
Mereka sampai di sebuah toko perhiasan cukup besar dan terkenal. Sinta terdiam, sesaat mengamati keadaan sekitar yang lumayan ramai.
"Rame banget, pak." ucapnya celingukan mencari pelayan yang kosong.
"Iya, ada toko lain yang lebih sepi nggak?" Kata Hendi.
"Yee bapak, toko ramai itu tandanya barangnya bagus makannya laris."
"Nggak gitu juga kali, yang sepi belum tentu nggak bagus. Bisa jadi mereka punya barang bagus tapi tak pandai atur strategi pemasarannya," Papar Hendi serius.
"Ah, susah ngomong sama bos mah selalu benar." Bisik Sinta mlengos.
"Apa katamu?"
"Eh, anu ... engga jadi pak." Sinta terkekeh dan setengah berlari menghampiri seorang wanita yang tengah nganggur di balik teralis besi itu.
"Pak, sini buruan!" serunya ke arah Hendi.
Mereka pun sibuk memilih berbagai ukuran dan bentuk yang kira-kira cocok untuk Hanna. Tapi, selang beberapa menit pria itu belum juga menemukan yang cocok.
Tiba-tiba, datang seorang wanita muda mengenakan masker, berkemeja hitam dan rok span mini sedikit mendorong Hendi yang tengah termenung kebingungan. Ia mengeluarkan kotak perhiasan berbentuk love dan memanggil pelayannya.
"Sorry, saya buru-buru." ucapnya tanpa menoleh.
"Yee, ngantri donk mba. Kita juga buru-buru ini!" Gerutu Sinta kesal.
"Mba, saya mau jual ini." Kata wanita itu, menghiraukan ucapan Sinta.
Hendi melirik perhiasan yang tengah diperiksa itu. Sebuah cincin dengan taburan berlian kecil melingkar di sepanjang bulatannya. Serta satu mata berlian besar di atasnya menambah kesan mewah.
Pria itu menyikut Sinta, ekor matanya menunjuk ke arah wanita yang tengah berdiri di sampingnya.
"Apa?" Tanya bawahannya itu mendongakkan kepala, mengingat postur tubuh Hendi jauh lebih tinggi darinya.
"Bapak mau yang itu?" Bisiknya di telinga Hendi.
"Bagus nggak?"
"Itu sih bukan bagus lagi, mewah bangeett pak."
"Kenapa di jual Mba? Ini keluaran terbaru kan, belum ada 3 bulan." Ujar si mba pelayannya.
"Nggak papa, ada masalah pribadi yang tak bisa saya ceritakan." Jawab wanita seksi itu jutek.
"Baik, saya cek dulu yah." Wanita itu mengangguk.
Sinta yang paham maksud Hendi segera mendekati wanita itu.
"Mba ... berapa gram yang tadi?" Tanyanya ragu.
"Maaf mba, saya buru-buru." Jawabnya seraya terus mengetuk-ngetuk jemarinya pada kaca toko.
"Ya elah mba, jawab kaya gitu doank nggak ngabisin waktu 2 menit kali!" Suara Sinta mulai meninggi.
__ADS_1
"Siapa kamu, mau tau urusan saya?"
"Eh, mba maaf yaa! Saya bukannya mau tau urusan situ, saya cuma nanya itu cincin berapa gram?!"
"Itu namanya kepo mba!" Bentaknya dengan mata membesar.
Hendi menarik tangan Sinta untuk menjauh, tanpa sadar beberapa orang sudah memperhatikan keributan itu.
"Saya suruh kamu cari tau cincin itu, bukan ngajak berantem Sinta." Kata Hendi memelankan suaranya.
"Dia keterlaluan banget pak, sombongnya tingkat dewa!" Bela Sinta dengan suara meninggi.
"Hadeehh, Sinta sintaaa." Ucap Hendi geleng-geleng kepala.
"Maafin saya pak," ujarnya menelungkupkan kedua tangannya.
"Hendi ya!" Wanita tadi memandang dengan bola mata membesar kepada Hendi. Dahinya sedikit berkerut, matanya menelaah setiap jentik tubuh pria di depannya itu membuat Sinta tergeser ke samping.
"Siapa?" Tanya Hendi cuek.
"Gue Siska," jawab wanita itu seraya membuka maskernya. Terlihat wajah cantik dengan bibir kecil imut memakai lipstik warna nude.
"Siska?!" Ulangnya ragu, seketika hatinya berdebar.
"Iya, udah lupa yah?" Senyum menggoda terlihat jelas di wajahnya.
"Oh ... em, engga kok. Gue kaget aja, ketemu lu di sini." Jawab Hendi gugup.
"Iya tadi gue jual ... itu ... lagi ada masalah keluarga," jawabnya dengan terbata.
"Cuma temen ternyata, gue kira bini lu." Ledeknya pada Hendi.
"Haha ngapain di sini?" Lanjutnya.
"Beli ...."
"Engga liat-liat aja," potong Hendi menyalip ucapan Sinta. Wajahnya tampak menunduk, pipinya merona memandang Siska yang tengah manggut-manggut.
"Siapa nih cewek? Perasaan gue nggak enak deh," batinnya. Dia sedikit menjauh. Tangannya merogoh ponsel di dalam kantong baju dan bersiap memotret mereka berdua.
Ekor matanya terus memperhatikan kedekatan mereka yang tengah berjalan menuju toko itu. Sepertinya, Hendi jadi membeli cincin yang tadi wanita itu jual. "Katanya buru-buru, cih!" Ekspresi muntah Sinta melihat mereka berdua.
"Gue kirim Hanna aja ah," gumamnya. Belum sempat mengirim, Hendi melambaikan tangan ke arahnya. Dengan cepat menghampiri atasannya itu.
"Iya pak, loh kemana cewek tadi?"
"Udah pergi." Jawabnya singkat.
"Ini muat ga di jari Hanna?"
Sinta mencoba memasukkan cincin itu pada jarinya, karena ukuran mereka berdua sama.
"Pas pak, bagus banget. Hanna pasti suka," pujinya terus memandang cincin berlian itu.
__ADS_1
"Emang ukuran kalian sama?"
"Samaa, dijamin ga pake longgar."
"Ya udah, mau yang ini yah." Pintanya pada pelayan toko itu.
Hendi sekilas melirik ujung jalan tempat Siska menghilang tadi. "Dia tambah cantik," batinnya. "Hendi, ayolah ada Hanna yang lebih cantik." Batinnya lagi, seolah menentang apa yang ada di pikirannya.
Setelah selesai transfer sejumlah uang yang fantastis kepada pemilik toko emas itu, mereka pun berlalu menuju parkiran. Kali ini, Hendi terlihat banyak diam. Wajahnya berubah datar, seolah berpikir sesuatu.
"Wanita tadi siapa, pak?" Tanya Sinta penasaran.
"Mantan karyawan di perusahan," jawabnya tanpa menoleh.
"Ooh, tumben bapak dekat dengan karyawan cewek hehe," Sinta nyengir berharap tak salah kata.
"Kenapa emang?"
"Selama ini kan saya kira bapak dingin banget, dan sempet salut sama Hanna yang mampu mencairkan bongkahan es di kutub." Kelakarnya.
"Haha, sejak kenal Hanna semuanya berubah. Dia bahkan jauh lebih dingin dari saya kan, kalo soal cowok?"
"Iya bener sih, salut juga sama bapak bisa membuat trauma di hati Hanna semakin membaik." Hendi hanya tersenyum kecil, kemudian membuka pintu mobil dan mereka pun melaju menuju kantor.
Triinggg!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Hendi.
["Fighting Hendi! Semoga gadis itu dapat menerima pria sebaik dan setampan kamu."] Tulis pesan dari nomor yang bertuliskan Siska. Seutas senyum tersungging dari bibir Hendi.
"Hanna ya pak," tanya Sinta.
"Bukan, emm ... temen saya," jawabnya gugup.
"Temen tapi senyumnya girang banget," gumam Sinta dalam hati. Entah kenapa dia merasakan sesuatu yang aneh, sejak Hendi bertemu wanita tadi.
Mereka pun larut dalam keheningan, sesekali Hendi mengambil ponsel dan terlihat berbalas pesan dengan seseorang. Terkadang senyum kecil dan keheranan tergambar di wajahnya. Tanpa sadar Sinta terus melirik memperhatikannya.
"Gue yakin, itu pasti cewek tadi." Tebaknya. Dia segera mengirim pesan kepada Hanna.
["Beb, lu lagi chatingan sama Hendi?"] Tulisnya.
Tak lama kemudian Hanna membalas, ["Engga. Gue lagi beres-beres, besok balik. Kenapa emang?"]
"Tuh kan, insting gue emang tajem banget. Jangan-jangan tuh cewek mantan pacarnya pak Hendi!"
"Udah sampe, thanks ya udah bantuin saya. Tolong jangan bilang Hanna soal hari ini, bisa?"
"Emm ... iya pak. Semoga lancar yaa lamarannya," ucap Sinta seraya membuka pintu mobil.
"Bapak nggak ke kantor lagi?" tanyanya saat tak melihat Hendi membuka pintu.
"Saya masih ada urusan."
__ADS_1
"Oh gitu, oke pak." Wanita itu melenggang masuk kantor, sesekali menengok ke belakang melihat mobil sedan hitam itu meluncur dengan cepat dan menghilang di ujung jalan.
"Duuhh, gimana ini? Semoga apa yang ada di pikiran gue itu salah. Etapi, masa gue nggak cerita sama Hanna soal ini?" Sinta merasa dilema sendiri. Antara menuruti bosnya atau Hanna sahabatnya.