
Bangunan dua lantai dengan warna putih dan abu-abu mendominasi itu, berdiri megah di atas tanah seluas 500m. Meski belum sepenuhnya selesai hanya beberapa dindingnya saja yang sudah rampung, tapi rumah itu sudah terlihat kemegahannya.
Bagian lantai bawah rencananya akan difungsikan sebagai kantor, sedangkan lantai atas menjadi tempat tinggal untuk kedua orang tua Hanna. Sebuah desain kolam renang sudah mulai terlihat di bagian belakang. Dan taman dengan tumpukan batu alam pun mulai digarap para tukang.
Meski awalnya mereka protes dengan perubahan design yang diberikan Adri, namun pada akhirnya mereka pun tetap menuruti perintahnya.
Setiap hari Adri datang dan bekerja bersama para kuli bangunan itu. Sedangkan Ratna memasak di dapur darurat yang mereka dirikan di tanah kosong samping rumah.
Di desa itu jarak antar rumah memang tidak serapat di perkotaan. Meski satu orang bisa memiliki lebih dari 1 sertifikat. Dan kini, mereka pun numpang tidur di rumah tetangganya.
"Bu, gimana kabar Hanna?" tanya Adri saat tengah istirahat setelah mengaduk semen.
Dirinya sudah memutuskan untuk tetap berada di rumah, mengawasi dan mempertahankan hak mereka atas rumah itu. Dia dan juga istrinya telah membuat kesepakatan saat di rumah sakit, mereka berencana mengubah design rumah sesuai keinginan Hanna. Pastinya dengan tetap menempati rumah itu.
Ratna yang baru saja menutup panggilannya bersama anaknya terlihat memijat keningnya.
"Alhamdulillah dia baik, pak."
"Lalu kenapa wajahmu terlihat cemas?"
"Mama cuma bingung aja, apa memang si Michael itu jodohnya Hanna yah? Sekeras apa pun kita menolak, sedalam apa pun kebencian kita terhadap keluarga mereka, tapi Allah tetap memberi jalan untuk mereka hidup bersama."
"Memang ada kabar apa?"
"Hanna diminta mengandung anak Michael oleh mertuanya,"
"Jangan! Katakan pada Hanna jangan membuat huhungan lebih dalam lagi dengan keluarga mereka. Orang konglomerat hanya berpikir semua hal adalah bisnis," terangnya.
"Sudah. Mama sudah nyuruh dia ke bidan tadi. Tapi, sebelumnya mereka malah sudah berhubungan dulu."
"Astaga Hanna." Adri berdecak kesal.
"Gimana kalo sampe dia hamil, Pa?"
Adri nampak terdiam raut wajahnya seolah sedang berpikir sesuatu.
"Hanna berkata dia tak mungkin menolak suaminya. Jika menyebabkan masalah khawatir rencana kita jadi gagal," lanjutnya.
Mereka tampak menghela napas bimbang.
"Bapak mau ke kecematan dulu ngurus surat-surat semoga hari ini semuanya selesai," kata Adri kemudian.
Dia masih bingung menanggapi permasalahan sang anak. Jadi, lebih baik menyelesaikan dulu pekerjaan yang ada.
Saat Adri sedang menyalakan motor, tiba-tiba sebuah mobil silver berhenti di depan rumah mereka. Semua mata tertuju pada sosok di balik kemudi.
Beberapa saat kemudian keluarlah seorang pemuda tinggi besar dengan kaca mata hitam. Dia menghampiri Adri yang berdiri di samping motornya.
Di kejauhan Ratna tergopoh mendekati mereka. Perlahan ia menyipitkan matanya menelisik sosok yang cukup familiar di depannya dan seketika matanya membulat saat mengetahui pemuda itu adalah Reyhan kekasih anaknya.
"Assalamualaikum," sapa pemuda itu ramah.
"Waalaikumsalam," jawab Ratna dan Adri bersamaan.
__ADS_1
Wanita setengah baya itu tampak risau dan jantungnya berdegup kencang. Hatinya bertanya-tanya, "Apa Reyhan sudah mengetahui kabar dari Hanna? Atau jangan-jangan belum? Duhh apa yang harus aku sampaikan padanya," batinnya berkecamuk.
"Nak Reyhan," sapa Ratna dengan senyum simpul.
Adri menoleh pada istrinya merasa bingung karena belum pernah bertemu dengan pria ini.
"Ini Reyhan pak dia ...."
Ucapan Ratna terhenti, dia bingung memilih kata untuk status antara mereka berdua kini.
"Saya Reyhan pak kekasihnya Hanna," ucapnya tanpa ragu mengulurkan tangan.
Adri terperanjat kembali menoleh pada Ratna yang tengah tersenyum ragu padanya. Mereka pun berjabat tangan. Lalu, mengajak pemuda itu untuk masuk ke dalam rumah tetangganya karena tak ada kursi di depan rumah mereka.
Meskipun tetangga mereka sudah seperti saudara sendiri karna sudah cukup lama hidup bersama. Bahkan beliaulah yang menawari rumah untuk ditinggali sementara rumah mereka direnovasi.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu Ibu dan bapak," kata Reyhan memulai percakapan seraya melepaskan kaca matanya.
"Tidak sama sekali, ada perlu apa Nak Reyhan?" Adri bertanya seraya melihat pemuda itu dari ujung ke ujung.
Meski postur tubuhnya besar tapi dia memiliki wajah yang kecil dan imut, serta baby face dengan dua lesung pipi yang menarik perhatian.
"Saya ingin bertanya, apa benar Hanna sudah menikah?"
Kedua orang itu kembali saling berpandangan, bibirnya terlipat kedalam lalu menghela napas panjang.
"Kenapa nak Reyhan tidak bertanya langsung pada Hanna?" Tanya Ratna.
"Tapi, beberapa hari yang lalu Rey dapet kabar dari teman Hanna, kalo dia sudah menikah dengan pria yang sudah melecehkannya. Pria yang katanya pernah menyekap dan menyiksanya," lanjutnya dengan napas terengah. Hatinya seketika sakit saat membicarakan kejadian itu.
"Setelah beberapa hari berpikir, sampailah Rey di sini untuk menanyakan langsung pada Ibu dan Bapak. Karena rasanya ingin tidak percaya tapi Rey terlalu takut menerima kenyataan," sambungnya lagi.
Kini kepalanya tertunduk genangan air terlihat di sudut matanya.
"Rey tidak bisa menghubungi Hanna, dia benar-benar menghilang tanpa jejak. Padahal selama ini saya selalu memperjuangkannya demi restu dari kedua orang tua tapi ..." ucapannya terhenti dadanya terasa sesak.
"Nak Reyhan ... maaf tidak banyak yang bisa kami sampaikan karena ini adalah masalah pribadi kalian berdua. Tapi satu hal yang pasti, Hanna memang sudah menikah dengan Michael dan dia pasti punya alasan khusus kenapa sampai memilih jalan ini." terang Ratna lembut.
Dia mendekati pemuda itu dan mengusap punggungnya yang terlihat bergetar. Ia terisak mendengar ucapan wanita setengah baya itu.
"Hanna tega Bu, dia meninggalkan Reyhan tanpa kata. Jika memang dia ingin berpaling atau sudah menemukan yang jauh lebih baik dari saya kenapa tidak jujur saja. In Syaa Allah Rey akan terima," ucapnya.
"Reyhan, kamu perlu tahu wanita itu terkadang apa yang ditunjukkan dan disembunyikan bertolak belakang. Bukan saya mau membela Hanna karena dia anak saya. Tapi, dia melakukan ini karena tak ada pilihan lain. Alih-alih pergi dan menolak dia malah terjebak pada takdir hidupnya," kata Adri.
"Kenapa dia tidak membicarakan ini pada Reyhan pak? Siapa tau saya bisa bantu atas masalah yang tengah dihadapi?"
"Rumit nak, dan keadaannya sangat mendesak terjadi begitu cepat. Tolong maafkan kami dan juga Hanna," kata Ratna.
Pemuda itu terdiam, ia mengalihkan pandangannya pada bangunan besar di sampingnya.
"Kini saya paham, pria itu berada jauh di atas saya. Hingga dia mampu membangunkan rumah mewah seperti itu. Jika kalian memilih saya, belum tentu bisa mendapat rumah semegah itu."
"Nak Reyhan, jika saya ceritakan alasan dibalik rumah ini apa kamu mau mendengarnya?"
__ADS_1
Reyhan mengangguk dan melihat serius pria di depannya.
***
Hanna tak mengindahkan seruan Michael, dia terus berjalan keluar pabrik berencana memesan taxi online.
"Agra, cepat siapkan mobil! Antar Hanna ke rumah sakit, dia sudah menunggu di luar. Jika dia menolak jangan biarkan satpam membukakan gerbang," perintahnya pada asisten setianya itu.
"Satu lagi. Kamu harus bisa masuk ke dalam dan cek apa saja yang ia bicarakan dengan dokter! Mengerti?"
"Siap bos!" jawabnya lantang.
Pemuda yang tengah mencuci mobil kantor itu bergegas menyingkirkan ember dan mengambil kunci mobil lainnya. Di kejauhan terlihat Hanna tengah berjalan ke arahnya.
Dengan sigap dia menuju belakang kemudi dan menjalankan mobil menghampiri istri dari atasannya itu.
"Ayo Bu saya antar," serunya saat sudah mendekati Hanna.
"Sudah kuduga Michael pasti akan menyuruh Agra," batinnya.
"Dan aku nggak mungkin mengabaikannya yang ada malah membuat pria itu curiga," lanjutnya dalam hati.
Sejurus kemudian Hanna memasuki mobil itu.
"Ke klinik terdekat ya," perintahnya.
"Tapi Tuan Michael tadi menyuruh saya mengantar ke rumah sakit, Bu."
"Nggak usah ke rumah sakit, saya cuma sakit perut biasa aja ko."
"Baik Bu," jawabnya seraya kembali menjalankan mobil.
Tak lama kemudian mereka sampai pada sebuah klinik yang tak jauh dari pabrik.
Saat Hanna turun dari mobil, Agra pun mengikutinya dari belakang.
"Loh kamu mau kemana?" tanyanya heran melihat pria itu mengikutinya ke dalam.
"Maaf Bu, Tuan Michael menyuruh saya menemani sampai ke dalam."
"Tidak perlu tunggu saya di mobil," ucapnya kesal.
"Tapi Bu,"
"Ya sudah, saya tidak jadi!"
"Ba-baik Bu, silahkan." Agra segera kembali ke mobilnya.
"Tuh cewek dari dulu galaknya nggak ketulungan. Emang pantes sih dia jadi istri bos. Biar si bos nggak keliaran nyari mangsa," ucapnya seraya terkekeh.
Namun dia tetap harus memberi kabar perihal penolakan Hanna untuk diikuti sampai ke dalam.
Bersambung...
__ADS_1