
"Kamu istirahat saja di rumah Bu Darmi. Di sini banyak debu," ucap Ratna kepada Hanna.
"Hanna mau lihat-lihat sebentar, Ma. Setelah itu lanjut pulang," jawabnya.
"Loh, kenapa nggak nginep? Sehari aja. Anin pasti senang kamu pulang," bujuk sang ibu.
"Oh iya, Anin mana?" tanyanya sambil celingukan.
Mereka keluar kamar sambil melihat-lihat ruangan yang lainnya. Rencananya di lantai atas akan ada 3 kamar, dapur, ruang keluarga dan satu kamar mandi.
"Dia masih di Sekolah, sebentar lagi Mama jemput."
Hanna terdiam, bahkan anaknya sudah sekolah TK pun dia tak tahu. Begitu jauh jarak di antara keduanya. Dia tak pernah menunjukkan kasih sayang seorang ibu pada anak itu.
"Kasih sayang dari mama sudah jauh lebih dari cukup untuknya. Jika aku yang mengurusnya belum tentu bisa setulus mama," batinnya menatap wajah sang ibu.
"Biar Hanna ikut jemput yah, Ma."
"Iya sayang, Anin pasti seneng kamu yang jemput." jawab wanita setengah baya itu.
"Dia sekolah di TK Nurul Hidayah depan sana itukan?"
"Iya, biasanya Mama minta tolong bapak buat antar jemput."
"Lebih baik kalian berangkat sekarang, sepertinya di luar mendung." kata Agra melihat ke ara jendela.
"Ya udah pakai mobil aja takut nanti hujan, Ma." ucap Hanna sembari menuruni tangga mencari supirnya.
"Agra, saya mau ke depan dulu mana kuncinya?" tanyanya melihat Agra yang ada di halaman belakang.
"Biar saya antar, Bu," tawarnya.
"Tidak usah saya jalan sama ibu," ucapnya meraih kunci yang disodorkan Agra.
Tepat pukul 11 Hanna mengendarai mobil sendiri bersama sang ibu menuju TK anaknya. Benar saja baru beberapa meter hujan mengguyur desa itu.
"Sering hujan, Ma?"
"Iya, pembangunan juga jadi terhambat. Mama nggak enak kelamaan numpang di Bu Darmi," keluhnya.
"Ya udah minta tukang beresin lantai atas aja dulu."
"Iya tinggal plafonnya aja sih itu sedikit lagi."
"Kamar sudah beres semuakan?"
"Sudah kalo kamar."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka sampai di TK anaknya. Ratna keluar membawa payung menjemput Anin. Karena payungnya hanya satu, Hanna terpaksa menunggu di mobil.
Tak lama kemudian, Anindira sudah masuk ke dalam mobil dan tertawa riang saat melihat Hanna.
"Mama jemput Anin horeee!" teriaknya.
"Iyaa sayang, Anin gimana sekolahnya suka?"
Gadis kecil itu pun mencium punggung tangan sang ibu.
"Sukaaa. Banyak mainan dan juga teman baru," celotehnya.
"Waahh seru donk yah. Masih mau main?"
"Mmm ... mauuuu!" teriaknya berjingkrak.
"Ya udah kalo gitu, Mama mau bawa Anin ke tempat yang lebih banyak lagi mainannya."
"Mauuu horeee!" serunya girang.
"Kita mau kemana nak?" tanya sang ibu melihat Hanna belok ke arah kota.
"Kita ke mall dulu Ma, Hanna ingin ngajak Anin main."
Rasa bersalah dalam hatinya, ingin sekali ia menebusnya. Meski waktu tak dapat diputar kembali, tapi ia yakin bisa memperbaiki semuanya dan memulainya dari awal lagi.
"Ya ampun, masa Mama pake daster begini. Pulang dulu sebentar yah?"
"Nggak usah, nanti Hanna beliin Mama baju."
"Maa Syaa Allah, sehat-sehat dan lancar selau rejekinya ya nak."
"Aamiin, iya Ma."
Mobil BMW itu pun meluncur membelah jalanan di tengah guyuran air hujan.
Selang satu jam setengah mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota kecil itu. Jarak desanya menuju pusat kota lumayan jauh dengan jalan yang mulai padat karena menjelang weekend.
Hanna pun memilih parkir di basement karena hujan masih cukup deras mengguyur.
"Asiiiikkk sampe mooll!" teriak Anin dengan mata yang berbinar saat mereka keluar dari mobil.
"Mama belum pernah ajak Anin ke sini, dia pasti heboh banget nanti di dalam." kata Ratna menuntun cucunya memasuki pintu otomatis.
Hati Hanna kembali tersentak, bahkan ia pun belum pernah mengajak anak dan orang tuanya jalan-jalan jauh.
"Nggak papa, hari ini khusus buat Anin dan Mama. Mama boleh pilih apa aja yang Mama mau," ucapnya seraya merangkul pundak sang ibu.
__ADS_1
"Maa Syaa Allah, tadi harusnya ajak Bapak juga. Kayanya dia belum pernah ke sini deh."
"Iyakah? Hhmm, ya udah next time aja kita ajak Bapak. Sekarang kalian berdua dulu."
Senyum mengembang di wajah yang mulai keriput itu.
"Ibu-ibuuu, wangi sekali inii! Ibuuu ada tangga kaya di rumah kita! Tapi dia bisa jalan sendili Ibuu," teriak Anin yang lari-lari tak bisa menahan diri sembari menarik tangan sang nenek.
Hanna tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Jika ini hasil dari pengorbananku selama ini, aku rela ya Allah meski harus hidup dengan pria yang tak pernah kucintai sekalipun. Asalkan orang-orang yang kucintai bisa hidup bahagia dan berkecukupan," bisiknya dalam hati.
"Kita memang tak pernah bisa mendapatkan dua hal yang berbeda sekaligus dalam satu waktu," gumamnya berjalan cepat mengejar anaknya.
"Anin, ayo ke sini kita beli baju dulu buat Ibu. Abis itu kita lanjut bermain di atas sana," tunjuk Hanna pada lantai paling atas.
"Oke Maa!"
Mereka pun masuk ke sebuah outlet yang menjual pakaian syarii. Ratna terlihat memilih beberapa baju yang disukainya. Tak lupa ia pun membelikan baju koko untuk suaminya dan bebarapa baju untuk diberikan pada Bu Darmi tempatnya tinggal selama rumahnya di renovasi.
Setelah selesai, mereka lanjut ke lantai atas menuju pusat permainan. Anin tak hentinya menanyakan berbagai hal yang membuatnya penasaran.
Selama anak dan ibunya bermain, Hanna pergi ke toko furniture ia tampak melihat-lihat ranjang dan juga lemari. Berbagai perabotan rumah tangga terpampang di sana.
"Sepertinya kamar sudah bisa diisi ranjang dan lemari ini untuk mereka tidur," gumamnya.
"Mba saya pesan ranjang sama lemari ini, bisa di kirimkan?"
"Iya Mba tentu saja bisa, tolong diisi alamatnya yah."
Hanna mengambil secarik kertas lalu menuliskan alamat rumah orang tuanya.
"Pembayarannya mau cash atau debit?"
"Debit aja."
"Baik, silahkan ikuti saya ke kasir."
Setelah memesan beberapa barang kebutuhan untuk di rumah, Hanna kembali ke tempat bermain. Menemani anaknya mencoba beberapa wahana permainan.
Dalam hati Ratna bersyukur penuh haru. Akhirnya Hanna bisa berubah dan mengakui Anin sebagai anaknya. Luka lama yang cukup menguras kewarasannya sepertinya perlahan sembuh.
Entah karena kehidupan barunya, atau memang dia berusaha keras untuk menyembuhkannya.
Jika kamu bertemu dengan orang yang menyakitimu dan hatimu masih terasa sakit, maka luka itu belum sepenuhnya sembuh. Luka bisa dikatakan sembuh jika kita sudah tidak merasakan sakit lagi.
Bersambung...
__ADS_1
"