
"Selamat pagi, Pak Ansell Arian Rendra?"
Seorang wanita masuk ke ruangan bertuliskan manager. Membawa seberkas dokumen dengan memakai kemeja pink, celana hitam panjang dan rambut di biarkan tergerai. Matanya menatap tajam laki-laki di depannya.
"Ha-Hanna?!" ucapnya tersentak.
Dengan mulut setengah menganga, sambil berjalan mendekatinya. Ansell seolah tak percaya, akhirnya wanita itu datang sendirian menemuinya. Setelah selama ini, ia tak pernah mau mengangkat telpon atau menghubunginya setelah puluhan bucket bunga dikirimkannya.
"Pak, anda baik-baik saja?" tanya Hanna ragu melambaikan tangannya.
"Oh, i-iya maaf, silahkan duduk." Dengan terbata Ansell menarik sebuah kursi di depan mejanya.
"Bagaimana kabarmu, Hanna? Aku sangat merindukanmu," Tanpa basa basi pria itu duduk sangat dekat dengannya. Meraih jemari wanita itu.
"Maaf pak, bisa kita bicara soal pekerjaan? Karena ini masih di lingkungan perusahaan. Jika bapak ingin bicara hal pribadi, mungkin kapan-kapan kita bisa cari tempat yang pas." Hanna berusaha tersenyum, melepaskan genggaman tangan Ansell. Dalam hati dia merasa muak, harus berpura-pura baik demi proyek bernilai fantastis ini.
Mata Ansell berbinar, dia senang bukan kepalang mendapat respon positif dari Hanna. Wanita yang beberapa hari ini memenuhi rongga dadanya. Terlebih setelah pertemuan pertama yang terkesan cuek dan dingin.
Hanna pernah mendengar, bahwa ada tiga hal yang membuat laki-laki akan terlena. Wanita, tahta dan harta. Jika tahta dan harta sudah Ansell miliki. Maka, wanita menjadi satu-satunya jalan yang akan mampu membuatnya melakukan segalanya.
"Oke, baiklah. Apa gerangan yang membuat kamu jauh-jauh datang sendirian kesini?" tanyanya kemudian, dengan senyum yang tak berhenti terlukis di bibir tipisnya.
"Ini soal kerjasama antar perusahaan kita, Pak."
Ansell sejenak terdiam, "Apakah pria itu sudah menceritakan kepada Hanna? Perihal syarat yang dia inginkan. Ataukah ini jawabannya?" gumamnya dalam hati.
"Bukankah Hendi 'tunanganmu' itu, sudah membatalkan kontraknya?" Ada penekanan di kata tunanganmu. Membuat Hanna melirik laki-laki di depannya itu.
"Iya, pada awalnya begitu. Tapi, sepertinya beliau berubah pikiran dan memutuskan pertunangan kita." Hanna menjawab berusaha sesantai mungkin.
Ansell tak dapat menyembunyikan bahagia dalam hatinya, perlahan dia mendekati Hanna dan menggemgam tangannya kembali.
"Hanna, apa kita bisa mengulang semua dari awal lagi? Merajut kembali tali yang telah terputus selama ini. Membangun mimpi-mimpi yang sempat hilang. Aku berjanji, tak akan mengecewakanmu untuk yang kedua kalinya." ucapnya menatap penuh harap pada wanita di depannya itu.
Tiba-tiba Hanna merasa flashback, saat mereka dekat dulu di kantor ini. Di mana Ansell sering menggodanya, dengan kata-kata puitis setiap hari. Pikirannya kembali melayang, hatinya kembali terluka, mengingat itu semua.
Saat dia sudah menyerahkan semua hidupnya untuk laki laki ini. Apa yang ia dapatkan? Hanya luka, yang sampai saat ini masih belum sembuh, meski sudah berulangkali dia berusaha melupakannya. Nyatanya, rasa sakit itu masih ada.
"Maaf Pak, kedatangan saya kesini atas perintah dari pak Chandra. Beliau meminta maaf mewakili Hendi, atas sikapnya yang kekanakan. Dan telah membatalkan kontrak kerjanya secara sepihak. Jika bapak berkenan, kami ingin sekali lagi mengajukan ini. Dan besar harapan kami bisa menjadi bagian dari Gemilang Group." Tanpa berlama-lama Hanna mengeluarkan dokumen itu.
"Ini soal gampang Hanna, janganlah terburu-buru aku ingin bicara banyak denganmu. Lagi pula, perusahaanmu sudah sangat yakin akan mendapat respon baik dari Mister Kim. Melihat track record yang bagus dan produk yang selalu ramai di pasaran."
"Dasar brengsek, dia sudah tau perusahanku diterima. Tapi, tetap mengajukan syarat picik itu kepada Hendi." ujarnya dalam hati. Hanna meradang darahnya mendidih.
"Iyakah, Pak? Waahh, suatu kehormatan jika Pak bos memandangnya seperti itu. Saya juga ini sudah ditunggu Pak Chandra, untuk menyampaikan hasil dari rapat ini."
Hanna menyodorkan berkas-berkasnya, dia sudah tidak tahan berlam-lama di dalam ruangan ini. Dadanya mulai sesak dan geli harus terus berpura-pura bersikap baik pada Ansell.
"Kita bisa bicarakan di luar jam kerja, untuk hal yang lainnya pak. Tenang saja, masih banyak waktu." Hanna tersenyum semanis mungkin.
"Baiklah, senyumanmu memang selalu membuatku tak berdaya. Selesai ini, aku anter kamu pulang yah?" pintanya.
Ansell membuka lembaran demi lembaran dan mulai membacanya. Tak lama ia segera menandatangani kertas itu.
"Semudah itu? Memang Ansell berniat mempermainkan Hendi." gimamanya. Hanna merasa makin benci pada pria di depannya ini.
"Oke, aku sudah tanda tangan. Tinggal serahkan ke meja direktur semua beres." Ansell kembali mendekati Hanna, membuat wanita itu berdiri berusaha menghindar. Tapi, pria itu terus mengikutinya hingga tubuh mungil Hanna tersudut di tembok.
"Aku merindukanmu, Hanna." Bisiknya tepat di telinga.
Sementara Hendi yang sedang duduk di dalam mobil dengan cemas. Dia sengaja menunggu di sana, karena mereka sedang menjalankan rencana demi sebuah kontrak kerja dan sedang memberi pelajaran kepada Ansell.
Matanya terus menerus melihat ke arah gerbang, menantikan Hanna yang tak kunjung datang. Hatinya gelisah tak sabar apakah wanita itu berhasil, atau malah terjebak dengan perasaan dan masa lalunya.
Dia pun segera mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi Hanna.
Hanna yang sedang terpojok, dengan tubuh dihimpit kedua tangan Ansell terperanjat mendengar bunyi ponsel pada tas di mejanya.
"Maaf, ini di tempat kerja tolong profesional sedikit pak Ansell." tegurnya.
Ansell tersenyum tipis meledek dan melirik ke arah tas Hanna.
__ADS_1
"Pak Chandra pasti sudah tidak sabar menantikan kabar ini, hingga dia terus menghubungimu." ujarnya seraya mendekati tas itu dan hendak membukanya. Dengan cepat Hanna menariknya.
"Ansell! Jangan melewati batas!" teriaknya.
"Oke baiklah, aku hanya ingin mengatakan satu hal. Suatu saat nanti, aku akan memilikimu kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Jadi, kuharap kamu bersiap."
Hanna hanya membalasnya dengan senyum tipis. Perlahan ia menghampiri laki-laki tinggi putih itu. "Aku tidak sabar menantikan itu, tapi lebih baik kerjasama ini cepat beres agar kita bisa memiliki kesempatan untuk kembali bertemu." Bisiknya di telinga Ansell.
Hanna langsung membuka pintu, seraya melempar senyum menggoda ke arah Ansell yang sedang terlena dengan wajah ayu wanita idamannya itu.
"Hanna sudah berubah," ujarnya dalam hati. "Aku tau, dia datang untuk menggodaku agar bisa meloloskan proyek ini. Baiklah, kita mulai saja permainannya." lanjutnya.
Akhirnya yang ditunggu pun muncul dari balik gerbang, Hendi segera menjalankan mobil mendekati Hanna yang tengah melambaikan tangan padanya.
Huuuufffttt ... Hanna bernapas lega setelah sandiwaranya berjalan lancar.
"Bagaimana Han?" tanya Hendi yang sedari tadi cemas menunggunya.
"Saya berhasil mendapatkan tanda tangannya, pak!" Pekiknya kegirangan setengah melonjak.
"Serius?!"
Hendi reflek memeluk Hanna dengan erat, wanita itu diam mematung dengan wajah datar. Pria berjas biru itu mulai tersadar dan segera melepaskannya.
"So-sory saya reflek," ujarnya salah tingkah.
Hendi menunduk malu, hatinya terlonjak saking bahagianya sampai tak sadar meraih pinggang Hanna dan memeluknya. Setelah menetralkan rasa bergemuruh di dada, dia perlahan menjalankan mobil dan melaju kencang.
Suasana jadi sedikit canggung, Hanna merasa ini tak benar. Dia tak mungkin membiarkan Hendi semakin larut dengan perasaan terhadapnya. Karena hatinya telah memilih yang lain.
*************
Setelah mengantar Hanna pulang ke kostnya, Hendi langsung pulang ke rumah, dia sudah tidak sabar menyampaikan berita bahagia ini kepada pamannya itu.
Sesampainya di rumah, dia langsung mencari Pak Chandra yang tengah makan malam bersama Viona istrinya.
"Selamat malam om," sapanya.
"Malam, ayo makan."
"Hendi, cuci tanganmu ya!"
Tantenya ini memang sangat bersih, dia nggak betah melihat Hendi baru pulang kerja sudah duduk di meja makan. Meraih apel dan langsung melahapnya.
"Siap, Tante." Hendi nyengir dan ngeluyur ke wastafel.
"Gimana tadi, apakah Ansell mau menandatangani kontraknya?"
"Iya dong, Hanna itu hebat om. Dia mampu membuat pria itu tak bergeming dan tak bisa menolak perihal kontrak ini," tuturnya penuh binar.
"Wah waahh luar biasa ... kita perlu rayakan ini. Ajaklah si Hanna itu ke rumah,"
"Sebentar, Hanna ini siapa?" Viona heran melihat antusias mereka membicarakan wanita itu
"Hanna itu sekertaris si Hendi mom, dia sudah membuat keponakan kita ini jatuh cinta, loh."
"Anak mana dia? Keluarganya gimana? Setara sama kita kan?"
Rentetan pertanyaan menyelidik mengusik Hendi. Dia pun tiba-tiba terdiam, apel yang tengah dimakannya dia letakkan di piring.
"Apa arti kesetaraan, jika yang sederhana mampu membuat Hendi bahagia, Tante." ujarnya serius.
Viona terdiam, lalu " bebet, bobot dan bibitnya gimana?" lanjutnya.
"Dia wanita yang baik, pekerja keras dan cantik ko." jawab Hendi penuh senyum.
"Wah, Tante jadi penasaran seperti apa ya wajah si Hanna itu."
"Cuma satu yang jadi pertimbangan, dia sudah pernah gagal dalam pernikahan. Apa kamu tidak ingin mencari yang sama-sama lajang?"
"Apa?! Jadi, Hanna itu janda?"
__ADS_1
Hendi dan Chandra saling berpandangan melihat reaksi terkejut dari Viona. Hendi sudah menduga, Viona pasti akan sangat terkejut dan lebih banyak protes ketimbang suaminya.
"Iya Tante, dia sudah mempunyai satu anak."
Spontan Viona tersedak saat tengah minum.
"Apa?! Jadi, maksud kamu dia janda punya anak satu? Engga-engga Tante tidak setuju, kamu ganteng, mapan, bisa dapetin wanita cantik dan single mana pun Hendi!"
"Tapi Tante...
"Dengar baik-baik Hendi, seandainya di sini ada ibumu dia pasti akan melakukan hal yang sama seperti Tante. Kamu masih lajang carilah yang sama-sama lajang, Tante nggak setuju kalo kamu dapetin janda punya anak pula! Setelah menikah nanti, kamu akan langsung direpotkan dengan anaknya." ujar Viona tegas, matanya memandang tajam keponakannya itu.
"Mom, kita tidak berhak mengatur pribadi Hendi biarkanlah dia memilih pilihannya sendiri." Chandra mencoba menengahi.
"Tapi, sebagai orang tua kita pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dan aku rasa ini akan merusak nama baik keluarga kita juga, pih."
Hendi hanya terdiam, tiba-tiba selera makannya hilang wajah ceria yang dia tunjukan tadi perlahan sirna. Berubah jadi mendung kelabu. Hendi membayangkan akan ada awan hitam yang menutupi hubungannya dengan Hanna. Karena Viona tantenya, adalah orang yang keras kepala dan keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Berbeda dengan omnya, yang cenderung membebaskan apa pun pilihannya selama itu baik.
"Aku masuk kamar dulu om, Tante." Ucapnya kemudian.
Hendi beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka yang nampak bingung melihat perubahan sikap Hendi.
"Pokoknya aku tidak setuju sama yang namanya Hanna itu, besok aku akan pergi ke kantor dan bicara padanya."
"Vio, itu pilihan Hendi biarlah dia bertanggung jawab dengan pilihannya. Kita nggak ada hak untuk menghancurkan kebahagiaannya. Nggak berhak ikut campur urusan pribadinya."
"Kita berhak pih, kita kan pengganti orang tuanya. Jadi kita punya hak atas dirinya dan masa depannya."
"Anak itu belum pernah berhubungan dengan perempuan mana pun, dan ini pertama kalinya dia punya seseorang yang berarti dalam hidupnya setelah kakakku. Jadi, tolong hargai keputusannya."
"Tapi, nggak kita biarkan juga kali dia tersesat dengan pilihannya!"
"Terserahlah, aku males debat sama kamu!" Chandra bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan.
"Aku harus menemui wanita itu, apa kata orang nanti kalo Hendi menikahi janda anak satu." Ucapnya dalam hati.
***********
Pagi itu Hanna telat bangun, setelah peran sandiwaranya yang menguras hati. Dia kembali memikirkan luka lama, yang dengan susah payah dikuburnya.
Dengan malas dia beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi. "Ah, seandainya aku bisa cuti barang sehari aja." Keluhnya.
Selesai mandi dia pun bersiap untuk berangkat. Dengan mengenakan rok span krem selutut dan kemeja hitam glossy. Perlahan dia membuka pintu kost dan terlonjak kaget melihat seorang pria berdiri membelakanginya.
"Reyhan? Sedang apa di sini?"
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu, aku sudah tak tahan menahan rasa ini sendirian Hanna. Aku ingin kamu tau satu hal, hari ini aku akan resign dan pergi dari hidupmu. Aku tak bisa terus menerus melihat kedekatan yang semakin intens antara kamu dan Hendi." Pria itu tertunduk memandangi sepatu pantopelnya.
"Terimakasih atas semuanya, terimakasih atas sebuah rasa yang tidak pernah berujung ini. Karena kamu tak pernah memberikan jawaban apa-apa terhadapku. Jadi mulai saat ini aku akan mengubur dalam rasa ini," lanjutnya.
Reyhan memberikan kotak warna merah ke tangan Hanna.
Wanita itu tercekat, tak sanggup berkata apa pun. Hanya genangan air yang mulai terlihat di pelupuk matanya. Dia merasa bersalah terhadap Reyhan, sebenarnya sebuah rasa memang sudah hadir dalam hatinya. Hanya saja, dia menunggu saat yang tepat untuk dapat menjawab semua tanya. Tak ingin jika masa depannya nanti terus dihantui masa lalunya.
Meskipun Hendi juga memiliki perasaan yang sama seperti Reyhan. Tapi entah kenapa, hatinya sedikit pun belum tergerak untuk membalasnya. Kali ini, dua kotak merah ada padanya. Tubuhnya kaku memandangi Reyhan yang tengah membelakanginya.
"Rey, aku pun menyukaimu. Hanya saja, masih ada sedikit rasa yang mengganjal soal keadaanku. Statusku, masa lalu dan anak yang saat itu kamu liat. Bisakah kamu menerimanya?" batinnya berkecamuk.
"Sekarang aku realistis saja sih, cewe mana yang bisa menolak Hendi. Selain kaya, punya jabatan dan harta dia juga tampan nyaris sempurna. Sedangkan aku? Hanya lak-laki biasa yang tak punya apa pun untuk dibanggakan. Hanya sebuah cinta yang memang tak bisa menjamin kebahagiaan. Simpan saja cincin itu, aku tak bisa membuangnya. Kalo kamu mau buang silahkan," lanjutnya. Dia hendak beranjakbpergi.
"Rey ... harta dan jabatan tidak selamanya membawa kebahagiaan. Aku pernah mendapatkan semua itu. Namun, bukan kebahagiaan yang aku dapat, melainkan luka yang sangat dalam dan membekas hingga saat ini. Membuatku butuh banyak waktu untuk dapat memulai dan membuka lembaran baru."
"Ini hanya soal waktu Rey ...."
"Sudahlah, jangan memberikan harapan kosong. Aku cuma mau pamit, semoga bersamanya kamu bisa bahagia."
"Rey ... Reyhan!" Hanna memanggil pria itu yang bergegas menaiki motornya dan pergi meninggalkannya berdiri mematung.
Bulir air mata pun jatuh, Hanna menangis bukan karena sebuah perpisahan. Namun, untuk sebuah kisah yang belum saja di mulai tetapi sudah berakhir.
Bersambung
__ADS_1