Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Gedung Baru


__ADS_3

Ratna terlihat terkejut menutup mulutnya. Sementara Adri memejamkan matanya dan melengos mengalihkan pandangan.


"Ayo naik ke atas jangan bicara di sini," ajak sang ibu.


Mereka bertiga pun menaiki tangga menuju lantai atas, Karena di bawah banyak mata memandang dan juga telinga. Terlebih Agra orang kepercayaan suaminya juga ada di sana.


"Hanna! Bagaimana bisa kamu hamil anak monster itu?"


Adri meradang setelah mereka sampai di ruangan yang akan dijadikan kamar itu.


"Iya Nak, kamu tidak ingat perlakuannya padamu dan juga keluarga kita dulu?" Ratna mendekati anaknya.


"Bahkan sampai sekarang apa dia peduli kita tinggal dimana, setelah berniat merampas tanah ini?" sambung pria setengah baya itu.


"Ma, hanya ini satu-satunya cara untuk membuat Michael menyetujui keinginanku," tegasnya memegang jemari sang Ibu.


"Tapi kamu akan terlibat lebih jauh lagi dengan keluarga mereka, Hanna. Apa kamu tahu, setiap malam kami tak pernah bisa tidur nyenyak. Karena memikirkan dirimu dan nasib keluarga kita kalo sampai orang itu tahu keadaan rumah ini!" protes Adri.


"Pak, untuk mendapatkan ikan yang besar apa cukup dengan memancing menggunakan cacing? Tidakkan? Kita butuh umpan yang lebih besar, tenaga yang lebih kuat dan pengorbanan yang tidak sedikit."


"Tidak perlu memikirkan hidupku, yang terpenting adalah masa depan kalian dan juga anak-anakku. Dan untuk mempertahankan tanah warisan ini," lanjutnya meyakinkan kedua orang tuanya.


"Kami sudah tua, Nak. Tidak perlu masa depan yang mewah, harapan kami adalah kalian hidup bahagia dan berkecukupan. Juga tidak melibatkan diri dengan orang-orang jahat. Hidup adem ayem itu saja," ucap Ratna dengan mata berkaca-kaca.


"Tolong Ma, dengarkan Hanna kali ini saja. Dukung Hanna. Menjalani ini saja sudah berat jangan sampai aku merasa semua ini sia-sia," ucapnya seraya bersimpuh di kaki ibunya.


"Melawan mereka tidak cukup hanya dengan keberanian, Hanna. Kita tidak punya apa-apa dan tidak memiliki siapa pun yang bisa menolong jika mereka bertindak kejam kelak," ucap wanita itu.


"Maka dari itu, kita harus memiliki kekuatan dan aset yang bisa menolong kita. Jika hal-hal yang tak diinginkan terjadi," jawabnya.


Mereka berdua menghela napas panjang. Sudah bisa menebak hal ini akan terjadi. Karena memang tak ada pilihan lain, selain mengikatkan diri kepada keluarga itu jika ingin mendapatkan bagian.


Wanita itu membungkukkan badannya mengangkat tubuh sang anak untuk berdiri di depannya.

__ADS_1


"Kami percaya padamu, Nak. Lakukan apa pun yang terbaik demi dirimu dan masa depan anak ini. Tapi, satu hal yang Mama minta, jangan sampai mengorbankan diri sendiri demi kepentingan orang lain yah. Kamu berhak bahagia," ucap sang mama pasrah.


Hanna mengangguk dengan air mata yang sudah berlinang.


"Satu lagi, jangan pura-pura kuat. Jika kamu tidak sanggup menjalani semuanya lepaskan dan cari bahagiamu dengan anak-anak. Mama dan Bapak selalu ada untukmu dan akan mendukung apa pun keputusanmu," lanjutnya memeluk anaknya itu.


"Dia sudah tahu kehamilanmu?" tanya Adri melunak.


"Belum, Hanna sengaja belum memberitahunya karena ingin mendiskusikan beberapa hal dengan kalian." kata Hanna sembari melepaskan pelukannya.


Kini mereka duduk di lantai karena memang belum ada kursi di sana. Masih ruangan kosong.


"Hal apa?"


"Tanah punya Pak Wiyatna yang di ujung desa sana apakah jadi dijual?"


"Terakhir dengar ada beberapa yang minat, tapi tidak pernah ada yang cocok dengan harganya. Kenapa memang?"


"Perusahaan akan membangun gedung baru, Pak. Rencananya Hanna ingin mengusulkan untuk membangun gedung baru itu di sini saja."


"Di sini kan sudah ada kantor cabang, akan lebih mudah jika ada satu pabrik juga nantinya. Rencananya Gemilang akan memproduksi produk baru tapi masih dengan merk yang sama hanya modelnya berbeda. Jadi mereka ingin memisahkannya dengan yang lainnya. Makannya dibangunlah gedung baru itu," terangnya.


"Rencananya mereka akan membangun gedung dimana?"


"Masih di lahan kosong sekitar pabrik. Hanna masih belum tahu apa itu tanah milik Gemilang atau bukan. Karena mereka juga berencana membangun 2 gedung. Satu untuk produk baru dan satunya untuk minimarket."


"Mereka pasti akan berpikir lebih efisien membangun gedung di sana jika itu milik Gemilang dari pada di sini. Bagaimana kamu meyakinkannya?"


"Di sini upah karyawan masih sangat murah hampir setengahnya dari perkotaan sana. Harga bahan-bahan bangunan dan juga ongkos pekerja pun juga masih jauh lebih rendah."


"Tapi biasanya pabrik besar gitu punya kontraktor sendiri yang sudah langganan bertahun-tahun Hanna. Mana bisa kita sembarangan menggantinya."


"Bapak tenang saja, Hanna nanti yang akan pikirkan bagaimana caranya mereka menyetujui usul ini. Yang terpenting sekarang adalah, Hanna mau minta tolong Bapak untuk mencari informasi mengenai tanah itu. Kira-kira berapa luasnya, harganya dan cukup tidak untuk membangun gedung."

__ADS_1


Adri tampak terdiam sejenak.


"Kamu juga harus cari tahu dulu denah untuk gedung baru itu. Luasnya berapa, fungsinya untuk apa saja dan juga seperti apa design-nya."


"Pasti kan ada mesin-mesin besar nantinya. Apa jalan di sini bisa dilalui kendaraan besar kan harus Bapak bicarakan dulu sama Pak RT dan juga Pak Lurah. Belum lagi mencari kontraktor yang mumpuni tapi harga miring juga butuh waktu."


"Maa Syaa Allah, Nak. Ini bangun pabrik loh bukan rumah apa kita bisa melakukan semua ini?" tanya Ratna yang mulai khawatir dengan rencana sang anak.


"Bukan pabrik besar, Ma. Cuma gedung untuk beberapa line mesin saja palingan."


"Kita tidak bisa menyepelekannya begitu saja, tetap banyak prosedur yang harus dilewati supaya gedung itu aman dan bisa berdiri di sana."


"Apa Pak lurah bakal setuju, Pak?" Ratna melihat suaminya.


"Kalo nantinya bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk warga sih, In Syaa Allah Pak Lurah sama Pak RT pasti setuju. Cuma kan kita harus mengurus surat-suratnya yang pasti butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit."


"Sekarang yang terpenting kamu cari tahu lahan itu milik Gemilang atau bukan? Kalo bukan, berarti kan Gemilang bakal ngeluarin budget lebih besar buat beli tanah itu. Nah dari situ kita bisa tau budgetnya berapa, jadi Bapak bisa coba hitung-hitung nanti," lanjutnya.


"Duh, kepala Mama udah pusing duluan mikirnya, Pak."


"Siapa yang nyuruh Mama mikirin hal ini? Udah Mama tenang aja dukung dan beri doa saja untuk Bapak dan Hanna."


Adri nampak memijat kepalanya.


"Nah itu Bapak juga pusing kan?"


"Bukan pusing, Bapak cuma sakit kepala." elaknya.


"Sama aja atuh, Pak itu juga!"


Hanna hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua orang tuanya. Rencana besar yang ada di kepalanya harus terwujud. Meski dengan ilmu nekat ia akan berusaha semampunya mewujudkannya.


Balas dendam paling epik adalah menjadikan dirinya lebih unggul dari siapapun. Kesempatan yang ada tidak boleh disia-siakan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2