Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Tak Ada Dua Ratu Dalam Satu Kerajaan


__ADS_3

Ansell akhirnya mengalah dan membiarkan mobilnya terparkir di pinggir jalan. Ia segera menyelinap masuk saat Zea tengah sibuk memarkirkan mobilnya. Tangannya mengetuk jendela, berharap kedua anaknya bangun dan melihatnya.


Benar saja, tak berselang lama dua anak kembarnya terbangun dan menyadari sang papa di jendela luar.


"Papaaa ...!" teriak keduanya bersamaan. Tangan mungil mereka menempel di kaca memandang haru pria itu.


"Nak, buka sayang pintunya!" perintah sang papa.


Dari dalam rumah keluar seorang wanita, yang sepertinya pembantu baru Zea. Dia segera menghampiri pintu mobil belakang. Setelah pintu terbuka wanita itu berebut masuk bersama Ansell.


"Pak, maaf! Ibu melarang anda untuk menyentuh anak-anak!" ucapnya seraya menangkis tangan Ansell yang hendak menggendong dua jagoannya.


"Apa maksudmu? Mereka ini anak saya! Anak kandung saya!"


"Cukup Ansell!" teriak Zea yang sudah berdiri di belakangnya. "pergi kamu dari sini!" lanjutnya melirik tajam mantan suaminya itu.


"Zea, kamu lupa perjanjian di pengadilan? Kita akan mengasuh mereka bersama-sama kan? Uang nafkah yang kamu pinta pun udah aku sanggupin. Tapi, kenapa kamu seperti ini?" protes Ansell. Ekor matanya mengikuti kedua anaknya yang digendong pembantu baru Zea.


"Aku tak sudi melihat pengkhianat!" celetuknya seraya menunjuk dada Ansell.


"Aku akan tuntut kamu ke pengadilan!"


"Silahkan! Kalo kamu benar-benar tak ingin melihat anakmu selamanya!"


"Gila kamu yah!"


"Kan kamu yang ngajarin, nggak inget gimana kegilaanmu?"


"Papaaaa ...!" tiba-tiba si sulung mereka berhasil lolos dan menghampiri Ansell.


"Lard! Anak hebat, pinter." serunya seraya memeluk erat anak pertamanya itu, yang hanya berbeda 5 menit saja dari adiknya.


"Lio mana?" tanyanya melihat ke arah pintu.


"Di dayem," jawabnya menunjuk ke arah rumah.


"Adelard, masuk!" perintah sang mama menarik tangannya.


"Nda mauuu! Mau ama Papa!" teriaknya enggan melepas pelukannya.


Kedua anak Ansell memang begitu dekat dengannya. Ia selalu menyempatkan bermain bersama mereka saat pulang kantor. Secape apa pun dia tak peduli, karna bisa hilang hanya dengan tertawa bersama.


"Ayo naak masuukk, kita mi cucu yuk!" Pembantu itu pun keluar dengan sebotol susu.


"Cucuuuuu!" teriak anak polos itu mengambil botol dan berlari masuk.

__ADS_1


Ansell hanya terdiam, melepaskan sang anak yang meninggalkannya.


"Udah kan? Silahkan pergi!" usir Zea menutup gerbang.


"Ze-Zeaaa! Tolong, jangan pisahkan aku dari mereka." rengek pria itu.


"What? Aku? Misahin kamu sama anak-anak? Engga Sell, kamu sendiri yang meninggalkan mereka, meninggalkan rumah ini demi perempuan murahan!" Zea berlalu dari hadapan Ansell dan menutup pintu dengan kencang.


Pria itu tertunduk lemas, rasa sakit, penyesalan, marah dan kecewa berbaur menjadi satu. Lalu menjalar ke seluruh tubuhnya. Entah pada siapa dia melampiaskan segala rasa yang menyesakkan dada itu.


"Hannaaa ...." gumamnya pelan. "tega sekali kau buat aku seperti ini," keluhnya memegang kepala yang terasa ditusuk jarum.


Kini, dia telah kehilangan segalanya dan satu-satunya tujuan pun tak lagi peduli padanya.


Zea, menyibakkan sedikit tirai kamarnya. Hatinya perih teriris melihat laki-laki yang begitu dicintainya tertunduk sangat dalam di halaman rumah.


Rumah yang pernah terisi begitu banyak kenangan manis. Kado terindah dari Ansell saat ia baru saja sah menjadi istrinya. Saat ia menjadi satu-satunya ratu dalam istana ini.


"Tak akan ada dua ratu dalam satu kerajaan, Ansell." gumamnya dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Dia mengorbankan perasaan demi egonya, untuk melihat pria itu hancur sehancur-hancurnya. Sehingga tak ada lagi jalan, selain kembali padanya.


Ansell berjalan gontai menuju mobil, sekali lagi ditengoknya rumah hasil kerja kerasnya itu. Zea yang sedari tadi ngintip, buru-buru menutup tirai. Tetapi terlambat, mantan suaminya sudah menangkap sebuah bayangan dibalik kain yang ia yakini adalah mantan istrinya.


Wanita yang masih berdiri di balik jendela itu, kemudian terduduk lemas. Air mata yang sudah tak dapat dibendung bercucuran lagi. Hatinya perih, darahnya terasa panas mengaliri seluruh urat nadinya.


"Ansell, seandainya kau tau meski ribuan kali hati ini sakit tapi aku masih tak bisa membencimu. Rasa ini terlalu dalam untukmu," ratapnya memeluk kedua lututnya.


Raungannya menggema seisi kamar yang sepi, isakannya terdengar menyesakkan dada. Pembantunya hanya bisa menghela napas di balik pintu.


"Kenapa harus pura-pura kuat, kalo ternyata sesakit itu Bu." gumamnya memandang iba ke arah kamar sang majikannya.


Sejak awal kedatangannya, ia tak pernah melihat wanita itu tertawa bahagia. Wajahnya selalu terlihat murung, meski ditutupi make up setebal apa pun kesedihan tetap bisa menembusnya. Terlebih, sorot mata penyesalan menggantung di pelupuknya yang senantiasa berair saat bersama kedua anaknya.


"Perpisahan memang menyakitkan, banyak hal yang dikorbankan. Termasuk anak yang akan bertumbuh, tanpa pondasi yang kuat." Kini pandangannya fokus pada kamar di sebelahnya, tempat kedua anak kembar itu terbaring pulas.


******


"Aku minta maaf, soal kejadian tadi." ucap Hendi yang duduk tepat di samping Hanna.


Suasana kostan tampak sepi, hanya ada suara televisi dari kamar yang masih terbuka pintunya. Mereka duduk di teras, menghadap taman kecil sebagai pemisah antar dua bangunan yang berderet puluhan pintu.


"Iya," jawabnya singkat. Pandangannya tertunduk, dengan pipi yang memerah.


Tiba-tiba sebuah benda merah kecil disodorkan ke pangkuannya.

__ADS_1


"Apa ini?" tanyanya tanpa menoleh.


"Bukalah,"


Hanna membuka kotak itu dan terlihat sebuah cincin berlian yang tampak berkilau terkena cahaya lampu.


"Mmm-maksudnya apa?"


"Aku ingin menikahimu, karna aku mencintaimu Hanna." jawab Hendi memegang tangan Hanna yang terasa gemetar itu.


Kilasan bayangan masa lalu, tampak hadir di depan mata. Dia merasa seolah kembali ke beberapa tahun yang lalu, saat Ansell melamarnya dengan sebuah cincin. Suasana yang sama, di jam yang sama pula namun dengan orang yang berbeda.


"Bagaimana ini? Kenapa bayangan Ansell yang terlintas di pikiranku." gumamnya dalam hati.


"Tak perlu dijawab sekarang," Pria itu seolah paham dengan apa yang dipikirkan Hanna. "kamu bisa menjawabnya setelah siap, aku akan menunggu." lanjutnya.


Hanna tak bisa berkata-kata, tepatnya tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menjawabnya. Ia menatap mata pria di depannya, mencari sebuah keyakinan untuk bisa mendukung pikirannya ini.


"Aku harus menerimanya, agar bayang-bayang masa lalu bisa segera hilang dari hidupku." batinnya.


"Kalo kamu nerima aku, pakai cincin ini." Ia mengelus lembut rambut hitam legam milik Hanna.


Wanita itu hanya mengangguk, terlihat matanya berkaca-kaca. Sejurus kemudian air yang tak dapat dibendung menjebol pertahannya.


"Lho, ko malah nangis? Ada yang salah?"


"Engga, aku aja yang cengeng."


"Udah ah, jangan nangis buruan dimakan nasinya nanti keburu dingin."


Hanna hanya tersenyum, sekali lagi mencuri pandang pada pria tinggi yang digandrungi banyak wanita itu.


"Apa jadinya cewek-cewek itu, kalo tau pujaannya ngelamar aku." Dalam hatinya ia terkekeh geli membayangkan sikap mereka nantinya.


Beberapa menit kemudian keduanya tampak makan bersama. Meski dengan suasana canggung. Satu bungkus nasi rames pun habis mereka lahap.


Hendi akhirnya pamit, saat melirik arlojinya sudah pukul 10 malam.


"Aku sangat berharap, melihat cincin itu melingkar di jari manismu." ucapnya seraya melambaikan tangan.


Hanna hanya tersenyum mengantarkan pria itu ke depan gerbang. Hingga memasuki mobil dan melaju meninggalkan halaman kostannya.


"Pada akhirnya, akan datang saatnya aku membuka lembaran baru. Menutup coretan kelam yang telah lusuh." gumamnya dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2