Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Pelangi Setelah Badai


__ADS_3

Tiba-tiba seseorang menyodorkan empat cup es krim ke hadapan mereka. Dan matanya terbelalak melihat siapa yang kini di depannya itu.


"Reyhan?" gumam Hanna dan Sinta bersamaan.


Seutas senyum melengkung di apit dua lesung pipi indah. Sorot matanya yang teduh, menatap Hanna sendu. Terpancar kerinduan di balik netra yang kini berkaca-kaca.


"Hai, apa kabar?" sapanya lembut.


Seketika Hanna salah tingkah, menutup mulutnya yang sempat menganga tadi. Kemeja kotak-kotak merah yang dipadukan sweater hitam sukses membuat mata Hanna membulat sedetik tadi. Dengan cepat dia menarik jiwanya yang sempat melayang.


"Apaan si lu, Han. Inget gimana dia ninggalin lu gitu aja. Inget perihal cinta yang sudah mati meski belum sempat tumbuh dengan sempurna. Dan inget untuk sebuah kisah yang belum dimulai tapi sudah berakhir," bisiknya dalam hati.


Sinta menyenggol lengan Hanna yang masih terdiam.


"Eh, iya, gue baik. Lu gimana?" tanyanya mencoba rilex.


"Seperti yang kamu liat, aku baik. Ini es krimnya," ucapnya menyodorkan 4 cup es krim.


"Ya ampun kebanyakan, gue ambil satu aja ya." Hanna mengambil satu cup dan menyenggol lengan Sinta.


"Gu-gue dua yah, maklum aus." seloroh Sinta.


"Tadi perasaan ada yang minta empat, jadi aku ambilin sesuai pesanan. Salah yah?" Reyhan melirik Hanna dengan senyum yang tertahan.


"Siapa? Enggak ada ah," Wanita memakai mini dress itu mlengos mengalihkan pandangan.


"Oooh, berarti aku salah dengar yah."


Mereka bertiga pun terkekeh dan mulai cairkan suasana yang sesaat terasa canggung itu.


Tak sadar ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan mereka dari altar pernikahan. Ya, fokus Hendi pecah saat melihat Hanna didekati Reyhan musuh bebuyutannya.


Terlebih, statusnya sekarang yang sudah resmi suami orang dan telah menyakiti Hanna telak, membuatnya ada jarak yang sangat jauh untuk menggapai wanita itu lagi.


Pesta pun berlangsung meriah, tak ada yang tau dibalik senyum kedua mempelai ada luka yang disembunyikan. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah Siska sebentar lagi akan berubah menjadi nestapa.


Akankah anak yang hadir nanti, mampu mencairkan Hati Hendi?


Terlihat Reyhan tengah mengobrol serius bersama Chandra. Mantan bos dan karyawan itu terlihat sangat akrab. Membuat Hendi memandang curiga ada sesuatu yang disembunyikan.


Benar saja, ketika Hanna hendak pulang bersama Sinta saat mereka berpamitan kepada bos dan sebagian teman-temannya, tiba-tiba namanya dipanggil melalui pengeras suara.


"Saudari Hanna Kartika, tolong berhenti di situ dan jangan dulu menengok ke belakang," seru seseorang yang entah berdiri dimana.


"Han, ada apaan ini? Lu nggak nyuri makanan kan?" tanya Sinta panik.

__ADS_1


"Nggak tau gue! Nyuri? Ya enggaklah, gila aja kali!" jawab Hanna nggak kalah panik.


"Mungkin ini cukup mengagetkan untukmu, melihatku tiba-tiba muncul di sini. Tapi, seperti yang kita tau takdir memang selalu penuh kejutan. Dan aku percaya dengan bertemunya kita di sini, ada sesuatu yang harus dimulai meski sempat tertunda." Reyhan tiba-tiba muncul entah dari mana, kini berjalan menghampiri Hanna.


Flashback kejadian di villa dulu, saat gathering kantor terlintas kembali. Reyhan dengan gentle mengungkapkan rasanya kepada Hanna, di tengah-tengah aula restoran yang disaksikan teman kantornya dan beberapa orang lain.


Hanna masih diam mematung, jantungnya berdegup kencang seiring semakin dekatnya suara sepatu pantofel Reyhan.


"Aku pun tau, kita mempunyai kisah yang tak mulus. Tapi ijinkan aku dengan tulus memintamu, menikahlah denganku." ucap Reyhan seraya berlutut tepat di belakang Hanna, dengan sebuah cincin di dalam kotak merah di tangannya.


Sinta yang celingukan menahan malu menyenggol lengan Hanna seraya berkata, "Si Reyhan di belakang lu, Han!"


Wanita di sampingnya itu malah diam tak bergeming. Lalu, dengan santainya melangkah pergi. Kini, semua mata tertuju pada tiga anak manusia itu.


Terdengar bisikan beberapa orang, "yaahh sayang banget cowok ganteng kaya gitu di tolak."


"Sama gue aja bang, jomblo nih!" tawar yang lainnya.


Reyhan berdiri mencoba tersenyum meski dipaksakan. Lalu, kembali menyeru melalui mix di tangannya.


"Oke, aku nggak akan mengulang kedua kalinya pintaku tadi. Tetapi, ada hal yang harus kamu tau. Bahwa rasa ini masih utuh untukmu dari pertama kita bertemu sampai detik ini. Jika pada akhirnya kamu tetap menolakku meski dia telah bersanding dengan orang lain. Mungkin inilah kejutan takdir untukku."


Seketika Hanna berbalik dan runtuh di pelukan Reyhan. Air matanya sudah menganak sungai. Tak ayal, lelaki itu langsung membopong tubuh mungilnya dan berputar seraya tersenyum bahagia.


Reyhan segera menurunkannya lalu memeluk erat wanita itu. Netranya berkaca-kaca menahan haru. Berbanding terbalik dengan seseorang di kejauhan. Rahangnya mengeras melihat adegan romantis itu.


"Cih! Nggak tau malu, ngelamar wanita di pesta orang lain!" serunya membuat Siska meliriknya.


"Ada tujuan yang dia bawa," gumam Siska pelan tapi tetap dapat terdengar Hendi.


Chandra pun tepuk tangan disusul oleh yang lainnya. Mendadak pesta itu ramai suara cuitan dan siulan saling bersahutan. Membuat wajah kedua sejoli itu memerah dan reflek menjauh.


Hanna membungkukkan badannya dan menyatukan kedua tangannya meminta maaf telah membuat kegaduhan. Sekilas lirikannya bertemu dengan Hendi yang tengah menatapnya.


Lalu ia pamit dan menarik tangan Sinta cepat. Ia sudah tak kuat ingin segera pergi dari situ.


"Tunggu aku di luar!" seru Reyhan yang dijawab anggukan oleh Hanna.


Reyhan mendekati Chandra, dan memeluk tubuh pria berjas hitam itu serta menyalami Viona yang cantik berbalut kebaya pink.


"Jangan lama-lama, cepet sebar undangan!" ucap Viona menepuk pundak Reyhan.


"Siap Bu, minta doanya ya." jawabnya seraya mencium punggung tangan Viona dan Chandra bergantian.


Pria baby face itu menemui Hendi yang langsung disambut tatapan tajam.

__ADS_1


"Selamat broSis! Gue nggak nyangka akhirnya kalian jodoh, takdir memang penuh kejutan!" serunya menyalami dua mantan teman kantornya itu.


Siska mencoba tersenyum, sedangkan Hendi tetap memasang wajah datarnya.


"Lu bisa bahagia sekarang, nggak usah khawatirin Hanna. Gue bakal jaga dengan baik wanita itu." bisiknya tepat di telinga Hendi.


Tak ada jawaban, hanya suara gigi gemerutuk menahan kesal pada rivalnya itu. Kedua tangannya mengepal. Reyhan yang menyadari itu memegang satu tangan Hendi lalu menyalaminya lagi.


"Kita impas kan?" pungkasnya sambil berjalan menuruni tangga kecil. Tangannya melambai pada Hendi.


Dia terus berjalan keluar tenda putih itu, kepalanya celingukan mencari sosok Hanna. Matanya bertemu siluet dua wanita tengah berdiri di tepi jalan. Dengan wajah sumringah segers berlari mendekati mereka.


"Hai ladies! Sorry lama, abis ngasih pelajaran seseorang. Gue ambil mobil dulu yah," ujarnya seraya berlari kecil menuju salah satu deretan mobil di parkiran.


Tak lama kemudian sebuah mobil silver berhenti di depan Sinta dan Hanna.


"Ciyeee, udah punya mobil sekarang?" goda Sinta melirik Hanna.


"Hahaaah, rental buu!"


"Halah bisa aja! Masa rental ada foto keluarga di sini?" tunjuk Sinta pada gantungan di kaca spion depan, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Mau diantar kemana, Ta?" tanya Reyhan mengalihkan pembicaraan.


"Jadi ceritanya lu ngusir gue nih?" tanya Sinta cemberut.


"Ya-ya nggak gitu juga sih!"


"Hahaha nggak usah kaku gitu! Anterin gue balik yak. Lu berdua pasti banyak bahasan kan?"


"Ah, gue jadi enak. Elu emang sahabat paling pengertian Sin!" seru Reyhan menjalankan mobilnya pelan. Dia melirik Hanna yang duduk di sampingnya. Kedipan maut khas Reyhan menghujam tepat di jantung Hanna.


"Apaan si? Itu mata kena sarap ya?" ledek Hanna.


"Dih, tega bener ngatain calon lakinya kena sarap." gerutu Reyhan.


"Lagian dari jaman baheula kedip-kedip mulu!"


"Ini artinya sinyal cinta, sayangkuu!"


"Etdaahh, belum apa-apa gue udah kaya obat nyamuk bestieee!" Sinta yang kesal menoyor kepala Hanna.


Mereka bertiga pun terkekeh.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2