Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Menikah?


__ADS_3

"Ma-afkan a-aku Ha-Hanna ...!" ucapnya terbata dengan lemas.


"Hendi! Sadar Hen, ada apa ini?" teriaknya panik.


Tapi, tubuh tinggi itu ambruk tepat di dalam pelukannya hingga ia terdorong. Flashback kejadian beberapa tahun lalu pun hadir di benaknya. Saat Ansell mabuk parah dan malam panas mereka lewati tanpa pengaman. Sampai lahirlah Anindia anak yang tak diharapkan Hanna.


Kini, wanita itu tak ingin hal bodoh terulang kembali. Ia terus mengguncang tubuh mabuk Hendi, mencoba segala cara menyadarkannya. Tapi, usahanya nihil pria itu masih saja loyo terkapar di lantai kamar kostnya.


"Aduuhh, masa aku harus telpon Pak Chandra sih. Nanti pasti mereka berpikir yang bukan-bukan." Hanna terlihat mondar mandir ragu untuk memencet nomor dirut perusahaanya itu, yang sekaligus paman dari Hendi.


"Hannaa ... aku minta maaf," ucap pria itu lirih mengigau di tengah mata yang terpejam.


"Iya, kamu kenapa? Ada masalah apa, sampai mabuk kaya gini?" berondong pertanyaan terlontar dari mulut Hanna, yang dijawab hanya dengan lambaian tangan Hendi.


Tak berselang lama, pria itu pun tertidur di lantai. Hanna kebingungan plus ketakutan juga, ia ragu untuk tidur. Takut-takut Hendi bangun dan merayap ke atas ranjang.


Wanita berpiyama hitam itu melirik jam pukul 2 pagi, matanya sudah tak dapat lagi ditahannya.


Drrttzzz....


Drrttzzz....


Tiba-tiba ponsel Hendi bergetar di saku celananya. Awalnya Hanna ragu untuk mengambilnya. Tapi, karena terus bergetar akhirnya ia memberanikan diri meraih ponsel itu. Terlihat nama Chandra terpampang di sana.


"Angkat nggak ya? Tapi pasti si bos bakal berpikiran negatif sama aku," tebaknya ragu. "udah ah, biarin aja. Dari pada masalah makin panjang," sambungnya kembali menyimpan ponsel itu ke saku Hendi.


Ddrrttzz...


Ddrrttzz...


Lagi, ponsel itu bergetar belum sempat Hanna melepas tangannya dari sana. Ia kembali melirik benda tipis itu, matanya menyipit melihat nama seorang perempuan kali ini yang terpampang di sana.


"Siska?" gumamnya. "siapa dia? kayanya aku pernah denger nama ini," lanjutnya seraya memaksa otaknya mengingat nama yang tak asing itu. Tapi, karna mata dan pikirannya sedang tidak sinkron akhirnya ia tak bisa lebih jauh mengingat.


"Au ah, ngantuk gue!" serunya seraya beranjak menuju ranjangnya setelah ia menyelimuti Hendi.


Mata yang sudah 1 watt itu pun terpejam tanpa ampun.


🌻🌻🌻🌻🌻


"Kemana ni anak? Jam segini belum pulang juga!" oceh Chandra sambil bolak-balik di depan pintu rumahnya. "Ditelpon nggak diangkat-angkat! Bikin khawatir aja," sambungnya seraya melirik ke arah pintu gerbang.


Viona yang menyadari suaminya tak ada di sampingnya, segera keluar kamar dan mencari sosoknya. Ia menyipitkan mata saat melihat orang yang dicarinya tengah berkacak pinggang di teras rumah.


"Kamu ngapain tengah malem di luar, Pih?" tanyanya masih dengan mata yang menyipit karna silau.


"Hendi belum pulang," jawabnya datar sambil terus mencoba menghubungi keponakannya itu.


"Belum pulang? Anak itu, sejak mengenal dekat dengan si Hanna jadi nggak tau aturan gini!" ketusnya melayangkan pandangannya ke pintu gerbang.


"Ini udah yang kedua kalinya loh, dia nggak pulang." tambahnya.


"Kita kan nggak tau dia kemana, kenapa harus disangkutin ke si Hanna mulu sih, Mih?" protes Chandra yang mulai jengah dengan kecurigaan sang istri.

__ADS_1


"Ya kan emang bener, dulu nggak pernah loh dia sampe nggak pulang gini."


Chandra yang males debat dengan istrinya memilih diam, lalu masuk menuju ruang tamu yang disusul Viona di belakangnya.


"Kalo sampe bener dia nginep di tempat anak itu, aku akan nikahkan mereka berdua." ujarnya dengan tangan meraih remot tv dan mulai menyalakannya.


"Akutuh sebenarnya nggak suka sama anak itu. Apalagi background-nya yang seorang janda, Pih." sanggah wanita itu.


"Tapi kita nggak mungkin misahin mereka kalo beneran saling cinta. Apalagi kalo sampe udah terjadi sesuatu di antara mereka."


"Sesuatu gimana maksudnya?


"Ya ini sampe nginep-nginep kaya gini, aku yakin Hendi dan wanita itu pasti sudah terjadi sesuatu." kata Chandra meyakini firasatnya.


"Dasar murahan! Jangan-jangan dia udah terbiasa *** bebas lagi, Pih? Ngeri ih! Hendi kan masih polos banget, sekali dia merasakannya mamih yakin dia akan ketagihan dan tergila-gila sama tuh cewek."


Kali ini Chandra diam, dia tampak berpikir sesuatu. "Besok kita harus bicara pada mereka," ucapnya kemudian.


"Bicara apa?" tanya Viona menggeser duduknya lebih dekat.


"Nikahin mereka, papih nggak mau mereka hanyut dalam dosa besar karena kamu yang terus-terusan tak merestui keduanya."


"Kalo nggak manjat ranjang, nggak bakalan laku kali ya tuh janda!" ejek Viona kesal.


"Viona! Aku nggak suka kamu jadi sering banget merendahkan orang lain!"


Kali ini wanita itu terdiam, hatinya dongkol melihat suaminya membela peremuan itu.


"Jadi, kamu ngusir Hendi, gitu?"


"Terserah apa yang kau pikirkan!" timpalnya seraya berlalu meninggalkan suaminya.


Wanita itu memang paling benci dengan pelakor, darahnya selalu mendidih jika mendengar hal-hal yang berbau pengkhianatan. Terlebih, dia mengetahui tentang Hanna dari Zea yang waktu itu datang ke kantor melabrak.


"Pikirannya kerdil banget sih!" gerutunya.


🍀🍀🍀🍀🍀


Matahari menyusup dari balik tirai, menerpa wajah kusut pria yang semalaman tertidur di lantai. Ia memegang kepalanya yang masih terasa pusing itu. Sekujur badannya sakit, terasa seperti habis dipukuli. Belum lagi, rasa dingin masih menyelimutinya.


Perlahan ia membuka matanya, sambil terus mengedipkan mata ia melihat sekeliling. "Dimana aku?" batinnya asing dengan ruangan itu.


Ia kemudian berdiri, tapi kakinya masih terasa lemas. Setelah mataya terbuka lebar, barulah dapat melihat jelas ruangan mungil itu. Karena terdapat foto seorang perempuan cantik yang sangat dicintainya. Ya, siapa lagi kalo bukan Hanna.


Mendadak ada yang tersentil di dalam sana. Hendi sangat berharap semua itu hanya mimpi dan akan hilang ketika terbangun. Tapi, bayang-bayang titik janin di layar usg kemarin semakin jelas.


Drrttzzz


Drttzzz


Ponselnya bergetar membuyarkan lamunannya. "Hanna?" gumamnya dalam hati.


[Ha-halo?]

__ADS_1


[Hay, kamu udah bangun? Kalo mau pesan sarapan telpon aja ke nomor Mba Laksmi yang kutempel di pintu kulkas,]


[Engga, nanti sarapan di kantor aja. Temenin yah?]


Hhmm, Hanna sejenak berpikir. "Ni orang kan masih ada hutang penjelasan sama gue!." gumamnya dalam hati.


[Ya udah, kalo kamu maksa.]


[Maksa? Yee, kamu mah emang seneng dipaksa yaah! Oiya, semalem aku nggak ada maksa apa-apa kan?] selorohnya.


[Ya enggaklah, akutuh masang mode on sepanjang malam.] canda Hanna yang disusul gelak tawa dari Hendi.


Tak lama percakapan mereka pun berakhir. Menyisakan Hendi yang tengah bengong berdiam diri.


"Bagaimana aku menjelaskan ini padanya?" ucapnya menelan salivanya yang terasa sulit itu.


Dibukanya ponsel yang sebentar lagi mati itu, ada beberapa panggilan yang ia lewatkan. Termasuk dari Siska, yang disusul deretan pesan masuk.


"Hendi, sampai kapanpun aku tak akan menggugurkan kandunganku." tulisnya.


"Kamu dimana? Tolong jangan lakukan hal bodoh! Masa depan kita masih panjang, aku tak minta pesta yang meriah. Aku hanya minta kau menikahiku untuk memperjelas status anak kita, itu saja!" lanjutnya di pesan yang kedua. Dan seterusnya, dia sampai terlihat jengah membacanya.


Hendi melempar ponsel itu ke kasur. Dadanya kembali sesak, ia memutuskan untuk keluar kamar kost dan menuju mobilnya.


Tepat jam 12, ia sampai di kantornya. Dengan wajah kusut ia berjalan menuju tangga. Tak dihiraukanya beberapa orang yang menyapa dan memandang aneh padanya.


Dia berhenti di lantai 2, masuk ke ruangan kekasihnya itu. "Hanna, cepat ke ruangan saya!" serunya pada wanita yang tengah sibuk mencari berkas. Belum sempat mengiyakan, pria itu sudah menutup pintunya.


"Kenapa wajah Pak Hendi kusut banget yah, akhir-akhir ini?" tanya seorang staff cewek.


"Iya yah, sekarang dia ga se-cool dulu." ucap yang lainnya menimpali.


"Ih, apaan sih tuh orang-orang! Seenak jidatnya ngatain calon orang." gerutunya dalam hati.


"Woi! Buruan sono, dipanggil bos noh!" Sinta mengagetkannya, ia pun merapikan dokumen yang hendak dibawanya. Saat baru beberapa langkah mendekati pintu, tiba-tiba terbuka.


"Hanna, ikut saya ke ruangan sekarang" Chandra menutup kembali pintu itu. Hanna yang seketika langsung bengong, melihat duo atasannya itu berebut memanggilnya.


"Ada masalah apa ini? Kenapaa mereka memanggilku? Terus yang mana dulu yang aku samperin?" pikirnya dalam hati


"Eehh! Ni anak malah bengong, duo bos manggil Han!" seru Sinta di belakangnya, yang disusul cengiran dari kejauhan.


Akhirnya Hanna menemui Hendi lebih dulu, tapi ternyata ada Chandra di sana.


"Masuk, Han!" perintah Hendi saat melihat perempuan itu membuka pintunya. Dengan canggung dia masuk dan duduk di depan meja sebrang atasannya.


"Baiklah mumpung kalian berdua di sini, dengarkan baik-baik!" seru Chandra.


"Kalian harus menikah secepatnya!" ucap Chandra lancar.


"Me-menikah?" ulang Hendi dan Hanna berbarengan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2