
Setelah Ansell menceritakan semua kepada orang tua Zea dan mendapat berbagai hinaan dan makian ia menerimanya. Dengan harapan akan hidup bahagia dengan Hanna. Nyatanya, kebahagiaan yang dia impikan telah hilang dan pupus bersama hilangnya Hanna dan anaknya.
Dia pun menjalani hari-hari dengan berat, jarang masuk kantor dan mendapat teguran dari atasan. Seorang Ansell yang bertanggung jawab, pekerja keras dan tangan kanan bosnya itu kini berubah seperti tubuh tak bernyawa.
Setiap hari dia ke rumah kakaknya, mencari keberadaan Hanna. Hanya kenangan dan bayangan wanita itu yang ia temui.
"Hanna, beri aku kesempatan sekali saja untuk memperbaiki semuanya. Aku berjanji, tak akan menyakitimu dan anak kita." ratapnya sendu. Air matanya telah kering, sekering hatinya tanpa Hanna.
Selang 2 minggu dari kejadian itu, orang tua Zea datang ke rumah Thifa mencari Ansell. Perceraian tidak dapat dilaksanakan lantaran Zea hamil. Mereka pun menuntut tanggung jawabnya.
Ansell yang sedang bimbang pun awalnya tak percaya, sampai dia melihat sendiri usg yang dilakukan Zea. Mereka dikabarkan akan mendapat 2 anak sekaligus, karna istrinya itu mengandung anak kembar. Pada akhirnya dia pulang ke rumah dan mencoba menerima Zea kembali demi anaknya.
******
Dengan wajah lesu Hanna kembali ke rumah orang tuanya.
"Ansell akan segera memiliki anak, istrinya tengah hamil." ucapnya pada Ratna ibunya. Ada rasa perih mendengar Ansell akan hidup bahagia, sedangkan dirinya masih saja memikirkan luka itu.
"Ya sudah bagus, mamah memang tak setuju kalo anak ini dikasihkan sama dia."
"Hanna tetap mau kerja mah."
"Nggak bisa nunggu 2 tahun lagi, Nak? Kasian Anin masih butuh asi."
"Mah, aku nggak mau nyusuin anak itu! Berapa kali harus bilang. Aku nggak mau liat ni anak!" Dia langsung masuk ke kamarnya.
"Astagfirullahaladzim, Hannaa ... istighfar naakk!"
Kemudian, rasa benci menjalar ke seluruh urat nadinya. Ia tak terima kalo harus melihat orang yang telah menghancurkan hidupnya bahagia. Termasuk membenci anaknya sendiri, yang dia pikir telah menyebabkan kehancuran di hidupnya.
******
Hanna kembali merantau meninggalkan anak dan luka lamanya. Sang mama pun akhirnya mengijinkan dan berjanji akan tetap merawat Anin hingga besar nanti. Meski dia tak peduli terhadap anaknya, kedua orang tuanya sudah menganggap cucunya itu sebagai anak sendiri.
Waktu berlalu dengan cepat, setahun kemudian Hanna sudah bisa menjalani hidupnya dengan normal, meski tak pernah pulang ke rumah atau sekedar menanyakan kabar anaknya. Baginya, Ansell dan anak itu satu paket.
******
"Hannaaa banguuunn ...!" teriakan dan ketukan pintu terdengar nyaring di luar.
"Hannaaa ... Pak Candra nyuruh kita kumpul di resto sekarang! Cepetaaann ...!" pekiknya tajam menukik. Pintu yang digedor semakin kuat, tetap tak mempan membangunkan seseorang di dalamnya.
"Kemana sih ni anak? Susah bener dibanguninnya!" gerutu Sinta teman sekamar Hanna.
Ya, Hanna saat ini sudah kembali menata hati dan mulai mengejar mimpinya menjadi wanita karir.
"Berisik banget sih di luar!" keluhnya.
Dengan malas dan rambut acak-acakan Hanna bangun menghampiri gagang pintu, lalu membukanya.
"Apaan sih Sintaaaa? Pagi-pagi buta ngebangunin orang kaya ngejar maling aja! Suara lu itu kedengaran sampe 10 km tau nggak?!" bentaknya.
"Eh, oneng! Pak Candra nyuruh kita semua kumpul, sekalian sarapan pagi! Lagian ini udah jam 7, pagi buta dari Hongkong!"
"Hah??? Kenapa lu nggak bilang dari tadi Sintaa!" Hanna kalang kabut menyambar handuk dan segera berlari ke kamar mandi.
"Dih bocah yah, gue udah teriak-teriak dari tadi kagak masuk kuping!"
Sinta melengos kesal sambil menggeleng kepalanya.
__ADS_1
"Gue duluan yaa! Cepetan lu mandinya, jangan pake lama!" teriaknya di depan kamar mandi.
"Sintaaa ... tungguin gue donk!" jawabnya dari balik pintu. "Sintaaa, etdah gue ditinggalin." Wanita itu buru-buru mandi dan ganti baju.
Kantor Hanna sedang mengadakan gathering tahunan, semua karyawan dan bos besar hadir di sana. Mereka menginap 2 hari 2 malam di sebuah vila dengan pemandangan laut. Sudah hampir 1 tahun Hanna bekerja di perusahaan software ini. Perlahan tapi pasti, ia dapat melupakan masa lalunya, meski trauma itu tetap masih ada.
Setelah selesai ganti baju, ia hanya memakai pelembab dan memoleskan sedikit lipstik softpink ke bibir imutnya.
"Oke done!" Segera ia beranjak keluar kamar.
Ketika dia membuka pintu depan, "Astagfirullahaladzim!" teriaknya. Terlihat pria tinggi, bertubuh gemuk dengan wajah babyface berdiri menyender pintu.
"Selamat pagi cantik!" Dia tersenyum manis ke arah Hanna, seraya membungkukkan sedikit badannya.
"Reyhan ... Sedang apa kamu di sini?" tanyanya keheranan.
Sedetik kemudian, Reyhan menarik Hanna masuk ke dalam vilanya dan menutup pintu. .
"Rey, apa-apaan ini?!" Hanna tersentak kaget, matanya melotot memandang Reyhan yang menarik tangan dan menyenderkan tubuhnya di balik pintu.
"Sebentar Han, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu." Pria itu memandang tajam ke arah Hanna, nafasnya berdesah hatinya bergetar hebat.
"Iya, tapi jangan di dalam gini Rey. Aku nggak nyaman!" bentaknya.
Hati Hanna pun berdesir, terlebih kepala Reyhan tepat berada di depan wajahnya.
Reyhan sibuk menahan gejolak rasa di dalam hatinya, sudah lama ia memendam perasaan kepada Hanna semenjak wanita itu menjadi karyawan baru dikantornya.
Namun, Hanna tak pernah memberi kesempatan barang sedetik pun untuk mereka berbicara. Dia seolah menutup diri darinya.
"Rey tolong, kita bisa bicara di depan. Lagian Pak Candra menyuruh kita kumpul dan ini udah telat banget." Hanna beringsut perlahan dan mulai salah tingkah, jantungnya berdegup kencang.
Reyhan menggenggam jemari Hanna. "Beri aku waktu 5 menit aja," ucapnya pelan.
Hati Hanna berdesir, nafasnya tersekat. Memandang tak percaya.
Ia mendorong Reyhan dengan kuat dan cepat berbalik membuka pintu dan berlari keluar menuju resto.
"Hannaaa ... aku cinta kamuu ....!" teriaknya.
Dia tak mempedulikan teriakan Reyhan di belakang. Wajahnya memerah yang ada di pikirkannya adalah berlari sejauh mungkin. Tak ingin laki-laki itu mengetahui debaran hatinya.
Hanna memasuki resto dengan napas tersengal-sengal, ia menoleh ke belakang terlihat Reyhan tengah berjalan menuju resto. Buru-buru ia mengambil makanan untuk sarapan pagi, seraya menyembunyikan wajahnya.
"Hanna, kenapa ngos-ngosan gitu?" Pak Candra menegur dari belakang.
"Aa ... anu, Pak, tadi saya buru-buru takut ketinggalan." jawabnya seraya tersipu malu.
"Halah! Paling takut nggak kebagian makanan tuh, Pak!" teriak Sinta dari jauh. Diiringi suara tawa teman yang lainnya.
Wanita itu nyengir, sambil melengos menuju meja Sinta ingin rasanya dia menjitak kepalanya.
"Lu tuh kalo ngomong suka bener sih!" ujarnya sambil menjitak gemes kepala Sinta.
"Makannya kalo dibangunin jangan susah, tidur macam bangkong aja lu!"
"Eh, Lu tau nggak? Hal yang paling mendamaikan jiwa itu ya tidur, membiarkan jiwa bebas berkelana di alam mimpi!"
Sinta terkekeh, "Susah ngomong sama lu mah, mental terus kaya ngomong sama tembok!" gerutunya kesal.
__ADS_1
Hanna perlahan melirik Reyhan yang sedang mengambil makanan, sambil celingukan.
"Aduuhh jangan sampai tuh anak duduk di sini dah," bisiknya dalam hati.
Ia mulai menyendok makanan sambil tertunduk. Tiba-tiba suara kursi berdenyit ditarik mundur, Hanna perlahan mendongakkan kepalanya jantungnya berdegup kencang.
Deg ... tatapannya saling beradu dengan Reyhan yang tersenyum ramah kepadanya.
"Aduuhhh ngapa nih bocah duduk di dini sih?!" Hanna sibuk maju mundur di kursinya.
"Hai, selamat pagi!" Reyhan menyapa Hanna dan Sinta. "gue boleh gabung yah?" lanjutnya
"Pagi Reyhan! Boleh dong." Sinta membalas sapaannya seraya tersenyum. Sementara Hanna hanya mengangguk pelan.
"Oke ... selamat pagi teman-teman semua?" Pak Candra memulai pidatonya dan berdiri di tengah-tengah ruangan, di antara meja makan yang melingkar.
"Pagiiii..." jawab seluruh karyawan serempak dengan penuh semangat.
"Terimakasih semua sudah hadir, di sini saya tidak akan bicara panjang lebar seperti tahun lalu. Karena, keliatan udah nggak pada sabar nih buat liburan yaa?" Senyum simpul tersungging dari pak bos yang berumur hampir setengah abad itu, namun penampilannya tetap stylish dan fresh.
Semua tertawa sumringah, terkecuali Hanna yang salah tingkah karena Reyhan terus saja curi pandang terhadapnya.
"Saya hanya ingin mengucapkan, terimakasih banyak kepada semua team yang sudah bekerja keras, yang sudah memberikan ide-ide terbaiknya, untuk mengembangkan berbagai produk kita. Sehingga mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya dan menjadi best seller. Sekali lagi terimakasih atas dedikasinya, pengorbanan, waktu dan pikirannya untuk kita semua." ucapnya seraya melempar pandangan le sekeliling.
"Saya berharap, tetap menjadi team yang solid, yang saling bantu, saling support satu dengan yang lainnya. Jika menemukan kesulitan, jangan sungkan untuk bertanya. Kita bukan lawan, kita ini kawan dengan tujuan yang sama. Jadi tidak ada istilah sikut menyikut, jelek-jelekan yang ada hanyalah saling merangkul, berusaha dan berlomba memberikan ide-ide kreatif untuk terus memajukan perusahaan kita ini."
"Mungkin, demikian yang dapat saya sampaikan, dan sebagai bentuk rasa terimakasih saya kepada teman-teman semua. Silahkan menikmati liburan kalian tanpa beban. Lupakan sejenak pekerjaan kantor, kita refresh kembali pikiran supaya bisa fresh, jernih dan menghasilkan ide-ide inovatif kedepannya. Sekali lagi thanks, love u all."
Tepukan tangan terdengar riuh menggema di seluruh ruangan, senyum sumringah terlihat dari wajah-wajah bahagia karyawannya. Mereka bahagia memiliki bos seperti Pak Candra, beliau adalah bos yang baik yang selalu memberikan solusi dari berbagai permasalahan yang mereka temui di lapangan.
"Love u to, Paaakk!" teriak mereka bersamaan.
Setelah Pak Candra dan keluarganya keluar resto, Reyhan bergegas mengambil posisi di tengah-tengah tempat bos mereka tadi berdiri dan mengambil mix.
"Mohon perhatian teman-teman!"
"Waahh ada apakah gerangan? Seorang Reyhan kembali berdiri di atas panggung!" tanya teman kantornya.
"Hari ini gue pengen mengungkapkan perasaan yang udah lama gue pendem," ucapnya mulai melirik satu persatu temannya yang riuh bersuit. "dari pertama ngeliatnya hati gue terusik. Bayangannya selalu muncul dan semakin lama gue pendem, dada gue makin sesak. Maka dari itu hari ini, gue berniat ngungkapin semuanya di tengah-tengah kalian yang udah gue anggep keluarga gue sendiri." Reyhan menarik nafas sejenak, ia melirik Hanna yang mulai gelisah.
"Hanna, mau nggak jadi pacar aku?" tanyanya penuh ketulusan. Tangannya menjulur ke arah wanita mungil itu.
"Aku akan terima apa pun keputusanmu. Asal kamu tau, aku cukup tersiksa menahannya selama ini. Jadi, tolong berikan jawabanmu ..."
"Ciyeeeee ... Hannaaa ... ciyeeee!" Semua temannya tertawa dan meledek Hanna yang salah tingkah sendiri.
"Ayo dong Hanna majuuu...!" teriak teman yang lainnya.
Muka Hanna memerah, ia menarik-narik tangan Sinta berharap dia paham dengan kode yang ia berikan, yaitu pergi dari situ sekarang juga.
Di ruangan itu memang hanya ada teman-teman kerjanya, tapi Hanna tak dapat menyembunyikan wajah merahnya. Selama ini ia selalu menutup diri untuk tidak jatuh cinta lagi, trauma dengan pernikahan pertamanya masih sangat membekas. Terlebih tentang Anindira yang ia tutup rapat-rapat.
Meskipun ia tau Reyhan adalah pemuda yang baik, selalu perhatian dan melindunginya tapi, Hanna masih ragu untuk memulai sebuah hubungan.
Tiba-tiba seorang pria menarik tangannya, membawanya pergi keluar ruangan. Hanna kaget dan mendongakkan kepalanya.
Hendi ... Pria pendiam yang tak pernah terlibat percakapan apa pun dengannya, berani memegang tangannya dan berlari. Meskipun beda bagian, namun mereka sering bertemu di kantor. Terlebih Hendi adalah keponakan pak Candra.
Reyhan menatap tajam ke arah mereka.
__ADS_1
Bersambung....
Cinta akan datang tepat pada waktunya, setelah sebuah luka sembuh. Perlu diingat sebuah luka sembuh apabila kamu sudah tidak merasakan sakit, jika kamu masih merasakan sakit itu bukan bekas luka melainkan kamu masih terluka.