
Siska membanting ponselnya kesal, pesan yang dikirimnya hanya dibaca oleh Hendi. Dia mengambil kartu ATM dari tasnya, sesaat menimang langkah apa yang harus dibuatnya.
"Gue harus balikin kartu ini dan nggak mungkin gugurin anaknya. Dia bakal bawa keberuntungan dalam hidup gue," ucapnya senang.
Wanita itu pun berniat ke kantor menemui Hendi, setelah hampir empat tahun berlalu sejak ia memutuskan resign dari sana, belum pernah sekali pun menampakkan wajahnya. Saat itu, Siska memang menjadi wanita populer yang juga pernah diperebutkan Hendi dan Reyhan.
Namun, karena dia tak tahan dengan gunjingan orang kantor dan juga jadi biang keributan antara pria tampan itu, akhirnya memilih mundur. Dan tentunya, saat dia sudah mendapatkan yang dikiranya jauh lebih baik dari keduanya. Tapi, ternyata malah jatuh ke pelukan seorang gay.
"Gue harus bisa tampil beda dan maksimal, supaya mereka mengira hidup gue jadi jauh lebih baik." ucapnya sambil memilih kemeja pink glossy dan celana panjang hitam. Tak lupa ia poleskan lipstik warna senada dan riasan yang flawless.
Dengan memesan taxi online, dia pun berangkat menuju kantor. Sudah terbayangkan bagaimana reaksi teman-teman lamanya melihat penampilannya kini. Tas mewah dari negara kiblatnya fashion pun, ditentengnya penuh percaya diri.
Sesampainya di depan ruko kantor Hendi, ia menghentikan taxi dan membayar ongkos yang tertera di layar. Tepat setelah mobil sedan warna biru itu meninggalkannya, lewatlah sedan hitam milik Hendi yang langsung dikenali oleh Siska.
"Bukannya itu mobil Hendi." ucapnya dalam hati. Ekor matanya mengikuti mobil itu lewat di depannya. Tapi, karna kaca itu gelap jadi tak keliatan orang didalamnya.
"Ah, sial! Mau kemana sih dia?" gerutunya kesal. Dia mengambil ponsel di dalam tasnya, belum sempat menekan nomor Hendi Sinta sudah berdiri di sampingnya.
"Hai Mba, kayanya kita pernah ketemu yah?" sapa Sinta ramah.
"Oh iya, kamu karyawannya Hendi yang waktu itu yah?" tebak Siska jadi sok akrab.
"Betul sekali, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Sinta.
"Gue rasa ada sesuatu di antara mereka deh," batinnya menatap wanita di depannya curiga.
"Kamu, mau kemana?" Siska sengaja mengalihkan pertanyaan.
"Aku kebetulan mau makan siang, eh liat kamu bengong sambil liatin mobil pak Hendi tadi makannya aku samperin. Barangkali ada sesuatu yang penting biar aku bantu sampaikan." tawar Sinta.
"Kayanya gue bisa manfaatin ni cewek buat cari tau tunangannya Hendi deh," gumamnya dalam hati.
"Aku mau nanya seseuatu boleh?" celetuk Siska kemudian.
"Nanya apa?" Sinta terlihat sangat penasaran.
__ADS_1
"Waktu itu kan kamu beli cincin sama Hendi, itu buat siapa sih?" tanyanya.
"Buat tunangannyalah, masa buat saya Mba." jawabnya terkekeh. "Sekalian aja gue panasinlah biar dia nggak kegatelan godain pak Hendi," bisiknya dalam hati.
"Tunangannya siapa?"
"Namanya Hanna, dia itu cantik, baik, cuma agak dingin tapi akhirnya dengan gigih pak Hendi berhasil ngambil hatinya," cerocos Sinta tanpa memandang wajah sebal Siska.
"Apaan sih? Jangan-jangan temennya dia tu cewek," gerutunya dalam hati.
"Oke deh, kalo gitu aku duluan yaa!" serunya seraya berlalu meninggalkan Sinta yang geli melihatnya kebakaran hati.
"Okee, bye!" jawab Sinta terkekeh.
*******
Kedua sejoli itu sampai di sebuah restoran, Hendi berniat mengatakan semuanya pada Hanna saat itu. Karena dia tidak mau melukai hati wanita yang dicintainya semakin jauh.
"Han, tadi ada cewek nyariin Hendi." Tulis Sinta.
"Cantik banget ya aku? Sampe segitunya memandang," kelakar Hanna dengan senyum mengembang.
"Iya, sampe bikin aku nggak bisa tidur kalo mikirin kamu." Hendi juga ikut menopang dagu tak melepaskan pandangannya.
"Aku tak sanggup kehilanganmu, Hanna. Bagaimana caraku mengatakan semuanya," ratap Hendi dalam hati.
Sudah dapat dipastikan Hanna akan mundur jika tau bahwa laki-laki di depannya ini telah menghamili wanita lain. Mengingat, langkah yang pernah ia ambil di masa lalu. Hendi selalu berjanji untuk tidak menyakiti hati wanita, tetapi pada kenyataannya dua sekaligus ia lukai.
"Gombal banget," ledek Hanna melengos.
"Permisi, silahkan pesanannya dicek." Seorang pelayan datang membawakan makanan mereka.
"Sudah semua, Mba. Terimakasih," ucap Hanna.
Sejurus kemudian, mereka terlihat menikmati makanannya. Meskipun dalam hati Hendi, terus mendorongnya untuk jujur mengatakan semuanya tetapi logikanya menolak. Ia tak ingin mengakhiri kebahagiaan yang baru saja diteguknya.
__ADS_1
"Aku ke toilet sebentar yah." Ucap Hanna. seraya berdiri setelah anggukan dari Hendi.
Di toilet dia menelpon Sinta, menanyakan perihal isi pesannya tadi. Di meja makan jug Hendi terlihat mengecek ponselnya dan 7 panggilan tak terjawab dari Siska. Segera ia membuka pesan, wanita itu mengirim foto kantornya.
"Aku di sini, jika kamu tak kembali dalam 30 menit. Jangan salahkan aku kalo sampe berita ini menyebar!" tulisnya penuh ancaman.
Keringat dingin mendadak muncul di dahi pria itu, lututnya jadi gemetar. Makanan yang tengah dikuyahnya terasa hambar.
Hanna yang baru kembali dari toilet, menyadari perubahan wajah putih Hendi.
"Kamu kenapa? Ko keringetan?" tanyanya. Padahal ruangan ber-AC tapi biji keringat nemplok di dahinya.
"Aku-aku nggak papa, kamu udahan makannya?" Dia terlihat melirik arlojinya.
"Ada yang nungguin?" selidik Hanna.
"Eemm, enggak-nggak ada." Dia menjawab serilek mungkin.
"Aku minta maaf atas kejadian semalam," ucapnya lirih.
Hanna terdiam, menunggu kelanjutannya.
"Aku juga minta maa ...."
Belum sempat kata-katanya habis, ponsel Hanna berbunyi. Dia pun ijin untuk mengangkatnya.
"Ya Tuhan, bagaimana dengan waktu sesingkat ini aku jujur padanya." keluh Hendi dalam hati.
"Hen, pak Chandra meminta kita datang ke alamat ini!" serunya seraya menyodorkan pesan yang dikirim bosnya itu.
Deg! Jantung Hendi seolah terhantam sesuatu.
"Apa Siska sudah mengatakan semuanya pada Om Chan?" tanyanya dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1