Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Lelah


__ADS_3

"Kita harus mengevaluasi semua aspek dalam kantor ini, mungkinkah ada salah satu sistem atau kebijakan yang merugikan suatu pihak. Sehingga mereka serempak hengkang dari perusahaan kita," kata Reyhan kepada semua rekan kerjanya.


"Dan juga ... kemungkinan musuh dalam selimut," lanjutnya menatap satu persatu karyawan di depannya.


Sore itu mereka mengadakan meeting dadakan karena ada masalah yang sangat urgent. Beberapa investor memilih mencabut investasi mereka tahun ini. Dan tidak lagi diperpanjang seperti biasanya.


Sejak keluar dari Yukka sebuah perusahaan yang menangani ekspor impor⁰⁰ itu, Reyhan diajak salah satu sahabatnya Frans, bergabung ke perusahaan rintisan bersama beberapa teman lainnya.


Perusahaan ini baru berdiri sekitar tiga tahun yang lalu, bergerak dibidang pembuatan pola pakaian secara digital. Mereka menciptakan sebuah alat, yang membantu memudahkan pabrik garment atau konveksi dalam membuatl,oJ


pola pakaian secara komputerisasi.


Baru bergabung sekitar tiga bulanan dia sudah diangkat menjadi ketua tim. Karena, si paling pemilik ide cemerlang dan lebih cepat menguasai semua tools yang mereka gunakan untuk presentasi.


Sementara Frans memang bagian sales sekaligus merangkap aplikasi, yang ikut menginstal dan mengaplikasikan penggunaannya kepada user.


"Apa keuangan kita masih belum cukup stabil tanpa mereka?" tanya salah satu karyawannya.


"Tujuan kita belum tercapai, langkah kita masih panjang di depan. Membuat produk kita menjadi primdona di pasaran tidaklah mudah. Belum lagi harus terus berinovasi mendongkrak kemustahilan dan bersaing dengan produk lainnya."


"Kita masih harus terus belajar, mengeksplor semua tools yang tersedia untuk mempermudah kerja para customer kita. Maka dari itu uji coba dan pembaharuan ilmu langsung ke ahlinya, perlu terus dilakukan. Dan ini membutuhkan tidak sedikit biaya," jelasnya panjang lebar.


"Siapa yang akan menemui para investor itu?"


Tiba-tiba seorang pria tinggi, putih berkaca mata muncul dari balik pintu. Dialah pemimpin perusahaan ini. Kabarnya dia adalah seorang anak konglomerat pemilik salah satu perusahaan garment. Tapi, dia malah membuat alat saingan yang digunakan perusahaan sang ayah dan menyembunyikan identitas dirinya.


Sontak semua karyawan yang baru berjumlah 8 orang itu berdiri. Jarang sekali bos mereka datang berkunjung, hanya ketika ada masalah-masalah urgent saja seperti sekarang ini.


"Reyhan, kamu siap menemui mereka satu persatu? Atau kau Frans?" tanyanya melihat keduanya bergantian.


"Bolehkah kami berdua, Bos?" tanya Frans ragu.


"Tidak bisa! Salah satu dari kalian harus ikut denganku ke Italia, kita akan megepakkan sayap lebih lebar lagi." ucapnya duduk di pinggiran meja melihat anak buahnya.


Sampai detik ini, para karyawannya bingung dan masih penasaran dengan peraturan peruahaan yang dinilai sangat tidak masuk akal. Bahwa mereka dilarang mencari tahu keluarga bosnya, jika terlanjur tahu dilarang memberitahu siapapun.


"Untuk apa ke Itali, Bos?" Reyhan bertanya sambil menuju kursi di sebelahnya.

__ADS_1


"Kita akan coba peruntungan menjual mesin-mesin garment dari sana," feenya 10 % dari total harga bersih produk itu.


"Dan asal kalian tahu, mesin-mesin itu harganya puluhan juta dan bahkan ada yang sampai 1 milyar!" serunya antusias, tapi tidak dengan semua anak buahnya. Reaksi mereka tampak dingin menatap datar sang bos muda itu.


Mereka berpikir, menjual software yang ukurannya tidak lebih besar dari ibu jari saja, sudah harus keluar masuk pintu menerima penolakan dan pengusiran beberapa kali. Bahkan puluhan proposal hanya ada beberapa saja yang nyangkut.


"Coba itu muka disetrika dulu biar nggak pada kusut! Diajak lebih sukses lagi ko nggak ada sorak sorainya," ucapnya lagi.


"Bukan gitu Pak, mesin-mesin itu kita jual kemana?"


"Ya tentu saja ke perusahaan-perusahaan gament besar, konveksi, bahkan individu pun bisa pakai kalo mereka mau dan ada duitnya."


"Ayo semangat-semangat!" teriaknya menggebrak meja.


"Reyhan, kau temui para investor besok! Frans kau ikut denganku ke Itali, penerbangan besok pagi pukul 6. Pastikan 1 jam sebelum keberangkatan sudah standby di sana,." katanya seraya melempar sebua tiker penerbangan.


Lalu, pria itu keluar menuju pintu dengan bersiul.


"Lha, tadi ngapain dia nanya siapa yang mau nemuin investor kalo memang udah nyiapin tiket yah?" tanya Frans seraya membuka isi tiketnya.


"Bagaikan pepatah bilang, mati satu tumbuh seribu." sahut karyawan yang lainnya.


"Gilaaakkk! Seratus juta! Beneran ini?" teriaknya kencang.


Mereka pun sibuk bermimpi dengan uang sebanyak itu membuat Reyhan dan Frans geleng-geleng kepala menahan geli.


"Jadi apa yang akan kau siapkan besok untuk menemui mereka?" tanya Frans saat mereka hendak keluar ruangan.


"Apalagi, aku akan bertanya masalah dibaliknya. Lalu, coba mencari solusinya."


"Oke deh, kabarin perkembangannya besok yah."


Pria itu masuk ke dalam mobilnya dan lebih dulu meninggalkan kantor.


"Sinta pernah cerita Yukka juga sedang mengalami hal seperti ini," gumam Reyhan masih berdiri di samping mobilnya.


Langit malam mulai menyergap, bulan di atas sana sudah duduk tegap di singgasananya. Kerlipan bintang yang sendu turut menghiasi lukisan alam yang infah itu.

__ADS_1


"Ada apa dengan kejadian berulang ini?" bisiknya dalam hati.


Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya perlahan.


Sesampainya Reyhan di depan rumahnya, terlihat kedua orang tuanya tengah duduk bersama menghadap taman, dengan dua gelas kopi bertengger di meja kaca di antara mereka.


"Assalamualaikum," sapanya sembari menyalami dan mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Waalaikumsalam," jawab mereka berbarengan.


"Sudah diantar pulang sampe rumah Sintanya?" tanya sang ibu dengan wajah teduhnya.


"Reyhan dari kantor," jawabnya lesu duduk di lantai menghadap taman.


"Loh, tadi bukannya mau cari makan bareng Sinta?" sang ayah ikut bertanya.


"Iya tapi nggak jadi, mendadak ada masalah di kantor. Jadi Reyhan menurunkan dia di jalan."


"Kenapa nggak dianter ke rumah dulu? Pamali nurunin perempuan di pinggir jalan Rey."


"Ya gimana Reyhan kan tadi urgent banget, rumah Sinta udah kelewat jauh."


Kedua orang tuanya saling berpandangan sejenak.


"Lain kali mau sejauh apa pun jarak rumah pasanganmu bertanggung jawablah. Jemput dan antar dia sampai ke depan rumahnya," ujar sang ibu menasehati.


"Iya, Ma." jawab Reyhan singkat.


"Kapan kamu mau ngelamar gadis itu?"


"Mending secepatnya, nggak usah ada pacaran-pacaran lagi. Kalian kan sudah bertahun lamanya saling mengenal," lanjut ayahnya melihat anak semata wayangnya itu terdiam.


"Iya, Pa. Nanti Rey persiapkan dulu semuanya."


Pemuda itu bangkit dari duduknya dan berpamitan untuk istirahat menuju kamarnya.


"Ternyata sangat lelah menyembunyikan luka ini, lelah untuk selalu tersenyum di saat hati sedang tidak baik-baik saja. Lelah untuk berpura-pura mencintai saat rasa itu tak pernah ada," batinnya berkecamuk seraya membenamkan wajahnya di bantal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2