
"Maksud Non Jessica apa?"
Pria paruh baya itu melirik heran pada gadis di sampingnya, tangannya sudah siap membuka gagang pintu.
"Mmm ... Gini deh, mana nomor rekening bapak, saya transfer 25 juta sisanya lagi setelah bapak kasih video rekaman cctv itu pada saya."
"Jadi, non Jessica mau beli rekaman cctv ini?"
"Iya, kalo nggak bapak tunggu di sini biar saya yang masuk. Sebagai gantinya saya kasih bapak 25jt."
Lelaki itu semakin heran dengan tingkah dan penawaran gadis berwajah oriental itu. Tapi, ia menuruti perintahnya dan menyebutkan nomor rekening bank miliknya.
"Sudah masuk kan, Pak?" tanyanya begitu mendengar suara ponsel berdenting.
"Belum tau, Non, saya kan tidak pakai smsbanking. Boleh saya minta bukti transfernya?"
"Oke wait, Bapak sebutin nomor ponselnya."
Setelah menyebutkan nomornya sebuah pesan masuk dan terlihat bukti transfer 25 juta telah selesai diproses.
"Percaya kan Bapak?"
"Oke, Non. Lalu?"
"Biarkan saya masuk dulu yah Bapak tunggu di sini," ucapnya dengan cepat menyelinap ke ruang kendali itu.
"Rupanya dia menyuapku, sepertinya kejadian tadi ada hubungannya dengan dia," batin pak satpam melihat pintu yang tertutup di depannya.
Muncullah pikiran jahat dalam dirinya melihat kesempatan ini.
Dengan perlahan pria itu membuka pintu dan mendapati Jessica yang tengah mencari-cari file di depan komputer. Di depannya terdapat beberapa layar yang menampilkan situasi rumah 2 lantai itu.
"Loh, saya kan nyuruh bapak tunggu di luar kenapa masuk?" protesnya.
"Saya penasaran apa yang Nona lakukan di dalam sini," katanya seraya mendekat.
"Sa-saya ...."
"Apa kecelakaan tadi ada hubungannya dengan Non Jessica?" tanyanya menyelidik.
"Saya sudah kasih kamu uang 25jt ya, Pak. Jadi tolong tunggu di luar!" serunya mulai emosi.
__ADS_1
"Mari saling jujur dan bernegosiasi dengan adil."
"Negosiasi apanya? Apa uang segitu belum cukup? Bisa saya tambah lagi ko pak, tapi tolong bapak keluar!"
"Kalo kaya gini saya semakin yakin, Bu Hanna tadi bukan jatuh tapi karena ada yang mendorongnya. Mengingat Non Jessica sering datang mengunjungi Tuan Michael, bisa saja kecemburuan yang membuatnya melakukan itu."
"Tutup mulut sampahmu itu!" pekiknya tak terima.
"Minggir!" Dengan keras pria itu meggeser tubuh Jessica yang menutupi layar komputer.
"Brengsek ya anda!"
Tangan mungil itu hendak meninju wajah kekar di depannya. Tapi kalah cepat, pak satpam dengan sigap menangkis dan memelintir jemari halus itu.
"Tidak mengukur kemampuan diri," gumamnya.
Dengan sekali gerakan kedua tangannya sudah dilipat ke belakang oleh pria itu, membuat Jessica meringis kesakitan.
"Aaww, sakiitt! Lepaskan!" teriaknya.
"Semakin anda berteriak akan membuat semuanya tahu tentang cctv ini. Diam dan tunggu. Saya akan melihatnya sebentar," katanya mengencangkan kuncian tangannya pada gadis itu.
"Kalo sampe Om Martin tahu semua ini perbuatan gue, gimana nih? Jangan-jangan gue bakal dijeblosin ke penjara, atau parahnya kalo sampe wanita itu mati gue juga bakal mati di sini." batinnya berkecamuk.
Terlihat pria bernama Santo itu, tengah melihat rekaman kejadian beberapa menit yang lalu. Jelas sekali dorongan tangan Jessica yang membuat Hanna terjatuh.
"Sial! Kenapa gue nggak mikir ada cctv di situ yah?" gerutunya pelan.
"Wooww benar dugaan saya. Nona yang telah mendorong Bu Hanna hingga terguling ke lantai dasar," ucap Santo melihat gadis yang tengah kesakitan itu karena tangannya dipegang kuat olehnya.
"Saya telah memberikan anda 25jt ya Pak dan jika itu kurang silahkan bicara berapa lagi yang anda inginkan?" serunya.
Pria itu terdiam tampak berpikir sejenak sambil memperhatikan gadis di depannya itu.
"Sebenarnya ada yang lebih saya inginkan dari pada uang itu nona, tapi saya tidak yakin apa anda bersedia menurutinya?"
"Apa katakan?" tanyanya antusias mengira ada jalan lain untuknya selamat dari situasi ini.
Namun, seketika hatinya berdebar kencang, lututnya gemetar, saat tangan kekar satunya lagi menyentuh punggung gadis itu. Terus menyusuri lekuk tubuhnya. Dan berhenti pada pinggang yang memang tak terbalut kain karena bajunya yang pendek dan ketat.
"Heh Pak! Anda jangan kurang ajar yah!" teriaknya sambil meronta menjauh.
__ADS_1
Tapi, karena cengkeraman tangan itu sangat kuat ia tak bisa bergeser jauh.
"Jangan teriak Nona, nanti ada yang datang dan semua akan tahu kejahatanmu. Kamu tau nggak gimana kejamnya seorang Michael? Saya tidak yakin kamu akan keluar hidup-hidup dari rumah ini, jika sesuatu terjadi pada istrinya."
Jessica terdiam dalam hati membenarkan ucapan pria itu.
"Berikan aku tubuhmu maka akan kubereskan ini semua," lanjutnya dengan tangan terus meraba belakang tubuh gadis itu.
Jessica memejamkan matanya, air mata seketika berderai di wajah cantiknya bagaikan memakan buah simalakama. Jika dia menolak maka harus siap menerima kemurkaan keluarga Delopez. Tapi, jika dia mengiyakan maka tubuh mulusnya akan jatuh ke pelukan seorang satpam.
"Tubuhmu sangat mulus dan wangi, Nona," gumam pria itu mulai mencumbui tubuh gadis itu. Ia merasa dipersilahkan karena sang gadis hanya terdiam pasrah, meski tubuhnya terlihat terguncang karena isak tangis.
"Aaahhhh," desah Santo saat ia mencium leher jenjang di depannya. Juniornya terasa tegak berdiri memberontak di dalam celananya yang mulai sesak.
Ia pun membalikkan tubuh mangsa di depannya dengan agresif. Gadis itu masih terus menutup matanya kencang, dengan tubuh yang kaku menahan ketakutan yang hebat. Lututnya gemetar dengan kaki tak berdaya bergeser seinci pun.
"Ayolah, lemaskan tubuhmu nona. Rasakan kenikmatan yang akan kuberikan," desahnya di telinga Jessica.
Saat tangannya hendak melucuti pakaian sang gadis, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki menaiki tangga. Sepatu boot yang dipakai para satpam memang mengeluarkan bunyi keras saat berbenturan dengan lantai.
Seketika mereka kalang kabut, Jessica menaikan baju yang sempat sedikit merosot. Dan Santo membenarkan celananya yang sedetik tadi ia buka resletingnya.
"Cepat hapus rekamannya!" pekik Jessica.
"Saya akan keluar menghadang yang datang," lanjutnya mengusap air mata dan merapikan pakaiannya lalu menuju pintu.
Benar saja saat ia membuka pintu seorang satpam lainnya sudah berdiri di sana hendak masuk.
"Sedang apa Nona di dalam?" tanyanya heran melihat Jessica keluar dari ruang kendali.
"Saya tadi salah kamar mau ke kamar tamu eehh ko malah kesini," elaknya seraya menutup pintu.
"Kamar tamu ada di sebelah sana, Nona," ucap pria itu menunjuk kamar yang sudah terlewat itu.
"Oh oke, baiklah."
"Eeeh sebentar, Pak. Tadi liat Bi Parmi di bawah nggak?"
"Coba dilihat saja non di dapur, biasanya dia ada di sana."
"Oke, makasih pak."
__ADS_1
"Semoga si brengsek itu sudah menghapus filenya!" bisiknya dalam hati.
Ia berjalan menuruni tangga sambil celingukan ke ruang kendali itu. Kamar yang hampir saja merenggut kesuciannya. Dalam hati ia berterimakasih pada satpam yang telah datang menyelamatkanya. Meski hatinya tetap saja belum tenang perihal rekaman cctv itu.