Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Paksaan


__ADS_3

"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda, Pak," ucap Ansell melihat pria di depannya.


Ia tak mungkin marah-marah di situ, mengingat ada Renata dan juga karyawan yang lain berlalu-lalang. Padahal darahnya seolah mendidih melihat pria itu, ada banyak pertanyaan di benaknya.


"Bicara apa? Bukankah laporan bulanan masih lama?" tanyanya cuek, ia melirik ke arah ruangannya.


"Ini bukan soal pekerjaan, bisa kita bicara di ruangan anda?" Ansell menunjuk ruangan Michael.


"Saya sedang ada tamu, besok saja." kata Michael meninggalkan Ansell.


Baru saja dia hendak membuka pintu Hanna sudah lebih dulu mendorong pintu itu.


"Maaf Pak Ansell, saya sudah lebih dulu membuat janji dengan Pak Michael. Jadi kami akan bicara empat mata," ucap Hanna dengan seutas senyum yang dipaksakan.


"Anda bisa dengar sendiri kan? Saya sibuk silahkan kembali bekerja."


Kemudian dua orang itu masuk ke ruangan. Diikuti lirikan tajam dari Ansell, tangannya mengepal menahan emosi.


"Apa yang harus kulakukan? Jika aku marah dan melawan dia, resikonya bisa kehilangan pekerjaan ini. Zea pun pasti bertambah marah padaku. Bukan hanya soal penghasilan tapi dia akan mengira karena wanita itulah penyebabnya," gumam Ansell dalam hati.


Matanya masih tak lepas dari pintu yang sudah tertutup itu.


"Hei, Pak Ansell!" Renata tiba-tiba teriak.


"Kenapa sih teriak-teriak?" protes Ansell kaget.


"Lagian saya panggil-panggil dari tadi diem aja, lagi ngelamunin apa? Cemburu yah liat mereka?" godanya.


"Ce-cemburu? Jangan sembarangan ngomong yah kamu! Saya cuma nggak denger," elaknya.


"Siapa sih sebenernya wanita itu? Bagaimana bisa dia mengenal bos kita? Beliau kan juga baru menjabat di sini gantiin bapaknya. Atau jangan-jangan dugaan saya benar, dia wanita panggilan yah?" terka Renata setengah berbisik.


"Jaga mulutmu Renata! Dia wanita baik-baik, bukan wanita penggoda yang kamu pikirkan!" protes pria itu tak terima, matanya tajam melihat perempuan di depannya.


"Loh, woles donk! Kenapa jadi anda yang marah-marah? Saya jadi curiga nih," ucapnya melirik Ansell dari ujung ke ujung.


"Katanya kamu mau pulang? Kenapa masih di sini?"


"Ya jelas nggak jadi, gara-gara wanita itu! Peraturan pertama yang harus saya ingat adalah, saya dilarang pulang sebelum Pak Michael pulang," gerutunya kesal.


"Renata, kamu boleh pulang. Pekerjaanmu sudah selesai kan?"


Tiba-tiba Michael membuka pintu membuat keduanya terlonjak.


"I-iya, Pak, sudah."


"Oke, kamu boleh pulang duluan. Dan anda silahkan kembali ke ruangan," tunjuknya pada Ansell.

__ADS_1


Pria itu kembali masuk ke ruangannya dan menutup semua tirai yang tadi terbuka lebar.


"Wah-wah, privat sekali mereka. Sampai-sampai tirainya juga ditutup," bisik Renata.


Ansell tak menjawab sepatah kata pun, ia beranjak dari ruangan itu.


"Kecurigaanku benar di antara mereka bertiga pasti ada sesuatu," gumam gadis yang memakai rok mini itu.


***


"Dimana Ibu dan anakku?"


Tanpa basa basi Hanna langsung membuka pembicaraan, setelah lelaki itu duduk di kursi singgasananya.


"Duduklah dulu nggak usah buru-buru," ucap Michael menunjuk pada kursi di depannya.


"Aku tidak bisa tenang selama belum tahu kabar mereka berdua? Apa yang udah kamu lakukan terhadap mereka?"


"Tidak ada, mereka sedang bersantai di villa itu."


"Villa? Kamu memebawa mereka ke villa itu?" tanya Hanna, matanya membulat membayangkan betapa jauhnya tempat itu.


"Iya, cuma di sana tempat yang cocok untuk mereka. Segala kebutuhannya sudah tercukupi. Mereka tidak akan kelaparan, kedinginan dan juga kehujanan."


"Kembalikan mereka padaku? Kenapa sampai sejauh ini kau membenciku? Apa salahku Michael?" sergah Hanna.


Ia mengangkat kedua alisnya, matanya menelisik wanita di depannya itu mencari apa yang spesial hingga sang ayah terus menyuruh dia menikahinya.


"Mereka tak bersalah, urusanmu adalah denganku. Kenapa sepengecut itu kau melibatkan keluargaku!" teriaknya lagi.


"Kau juga melibatkan keluargaku kan?"


"Aku? Kau sendiri yang membuat situasinya menjadi seperti ini, kenapa jadi menyalahkanku." elak Hanna.


"Kau mengambil hati ayahku, sampai dengan mudahnya dia menyuruhku menikahimu. Apa yang dulu kau lakukan padanya?" Michael berdiri mendekat pada Hanna.


"Omong kosong apa ini? Aku sama sekali tak mengenalmu, lagi pula hubunganku dengan Pak Martin tak lebih sebatas atasan dan bawahannya."


"Lalu, apa maksudmu membangun kantor di rumahku? Apa tak ada tempat lain? Cepat hentikan pembangunan itu!" gertaknya seraya berdiri melihat pria depannya.


"Kenapa aku harus menurut padamu? Siapa kamu?"


Michael duduk di meja tempat Hanna berdiri. Matanya lurus melihat wanita itu. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang saat mereka berjarak begitu dekat.


"Dia berbeda dari wanita lain yang pernah kutemui. Tak gampang menyerah dan tak ada rasa takut dalam matanya," bisik Michael dalam hati.


"Tentu saja aku adalah orang yang telah kau dzolimi! Cepat kembalikan keluargaku dan hentikan pembangunan di tanah itu, atau aku akan teriak keliling pabrik ini biar semua orang tau kelakuan bosnya yang menjijkan!"

__ADS_1


"Silahkan! Semua orang akan menganggapmu gila," ejeknya.


"Oke, baiklah. Jangan anggap aku bercanda ya, kita lihat orang akan menganggapku gila, atau menyeretmu keluar paksa dari sini!" ancamnya.


Hanna berbalik menuju pintu. Ia sudah nekat mempermalukan lelaki itu meski harus dianggap gila oleh orang lain. Video yang ada di ponselnya akan ia keraskan volumenya dan tunjukkan pada orang-orang di luar sana.


"Suaramu ini akan membuat kepalamu tak tegak lagi saat berjalan," ancamnya mengayunkan ponselnya.


Baru saja beberapa langkah menuju pintu, tangannya ditarik dengan keras dan tubuhnya dihempaskan ke sofa.


Pria tinggi besar itu, mendekatkan kepalanya ke wajah Hanna.


"Jangan macam-macam atau pakaian yang rapi ini akan kubuat berantakan," desahnya tepat di telinga Hanna.


"Minggiiiir kau!" pekiknya mendorong kuat tubuh pria itu.


Michael terdorong saat lutut Hanna mengenai perutnya.


"Cepat kau suruh anak buahmu mengantarkan mereka kesini!"


Micahel terdiam, dia duduk tak jauh dari Hanna yang tengah merapikan rambut panjangnya. Pandangannya tertuju pada leher mulus itu.


"Cantik," bisiknya dalam hati.


"Heloowww, apa yang kau lihat?" Hanna mengagetkan lamunan pria itu.


"Aku membangun kantor itu untukmu, kau bisa menjadi direktur di sana," katanya kemudian tanpa melihat Hanna. Ia berjalan kembali ke kursinya.


"Duduklah," perintahnya menunjuk kursi di depannya.


Hanna mengernyitkan dahi, heran melihat perubahan tingkahnya.


"Aku tidak menginginkan kantor dan posisi apapun darimu. Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan pria sepertimu!" tolak Hanna masih tak bergeming dari tempatnya semula.


"Sepertinya takdir berkata lain, kau dan aku mulai sekarang akan terhubung satu sama lain."


"Kesambet setan apa ni orang? Kenapa tiba-tiba lembut gitu bahasanya," gumam Hanna dalam hati.


"Menikahlah denganku," ucapnya kemudian tanpa melihat wanita itu.


Michael tertunduk, entah kenapa ia merasa malu atas apa yang diucapkannya tadi. Bayangan sang ayah yang tengah tergolek lemah, terlintas di benaknya.


Mulut Hanna menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kemudian dia tersadar dan mengalihkan pandangannya.


"Menikah denganku, seperti yang diinginkan ayahku. Kau tak kuijinkan menolak, semua akan dipersiapkan segera."


Bersambung....

__ADS_1


Pembacaan nama Michael\=Maikhel ya gais.


__ADS_2