
Menjelang pagi saat matahari baru menampakan sinar jingganya, Hanna merasakan seluruh tubuhnya ngilu. Terlebih pergelangan tangannya yang seharian kemarin terikat tali.
Perlahan ia membuka mata, mengawasi sekitar. Sunyi, tak ada suara siapapun di dalam kamar itu selain dirinya.
Kedua tangannya pun sudah tak lagi diikat, ia mengernyit heran apa yang sebenarnya terjadi?
Saat membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, ia dibuat semakin terkejut mendapati kemeja putih bukan miliknya tertempel di sana.
"Siapa yang menggantikan pakaianku?" gumamnya celingukan.
Ia segera bangun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi memeriksa seluruh ruangan itu. Setelah menguncinya ia lalu menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya.
Rasa marah dan juga jijik atas perlakuan pria itu kemarin membuat darahnya mendidih. Ia menggosok keras setiap tubuh yang disentuh pemuda itu.
"Awas aja kau! Aku akan buat perhitungan denganmu!" umpatnya dalam hati.
Setelah selesai mandi, ia segera memakai kembali pakaiannya dengan terpaksa. Karena kemeja seorang pria yang dikenakannya, dipastikan milik si mesum itu.
Hanna berjalan keluar kamar mandi dengan waspada, matanya tajam menatap sekeliling, takut-takut ada orang lain di sana.
"Kosong? Kemana si lelaki mesum itu?"
Tiba-tiba perutnya bunyi, ia belum makan apapun dari sore tadi.
Matanya menyapu tiap sudut ruangan mencari sesuatu atau celah untuknya bisa kabur. Saat tertuju pada balkon segera ia berlari memeriksanya.
"Buseeett! Tinggi banget, gimana caranya gue turun? Ayolah Hanna, pikirkan sesuatu lu harus bisa kabur dari sini."
Saat tengah kebingungan mondar mandir, terdengar suara pintu dibuka. Hanna penuh waspada menantikan sosok di baliknya.
"Siapa dia?" batinnya.
Seorang wanita bule yang sudah tak muda lagi, tapi masih terlihat cantik dan juga stylish memandangnya dengan senyum.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya ramah.
"A-anda siapa?"
"Perkenalkan saya Belinda, Mommynya Michael." Wanita itu mengulurkan tangannya.
Dengan sedikit ragu Hanna menyambut uluran tangan itu.
"Ha-Hanna," ucapnya terbata.
"Kamu tidak usah takut, sekarang kamu aman di sini."
"Dimana si mesum itu? Eemm maksud saya Michael?"
"Dia sedang di meja makan bersama Daddynya dan sedang menunggu kamu."
"Menunggu saya?"
"Iya, bukankah semua ini butuh penjelasan?"
"Iya tentu saja, bukan hanya sebuah kejelasan, apa yang sudah anak ibu lakukan terhadap saya adalah tindak pidana." ucap Hanna lantang.
"Saya paham, maka dari itu sebagai bentuk tanggung jawab kami mari kita selesaikan baik-baik."
__ADS_1
"Tidak ada penyelesaian yang lebih baik selain hukum," jawab Hanna.
"Hhmm baiklah, jika itu keinginanmu silahkan sampaikan kepada Daddynya di bawah."
Wanita itu berjelan terlebih dahulu, sementara Hanna mengikutinya dari belakang.
Jejeran kamar itu kembali di lewatinya. Dalam hati ia berharap tidak akan pernah kembali ke rumah ini.
Saat menuruni tangga matanya bertemu dengan pria yang sangat dibencinya kini. Darahnya memanas, tatapannya tajam seolah hendak menerkam.
Berbeda dengan Michael, jantungnya berdegup kencang ia merasa Hanna semakin seksi memakai kemeja putih yang melewati paha mulusnya itu. Bayangan adegan kemarin pun menari-nari di pikirannya. Membuat tanpa sadar ia menjatuhkan sendoknya.
Saat menunduk hendak mengambilnya, Hanna sudah berdiri di sampingnya. Ia kembali menelan salivanya, semakin ke atas semakin membuatnya tak karuan.
Hingga kemudian sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi kirinya, menyadarkannya dari pikiran mesum.
"Laki-laki mesum! Kurang ajar, berani sekali anda berbuat kotor seperti itu!" teriaknya seraya mendorong tubuh Michael setelah menamparnya.
Pria itu diam saja, ekor matanya melirik kedua orang tuanya yang juga tengah mematung melihat mereka.
"Kau yang duluan! Siapa suruh menggodaku?" sergah Michael.
"Apa? Menggodamu? Ada ya cewek menggoda penculiknya?"
"Ada, itu kamu!"
"Liat aja, kau akan menyesal karena telah berbuat pelecehan seperti itu!"
"Apa yang akan kau lakukan?" Martin yang sedari tadi diam membuyarkan pertengkaran mereka.
Hanna tak sadar jika di sana juga ada Pak Martin mantan bosnya beberapa tahun lalu. Dengan canggung ia membungkuk. Namun pria itu tampak dingin menatapnya tajam.
Ia berharap Pak Martin sudah tidak mengenalnya, bahkan mengingatnya pernah menjadi karyawannya.
"Apa yang akan anda lakukan terhadap anak saya?" tanyanya lagi.
"Saya berniat melaporkannya ke polisi," jawab Hanna.
"Dengan bukti apa?"
"Baju yang saya pakai kemarin, mungkin bisa menjadi salah satu buktinya."
"Sudah saya buang," jawabnya santai.
"Baik. Mungkin saya bisa menemui wartawan atau menulis sebuah artikel sendiri, mengenai kelakuan bejad ceo gemilang grup."
Semua terdiam.
"Duduklah," kata Belinda.
"Apa yang kau inginkan?" Suara bariton Martin terdengar renyah.
"Memberinya pelajaran," jawab Hanna.
"Jika perusahaan saya terkena masalah, bukan hanya keluarga ini yang akan menanggungnya. Tapi, seluruh karyawan di dalamnya ikut merasakan dampaknya."
Hanna terdiam, dalam kondisi lapar seperti ini ia tak bisa berpikir banyak. Belum lagi makanan yang berserakan di meja membuat perutnya semakin menggeliat.
__ADS_1
"Makanlah dulu, nanti kita bicarakan lagi." ucap Martin seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Hanna.
Sedetik kemudian keempat orang itu makan dalam diam larut dalam pikiran masing-masing.
***
Setelah selesai sarapan, kini mereka berpindah duduk di ruang tamu. Agra pun terlihat berdiri di belakang Martin. Michael hendak beranjak meninggalkan kursinya saat sebuah panggilan menyapa ponselnya.
"Duduk!" perintah Martin.
"Letakkan ponselmu di atas meja," sambungnya.
Michael segera meletakkan ponsel di meja, yang ternyata bukan miliknya melainkan milik Hanna. Dan nama Reyhan terpampang di sana.
Saat wanita itu hendak mengambilnya, dengan sigap Agra mengamankannya.
"Kembalikan! Itu milikku!" teriak Hanna.
"Pembicaraan kita belum selesai," timpal Martin.
"Apa mau anda?" tanya Hanna lantang. Kini, rasa sungkan sudah tak ditunjukkannya lagi.
"Bagaimana jika anda menikah dengannya?"
"Apa?" Mata Hanna membulat menatap arah telunjuk Martin yang mengarah pada Micahel.
"Tidak! Saya tidak sudi menikah dengannya!" Hanna bergidik geli.
"Heh! Kau kira aku sudi? Levelku jauh di atasmu!" bentaknya tak mau kalah.
"Hahahaa, kemarin siapa yah yang bilang rakyat jelata seperti saya mendapat pengecualian?"
Michael terkesiap mengalihkan pandangan ke segala arah.
"Kamu sudah dilecehkan anak saya kan? Sebagai bentuk tanggung jawab kami, bagaimana kalo kalian menikah?" Kini Belinda buka suara.
"Saya tidak mau.." jawab Hanna singkat.
"Dia sepertinya lebih suka hanya dipakai barang mainan, Dad."
"Jaga mulutmu!" bentak Hanna menatap Michael tajam.
"Dengan menikahi anak saya, kamu bisa menduduki jabatan tinggi di perusahaan. Kamu tidak tertarik?"
Hanna terdiam, otaknya mulai oleng.
"Apakah ini jalan awal mimpi dadakanku terkabul ya Rabb?" tanyanya dalam hati.
"Lagi pula saya sudah mempunyai kekasih, jadi tidak mungkin mengkhianatinya."
"Bagaimana kalo dia yang mengkhianatimu lebih dulu?" Agra buka suara dari belakang sana.
"Apa maksudmu?" Hanna mengernyit.
Pria itu berjalan mendekatinya, ia memberi beberapa foto yang berisi dua orang tengah berjalan bersama, makan bersama, tertawa bersama, hingga berpelukan di dalam kostannya.
Matanya memanas, buliran bening tak dapat dibendungnya, hatinya bergejolak, darahnya mendidih melihat itu semua. Ia mengenal dengan jelas dua orang itu, mereka adalah Reyhan dan Sinta sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.