Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Berbeda Tapi Beriringan


__ADS_3

"Human immunodeficiency virus (HIV) adalah penyakit yang menyebabkan gangguan sistem imun, sehingga penderitanya mudah terkena berbagai infeksi. Namun, jika anda merasakan gejalanya baru beberapa minggu ini mudah-mudahan kita bisa terus mengobatinya supaya tidak berkembang menjadi AIDS." papar sang dokter.


"Apakah HIV dan AIDS itu berbeda, dok?" tanya Hendi serius.


"Mereka berbeda, tapi bisa berjalan seiringan. HIV adalah virusnya dan AIDS adalah kondisi yang disebabkan oleh HIV." jelas pak dokter.


"Jadi, jika saya tertular HIV belum tentu terkena AIDS?"


"Seseorang yang tertular HIV dan terus dibiarkan tanpa mendapatkan pengobatan segera dapat berkembang, sehingga memasuki kondisi AIDS. Maka dari itu, diagnosis dini sangat penting untuk dilakukan."


"AIDS dapat berkembang ketika virus tersebut telah menyebabkan kerusakan yang serius pada sistem kekebalan. Hal ini adalah kondisi kompleks dengan gejala yang berbeda-beda pada setiap orang. Seseorang dapat mengidap HIV tanpa mengembangkan AIDS, tetapi tidak mungkin mengalami AIDS tanpa terkena HIV lebih dulu. Cara pencegahan agar AIDS tidak terjadi adalah rutinitas melakukan terapi antiretroviral." lanjut pak dokter.


Hendi menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Dia terlihat memijat pelipisnya. Sorot matanya sendu ada kegetiran, penyesalan dan amarah di sana.


"Pak Hendi, Menerima diagnosis HIV sering kali sangat sulit. Namun, Anda tidak sendirian. Bertemu dengan teman-teman senasib mungkin bisa sangat membantu." Pria paruh baya itu tersenyum pada pasiennya.


"Yang perlu anda lakukan sekarang adalah, tetap semangat dan rutin menjalani pengobatan. Banyak di luar sana pengidap HIV bisa bertahan hidup lama."


"Apa saya akan mati, dok?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Mati itu pasti, tapi kapan dan bagaimana caranya tak ada yang tahu. Tuhan mungkin sudah menggariskan waktu kita mati, namun penyebabnya Dia tak ikut campur. Maka, jika kamu tidak ingin mati karena penyakit, hiduplah dengan sehat. Hindari berbagai sumber penyakit ini. *** bebas salah satunya, yang marak terjadi di sekitar kita." kata pak dokter melihat Hendi tajam.


Hendi hanya tertunduk dalam hatinya ia mengumpat sumpah serapah. Pikirannya tertuju pada dua perempuan yang pernah tidur dengannya.


"Apa ini Siska? Atau wanita itu? Aku harus segera memastikannya," bisiknya dalam hati. Wajahnya tampak cemas, mengingat Siska tengah mengandung anaknya.


"Jika memang Siska, anak dalam kandungannya pun sudah pasti akan tertular virus ini." gumamnya lagi.


Setelah melakukan perjanjian dengan dokter untuk pengobatan terapi, Hendi pun berjalan gontai keluar ruangan.


***


Sebuah taxi biru berhenti di depan kantor berlantai tiga itu, Hanna tampak keluar dari sana setelah membayar tarif yang tertera di layar. Dia segera naik ke ruangannya, diliriknya jam tangan pukul tiga sore.


"Eh, lu udah balik?" sapa Sinta saat tengah menuruni tangga.


"Udah, lu mau kemana?"


"Laper, mau ke kantin. Yookk ikut," ajaknya menggaet tangan Hanna.


"Pak Chandra nggak ada emang?"


"Nggak ada tadi gue liat dia buru-buru keluar kantor,"


Mereka berdua pun menuju kantin yang terletak di ujung komplek perkantoran itu.


"Ko tumben lu balik masih siang?" tanya Sinta penasaran sambil menyuap Bakso yang dipesannya.


"Si Hendi nggak enak badan, gue diturunin di jalan tadi."

__ADS_1


"Oohh, tuh orang bisa sakit juga yah?"


"Ya bisalah, dikira dia robot apa?"


"Lu tau kan selama ini dia kerja kaya apa? Baru meried aja besoknya langsung berangkat coba, bener-bener loyalitas tanpa batas gaes!" pekik Sinta mengangkat kedua tangannya.


"Padahal ini perusahaan omnya kan? Kalo gue sih udah tinggal uncang-uncang aja berangkat siang dateng cuma beberapa jam balik lagi deh." lanjutnya sambil nyengir.


"Makannya Allah nggak ngasih om lu perusahaan, bisa bangkrut dia gulung tikar kalo punya ponakan kaya elu." Hanna menoyor pelan kepala gadis di sampingnya itu.


"Eehh jangan salah, om gue punya perusahaan tau. Yaa meskipun sekarang baru satu mesin jahit dan satu mesin obras, siapa tau kan entah taun mana bisa jadi pengusaha garment."


"Aamiiiinnn," seru Hanna menadahkan tangannya.


"Eh, btw lu tadi ketemu si Ansell mantan laki lu itu? Dia masih manager di perusahaan gemilang grup kan?"


"Kita belum sempet kesana, Hendi udah keburu nggak enak badan. Dia juga bolak balik pom bensin mulu ke toilet," jawab Hanna yang tengah menyantap mie ayam yang tinggal separo.


"Ngocor kali tuh orang!"


"Mana gue tau."


"Lu masih dendam sama mantan laki itu?"


Hanna terdiam sejenak.


"Awalnya gue dendam banget, pokoknya bakal bikin mereka cerai dan menderita sampe ngemis-ngemis cinta ke gue. Setelah semua terjadi, gue pikir bakal puas dan ngelupain dia selamanya."


"Nyatanya malah bikin gue terus mikirin tuh orang. Dan lama-lama nggak ada gunanya juga gue balas dendam. Faktanya nggak akan bisa ngerubah apa-apa. Yang ada kebencian di hati gue malah berubah jadi simpati apalagi sekarang dia tanggung jawab ke anaknya." jawabnya dengan wajah kesal.


"Ke anak lu maksudnya?"


"Iya, dia ngirim duit udah beberapa bulan ini lewat nyokap gue,"


"Bagus donk, lagian lu ngapain nyimpen dendam. Mending nyimpen duit lebih berfaedah." Sinta terkekeh.


"Lu nggak ngerti perasaan gue waktu itu sih, gue bener-bener terpuruk. Dan mengira hidup gue itu sempurna bakal selamanya indah."


"Han-Han, di dunia ini nggak ada yang sempurna. Sekalipun lu putri bangsawan masalah pasti ada aja. Bedanya jenis dan cara kita menyelesaikannya," jawab Sinta.


"Tumben otak lu lurus,"


"Yee salah, otak itu buleett."


"Bentar, ada telepon nih." Hanna merogoh saku kemejanya.


"Halo, Rey."


"Kamu pulang jam berapa?"

__ADS_1


"Sebentar lagi paling, abis dines luar tadi. Kenapa?"


"Besok kan libur, rencananya orang tuaku mau silaturahim ke ibumu. Boleh?"


Hanna tertegun, matanya melirik Sinta dan dijawab dengan mengangkat kedua bahunya.


"Mereka udah setuju?" tanya Hanna ragu.


"Kamu tenang aja, orang tuaku nggak se-diktator itu ko."


"Hhmm, ya udah berarti besok kamu jemput aku?"


"Iyaa, kita jalan siang aja biar nggak kemaleman pulangnya."


"Oke, aku akan siap-siap nanti."


"Ya udah kamu ati-ati ya pulangnya," Reyhan menutup teleponnya.


"Kenapa?" tanya Sinta.


"Weekend ini ortunya Reyhan mau ke rumah gue," jawab Hanna.


"Udah setuju mereka?"


"Entahlah, semoga aja. Gue pengen bahagia sama Reyhan tanpa ada pihak manapun yang tersakiti." Hanna menatap lurus dengan pikiran tertuju pada wanita itu.


***


Saat mobil Hendi memasuki halaman rumah Chandra dia mencoba merilekskan tubuh dan wajahnya. Menarik napas panjang dan menghembuskannya cepat.


Langkahnya terhenti saat melihat Chandra tergopoh-gopoh menggotong tubuh Siska dibantu Viona.


"Ya ampuuunn Hendi! Kamu kemana aja? Dari tadi tante telepon nggak diangkat-angkat sih?" tanyanya panik.


"Kenapa Siska?" tanyanya segera membantu memegang tubuh lemasnya, terlihat wajahnya pucat.


"Nggak tau, tadi dia pingsan Hen. Buruan bawa ke dalam mobil kita ke rumah sakit," jawab Viona panik.


Mereka pun segera membawa Siska ke rumah sakit yang masih tak sadarkan diri.


"Siskaaa bangun, Sis!" teriak Viona memegangi kaki wanita itu. Tangannya tak henti mengarahkan minyak kayu putih ke bawah hidungnya.


Bersambung...


Kenapa Siska gaes? Apakah jangan-jangan dia ...


Yuk jangan lupa like, komentar, atau vote yaa readers baik hati 😚


Biar aku semangat menari jemari di atas layar pipih ini.

__ADS_1


Sarangeeooo ❤


__ADS_2