Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Setitik Harapan


__ADS_3

Hanna menyodorkan selembar kertas pada Hendi tanpa kata. Sesaat pria itu meliriknya lalu membaca kertas di depannya itu. Matanya terbelalak membaca baris demi baris isi surat itu. Tetapi, ia berusaha untuk kembali menenangkan kegugupannya.


"Kamu yakin?" tanyanya menyandarkan punggungnya di kursi.


Hanna hanya mengangguk, lalu melemparkan pandangannya keluar jendela.


"Baiklah, silahkan kembali ke ruangan. Saya akan diskusikan dengan Pak Chandra kita dengar pendapat beliau," pungkasnya.


Wanita itu menurut dia pamit tanpa menoleh. Sedetik kemudian Hendi meninju tembok di belakangnya.


"Aaarrrgggg! Sial!" makinya seraya melempar kertas itu. Tak disangka pintu terbuka dan masuklah Chandra. Hendi langsung berdiri dan berjalan memungut kertas itu dengan cepat.


"Apa itu?" selidik Chandra menatap secarik kertas di tangan Hendi.


"Bukan apa-apa hanya bagian berkas yang tercecer," jawabnya sedikit gugup.


"Kamu itu keterlaluan Hen, baru kemarin menikah hari ini sudah bekerja. Profesional dan loyalitas sih boleh, tapi harus pikirkan juga perasaan istri kamu!" gertak Chandra duduk di kursinya.


"Sana pulang! Biar om yang urus semuanya," lanjutnya.


"Ada beberapa dokumen penting yang harus Hendi cek sebelum turun produksi om. Jadi benar-benar urgent," kilahnya menyibukkan diri.


"Ayolah, kasian istrimu masa pengantin baru udah ditinggal ngurus kerjaan!" sergah Chandra merebut dokumen di meja Hendi. Dengan cepat Pria tinggi itu kembali merebut secarik kertas dari Hanna tadi.


"Sorry, yang ini bukan!" kilahnya memasukkan kertas itu ke dalam tas.


"Baiklah, kalo Pak bos memaksa dengan berat hati saya turuti. Tapi ijinkan satu hari ini saya selesaikan dulu yah," pintanya memohon.


"Dasar keras kepala!" jawabnya seraya menggeleng kepalanya.


*****


Menjelang sore Hendi bergegas menuruni tangga, berhenti tepat di depan pintu lantai dua. Ia mengintip ruangan kaca itu, terlihat sesosok wanita yang dicarinya tengah membereskan meja. Lalu, pria itu setengah berlari menuju parkiran.


Lama menantikan, dari kejauhan terlihat Hanna berjalan gontai melewati mobilnya. Dengan cepat ia keluar dan menarik tangan wanita itu.


"Eehh, kamu apa-apaan Hen?" tanyanya terkejut mendapat perlakuan Hendi.


"Ikut sebentar, ada yang ingin kubicarakan padamu." paksanya membuka pintu mobil dan mendorong tubuh mungil Hanna.


Setelah ia berada dalam mobil, Hanna memaksa keluar tapi kalah cepat dengan tangan Hendi yabg menekan tombol kunci.


"Aku nggak mau yah, sampe ada rumor pelakor di sini!" bentak Hanna mulai emosi.


"Semua orang tau, siapa yang pelakor kan?"


"Kenyataannya, dia yang sekarang jadi istrimu. Publik tidak akan melihat masa lalu yang mereka tau adalah apa yang mereka lihat sekarang!"

__ADS_1


"Batalkan pengunduran diri kamu, Hanna!"


"Tidak bisa! Aku ingin keluar dari kantor ini," matanya melirik Hendi tajam.


"Kamu sakit hati padaku kan? Kamu kecewa sama aku kan? Jangan korbankan karier kamu demi aku, Hanna."


"Apa? Bagiku kamu itu hanya sebatas singgah, mengisi kekosongan tidak lebih. Jadi, jangan berpikir berlebihan, Pak. Cepat buka pintunya!" bentaknya.


Tak disangka lelaki itu menarik lengan Hanna dan merengkuh kepalanya berhadapan dengannya. Hendi ******* paksa bibir Hanna, tangannya terus memegang belakang kepala wanita itu. Meski ia meronta berusaha menjauhkan tubuh dan kepalanya pria itu terus menciuminya dengan kasar.


Sesaat ia menangkap bayangan Reyhan lewat, dengan cepat Hanna membunyikan klakson sekeras mungkin mengagetkan Hendi dan juga Reyhan yang memang tengah mengamati mobil mantan rekan kerjanya itu.


Ia curiga Hanna berada dalam mobil itu, karena tak mengangkat telpon darinya.


Bruuaaakkk ... tubuh kekar Reyhan menabrak pintu kemudi. Hendi sontak melepaskan Hanna dan menatap Reyhan uang sedang emosi di luar sana.


"Gue nggak mungkin hadapi Reyhan di sini. Om Chandra masih stay di atas." gumamnya dalam hati. Lalu ia menancap gas meninggalkan Reyhan yang mengumpat seraya menuju mobilnya.


"Itu Reyhan kan?" tanya salah seorang karyawan kantor kepada yang lainnya.


"Eh iya, itu kan si Reyhan. Ngapain dia ngejar-ngejar mobil pak Hendi?"


"Buset dah, udah keluar dari kantor pun mereka berdua masih aja terlibat perselisihan."


"Tapi kali ini apa yang mereka ributkan? Hanna lagi? Nggak mungkinkan?"


Dari ruangan atas sesosok bayangan tengah memperhatikan kejadian di parkiran tadi.


"Hendi-Hendi apa yang akan kamu lakukan dengan Hanna? Om nggak habis pikir, kenapa kamu ceroboh menggali masalahmu sendiri?" batinnya berkecamuk memikirkan keponakan satu-satunya itu.


******


Zea mencoba membuka hati untuk pria lain, setelah beberapa sahabatnya mengenalkan seseorang dengannya. Hari ini ia memutuskan untuk kencan buta menemui salah satu dari mereka.


"Mba, saya mau keluar yah titip anak-anak." ujarnya pada asisten rumah tangganya.


"Iya bu," jawab asistennya.


"Kalo ada pak Ansell dateng, cepat hubungi saya." pintanya sok jaim.


"Baik Bu," jawabnya singkat.


Sejurus kemudian mobil itu pun keluar parkiran, menuju sebuah resto tempat dimana mereka janji bertemu.


Sesampainya di sana Zea celingukan mencari sosok yang sesuai dengan yang disebutkan sahabatnya itu. Dan matanya tertuju pada seseorang yang tengah duduk sendirian menatap layar ponselnya.


Namun, dilihat dari postur tubuh dan wajahnya sama sekali bukan tipe Zea. Ia pun mengernyitkan dahinya melihat hidangan tak sesuai dengan pesanannya.

__ADS_1


Sesaat bingung, haruskah ia say hello menghargai usaha sahabatnya itu atau langsung cabut pura-pura ada urusan. Dalam ketidakpastian langkahnya itu tiba-tiba ponselnya berdering. Sang asisten menghubunginya, ia pun berputar arah menuju parkiran.


"Iya hallo mba, ada apa?" tanyanya.


"Bu, ada pak Ansell bawa mainan dan baju-baju banyak banget. Terus beliau juga mau ngajak anak-anak berenang, kasih ijin nggak Bu?"


"No! Jangan bicara apapun, tahan mereka mba. Jangan sampai keluar rumah sebelum saya datang yah!" suruhnya pada wanita di sebrang telpon itu.


"Ba-baik, Bu." jawabnya terbata.


Dengan kekuatan penuh Zea melesat kencang mengendarai mobilnya. Di tengah perjalanan ia tersadar, "gue kenapa? Khawatir anak-anak dibawa Ansell atau seneng dia dateng?" gumamnya dalam hati.


Tak lama laju mobilnya kembali normal, ia berusaha serilex mungkin setelah sempat panik perasaan campur aduk hinggap tadi.


"Aduh! Gue lupa cowok tadi!" pekiknya baru teringat kalau dia pergi tanpa kata.


Sesampainya di halaman, ia bergegas keluar mobil dan setengah berlari memasuki rumah.


"Hai, kamu baru pulang?" sapa Ansell yang tengah bermain bersama anak-anak di ruang tamu.


"I-iya," jawabnya singkat. Matanya melihat sekeliling banyak barang bawaan Ansell berserakan.


"Aku rencananya besok mau ajak anak-anak berenang, boleh?" pintanya saat Zea sudah terduduk di sofa sebrangnya.


"Besok? Jam berapa?" tanyanya dengan nada cuek.


"Mungkin pagi, sekitar jam 8."


"Mama ikut yaa?" ajak Lard sang kakak.


"Mmm-mama di rumah aja yah, kalian pergi sama mba nanti."


"Kamu ada kerjaan?" Tiba-tiba Ansell menyambar pembicaraan mereka.


Deg ... sontak hati Zea begetar. "Perasaan apa ini? Kenapa gue seneng banget ditanya gituan doank?" batinnya.


"Nggak ada sih,"


"Nggak mau ikut bareng kita?"


"Aa-aku sebenernya masih ada urusan, kalian pergi aja dulu aja. Nanti aku nyusul," jawabnya dengan terbata. Lalu, ia pergi memasuki kamarnya.


"Ya ampuunn Zeaaa, lu kenapa siiih?" keluhnya sambil meremas bantal.


Sebahagia itu, ketika masih memiliki perasaan dan disambut baik dari dia yang selalu di hatinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2