Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Mengalah Untuk Menang


__ADS_3

Setelah beberapa bulan berlalu akhirnya perceraian Ansell dan Zea sah secara hukum, wanita itu berhasil menguasai seluruh harta suaminya termasuk mobil. Rumah beserta isinya telah sepenuhnya menjadi milik anak-anaknya, tentunya dengan dia sebagai walinya.


Zea memang sengaja melakukan ini semua, karena dia berharap setelah Ansell tidak punya apa-apa Hanna tidak akan mau kembali menerima pria itu menjadi suaminya.


Dan lebih tepatnya, dia ingin suatu saat Ansell menyesali perbuatannya lalu kembali padanya. Karena jauh dalam hatinya dia masih sangat mencintai laki-laki itu.


Itulah cinta, terkadang harus merasakan sakit terlebih dahulu untuk kemudian mendapatkan manisnya buah dari perjuangan.


Ansell duduk termenung di teras rumah orang tuanya. Pikirannya melayang membayangkan hidupnya yang semakin suram. "Sampai seperti inikah aku mengejar cinta Hanna?" tanyanya dalam hati. Dia kehilangan anak, rumah, mobil dan semuanya. Namun, inilah jalan yang dia pilih karena sejatinya cinta memang tidak bisa dipaksakan. Atau pun ditukar dengan apa pun.


"Kamu menyesal?" Suara parau sang mama menyapanya dari belakang.


Ansell terdiam, "menyesal? Mungkinkah aku menyesali semuanya? Karena saat ini, masih saja memikirkan semua yang telah terjadi." bisiknya lagi dalam hati.


"Entahlah mah," jawabnya seraya tertunduk.


"Jika kamu sudah membuat keputusan, jalani apa pun resikonya. Jangan pernah tengok ke belakang, apalagi menyesali keputusanmu itu." Ansell menatap mata sang mama yang sudah mulai keriput, rambut yang sudah berubah putih dimakan usia.


"Hanya seorang pecundang yang menyesali keputusan yang dia buat sendiri," ucap sang paman yang keluar dan duduk di samping kakaknya itu.


"Aku bukan menyesal, Mah, om. Hanya saja, Ansell tidak menyangka hidup jadi serumit ini," keluhnya.


"Kamu sendiri yang membuat semuanya rumit. Seandainya kamu tidak terus memikirkan kekurangan istrimu dan membandingkannya dengan wanita lain. Om yakin semua tidak akan sehancur ini," ucapnya dengan menghisap rokok memandangi keponakannya itu.


"Tapi om, Zea sudah keterlaluan dia tak ada perhatian sedikit pun terhadapku ataupun papa dan mama!" sanggahnya membela diri.


"Itu tugasmu! Tugasmu untuk mengarahkan dia ke jalan yang benar. Jika memang itu salah, ya dibenarkan, dituntun, bukan malah ditinggalkan!"


"Baik dan buruknya istri, tergantung perangai dan didikan suaminya, paham?" Lanjut sang paman.


"Sudah sering aku tegur, om. Nasehatin, tapi dia tetap aja seperti itu, tak mau berubah. Capelah dibuatnya," kilah Ansell.


"Itu artinya, kamu gagal menjadi seorang suami. Coba liat mendiang papah, beliau tak pernah sekali pun ngajak ribut sama istri. Kalo mamah ada salah, dia cari waktu yang tepat buat ngobrol dari hati ke hati. Tegur dengan penuh kasih sayang." Mamanya ikut buka suara dalam perdebatan itu.


"Mengubah batu yang keras hanya dengan tetesan air, bukan cuma butuh waktu tahunan. Bisa jadi berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun. Begitu pula mengubah sifat seseorang, tidak bisa dengan cepat, instan. Butuh waktu, kesabaran, keikhlasan dan kasih sayang yang tulus, Nak." lanjutnya.


Ansell kembali terdiam, kali ini dia menunduk mendengarkan sang mama bicara.


"Sekeras-kerasnya wanita, akan kalah dengan cinta, kasih sayang dan kesetiaan. Mama yakin, kamu bisa mengubahnya menjadi lebih baik hanya saja kamu tidak ingin. Terlebih, hatimu sudah terisi wanita lain."


Sejenak suasana hening mereka semua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Sudahlah, semua telah terjadi pikirkan masa depan anak-anakmu. Bekerjalah dengan giat, bangun kembali apa yang telah hilang dalam hidupmu. Kamu sudah kehilangan istrimu, jangan sampai kehilangan anak-anak juga." Mamanya beranjak masuk ke rumah diikuti pamannya yang mendorong kursi rodanya.


Kini hanya tinggal Ansell sendiri termenung di luar, memandangi senja yang merayap datang menggantikan sinar mentari yang semakin redup.


***********


Sudah beberapa bulan berlalu sejak resmi menyandang status dudanya, Ansell bekerja seperti biasanya. Dengan mengendarai mobil kijang tua milik sang papa, yang memang jarang sekali dipakai.


Ansell bertekad, jika memang satu hubungan tidak bisa diteruskan. Maka dia akan tetap mengejar hubungan kedua, yang telah ia mulai dan menjadi salah satu alasan mengakhiri hubungan pertamanya.


Hari ini Ansell berniat untuk bertemu dengan Hanna, menagih pembicaraan yang lalu. Apa pun yang terjadi, ia harus menemui wanita itu. Dengan datang langsung ke kantor tempatnya bekerja. Tak lupa selembar kertas dari pengadilan dibawanya. Dia akan manyatakan perihal status dudanya dan berharap wanita itu akan kembali kepelukannya.


**********

__ADS_1


Hanna yang telah kembali bekerja setelah cuti beberapa hari, muncul dengan wajah baru. Rambut panjangnya dipotong sebahu, dengan make up natural dia memasuki kantor. Jas hitam dan kemeja putih serta rok selutut menjadi andalannya.


"Hannaaa!" Sinta langsung memeluknya ketika mereka berpapasan di depan pintu.


"Lu udah baikan?" tanyanya menggandeng tangan sahabatnya itu.


"Udah, gila gue malu banget awalnya buat ngantor. Gimana? Rame banget nggak gosip tentang gue?"


"Ya biasalah, namanya juga gosip cepat menyebar seantero komplek. Cuek aja lagi, nggak usah dipikirin." Sinta berusaha menghibur. Mereka pun berjalan menaiki tangga.


"Mana bisa cuek? Gue dilabrak bini orang gitu," ucapnya seraya menutup wajahnya.


"Ya kan kalo lu nggak salah ngapain takut? Hadapi dan percaya diri kalo lu bener, dah itu aja."


"Kadang, kebanyakan orang berspekulasi sendiri atas dasar apa yang mereka lihat. Tanpa mau bertanya atau pun tau kebenarannya," tutur Hanna.


"Iya sih, tapi lu perlu ingat. Yang sayang dan peduli, nggak perlu penjelasan panjang kali lebar. Dia tetep bakal percaya elu. Sedangkan yang benci, lu jelasin sepanjang jalan kenangan aja tetap dia akan benci atau bahkan menambahin yang buruk-buruk.


"Au ah gelap," kilahnya.


"Eh, si Reyhan jadi resign?" tanyanya pelan.


"Jadi, terakhir masuk pas ribut-ribut itu. Awalnya suruh sebulan lagi sama si bos, tapi dia nggak mau. Langsung cabut aja hari itu," jelasnya.


"Dia nggak ada hubungi lu?"


"Nggak ada," jawab Hanna singkat. Riak wajahnya berubah sendu


"Dia pun tak membalas chat terakhirku," gumam Hanna dalam hati. "dia pasti sudah mengetahui semuanya, dan memilih pergi."


"Apaan sih lu, nggak jelas!" Mereka pun asik bercerita meskipun sebagian karyawan lain memandangi mereka tak biasa.


Menjelang sore dengan langkah gontai Hanna  keluar kantor. Tiba-tiba dia teringat Reyhan, yang sering mengantarnya pulang. Kali ini dia benar-benar pergi dari hidupnya, bahkan Hanna belum sempat menyampaikan jawaban dalam hatinya atas semua pertanyaan pria itu.


"Hanna!" Seorang wanita memanggilnya dari atas tangga.


"Iya Bu," jawabnya. Terlihat Viona istri bosnya mendekat.


"Saya harap, kejadian seperti waktu itu tak akan terulang lagi yah!"


"B-baik Bu, saya mohon maaf atas keributan kemaren itu. Saya sama sekali nggak nyangka wanita itu datang kesini." Terang Hanna seraya tertunduk.


"Ya jelas kesinilah! Wong kamu rebut suaminya kan?"


"Enggak Bu, saya sama sekali nggak rebut suaminya." sanggahnya.


"Terus, anak yang udah kamu lahirin gimana? Mau nyangkal juga?!"


Hanna terdiam, merunduk sangat dalam menahan malu. Sebagian karyawan terus memandanginya.


"Sudah sejauh itu kabar menyebar," ucap Hanna dalam hati. "Tak ada jalan lain selain jujur," lanjutnya.


"Dia memang anak saya, tapi saya sama sekali nggak tau kalo laki-laki yang menikahi saya itu sudah beristri, Bu." Matanya nampak berkaca-kaca.


"Heran saya, ko bisa kamu nggak tau kalo calon suami kamu itu punya istri. Sebodoh itu kamu? Saya denger kamu pinter," ledeknya melirik sinis.

__ADS_1


"Aku antar kamu pulang yah?" Hendi tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, dengan cepat menggandeng tangan Hanna.


"Tidak usah pak, saya biasa pulang sendiri." tolaknya seraya melengos dari hadapan Viona.


Lagi-lagi karirnya diambang kehancuran. Dia merasa malu untuk pergi ke kantor bertemu teman dan bosnya itu. Termasuk Hendi.


"Tante apa-apaan sih?!" Hendi tak terima Viona bersikap kasar pada Hanna.


"Kamu yang apa-apaan? Wanita kaya gitu, masih mau dijadikan istri?"


Dengan wajah kesal Hendi mengejar Hanna kembali. Kali ini, ia membawa mobil menyusuri jalanan. Terlihat Hanna tengah menunggu angkutan umum sendirian.


Sejujurnya hati Hanna pun, tidak tertarik dengan Hendi. Hanya saja pria itu mengetahui semua masa lalunya tanpa terkecuali. Hendi berjanji dan terus berusaha untuk menghapus semua luka di hatinya. Membuatnya merasa terharu. "Haruskah aku memberinya kesempatan?" bisik Hanna dalam hati


Namun, menjalin hubungan bukan saja antara dia dan Hendi. Ada juga keluarganya, yang berbeda kasta dengannya. Hanna tidak ingin memulai suatu hubungan di atas kebencian orang lain. Karena dia pernah melakukannya dan tidak ingin hal yang sama terulang kembali.


"Yakin nggak mau aku antar?" Ucapnya saat sudah turun dari mobilnya dan menghampiri Hanna.


"Aku yang akan mengantarkannya pulang, pak Hendi!" Tiba-tiba Ansell muncul tanpa mereka sadari.


Hanna terperanjat, begitu pula Hendi. " Ah, sial! Bagaimana bisa laki-laki ini datang kemari?" umpat Hendi dalam hati.


"Halo, selamat sore pak Ansell." Hendi berpura-pura ramah, mengingat pria itu adalah manager dari perusahaan yang baru saja bermitra baik dengan perusahannya.


"Selamat sore, pak Hendi." Ada raut ketegangan di antara mereka.


"Ada keperluan apa, bapak jauh-jauh datang ke mari?" Hendi berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak.


"Saya datang untuk menemui Hanna, ini kan sudah di luar jam kantor pak. Jadi, bolehkan saya pinjam sekertaris bapak yang super cantik ini?" Ansell melempar senyum kepada Hanna, yang sedari tadi diam salah tingkah berada di antara mereka berdua.


Hendi tersenyum getir, gurat matanya memerah, serta jarinya mengepal menahan geram.


"Terserah Hanna Pak, sebenarnya kami juga ada rencana makan malam bersama sore ini. Iyakan Han?" Hendi mulai mencari alasan.


"Oh begitu, bagaimana Bu Hanna? Jadi mau makan malam dengan pak Hendi atau ikut saya? Ada yang ingin saya bicarakan, terkait kelanjutan pembicaraan kita terakhir di kantor saya." Matanya menatap tajam Hanna, meski seutas senyum tipis di bibirnya.


Hanna terdiam, wajahnya menyapu pemandangan hiruk pikuk jalanan, yang bertambah macet ketika dua mobil laki-laki ini terparkir di bahu jalan. Suara klakson pun makin ramai terdengar. Bahkan, beberapa pengendara sudah ada yang mengumpat kesal.


"Maaf pak Hendi, ada yang perlu saya bicarakan dengan pak Ansell terkait kontrak kerja tempo hari." ucap Hanna.


"Kenapa nggak bicara di kantor saja kalo gitu? Lagian saya kan bosnya, masa cuma ngobrol sama sekertaris saja. Agak gimana gitu ya nggak etis pak Ansell." Hendi melirik tajam pria itu.


"Masalahnya, ada sedikit pembicaraan yang menyambung ke urusan pribadi. Kalo pak Hendi mau ikut mari, kita cari tempat yang bagus. Di sini dimana yah?" Ansell tersenyum tipis meledek Hendi.


"Mmm ... baiklah. Silahkan saya juga masih ada sedikit urusan di kantor," Hendi melengos pergi.


Ansell pun tertawa penuh kemenangan. Tangannya mulai menggandeng Hanna dan menuntunnya ke dalam mobil.


"Mari pak Hendi!" Serunya seraya membukakan pintu mobil untuk Hanna.


Hendi hanya mengangguk, darahnya mendidih, giginya gemerutuk menahan kesal.


"Ah sial!" Dia memukul mobilnya keras. Lalu bergegas menjalankannya perlahan, seraya terus memperhatikan mobil kijang tua di depannya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2