Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Strategi Dimulai


__ADS_3

"Pulang sekarang juga!" bentak Ansell kembali menarik tangan istrinya.


"Apa-apaan sih kamu!" Zea menghentakan tangannya.


"Aku bilang pulang!"


"Enggak! Aku lagi kerja, kamu sana yang pulang. Ganggu orang kerja aja," tolak Zea sinis.


"Kalo kamu masih anggep aku suamimu, ayo pulang. Tidak perlu kamu kerja di tempat ini. Gajiku selama ini juga cukup kan untuk biaya hidup kita," kata Ansell memegang pundak wanita itu. Kata-katanya sudah lebih pelan, melihat ada beberapa orang yang mulai memperhatikan mereka.


"Malu sell, diliatin orang udah sana kamu pulang."


"Aku tidak akan beranjak dari sini sebelum kamu pulang!"


Zea mendengus kesal, melihat tingkah suaminya. Dia masih saja terdiam di tempatnya.


"Kalo kamu tidak pulang sekarang juga, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu di pernikahan kita. Jangan harap kamu bisa bertemu kedua anakmu lagi," ancam Ansell seraya pergi meninggalkan rumah itu.


"Ansell! Apa maksudmu?" seru Zea tertahan.


Amarahnya memuncak, melihat reaksi cuek dari sang istri. Dia merasa tidak dihargai sebagai seorang suami. Makin hari Zea tak lagi bisa dikendalikan.


"Apa yang bisa membuatnya berubah ya Allah? Kenapa pikirannya masih saja tentang masa lalu," keluhnya dalam hati.


Ia menyusuri jalanan berbatu kecil itu menuju mobil, sesekali menengok ke belakang masih belum terlihat Zea masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa seberat ini membuatnya percaya? Sejujurnya aku tak ingin terjadi perceraian lagi dan berharap banyak pada pernikahan ini. Berharap bisa lebih baik, dan mengganti hari-hari suram yang telah berlalu. Tolong jaga pernikahan kami ya Allah," gumamnya menatap langit berawan.


Kepercayaan itu ibarat gelas kaca, sekali dia pecah tak akan lagi bisa kembali seperti semula. Itulah yang dirasakan Zea. Dia selalu ingin melihat wanita itu menderita dan hancur.


Itulah salah satu alasan ia kembali rujuk dengan Ansell, agar kedua mantan pasangan suami istri itu tidak bisa kembali dan hidup bahagia seperti dalam sangkaannya.


Cukup lama Ansell berdiam di dalam mobilnya, matanya lurus menatap mobil di depannya. Dia bertekad, jika istrinya tak mendengar ucapannya ia akan membawa anak-anak pergi dari rumah.


Tak berapa lama kemudian, terlihat Zea memasuki mobil dan menjalankan mobilnya perlahan.


"Alhamdulillah, mudah-mudahan dia mau melepaskan pekerjaan itu." gumamnya seraya menginjak gas dan melaju di belakang mobil sang istri.


"Aku harus menghubungi Bu Ratna dan menanyakan apa yang terjadi," ucapnya seraya meraih ponselnya.


Namun, berulang kali ia mencari nomor itu tak kunjung menemukannya.


"Zea keterlaluan!" umpatnya.


Nomor Hanna pun ia tak memilikinya, karena sang istri begitu posesif soal masa lalunya itu.


"Ah, Hendi!"

__ADS_1


Ia segera menghubungi Hendi.


"Halo," sapa pria itu.


"Halo Pak Hendi, maaf mengganggu waktunya."


"Iya, tidak papa Pak Ansell. Ada yang bisa saya bantu?" tawarnya.


"Ini ... maaf, saya mau minta nomor ponsel Hanna. Atau kalo dia ada di situ saya minta ijin berbicara sebentar," pintanya.


"Mmm, maaf, Hanna tidak ada di kantor. Dia sedang cuti pulang ke rumahnya," jawab Hendi.


"Cuti? Tapi dia tidak ada di rumahnya? Saya baru aja dari rumahnya."


"Dia sedang ada masalah, sepertinya terjadi sesuatu dengan keluarganya. Untuk detailnya saya juga belum mendapat kabar, tapi ada keperluan apa anda mencari Hanna?" tanya pria berkulit putih itu tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Benar dugaanku pasti telah terjadi sesuatu," bisik Ansell dalam hati.


"Saya ingin menemui anak saya, tapi saat tiba di rumahnya suasana rumah berantakan sepertinya tengah ada pembangunan." kilah Ansell beralibi.


"Pembangunan apa yah?"


"Saya juga nggak tau, makannya mau nanya langsung sama Hanna."


"Baiklah kalo begitu terima kasih banyak Pak Hendi," lanjutnya.


"Jika aku menemui Michael dan bertanya padanya, nggak yakin tuh orang mau menceritakan semuanya. Sebelum bertemu dengannya aku harus sudah tau apa yang sebenarnya terjadi," gumam Ansell.


"Kalo sampai terjadi sesuatu pada Alea, aku akan buat perhitungan dengan Michael!" gerutu pria itu.


***


Operasi Martin berjalan lancar, tangis haru terlihat dari Belinda dan juga Laura. Dari belakang Michael nampak berlari memburu dokter.


"Gimana dok? tanyanya dengan napas tersengal.


"Operasi sudah selesai dilakukan, saat ini pasien sementara akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk melihat perkembangan pasca operasi." jawab dokter tengah baya itu.


Michael lega, ia menghela napas mendengar pernyataan dokter. Meski tetap harus masuk ruang ICU, setidaknya operasinya tidak mengalami kendala.


***


Hanna sampai di depan perusahaan gemilang grup, ia langsung menuju ruang direktur. Karena sudah sering kemari, satpam mau pun receptionist tidak curiga akan kedatangannya.


Meski ia sempat diintrogasi karena datang sendirian, Hanna sudah menyiapkan jawabannya. Mereka tahunya Hanna akan keruang manager, karena di sanalah biasanya tujuan kedatangannya. Tapi, kali ini bukan. Ia akan membuat perhitungan dengan bos perusahaan mereka.


Sesampainya di ruang Michael, Hanna dihadang perempuan muda nan seksi.

__ADS_1


"Maaf anda siapa?" tanyanya melirik Hanna dari ujung ke ujung.


"Saya Hanna Kartika, Pak Michael ada di dalam?" tanyanya sopan.


"Bapak sedang keluar, ada yang bisa saya bantu?" tawarnya.


"Keluar kemana?"


"Maaf, beliau sedang ada urgent. Apa anda sudah membuat janji sebelumnya? Pasti belum kan? Anda bisa membuat janji terlebih dahulu, karena Pak Michael tak menerima sembarang tamu."


"Dia pasti sedang menunggu saya, jadi tak perlu membuat janji," jawabnya cuek.


"Gila, pede sekali ni cewek. Emang dia siapa? Penampilan cupu aja sok cantik," bisik wanita itu dalam hati.


"Tapi, di dalam agenda Pak Michael tidak tertulis adanya janji dengan anda, Bu Hanna Kartika."


"Nama saya tidak perlu tertulis di dalam buku anda, Mba. Karena sudah langsung terhubung pada ponsel beliau, tolong katakan kemana dia?"


"Maaf anda tidak sopan sekali, Dilihat dari penampilannya tidak mungkin Pak Michael membuat janji dengan anda tanpa memberi tahu saya, karena saya tahu betul setiap jadwal beliau."


"Makannya Mba, jangan cuma liat penampilan tapi kemampuan juga. Kalo anda tahu setiap jadwalnya berarti tahu donk kemana perginya dia?"


"Saya tidak akan memberi tahu pada sembarang orang, apalagi orang nggak jelas seperti anda. Tadi bukannya anda bilang, langsung terhubung pada ponselnya yah? Silahkan hubungi beliau kalo anda memang mengenalnya," tantangnya sinis.


"Hhmm, baiklah kalo anda memaksa. Saya yakin anda juga tidak tahu tepatnya pergi kemana bos itu," sindirnya.


Hanna merogoh ponselnya dan menghubungi Micahel. Lalu, ia memperlihatkan nomor yang terpampang di layarnya pada wanita di depannya itu. Dia yakin, sekretarisnya itu orang baru karena dia juga baru melihatnya.


"Ini kan nomornya? Atau dia punya banyak nomor?"


Wanita muda itu terdiam, dan memicingkan matanya tak percaya wanita itu benar mengenal secara pribadi atasannya.


"Halo," jawab Michael di sebrang sana.


Sengaja Hanna menekan speaker agar terdengar oleh sekertarisnya itu.


"Sekarang anda percaya?" tanya Hanna melirik pada wanita itu. Lalu ia menjauh darinya.


"Halah, palingan juga cewek panggilan!" seru wanita itu yang sempat terdengar oleh Hanna. Tapi, dia diam saja dan terus berjalan menjauh.


"Awas aja kau! Kutandai wajahmu," gerutunya dalam hati.


"Anda dimana? Saya sudah berdiri tepat di ruangan anda, bukankah ada banyak hal yang akan kita bahas di pertemuan kali ini? Saya tunggu anda di sini," kata Hanna sembari menutup panggilannya.


Ia malas berbasa basi, mulutnya sudah gatal untuk langsung mengoceh pada pria psikopat seperti Michael. Tangannya seolah menggelitik ingin mendarat di pipi pria bule arogan itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2