
"Apa yang barusan keluar dari mulutku? Rujuk? Astaga Zeaaa!" pekiknya dalam hati. Wajahnya memerah, mengalihkan pandangan.
Bukannya menjawab Ansell malah berdiri, lalu berpamitan pada ibu dari dua anaknya itu.
"Aku pulang yah makasih atas hari ini," ucapnya lembut.
Zea pun tak bisa berkata, kepalang malu ia masuk ke dalam kamarnya. Ansell yang melihatnya hanya tersenyum tipis. Kini ia tahu, jauh di lubuk hati wanita itu masih menyimpan sebuah rasa padanya.
"Zea, kukira kau benar-benar benci, tapi dari ucapanmu barusan meski bernada ancaman aku malah menangkap sebuah rasa yang masih tersisa untukku." bisik Ansell dalam hati seraya melangkah keluar menuju mobilnya.
Sejenak ia termenung, menatap lama rumah itu. Rumah yang dibelinya dari keringatnya sendiri.
"Apa aku sanggup melihat ada pria lain yang akan menjadi penghuni rumah ini kelak? Menjadi ayah sambung bagi kedua anakku?" tanyanya dalam hati. Ada kegetiran dalam sirat matanya.
Laki-laki itu menyalakan mobil dan memecah kesunyian malam. Sepanjang jalan, perkataan Zea terus terngiang di telinganya.
*****
Pagi sekali Ansell sudah bersiap hendak berangkat ke kantor. Seperti biasa sang mama menyiapkan sarapan pagi untuknya. Sejak bercerai ia memang tinggal bersama mamanya. Terlebih sejak papa meninggal wanita sepuh itu tinggal hanya dengan pembantu saja.
"Kau ada meeting hari ini, Ansell?" tanyanya saat melihat anak laki-lakinya mengenakan jas merah maroon dengan kemeja putih di dalamnya.
"Ko mama tau?"
"Biasanya jas itu hanya kau tenteng, tapi sekarang kau pakai dengan rapi." jelasnya seraya tersenyum. Kulit keriputnya terlihat jelas, meski masih ada tersisa kecantikannya sewaktu muda.
"Hahhaha, segitunya mama perhatiin. Iya, aku ada meeting sama Hanna," jawabnya seraya melirik mamanya menunggu reaksinya.
"Hanna? Mantan istrimu itu?"
"Iya, kenapa?"
"Kamu masih berhubungan baik dengan dia?"
"Ya nggak terlalu baik juga sih, kalo di kantor dia sangat profesional Ma. Jadi kita nggak pernah bahas masalah pribadi," terang Ansell.
"Ansell, mama boleh minta sesuatu nggak?"
"Tentu saja mamaku tersayaanggg, selama Ansell bisa lakuin apapun boleh." jawabnya menatap sang mama.
"Mama pengen ketemu Lea, Sell." pintanya lirih.
Deg! Mendadak Ansell diam menelan salivanya. Di sudut hatinya terasa sakit jika mengingat anak perempuannya itu, yang bahkan dia sendiri pun belum sempat bertemu.
"Iya, Ma. Nanti Ansell usahain yaa," ucap pria itu seraya memegang punggung tangan sang mama.
"Sebentar pun nggak papa, usianya sudah 3 tahun mungkin sekarang yah?" tanyanya. Ada raut kesedihan di matanya yang nampak berkaca-kaca.
"Iya Ma, kira-kira 3 tahunanlah." Ansell merapikan tasnya dan menyudahi obrolan pagi ini.
"Ansell berangkat dulu ya," ucapnya seraya mencium kening sang mama dan punggung tangannya.
*****
Pagi-pagi sekali Hanna sudah duduk di lobi, matanya terus melirik pada pintu utama. Seraya mengecek kembali berkas di tangannya.
Tak lama kemudian, muncullah sosok yang ditunggunya.
"Sinta!" serunya melambaikan tangan ke arah gadis itu.
"Hai, ngapain di sini?" tanyanya heran.
__ADS_1
Bukan menjawab, Hanna malah menarik tangannya keluar kantor menuju lorong kecil di samping ruko kantornya.
"Eehh, ada apa?" Sinta kebingungan saat Hanna terus menarik tangannya ke belakang kantor.
"Ssssttt, nggak usah bawel gue mau nanya sesuatu." Hanna menempelkan telunjuknya ke bibir.
"Ya tapi kan, nggak harus ke belakang gini juga kali Han! Pake acara narik-narik tangan pula, sakit tauk!" cerocos Sinta memegangi pergelangan tangannya.
"Iya sori-soriii ... abisnya kalo di kantor lu tau sendiri, tembok pun bisa punya kuping!"
"Kenapa, ada masalah apa? Dari kemaren gue chat kagak dibales-bales," gerutunya kesal.
"Justru itu yang mau gue bahas, non!" Ucapnya seraya terus celingukan.
"Jadi menurut lu gimana, Ta? Kira-kira tuh cewek beneran halu atau Hendi yang lagi sandiwara ke gue?" tanyanya penuh selidik.
"Menurut lu gimana? Kan lu yang sering sama Hendi, ada gelagat aneh nggak dari dia?" Sinta malah bertanya balik.
Hanna sempet berpikir sejenak, kata-kata Hendi kemarin terngiang di telinganya.
Flashback On
"Eemmm ... dua cup minuman di jok belakang punya siapa aja?" tanyanya ragu.
Deg! Kali ini jantung Hendi yang terhantam sesuatu.
"Tentu saja punyaku, siapa lagi? Kemaren kan aku mabuk jadi, nggak sadar pesen paket itu," jawab Hendi sekenanya.
"Ooh gitu, lalu beberapa helai rambut di deket rem tangan milik siapa?" Hanna mengangkat kedua alisnya.
"Rambut? Ah, sial!" keluhnya dalam hati.
"Bentar deh, jadi kamu lagi introgasi aku nih? Udah mulai ada rasa cemburu?" ledek Hendi dengan senyum meledek.
"Aku cemburu? Idih, kapan? Itu kan nanya doaaankk?" kilahnya.
"Nggak usah panik gitu napa, itu lubang idung kembang kempis kurang napas kasian. Apa perlu aku kasih napas buatan niih?"
"Iihh apaan sih kamuuu!" Hanna hendak memukul pundak pria itu, tapi belum sempat tangannya mendarat, Hendi menariknya hingga tubuh mungil itu jatuh tepat di pelukannya.
FLASHBACK OFF
"Nggak ada sih, semua penjelasannya masuk akal." Jawab Hanna masih dengan mata yang waspada.
"Yaelah, percuma juga sih gue nanya kaya gini, biasanya orang yang lagi jatuh cinta cenderung melihat yang baik-baiknya aja. Karena hormon yang dilepasin itu bahagiaaa mulu yang ada!"
"Apaan sih lu? Terus si Siska itu gimana?"
"Ya gue juga nggak tau, yang jelas sih gue rasa mereka emang ada hubungan entah itu sekedar temen atau ttm juga nggak tau!"
Ddrrttzzz
Drrttzzz
Ponsel Hanna bergetar, terlihat nama Hendi di layar.
"Aduuh, gue ada meeting ama gemilang group pula, males banget!" keluhnya seraya merangkul tangan Sinta mengajaknya kembali ke lobi.
"Sama si Ansell mantan lu itu?"
"Iya," ucapnya datar.
__ADS_1
"Dari mana aja kamu, Hanna Kartika?" Tiba-tiba Hendi sudah berdiri di depan kantor menatap keduanya tajam.
"Anu-itu tadi Pak, dari kantin ... sarapan," jawab Hanna terbata.
"Cepat siapkan dokumennya! Saya tunggu di mobil," perintahnya.
"Abis kesambet dimana sih ini orang? Perasaan galak bener," batin Hanna.
"Baik, Pak!" jawabnya seraya berlari menuju ruangannya.
"Eh, gue jalan dulu yah! Kalo boleh gue minta tolong, lu infoin apa pun tentang cewek itu yah?" pinta Hanna menatap Sinta penuh harap.
"Iya tenang aja! Kemaren udah gue skak dia, nggak bakal berani nongol lagi." Ucapnya penuh percaya diri.
"The best lu maahh, muah muaahh!" seru Hanna seraya berlari keluar ruangan dengan gerakan tangan kiss bye.
"Idiihh!" Sinta bergidik, kemudian seutas senyum tersungging dari bibirnya.
Sesampainya di mobil, Hanna melirik sekilas ke arah wajah Hendi yang terlihat manyun itu.
"Salah makan kali nih orang," gumamnya pelan.
"Aku denger ucapanmu!" Sontak Hanna terlonjak memegangi dadanya.
Sejurus kemudian, Hendi menarik tangan Hanna dan meraih lehernya. Sebuah kecupan mendarat di bibir wanita itu. Awalnya dia meronta belum siap menerima serangan mendadak, lama-lama tampak menikmati permainan lidah dari pria tampan di depannya.
Darah keduanya berdesir, dengan napas yang memburu. Saling pagut pun tak terhindarkan, dengan mata terpejam Hanna menikmati serangan Hendi. Ketika tangan pria itu meraih pinggangnya, sontak dia melepaskan ciuman panasnya.
"No, Hendi." pintanya dengan tatapan sayu.
Huuffttt ... Hendi tampak menghela napas panjang.
"Sabar ya tangan dan junior! Nanti akan ada saatnya kita habiskan wanita satu ini," ucapnya melirik nakal Hanna.
Belum sempat ia menjalankan mobilnya sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Hendi. Alisnya berkerut, menatap layar pipih itu. Raut wajahnya berubah pucat. Tak lama kemudian telepon dari Chandra masuk.
"Ha-halo om?" sapa Hendi terbata.
"CEPAT KAMU PULANG! Biarkan Hanna handle gemilang, suruh si Ujang buat supirin dia!" teriaknya dari sebrang ponselnya.
"Siskaaaaa! Ulah apa lagi kini yang kau buat!" pekiknya dalam hati.
"Kamu baik-baik aja, Hen?" tanyanya.
"Ada masalah di rumah, sepertinya kamu harus handle ini sendirian gimana?"
"A-aku kan nggak bisa nyetir, Hen?"
"Aku suruh Ujang supirin kamu yah."
"Ya udah deh," jawab Hanna sedikit kecewa.
Hendi segera berlari ke dalam kantor, tak lama kemudian dia keluar bersama Ujang office boy mereka.
Setelah, mengambil dompet dan tasnya dia keluar dari mobil sedan hitam itu.
"Kamu baik-baik yah, maafin aku. Kabarin kalo Ansell kurang ajar!" Hanna hanya mengangguk, karena ada Ujang berdiri di samping mobil itu.
"Ada masalah apa yah? Ko dia nggak kasih tau gue," bisiknya dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1