangan, meninggalkan Hendi yang tengah termenung bimbang.


"Aku tidak mungkin menjilat ludah sendiri, sangat tidak sudi harus kembali kesana dan menerima syarat yang di ajukan pria brengsek itu." gumamnya dalam hati.


Bukan saja soal Ansell yang telah berkeluarga. Namun, ada hati yang diam-diam menyimpan satu nama itu terpatri dengan kuat, menumbuhkan benih cinta yang baru saja bermekaran.


Tapi tidak mungkin Hendi menolak keinginan pak Chandra, bukan hanya sebagai bawahannya tapi pak Chandra sudah ia anggap seperti papanya sendiri.


"Aaaarrgghhhh ...!"


Hendi memukul-mukul meja dengan tangannya, Bingung apa yang harus ia lakukan.


Tidak ada cara lain, selain bicara alasan sebenarnya dia membatalkan pengajuan kontrak kerja itu kepada pak Chandra.


Namun dia ragu, bagaimana karir Hanna selanjutnya nanti? Dan apakah pak Chandra bisa menerima keadaan wanita itu tentang masa lalunya serta anak yang tak bisa di pungkiri adalah anaknya.

__ADS_1


Sedangkan kantor, hanya menginginkan karyawan yang belum menikah.


Bersambung...


__ADS_2