Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Bimbang


__ADS_3

"Me-menikah?" ulang Hendi dan Hanna bersamaan.


Mereka terlihat saling berpandangan. Lalu, menatap Chandra dengan Ragu.


"Kenapa? Kalian nggak mau menikah?" tanyanya heran melihat ekspresi keduanya.


"Bukan-bukan gitu, Pak. Masalahnya ...." Hendi mendadak menghentikan kata-katanya.


"Masalahnya adalah, aku telah menghamili Siska," bisiknya dalam hati. Raut wajahnya berubah penuh penyesalan.


"Masalahnya apa?" Chandra tampak mengangkat kedua alisnya.


"Kamu mencintai Hendi kan, Hanna?" sambungnya beralih pandangan pada wanita mungil itu.


Bukannya menjawab, dia malah menoleh ke arah Hendi yang juga tengah menatapnya. Seolah menunggu jawaban darinya.


"Aduuh, gue berasa anak remaja diintrogasi bapak nih! Karna ketauan pacaran," serunya dalam hati.


"Saya heran, sepertinya hubungan kalian sudah melangkah jauh. Tapi, kenapa mimik mukanya kaget saat dengar kata menikah?" Ucapnya seraya melirik cincin di jari manis Hanna.


Hanna yang sadar arah lirikan bosnya itu, langsung menyembunyikan tangannya ke belakang.


"Pak gini deh, ini kan di kantor rasanya nggak etis kan bahas masalah pribadi?" tukas Hendi berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kamu lupa Hen, di kantor ini juga ada aturan tidak boleh menjalin hubungan sesama karyawan. Tau kan konsekuensinya?" Tegas Chandra.


Deg ... Hati Hanna tersentak, ia sama sekali tak kepikiran soal aturan yang baru saja didengarnya.


"Konsekuensi apa, Pak?" tanyanya memberanikan diri menatap Chandra.


"Salah satu dari kalian harus keluar." papar Chandra menatap keduanya bergantian.

__ADS_1


"Baik, Pak. Perlu Bapak ketahui, hubungan kami ini baru saja resmi dan belum ada omongan serius mengenai pernikahan. Dan saya juga berniat membahas terkait aturan kantor secerpatnya dengan Hanna. Jadi, kami minta waktunya untuk benar-benar siap," pinta Hendi.


Chandra tampak menyipitkan kedua matanya yang sudah seperti orang merem itu saking sipitnya.


"Semalam kamu nginep dimana?" tanyanya kemudian.


"Udah cape-cape gue nahan diri buat nggak angkat telponnya semalem, eehh akhirnya bakal ketauan juga! Tau gitu mah, semalam gue jawab aja di kostan biar dijemput dah!" gumam Hanna kesal dalam hati.


"Mati gue! Mesti jawab apa coba? Masa iya gue jujur nginep di rumah nih cewek!" pekik Hendi dalam hati.


Matanya melirik Hanna sejenak, masoh ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Nah kan! Udah sejauh itu masih belum bahas pernikahan. Pokoknya om nggak mau tau, kamu harus tanggung jawab dan cepat nikahin Hanna sebelum ada kabar yang mengejutkan!" pungkas Chandra cepat seraya berjalan ke meja ujung.


"Si om mikir apa sih? Siska yang hamil, malah Hanna yang harus secepatnya dinikahin!" seru Hendi frustasi dalam hati.


Hanna yang masih belum bisa mencerna setiap ucapan Chandra kebingungan sendiri.


"Gue yakin, Hendi ini masih polos dan nggak yakin mereka pake pengaman pas ngelakuinnya." ucap Chandra dalam hati dengan alis yang mengerut.


Suasana ruangan berubah menjadi lengang, mereka bertiga hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Hanna, cepat beritahu kedua orang tuamu bahwa keluarga Hendi akan datang secepatnya untuk melamarmu," lanjutnya melihat mereka berdua masih terdiam.


"Tapi Pak, bahkan mereka aja belum tau kalo saya punya pa-car." jawab Hanna terbata.


"Nggak usah pacar-pacaran! Nambahin dosa aja," tuturnya cepat.


Glek! Hanna menelan salivanya.


"Oke baiklah, rapat sudah selesai! Silahkan kalian kembali bekerja. Ingat, tetap profesional dan fokus!" celetuk Chandra mengakhiri sesi rapat singkatnya.

__ADS_1


Hanna keluar kantor dengan raut wajah bingung. Masih berasa syok, atas apa yang baru aja didengarnya.


"Ini maksudnya mereka melamar gue, gitu? Diktator banget yak caranya." gerutu Hanna kesal menatap pintu di belakangnya.


Tiba-tiba ia terlonjak saat Hendi membuka pintunya.


"Hanna tunggu!" panggil Hendi.


"Ya, masih ada yang lain?" tanyanya.


"Ayo, kita makan siang bareng." ajaknya menyambar jemari Hanna dan menuntunnya menuruni tangga.


"Eemmm, Pak, boleh lepasin tangan saya nggak?" pinta Hanna risih. Sebenarnya ia masih sangat kesal pada pria ini, gara-gara kejadian semalam.


Pria dengan wajah kusut itu pun, melepaskan genggaman tangannya, lalu membiarkan Hanna jalan di depannya. Saat mereka sudah di luar kantor, Hendi kembali meraih tangan wanita itu.


"Nggak ada yang mau disampein ke aku gitu?" tanya Hanna.


"Ada, banyak. Tapi nanti aja." Hendi membukakan pintu mobil untuk Hanna.


Dia berlari kecil menuju kemudinya, tiba-tiba terheran melihat penampilannya di kaca spion.


"Astaga! Rambutkuu! Kamu tunggu bentar yaa, aku ke kamar mandi dulu!" serunya seraya berlari kembali ke kantor.


Hanna tepok jidat melihat tingkah laki-laki yang baru saja resmi jadi kekasihnya itu. Dia melihat sekeliling mobil Hendi dan matanya tertuju pada sebuah plastik dari restoran ayam terkenal. Bukan karena plastiknya, tapi adanya 2 cup besar minuman di dalamnya.


Berbagai prasangka pun muncul di benaknya. Terlebih, semalam dia membatalkan janjinya sepihak tanpa alasan apa pun. Yang bahkan sampai detik ini, masih belum memberinya penjelasan.


Belum lagi, saat dirinya hendak meraih plastik itu tiba-tiba tangannya menyentuh rambut panjang dari dekat rem tangan.


Hatinya bergetar, jantungnya entah kenapa memompa lebih cepat.

__ADS_1


"Rambut siapa ini?" Kedua alisnya bertemu, meski hati menyangkal logikanya tapi kenyaataan mendukung pikirannya.


Bersambung....


__ADS_2