Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian


Pagi sekali mobil sedan hitam sudah terparkir di depan gerbang perusahaan Gemilang Grup. Di dalamnya terlihat Hendi tengah membuka kembali dokumen di tangannya. Ia memeriksa setiap lembar untuk memastikannya semua sudah benar.


Sejak Chandra menceritakan semua masalah yang dialami perusahaannya kemarin malam, Hendi dengan sigap mengambil alih semua masalah itu. Meskipun tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan pamannya itu terus melarangnya, tapi ia sama sekali tak menggubrisnya.


Baginya, perusahaan adalah separuh hidupnya yang harus diselamatkan apa pun yang terjadi. Meski dia tahu kesalahannya, dia berharap partnernya itu bisa diajak kerja sama kembali dan membatalkan niatnya.


"Pak," panggil seseorang di sampingnya.


"Hhmm," jawabnya tanpa menoleh.


"Boleh saya tunggu di mobil?" tanyanya ragu.


Hendi menoleh pada gadis di sampingnya itu.


"Kamu kenapa? Ini kan tugas kamu juga dan misi pertama kamu. Masa mau kalah sebelum berperang," ucapnya seraya kembali pada kesibukannya.


Tiba-tiba dia teringat Hanna, persis situasi seperti ini pernah dirasakannya. Saat pertama kali wanita itu ia ajak ke perusahaan Gemilang untuk melobi kontrak kerja, yang ternyata managernya adalah mantan suaminya.


"Kamu nggak punya hubungan pribadi sama orang-orang sini kan?" tanyanya memastikan.


"Nggak ada sih Pak, cuma ... saya males ketemu Hanna," celetuknya ragu.


"Loh, bukannya kalian berteman dekat dulu?"


"Iya itu dulu Pak, sekarang kan dia udah jadi bos pasti lupalah sama saya." kilahnya.


"Kuharap sih dia tidak seperti itu."


Hendi tampak merenung sejenak mengalihkan pandangannya keluar jendela.


Ia sama sekali tak menyangka Hanna menikah dengan anak dari mantan bosnya itu. Hidupnya sungguh banyak kebetulan yang terjadi. Entah itu keberuntungan atau kemalangan untuknya, pasalnya mantan suaminya pun ada di sana.


Tepat pukul 8 dia menyalakan mobilnya dan melaju menuju gerbang pabrik bercat hijau itu. Setelah melapor pada satpam dan diperbolehkan masuk ia langsung menuju parkiran.


Sengaja ia datang pagi untuk menemui Michael, kali ini bukan lewat manager seperti biasanya. Hendi berniat langsung bicara pada ceo Gemilang Grup itu.


"Saya malah berharap Hanna ada di dalam," ucapnya sembari melepaskan seatbelt-nya.


"Terakhir dengar suaranya saya yakin dia yang membatalkan kontrak ini pak," ucap Sinta yang entah kenapa perasaannya tidak enak.


"Benarkah? Bagus. Sekalian kita reunian sama teman lama kan, kalo benar dia yang membatalkannya. Apalagi dia sudah menikah, kita perlu memberinya ucapan selamat." Hendi tersenyum simpul melihat Sinta yang malah tambah risau.


"Ayolah Sinta! Kamu kaya punya salah aja sama dia. Atau jangan-jangan di antara kalian memang ada sesuatu yah?" tebak Hendi.


"Se-sesuatu? Tidak Pak, kami tidak ada apa-apa." elaknya mengalihkan pandangannya.


"Baiklah, kita selesaikan masalah ini. Semoga Pak Michael mau mendengarkan kita dan mencabut pembatalannya."


Mereka keluar dari mobil bersamaan. Tepat setelah Hendi selesai menutup pintu mobilnya. Terlihat sebuah mobil mewah memasuki parkiran.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba," gumamnya terus memperhatikan mobil yang tengah parkir itu.


"Kenapa Pak?" tanya Sinta bingung.


"Lihatlah, Michael datang."


"Bapak yakin? Ko tau itu mobilnya Pak Michael?"

__ADS_1


Hendi tersenyum tipis mengingat kejadian dulu. Bagaimana arogannya seorang Michael mengintimidasi Hanna.


"Takdir memang selucu itu, dulu dengan keras Hanna melawan pria itu bahkan sepertinya dia sangat membencinya karena sikapnya yang arogan dan semena-mena. Tapi, sekarang malah menjadi istrinya."


Sinta melihat dengan ekor matanya bayangan yang akan keluar dari pintu berkaca gelap itu. Tak lama kemudian, matanya membulat sosok yang sangat dikenalnya terlihat keluar dari mobil mewah itu.


"Hanna!" pekiknya dalam hati.


Dan seorang pria keturunan bule dengan hidung mancung berkacamata hitam tampak keluar dari pintu sebelahnya lagi.


"Nah itu dia Michael!" seru Hendi seraya berjalan ke arah mereka yang memang parkir dekat dengan lobi.


Hanna terlihat merapikan kemeja warna birunya dan syal senada yang dililitkan di leher.


Sesaat langkah Hendi terhenti melihat Hanna menoleh ke arahnya. Langkah yang tadinya mantap mendadak ragu melihat tatapan sinis wanita itu.


"Kenapa tatapannya berbeda sekali dengan Hanna yang kukenal," bisiknya dalam hati.


"Tuhkan, Pak Hendi liat ga tatapan sinisnya?" celetuk Sinta yang berdiri tak jauh dari atasannya itu.


Hendi melihat Michael sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Hanna yang masih mematung di depan mobilnya. Tatapannya seolah sedang menunggu kedua orang yang berada tak jauh darinya.


Senyum tipis tersungging dari bibirnya saat mereka bertiga sudah berada sangat dekat.


"Selamat pagi Bu Hanna," sapa Hendi mengulurkan tangannya.


"Pagi Pak Hendi," jawabnya menyalami tangan mantan atasannya itu.


"Pagi Han," Sinta pun turut mengulurkan tangannya.


Sejenak tadi dia sempat bingung apa harus menyebut temannya itu ibu seperti Hendi, atau nama seperti biasanya. Tapi kemudian, dia memilih menyebut nama saja karena akan terasa canggung jika menyebutnya ibu.


"Aku baik, kamu gimana?" Sinta melempar senyum penuh keraguan pada wanita di depannya itu.


"Alhamdulillah aku baik," jawab Hanna.


"Saya nggak ditanyain kabar nih?" goda Hendi melirik Hanna.


"Hahahaha, sepertinya pak Hendi akan selalu sehat dan panjang umur. Mengingat bapak adalah tonggaknya Yukka, kan."


"Aamiin Aamiin," jawab Hendi sumringah.


Di kejauhan pria bule itu mengentikan langkahnya melihat ke belakang. Ia melepas kaca mata hitam miliknya, sedikit menyipitkan matanya. Terlihat Hanna sedang berbincang dengan dua orang asing.


Lalu, Michael memanggil security.


"Suruh istri saya masuk!" perintahnya sambil berlalu menuju ruangannya.


"Baik Tuan," jawab pria paruh baya itu tegas.


Ia pun tergopoh setengah berlari mendekati Hanna.


"Maaf Bu Hanna Tuan Michael menyuruh masuk," ucapnya setengah membungkukkan badannya.


"Baik pak, terima kasih."


"Saya duluan yah," katanya melihat kepada Hendi dan Sinta.


"Saya juga mau menemui pak Michael boleh kita bareng?" tawar Hendi.

__ADS_1


"Mmm, sudah konfirmasi sebelumnya?"


"Belum."


"Biasanya dia cuma nemuin tamu yang sudah konfirmasi aja, Pak Hendi. Coba nanti di resepsionis minta tolong dibuatkan jadwal yah," ujarnya sembari berjalan.


"Apa tidak bisa kami meminta tolong padamu?"


"Maaf, kalo soal mengendalikan orang lain saya tidak bisa bantu."


"Kalo begitu bagaimana jika aku meminta tolong kamu untuk mencabut pembatalan kontraknya." Sinta yang sedari tadi terdiam maju mendekati Hanna, membuat wanita itu mengentikan langkahnya sejenak.


"Silahkan membuat janji dengan pak michael dulu."


Hanna melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


Sesampainya di meja ia tampak terdiam memandangi laptop di depannya.


"Siapa tadi?" Michael bertanya.


"Mereka dari Yukka ingin menemuimu," jawabnya.


Pria itu melihat jadwalnya sekilas.


"Nggak ada janji dengan Yukka, apa dia datang tanpa konfirmasi?"


"Sepertinya begitu."


"Aku tidak mau menemuinya, suruh Laura saja."


"Kalo aku yang menghandle-nya bagaimana?"


Michael tampak terdiam sejenak.


"Terserah," jawabnya kemudian.


Beberapa saat kemudian suara telepon di meja Michael berdering.


"Halo," jawabnya.


Kemudian dia melirik Hanna dan menekan tombol extention.


"Terima panggilannya," suruhnya pada Hanna.


Wanita itu meraih gagal telepon di depannya.


"Suruh mereka menunggu di ruang meeting," ujar Hanna pada resepsionis itu.


Setelah menutup teleponnya ia menyiapkan berkas perusahaan Yukka.


"Hari ini, kalian akan merasakan bagaimana rasanya dicampakan." bisik Hanna dalam hati.


Dengan mantap ia melangkah menuju pintu. Setiap gerakannya tak luput dari perhatian suaminya. Lekukan rok span yang dikenakan Hanna sukses mencetak body goals miliknya.


Terlebih sejak pulang dari rumah sakit mereka tampak saling menjauh di dalam kamar. Michael yang kecewa pada Hanna karena dia kb merasa percuma jika melakukan hubungan badan, yang keberhasialnnya hanya 1-4% saja.


Meski setiap malam dia harus menelan salivanya melihat pemandangan indah di sampingnya. Ya, kini Hanna sudah tidur di kasur karena Michael terus memaksanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2