Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Harapan Baru


__ADS_3

"Rey, apa kamu nggak malu menikah dengan janda?" Mama Reyhan melihat serius anaknya itu.


"Ma, berapa kali sih Rey harus jawab? Yang aku nikahin orangnya bukan statusnya." Pria itu tampak kesal memalingkan wajahnya saat mereka tengah makan malam bersama.


"Ya tetep aja, gimana omongan orang nanti? Anak Mama bujangan, ganteng, sukses gini nikah sama janda anak satu."


"Lha emang kenapa? Ngapain dengerin omongan orang, kita hidup nggak numpang sama mereka kan?"


"Tapi tugas kamu itu jaga nama baik dan martabat keluarga, Nak?"


"Reyhan kan nggak melakukan kejahatan Ma. Masa iya menikah dengan janda dinilai mencoreng nama baik keluarga? Apa salah mereka?"


"Kamu nggak ngerti perasaan mama, Rey."


"Mama yang nggak ngerti perasaan aku, selalu bilang ingin aku bahagia, ini kebahagiaanku Ma. Kalo Mama mau misahin aku dari dia, berarti mama tidak mengijinkan aku bahagia." Reyhan bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Duduk Reyhan." Sang papa yang sedari tadi diam melihat tajam anaknya itu.


Sang anak pun menurut, ia kembali duduk dengan kesal.


"Papa bahkan sudah hampir lupa, terakhir kali kamu bersikap seperti ini. Kalo tidak salah saat kamu lulus SMA dan memilih jurusan kuliahmu sendiri. Saat itu kamu bersikukuh dengan pilihanmu, meskipun kami berdua menentangnya, bener nggak ingatan Papa?" tanyanya melihat Reyhan.


"Iya Pa," jawab anak itu pelan.


"Sekeras ini kamu membantah mamamu, Papa harap sekeras ini juga kamu mempertahankan rumah tanggamu kelak. Karena menikah bukan hanya soal cinta, akan banyak sekali hal terjadi di depan sana yang akan menggoyahkan pilihanmu ini."


"Karena kamu sudah membuktikan hasil pilihanmu dulu, Papa percaya kali ini kamu tak akan mengecewakan kami. Katakan pada Hanna minggu ini kita akan menemui keluarganya," lanjutnya kemudian.


"Apa? I-ini beneran?" Reyhan dengan mata berbinar menatap keduanya bergantian.


"Ingat, jangan pernah meninggalkan rumah saat terjadi masalah dan jangan pernah mudah mengucap talak. Jika terjadi masalah, selesaikan di dalam rumah jangan sampai dibawa keluar. Paham?"


"Iya Pa, Reyhan sudah banyak belajar dari Papa dan Mama. Semoga rumah tangga Rey nanti selalu harmonis seperti kalian."


"Kamu salah," kata sang Mama yang kini pandangannya menerawang keluar jendela.


"Rumah tangga kami tak selalu harmonis, kesalahpahaman, kekecewaan dan luka pasti ada. Hanya saja, semua cukup sampai pada pintu kamar. Sebelum keluar usahakan semua selesai, kalaupun tidak harus bisa bersikap seolah semua baik-baik aja. Dan itu tidak mudah, terlebih di depan anak-anak. Tapi demi kalian kami harus bisa," Mama melihat Reyhan lekat.

__ADS_1


Reyhan hanya terdiam, semakin salut pada kedua orang tuanya. Selama ini mereka mampu menutupi masalah dari anak-anaknya. Hanya sesekali terdengar keributan kecil di antara mereka.


"Apa ini artinya Mama memberi restu?"


"Mama bisa apa jika kamu terus memaksa?"


Reyhan pun memeluk kedua orang tuanya bergantian. Meski wajah sang mama tersirat kekecewaan, menyadari bahwa sang anak lebih memilih perempuan lain dibanding nasehatnya.


***


"Gue mau balik duluan deh, Sin. Soalnya nanti mama pasti repot nyiapin masakan buat keluarga Reyhan," kata Hanna bersiap-siap membereskan mejanya.


"Oh ya udah, lu ati-ati di jalan." Sinta melambaikan tangan saat sahabatnya itu keluar ruangan.


Lalu, Hanna mengirim pesan pada Reyhan.


"Rey, aku balik duluan aja ya. Bakalan canggung kalo semobil bareng keluarga kamu nanti. Sampai ketemu di rumah. Love you." Tak lupa ia sematkan emot love di akhir pesan.


Ia pun berjalan menyusuri kantor, menuju jalan raya menunggu angkutan yang lewat depan kostannya.


"Ya udah, sampai ketemu di sana. Love you too, muah. Tau nggak aku udah tak sabar pengen cepet halalin kamu." Sebuah emot kiss terlihat di sana.


Hanna senyum-senyum sendiri saat membacanya.


Tak lama sebuah angkutan lewat, ia pun segera menaikinya.


Setelah sampai di kostan ia bergegas mengemasi beberapa baju dan barangnya. Segera ia menuju terminal, jarak tempatnya bekerja dan rumah mamanya sekitar 6 jam yang ditempuh menggunakan bus.


***


Enam jam kemudian


"Hanna, ko pulang ngga ngabarin dulu?" tanya sang mama ketika membukakan pintu.


Terlihat anak gadis itu menatap Hanna dengan senyum. Tiba-tiba hati wanita itu bergetar, matanya lekat melihat anak kandungnya. Mata yang selalu mengingatkannya akan sosok di masa lalu yang telah menyakitinya dengan telak. Mata yang jauh dari lubuk hatinya masih menyimpan sedikit rasa. Mata yang dulu ia gantungkan harapan begitu besar.


"Mulai hari ini, aku maafkan kamu, Ansell. Mulai hari ini aku lupakan bahwa anak ini adalah darah dagingmu. Reyhan akan menjadi ayah sambung baginya. Aku pastikan dia tak akan lagi mengingatmu." gumam Hanna pelan.

__ADS_1


Tak disangka wanita itu langsung memburu tubuh mungil di depannya. Ia memeluknya dengan erat, tubuhnya terguncang, dadanya sesak membayangkan semua hal yang telah terjadi di antara mereka.


Bagaimana dengan kasarnya ia ingin membuang darah dagingnya sendiri, bagaimana egoisnya dia tak menganggap anak itu. Semua terngiang dalam benak Hanna. Hatinya pilu menyesali semuanya. Ratna yang tertegun menatap haru keduanya.


"Maafkan Ibu, Nak." ucapnya di sela tangisnya.


Gadis kecil itu hanya diam mematung tak mengerti apa yang terjadi.


"Ibu kenapa? Ko menangis?" tanyanya polos.


"Tidak papa, Nak. Ibumu hanya sedang sedih dan ingin memeluk Anin," jawab Ratna air mata tak dapat lagi dibendungnya.


"Maafkan Hanna, Ma." Kini ia memeluk kaki sang mama, dan terisak di sana. "Dosa Hanna banyak sekali," lanjutnya.


"Sudah Nak, kita lupakan semuanya. Berubahlah menjadi sosok baru untuk Anin, lembutkanlah hatimu dan akui dia sebagai anakmu. Itu sudah cukup buat mama." kata Ratna mengusap lembut rambut anaknya.


"Satu lagi, jangan banyak berharap pada manusia, termasuk Reyhan. Saat harapanmu tak sesuai, maka rasa kecewa bisa membutakan hati nuranimu."


Hanna hanya mengangguk pelan, lalu duduk di kursi.


"Keluarga Reyhan besok mau dateng, Ma."


"Benarkah? Alhamdulillah, sepertinya anak itu memang benar-benar serius." Mata wanita paruh baya itu terlihat berbinar.


"Pokoknya pernikahanmu kali ini kita akan mengundang semua keluarga, kerabat jauh, teman-teman mama dan bapak serta semua warga desa." Senyum bahagia tersungging di bibir wanita itu.


Sang anak hanya menanggapinya dengan senyum, ia menyadari pernikahan pertamanya tak ada yang tahu. Dan bahkan isu buruk perihal dirinya hamil tanpa suami sempat berdesus di kalangan warga.


"Ya udah Hanna ke kamar dulu ya, Ma. Besok kita persiapkan semuanya bersama," ucapnya sembari menuntun Anin menuju kamarnya.


"Alhamdulillah ya Allah, Kau sudah memberikan hidayah pada anak hamba. Semoga di pernikahannya kali ini ia akan bahagia." bisik Ratna dalam hati.


Bersambung...


Akankah semuanya berjalan mulus? Kebahagiaankah yang sudah menunggu Hanna di depan sana? Atau sebaliknya?


Tetap stay tune ya readers, jangan lupa jempolnya, lovenya, votenya atau hadiahnya 😚 😄 sarangeeoo ❤

__ADS_1


__ADS_2