Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Anindira


__ADS_3

Setelah Reyhan keluar dari tenda bernuansa putih itu, Ansell yang sedari tadi berada di kerumunan banyak orang akhirnya menampakkan diri. Ia mendengar dan melihat adegan romantis dua sejoli tadi. Meski sudut hatinya terluka tapi, entah kenapa seutas senyum tersungging dari bibirnya saat melihat rona bahagia Hanna.


"Mungkin inilah saatnya kulepas kau menuju bahagiamu, Hanna." Bisiknya dalam hati seraya melangkah pulang.


Setelah di dalam mobil, ia membuka ponselnya. Dilihatnya sebuah alamat tempat anak perempuannya tinggal.


"Nak, papa sudah sangat merindukanmu," gumamnya. Matanya berbinar, membayangkan seperti apa wajah putrinya itu.


Ansell berniat untuk mengunjungi putri semata wayangnya itu hari ini juga. Entah kenapa, ia seperti mendapat obat penawar terbaik untuk sudut hatinya yang tengah luka.


Bagaimana tidak, ia menceraikan istri dan meninggalkan dua anak kembarnya hanya demi memperbaiki hubungan di masa lalunya. Akan tetapi, apa yang ia rencanakan meleset jauh. Wanita yang dulu mencintainya ternyata sudah meninggalkannya jauh di masa lalu.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, perjalanan yang lumayan jauh itu ditempuhnya tanpa mengeluh. Ia sempatkan mampir di sebuah mall sebelum tiba di rumah mamanya Hanna. Ansell membeli beberapa baju yang ia kira-kira sendiri ukurannya dan berbagai macam mainan serta boneka.


Beberapa jam kemudian sampailah ia di depan sebuah rumah sesuai alamat yang Hanna berikan. Lelaki berbaju batik panjang itu turun dari mobilnya dan mengambil tentengan belanjaannya.


Rumah itu sepi, Ansell celingukan mencari seseorang untuk ditanyai. Tiba-tiba seorang anak kecil terlihat membawa kantung plastik berisi jajanan, lewat di depannya diikuti ibu setengah baya yang juga menenteng belanjaan.


"Mari Bu saya bantu," pinta Ansell.


"Nggak usah Nak, rumah Ibu deket ko itu udah sampe." tunjuknya pada rumah yang memang dituju Ansell.


"Bu Ratna?" tanya Ansell.


"Loh, ko tau nama saya?" Kedua alisnya mengkerut menatap Ansell heran.


"Jadi, anak itu Lea Bu?" Ansell malah balik bertanya.


"Lea? Maaf, itu cucu saya namanya Anindira. Masnya siapa yah?"


Ansell langsung berbungkuk dan bersujud di kaki Ratna. Beberapa tas belanjaannya tercecer di tanah.


"Maafkan saya, Bu. Saya banyak salah sama Ibu dan keluarga," ucapnya dengan pundak yang terguncang menahan tangis. "saya terima segala cacian dan kemarahan ibu asalkan bisa memaafkan saya," sambungnya.


"Eeehh, masnya kenapa? Mari ke rumah saya dulu," ajak Ratna.


Ansell pun memunguti barang bawaannya.bSetelah tiba di depan rumah, Ratna membuka pintu dan mempersilahkan Ansell masuk.


"Mas siapa?" tanya Ratna penasaran.


"Saya Ansell, Bu," jawabnya.


"Ansell? Ya Allah, jadi kamu bapaknya Anin?" tanya Ratna dengan bola mata membulat.


"Rasanya pengen marah meluapkan semua kesal selama ini. Karena pria ini, hati Hanna membeku. Bahkan hanya untuk menyayangi anaknya pun dia tak sanggup. Tetapi, semua sudah berlalu marah pun tak bisa mengubah apa-apa." bisiknya pasrah dalam hati.


Ansell hanya mengangguk, matanya kini fokus pada gadis kecil yang tengah menempel manja pada Ratna.

__ADS_1


"Bu, bolehkah saya memeluk anak ini?" pintanya dengan mata berkaca-kaca.


Kali ini Ratna yang mengangguk, netranya pun penuh dengan genangan air. Butuh bertahun-tahun untuk mereka bisa bertemu.


Ansell langsung mendekati Anin dan memeluknya erat. Gadis kecil usia 3 tahun jalan itu perlahan meronta, menolak pelukan dari Ansell yang dianggapnya orang kain.


"Ini papa, Nak. Papa sangat merindukanmu, maafin papa sayang, maafin papaaa!" pekiknya seraya mempererat pelukannya dan menumpahkan seluruh tangisnya.


Tapi, anak kecil itu pun belum mengerti arti tangis pria di depannya. Dia terus berusaha melepaskan diri.


"Tenangkan dirimu, Ansell. Anin bisa takut kalo kamu kaya gini!" seru Ratna menarik pelan cucunya.


"Maafkan saya, Bu." Ansell kembali ke tempat duduknya, ia berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak.


Lalu dia mengambil boneka dan beberapa baju yang dibawanya.


"Anin papa bawakan hadiah untukmu sayang," ujarnya lembut.


Gadis kecil itu melirik ayah kandungnya, juga melirik Ratna meminta persetujuan.


"Ini ambil semuanya buat Anin," kata Ansell seraya menyerahkan kantong-kantong belanjaan itu netranya kembali menetes.


"Bilang apa sayang?" Ratna mendekati Anin lalu mengajarkannya menyalami Ansell.


"Makasih, om." ucapnya polos sambil memegang boneka pink itu.


"Om? Panggil papa sayang," pintanya.


"Maafkan papa, Nak. Maaf, karena tak pernah memberimu apa-apa." ucapnya lirih.


"Sekali lagi, maafkan saya Bu. Dan terima kasih sudah membesarkan Anin dengan baik dan penuh kasih sayang." Ansell kembali bersujud di kaki Ratna.


Setelah cukup lama, wanita itu mengambil napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia mencoba menekan amarahnya, mencoba ikhlas dan memaafkan.


"Sudahlah, semua sudah berlalu dan jauh terlewati. Dibahas pun tak akan merubah apa-apa. Marah juga tak akan menyelesaikan masalah. Mungkin kini tinggal penyesalan, tapi ibu harap kamu bisa belajar dari semua ini. Bahwa hidup seringkali tidak berjalan sesuai yang kita harapkan," tuturnya lembut.


Ansell menatap sekeliling dan matanya tertuju pada foto seorang lelaki di samping Ratna.


"Itu siapa, Bu?" tanyanya penasaran karena terlihat jauh lebih muda.


"Beliau Ardi suami saya dan bapak sambung Hanna," jelasnya.


"Sekarang dimana?"


"Sedang di luar kota,"


Ansell terlihat manggut-manggut. Kini matanya terpaku pada sosok anak kecil di depannya yang tengah bermain sendirian.

__ADS_1


"Wajahmu mirip sekali denganku, Nak. Terutama mata itu. Tapi, kenapa hidung Ibumu yang kau pilih?" bisiknya dalam hati. Tanpa sadar seutas senyum melengkung di bibirnya.


"Oiya Bu, bolehkah suatu saat saya bawa mama saya kesini? Beliau sangat ingin melihat Lea, eh maaf Anin maksudnya. Kenapa Hanna mengganti namanya, Bu?" tanyanya.


"Boleh saja, silahkan. Perihal nama, ibu juga tidak tau. Ya mungkin seperti yang sering ia katakan, menghilangkan jejakmu di hidupnya. Tetapi, anak ini malah memiliki wajah yang sangat mirip denganmu." sedikit senyum tersungging di bibir Ratna melihat gadis kecil itu terus melirik Ansell.


"Beliau ini papa kamu sayang," ucap Ratna lembut menatap lekat mata Anin.


"Bapa Aldi! Butan itu!" serunya melirik Ansell kembali.


"Nggak papa, Bu. Pasti butuh waktu buat dia menerima saya," ucapnya pasrah.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Dengan keheranan Ratna menengok di pintu. Matanya menyipit kemudian membulat saat dua orang itu semakin mendekat.


"Hanna ...!" gumamnya.


Ansell yang juga ikut menengok terperanjat, melihat pasangan yang beberapa jam tadi dilihatnya di pesta Hendi. Kini sudah hadir di hadapannya.


Sontak dia langsung berdiri dan berniat untuk pulang. Belum sempat ia keluar dua sosok itu sudah di depan pintu melihatnya.


"Ansell!" seru Hanna.


"Siapa? Ansell? Mantan suamimu itu?" berondong pertanyaan terlontar dari Reyhan.


Mereka langsung menuju ke rumah Hanna sesuai permintaan Reyhan, yang segera ingin melamar wanita itu di depan kedua orang tuanya.


"Iya," jawab Hanna singkat.


"Ko tiba-tiba, Nak? Ada apa?" tanya sang mama memeluk anaknya itu.


"Iya nih ma, tadi dadakan. Oiya, kenalin ini Reyhan."


"Reyhan, tante." ucapnya ramah.


"Loh, ini yang waktu itu nolongin Anin ya Han?" tanyanya menatap Reyhan.


"Iya ma," jawabnya singkat. Matanya bertemu dengan Ansell yang terlihat salah tingkah di dalam.


"Mari masuk, Nak Reyhan. Bisa kebetulan gini ya, ini ada Ansell Han dia nengokin Anin." terang Ratna menyuruh Reyhan duduk.


Hanna melihat sekeliling, di lantai berserakan mainan dan beberapa helai baju.


"Apakah semua ini kau yang bawa?" tanya Hanna.


"Iya, dia anakku dan sampe detik ini nggak pernah memberinya apa-apa. Hanya ini yang bisa aku berikan saat ini. Memang tidak sebanding dengan luka yang kuberi di hatinya. Setidaknya, dia bisa tersenyum meski sesaat."


Tiba-tiba hati Hanna seakan terhantam sesuatu. Sampai detik ini pula ia tak pernah memberikan apa pun pada anaknya itu. Jangankan barang, kasih sayang yang seharusnya gadis kecil itu dapatkan pun nyaris tak pernah ia berikan.

__ADS_1


Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, netranya tampak berkaca-kaca. Ia memandangi anaknya lekat.


Bersambung....


__ADS_2