
Begitulah hidup, apa yang kita rencanakan sering kali berbanding terbalik. Tapi percayalah, itu adalah skenario terbaik dariNya.
Beberapa hari kemudian ....
Seisi kantor riuh dengan surat undangan yang mereka pegang. Sebagian dari mereka sangat tidak menyangka, akhirnya yang menikah dengan Hendi adalah Siska. Mantan gebetannya beberapa tahun lalu.
"Jodoh itu emang seneng banget bikin spot jantung yah," kelakar salah satu staf yang berdiri tak jauh dari lobi.
"Gue pikir doi jadian sama si Hanna, loh!" seru yang lainnya.
"Kasian yah, cuma di-php-in doank!" sambar yang tengah duduk di sofa.
Tiba-tiba semua mulut tertutup saat Hendi dan Hanna memasuki kantor. Wanita yang tengah menjelaskan beberapa dokumen sambil berjalan itu, tak menghiraukan lirikan beberapa orang.
"Yang ini masih tahap seleksi, Pak. Sedangkan ini, sudah masuk produksi siap untuk dipasarkan beberapa hari lagi." Jelasnya menunjukkan berkas yang dibawanya.
Hendi mengambil berkas itu, sesaat dia memeriksanya.
"Oke, bawa ke ruangan saya!" suruhnya dan berjalan cepat menuju tangga.
Mereka memang selalu terlihat profesional saat di kantor. Terlebih, Hanna juga sangat menjaga jarak. Semua kembali ke awal, saat mereka tidak saling dekat.
Wanita mungil itu, sebenarnya ingin sekali kembali ke posisinya dulu, tapi Chandra melarang dan menyuruhnya tetap menjadi sekertarisnya Hendi.
"Seneng banget liat orang menderita," gumamnya dalam hati saat itu.
*****
Pesta pernikahan megah pun di adakan di rumah keluarga Hendi. Karena Siska merupakan anak yatim piatu yang hanya ada saudaranya di perantauan ini.
Saat Siska memasuki sebuah kamar yang dipakai untuk ruang make up, terlihat dua gaun pengantin warna putih dipajang indah di sana.
__ADS_1
"Satunya punya siapa?" tanyanya dalam hati.
Dia meraba penuh decak kagum pada kedua gaun indah yang berbeda ukuran itu. Tiba-tiba tangannya terhenti pada aksen bordiran inisal 2 huruf.
"H & H? Mungkinkah Hendi dan Hanna? Maksudnya apa gaun ini ada di dalam sini?" tanyanya dalam hati.
"Pak-pak tolong donk singkirkan gaun ini!" pintanya pada seseorang yang tengah sibuk menggotong peralatan lighting.
"Maaf Mba, ini pesanan pak Hendi juga saya nggak berani memindahkannya." jawab seseorang yang sepertinya asisten rumah tangga Hendi.
"Bawa gaun itu ke kamarku," perintah Hendi. Tiba-tiba lelaki itu sudah berdiri di depan pintu.
Siska mendekatinya dan berkata, "maksudnya apa, membawa gaun mantan kamu itu ke dalam kamar kita?" tanyanya dengan wajah yang memerah.
"Kamar kita? Siapa bilang, kita akan tidur bersama. Jangan mimpi," bisiknya tepat di telinga Siska.
Seketika hatinya hancur mendapat penolakan ini. Pernikahan belum saja terikrar, tapi perpisahan sudah di depan mata. Bayang-bayang rumah tangga impian mendadak pupus. Kini, yang terlihat hanya ada masa depan yang suram.
"Satu lagi, yang akan kamu dapatkan hanya status Siska. Bukan tubuhku apalagi hatiku!" lanjutnya masih berbisik di telinga wanita yang diam mematung itu. Air mata meluncur tak tertahan di pipinya melihat dengan santai Hendi meninggalkannya.
"Tak apa, Ibu nggak mau kamu lahir tanpa seorang ayah. Ibu akan coba bertahan dan terus berusaha melunakkan hati ayahmu. Bantu ibu ya, Nak. Kita berjuang sama-sama," gumamnya dengan terus menitikkan air mata.
"Mari Mba, kita mulai make up." ajak MUA yang sedari tadi di belakangnya.
Siska berjalan gontai menuju meja rias, dengan cepat ia menghapus air matanya. Tak ada siapapun yang bisa diajaknya berbagi perasaan di situ. Ia hanya bisa menahan dan memendamnya sendiri.
"Aku harus kuat, bukankah ini impianku menjadi menantu orang kaya. Seperti janjiku pada ibu. Meski akhirnya aku harus mengorbankan perasaan." bisiknya dalam hati.
Selang beberapa jam, wajah Siska sudah terbalut make up sempurna. Dia sangat cantik memakai gaun putih itu.
Seorang WO menuntunnya menuju aula pernikahan di lantai satu. Saat bertemu Hendi ketika dia hendak keluar kamar, untuk sejenak pria itu diam terpaku melihat kecantikan Siska. Dia menatap sekujur tubuh yang terbalut gaun pengantin bertabur permata itu.
__ADS_1
"Cantik sekali, calon istri bapak ini." puji seorang wanita yang tengah melewati mereka.
Hendi hanya tersenyum lalu merentangkan jemarinya menunggu sambutan dari jari Siska. Kini, kedua mempelai itu sudah berjalan beriringan menuju altar pernikahan.
Beberapa tamu terlihat sudah mendatangi rumah Chandra. Dari rekan bisnis, saingan dan beberapa tamu komplek berkumpul di taman halaman yang sudah didekor sedemikian rupa hingga tampak sangat cantik dan megah.
Hanna yang datang bersama Sinta dan kawan-kawan yang lainnya tampak ragu memasuki halaman rumah itu. Hatinya bergetar hebat, membayangkan Hendi duduk bersanding dengan wanita lain.
Sinta menepuk punggung tangan Hanna seraya berkata, "kalo nggak kuat kita pulang aja yuk!" ajaknya.
"Apaan si? Gue fine-fine aja ko," pungkasnya seraya memasuki pesta bernuansa putih itu.
"Gue sih bersyukur lu nggak jadi sama Hendi, tembok besar antara kalian berdua tinggi banget. Kecuali salah satu dari kalian meruntuhkannya, kaya cewek ono dia rela pindah agama kan. Gue yakin alasan terberat Siska adalah harta," bisik Sinta pelan.
"Hush! Nggak boleh berburuk sangka, kalo lu tau alasan sebenarnya pasti lebih terkejut lagi."
"Emang apaan?" tanya Sinta penasaran.
"Udah ah, yook nyari makanan laper gue!" ajaknya menuju stan makanan yang tersedia di pojok-pojok.
Hanna mencoba mengalihkan perhatiannya untuk tidak terfokus pada pernikahan itu. Dia sibuk mencicipi hidangan di sana sini. Membuat Sinta geleng-geleng kepala.
"Hanna, gue tau hati lu hancur dan lu coba menutupi semuanya. Dan gue juga yakin telah terjadi apa-apa di antara mereka berdua, sebelum akhirnya memutuskan menikah." bisiknya dalam hati.
Saat tengah mengantri es krim Hanna berbisik pada Sinta, "kalo gue minta semua rasa kira-kira bisa nggak yah?"
"Eh, non nggak usah maruk juga kali! Lu udah makan nasi, dimsum, baso, terus sekarang mau empat es krim? Yakin perut lu masih kuat?" cerocosnya menatap heran sahabatnya.
"Iiihh lu baru tau, kecil-kecil gini muat banyak tau! Sapa tau kan ngirit sampe seminggu ke depan nggak usah makan lagi gue," selorohnya terkekeh.
"Pingsan lu yang ada!" gerutu Sinta.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang menyodorkan empat cup es krim ke hadapan mereka. Dan matanya terbelalak melihat siapa yang kini di depannya itu.
Bersambung...