Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Hati Nurani


__ADS_3

Setelah meneguk susu terakhirnya Ansell terlihat buru-buru memasuki kamar dan meraih tas kantornya. Tak lupa ia mengecup kening kedua anak kembarnya sebelum kemudian berpamitan pada sang istri.


"Papa, berangkat yaa..." ucapnya sambil memakai sepatu pantofel kinclong miliknya. Dan melambaikan tangan ke arah kedua anak dan istrinya.


"Hati-hati paa sarangeyoo," seru ketiganya bersamaan sambil terkekeh.


"Love you too!" seru Ansell yang sudah hilang di balik pintu.


Zea menarik napas panjang, melanjutkan sarapannya. Ia melirik piring roti sang suami masih utuh hanya susunya saja yang dihabiskan. Dengan cepat dia mengambil wadah bekal dan menaruh sandwich itu di dalamnya.


Lalu, tergopoh menyusul sang suami yang masih menyalakan mobilnya di garasi.


"Paa! Tungguu!" teriaknya berlari saat mobil itu hendak mundur meninggalkan rumah.


Ansell dengan sigap menginjak rem dan melihat Zea mendekatinya.


"Ada apa?"


"Ini sarapannya, jangan lupa dimakan kalo udah sampe kantor."


Zea menyerahkan kotak makan warna biru itu.


"Oke, makasih ya."


Wanita itu hanya mengangguk dan melemparkan senyum manisnya.


"Hari ini pulang jam berapa?"


"Belum tau, kerjaan pasti numpuk setelah cuti kemarin kan. Ya udah aku jalan yah, telat nih."


"Oke, awas ya kalo genit-genit!" ancamnya melirik tajam.


"Mulai deh!" seru sang suami sambil melengos melambaikan tangan pada istrinya itu.


"Hatiku jadi nggak tenang gara-gara si ****** itu ada di kantor," gerutunya kesal sambil memasuki rumahnya kembali.


Pukul 8.15 menit mobil Ansell tiba di depan gerbang pabrik tempatnya bekerja.


"Telat kan," gumamnya sembari menunggu pintu gerbang di buka.


Setelah terbuka ia menyalakan klakson dan meluncur menuju parkiran. Di kejauhan tampak bayangan seorang wanita yang tak asing baginya. Menggunakan kemeja dan rok span melenggok hendak memasuki lobi. Di belakangnya terlihat dua orang mengekor.


"Hanna," bisiknya terus memperhatikan wanita itu.

__ADS_1


Ansell tampak tertunduk lesu setelah mobilnya terparkir.


"Setiap hari harus melihat dia kuatkan hatiku ya Tuhan," bisiknya dalam hati.


Setelah menghela napas panjang ia keluar dari mobilnya, merapikan kemeja dan tak lupa mengecek rambut klimisnya. Meski usianya yang sebentar lagi kepala 4 tapi pria itu terlihat semakin muda. Dengan tubuh tinggi, kekar dan hidung mancungnya.


Dia berjalan cepat memasuki lobi, terlihat menyapa beberapa teman dan berbincang basa basi menanyakan kabar dan kerjaan. Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju ruangannya yang tentu saja melewati ruangan atasannya itu.


Entah kenapa jantungnya berdegup lebih kencang saat hendak melewati ruangan itu. Matanya waspada menatap lurus ke depan. Meski hatinya berulang kali menyuruh menoleh ke arah kanan tapi ia berusaha keras menepisnya.


Tiba-tiba pintu dibuka tepat saat dia hendak melewatinya. Reflek Ansell menoleh dan pandangannya bertemu dengan sosok wanita yang pernah mengisi hatinya begitu lama. Wanita yang sampai detik ini masih mempunyai tempat di hatinya.


Pria itu terlihat salah tingkah menghentikan langkahnya dan sedikit membungkukkan badannya memberi salam. Sedangkan Hanna yang sudah menyiapkan hati cukup lama untuk peristiwa ini terlihat lebih santai. Ia hanya menundukkan sedikit kepalanya dan pergi berlalu begitu saja.


"Huuufft ...!" Ia menghela napas panjang dan melanjutkan langkahnya.


Ekor matanya melirik wanita di depannya itu. Seketika ia merasakan dejavu saat-saat mereka berdua pertama kali bertemu di perusahaan ini.


Saat itu begitu sulit menaklukkan hati Hanna dengan status yang ia sembunyikan. Namun, berkat usaha dan kegigihannya akhirnya wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.


Ia terus melihat wanita itu hingga hilang memasuki sebuah ruangan yang dipintunya tertempel kata meeting.


"Meeting dengan siapa dia?" tanyanya dalam hati.


Ansell berjalan cepat menuju ruangannya yang terletak di belakang.


"Sejauh apa pun aku menghindarinya, bagaimana pun usahaku untuk tak berhubungan dengannya. Takdir ini memang tak dapat terelakkan. Jalan satu-satunya adalah hadapi dan siapkan hati untuk hal-hal yang di luar kendaliku." bisik pria itu seraya membuka pintu ruangannya.


Hanna sampai di dalam ruang meeting, ia berusaha tetap tenang meski sejurus tadi hatinya sempat bergejolak saat berpapasan dengan mantan suaminya itu. Pria yang pernah memberi harapan membangun istana cinta yang indah. Namun, juga menancapkan luka yang begitu dalam.


"Pagi semuanya," sapanya pada Sinta dan Hendi yang sudah lebih dulu sampai.


"Pagi Bu Hanna," jawab mereka bersamaan.


Keduanya masih menantikan seseorang dengan melirik ke arah pintu.


"Mari kita mulai meeting hari ini. Saya tidak perlu berkenalan lagi kan," ucapnya seraya tersenyum pada Sinta.


"Apa Pak Michael tidak bisa hadir?" tanya Sinta.


"Sudah saya sampaikan sebelumnya, beliau tidak akan menemui tamu sebelum konfirmasi terlebih dahulu. Jadi, saya yang akan mewakilinya."


"Baik Bu Hanna, kalian berdua kan memang tak ada bedanya yah. Keputusan istri biasanya akan selalu disetujui sang suami," celetuk Sinta lagi.

__ADS_1


"Mmm, tidak juga. Kami berusaha seprofesional mungkin dalam bekerja. Tidak etislah membawa hubungan pribadi ke dalam kantor," jawabnya tenang.


"Seingat saya, bukannya di Gemilang tidak boleh memiliki hubungan pribadi yah?" Kali ini Hendi buka suara.


Dia sudah dapat memastikan Hanna lah dibalik pembatalan kontrak ini, terlebih dengan ketidakhadiran Michael menambah jelas wanita ini yang memulai masalah. Mereka memutuskan untuk bersikap tegas padanya.


"Dahulu begitu, tapi seiring berjalannya waktu peraturan bisa saja diubah jika itu keadaan darurat. Lagi pula Pak Michael adalah pemilik perusahaan ini, apa pun yang ia lakukan tak akan ada yang berani mengusiknya."


"Bukankah masih Pak Martin yang menjadi CEO gemilang?"


"Hahahaha ... anda sepertinya ketinggalan info Pak Hendi. Beberapa hari yang lalu Pak Martin sudah memberikan jabatannya secara resmi kepada anaknya Michael suami saya. Jadi, apa pun yang menjadi keputusannya adalah final, mutlak tidak dapat diganggu gugat." jelasnya sembari membuka dokumennya.


Hendi dan Sinta saling melirik sejenak.


"Saya heran, biasanya Yukka akan konfirmasi lebih dulu sebelum datang kesini. Apa kalian sekarang merendahkan perusahaan ini?" tanyanya menatap tajam keduanya.


"Tidak sama sekali. Mohon maaf jika kami lancang tidak konfirmasi dulu. Saya juga baru saja semalam mendapat kabar perihal pembatalan kontrak ini. Jadi langsung menuju kesini," terang Hendi.


"Kemana saja dia, ko baru dengar soal pembatalan kontraknya?" tanya Hanna dalam hati.


"Jadi, apa yang membuat anda memutuskan untuk datang kesini?"


"Perihal pembatalan itu Yukka tidak terima, mengingat sudah cukup lama kita berbisnis bersama kenapa baru sekarang Gemilang mempermasalahkan kontraknya?" tanya Hendi melihat Hanna.


"Lagi pula, membatalkan secara sepihak bukankah melanggar undang-undang perjanjian? Dan bisa dituntut secara hukum," ujar Sinta menimpali.


"Hahaha ...!" Hanna terbahak mendengarnya.


"Lalu, merubah isi dalam perjanjian tanpa kesepakatan bukan melanggar hukum? Tidak melaksanakan sesuai isi perjanjian juga tidak melanggar hukum?"


"Bagaimana dia tahu kalau Pak Chandra merevisi perjanjian tersebut?" batin Hendi.


Kedua orang itu tertunduk sejenak.


"Hanna ayolah, ada masalah apa kamu bertindak sejauh ini?" tanya Hendi kemudian. Nada suaranya melunak.


"Mari kita bicara pribadi dari hati ke hati dan silahkan kamu keluarkan apa yang jadi masalahmu," lanjutnya kemudian.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan dari hati ke hati. Keputusan kami sudah bulat, mulai hari ini Yukka dan Gemilang tidak saling terhubung satu sama lain. Mulai hari ini semua kontrak di antara kita selesai," kata Hanna menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Hanna, kamu kan pernah bekerja di Yukka apa tidak punya sedikit hati nurani? Kamu tau kan Gemilang adalah salah satu induk perusahaan, apa jadinya nanti jika perusahaan lainnya tau Yukka sudah tidak bersama induknya lagi?" Sinta melihat tajam Hanna.


"Bicara hati nurani. Apa Yukka punya hati nurani? Memotong upah karyawan, memanipulasi harga bahan baku untuk mencapai keuntungan sepihak? Dan terakhir, memecat karyawan dengan seenak jidatnya. Cukup pantaskah kita bicara hati nurani?" gertak Hanna.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2