
Ansell gelisah di ruangannya, berulang kali ia menengok ke jendela saat ada yang lewat berharap itu Hanna. Tapi, sosok yang diharapkannya belum juga muncul dan entah kenapa dia yakin wanita itu akan menemuinya.
Selang beberapa menit, pintunya diketuk seseorang ia terlonjak dan segera berlari untuk membukanya. Namun, wajah sumringahnya berubah kecut saat tahu yang berdiri di depannya adalah Zea sang istri.
"Kenapa kaget gitu?" tanya Zea saat melihat sang suami membulatkan matanya.
"Kamu ngapain kesini?" tanyanya dengan dua alis yang menyatu.
"Aku nggak boleh nemuin suamiku sendiri?"
"Ya ini kan tempat kerjaku, Ze. Dan kamu juga kenapa nggak hubungi dulu?"
"Kenapa emang? Kamu juga tadi seenaknya ngikutin aku sampe ke tempat kerjaku," protes Zea.
"Aku kan sudah menyuruhmu pulang, kenapa malah kesini?"
"Aku mau bicara sama Pak Michael, tapi kata sekertarisnya dia sibuk ada seorang wanita yang tengah menemuinya. Siapa emang?"
Ansell memalingkan wajahnya, pura-pura merapikan dokumen di meja tak begitu menanggapi pertanyaan Zea. Wanita itu lalu duduk di kursi tempat dimana Ansell bekerja.
"Mana kutahu," jawabnya singkat.
"Kamu duduk di sana aja aku mau ngerjain laporan," tunjuknya pada kursi di sebrangnya.
"Kamu kenapa sih risih banget kayanya ada aku?"
"Ya kamu kan tau ini tempat kerjaku, kan bisa bicara di telepon kan nggak harus nyamperin Michael ke kantor gini. Apa kata orang nanti, istri Pak Ansell menemui atasannya di kantor? Mikir sampe situ nggak sih?"
"Kamu aneh deh, tadi pagi nyuruh aku berhenti kerja di perusahaan cabangnya. Ini aku mau ngundurin diri eh malah diprotes juga. Maunya apa sih?" dengus Zea kesal.
Ia tampak cemberut dan hendak berdiri meninggalkan suaminya itu. Sejurus kemudian, Ansell menarik tangannya hingga tubuh sang istri jatuh ke pelukannya.
"Iya-iya maafin aku. Maksud aku kamu bisa bicara di telepon nggak harus kesini. Makasih ya, udah mau nurutin kata-kata aku," bisiknya pelan seraya menepuk pundak Zea.
Dalam hatinya ia senang, mendengar istrinya itu mendengarkan ucapannya. Artinya mahligai rumah tangganya tidak jadi berantakan.
"Kan nggak sopan Sell, siapa tau setelah aku bertemu langsung dengannya dia bisa kasih kerjaan aku yang lain. Kerja bareng kamu di sini misalnya?"
Ansell reflek langsung melepaskan pelukannya.
"Nggak usah aneh-aneh deh, mana boleh suami istri kerja satu pabrik!" serunya sambil berjalan ke mejanya.
"Aku mau ke sana dulu ya siapa tau wanita itu udah pergi," ucap Zea mengambil tas dan bersiap pergi.
"Eeehh, tunggu-tunggu! Biar aku aja yang ngomong, kamu mending pulang sana." kata Ansell kembali menarik tangan istrinya.
"Gawat kalo sampe Zea ketemu Hanna di sini, perang dunia ke 4 pasti tak terelakan." bisiknya dalam hati.
"Ya nggak sopan donk, udah deh kamu tenang aja. Aku nggak akan minta kerjaan lain ko. Aku cuma mau pamit aja," ucapnya melepaskan pegangan suaminya.
"Setidaknya aku harus minta uang bensin tadi, atau mungkin saja dia punya ide lain agar pekerjaan ini bisa tak diketahui Ansell." gumamnya dalam hati.
Ansell tak dapat berkata-kata lagi, saat wanita itu melenggang keluar ruangannya. Ia mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
"Semoga Hanna masih di dalam," gumamnya.
Ia menyusul sang istri segera. Hatinya jadi tak karuan mengingat betapa bencinya Zea kepada madunya itu.
***
"Menikah itu bukan permainan, Pak Michael yang terhormat. Dan saya tidak akan menikah dengan orang yang tidak saya cintai."
"Di sini saya tidak membahas cinta. Kamu pikir saya menikahimu karena cinta? Maaf jangan sepede itu," ucapnya melirik sinis wanita di depannya.
"Lah, yang bilang situ cinta sama saya siapa?"
"Pokoknya kamu harus menikah denganku!"
"Tidak!" tolak Hanna lantang.
"Oke! Ucapkan selamat tinggal pada ibu dan anakmu serta tanah itu."
Hanna terdiam, menatap tajam pria yang sedang mengangkat kaki ke meja itu.
"Kamu tidak punya pilihan lain, Hanna. Tegakkan kepalamu kita keluar sekarang," ucap Michael seraya menghampiri Hanna.
Dia memegang tangan wanita itu dan membawanya keluar.
"Lepas Michael!"
Namun, cengkeraman jari jemari pria itu lebih kuat. Saat mereka sudah keluar ruangan di kejauhan tampak Zea dan Ansell di belakangnya.
Mata wanita itu membulat melihat dua orang yang baru saja keluar dari ruangan sang ceo. Begitu pula Ansell, tatapannya tajam melihat mereka berdua.
"I-itu si perempuan murahan Hanna kan? Sedang apa dia di sini? Dan itu pria yang menggandengnya siapa?" tanyanya panik.
"Udah baru lagi kan mangsanya tuh perempuan!"
Wajahnya memerah melihat keduanya sudah hilang di belokan menuju keluar. Dengan tergesa ia mengikuti mereka pergi.
"Zea! Tunggu Ze!" teriak Ansell mengejar istrinya itu.
Ia lalu menarik tangan Zea.
"Kamu mau kemana?"
"Ya itu, ngapain dia di sini?"
"Kamu lupa, tanah yang dibuat kantor itu milik siapa? Dan orang yang menggandeng Hanna itu ya Michael, atasanku."
"A-apa? Itu Pak Michael? Aku harus mengejarnya!"
Wanita itu berlari keluar kantor menuju lobi. Namun bayangan kedua orang itu sudah tak ada lagi di sana.
"Mba-mba, tadi dua orang itu kemana yah?" tanyanya pada recepcionist?"
"Dua orang siapa, Mba?"
__ADS_1
"Itu Pak Michael sama seorang perempuan?"
"Oohh, beliau menuju mobilnya sudah jalan barusan. Ada yang bisa saya bantu?"
Sontak Zea keluar dan mendapati mobil mewah itu sudah melaju meninggalkan perusahaan.
"Haish! Gagal deh gue nemuin Pak Muchael," keluhnya.
"Udah kamu pulang sana," perintah Ansell.
"Kamu pasti tau, ngapain si Hanna kesini?"
"Kepo banget sih urusan orang, Ze. Ya jelas dia proteslah marah. Anak sama ibunya ga ada di rumahnya. Dan tanah orang tuanya satu-satunya dirampas paksa si Michael itu."
"Darimana kamu tau semuanya? Kamu sempet ketemu sama dia? Iya?"
"Ya Allah Zea, tadi kamu nanya loh itu udah aku jawab. Sekarang pake nanya yang udah pasti tau jawabannya," keluh Ansel.
"Ngomongin apa aja kamu? Berapa lama?"
"Males!"
Ansell lalu masuk kembali berjalan menuju ruangannya. Ia tak menghiraukan teriakan Zea di belakang.
"Anseeell!"
Zea menundukkan kepala saat beberapa orang melihatnya dengan tatapan aneh.
"Dasar pria itu! Masih aja kepo urusan mantan istrinya, awas aja kamu sampe rumah!" gerutunya kesal melihat punggung suaminya itu.
***
"Kamu bawa aku kemana?" tanya Hanna saat mereka meninggalkan pabrik.
"Menemui ayahku," jawabnya singkat.
"Aku ingin tau keadaan ibu dan anakku dulu."
"Setelah dari sana, baru kita menemui ibumu."
"Apa mereka baik-baik aja? Kamu tidak mengikat atau mengurung mereka kan?"
Micahel meraih ponselnya lalu mencari chat terakhirnya dengan Agra, dia menyodorkan ponsel itu kepada Hanna.
"Kamu bisa liat sendiri, mereka sedang apa lewat foto-foto itu."
Dia kemudian mengambil ponsel milik Michael dan melihat foto sang mama dan juga Anin anaknya tengah memasak di dapur. Meski mereka terlihat baik-baik aja, melalui sorot mata mamanya Hanna tau wanita itu tengah tertekan.
Hanna terdiam, mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Hanya ada satu cara agar aku bisa membalas ketidakadilan ini. Sepertinya pria ini begitu menyayangi ayahnya, aku harus memanfaatkan situasi ini untuk menguasai dirinya dan juga perusahaan. Akan kubuat Perusahaan Yukka, menyesal telah memecatku. Dan juga Zea, tunggu saja kehancuran hidupmu." gumam Hanna dalam hati.
Michael pun larut dalam lamunannya, sang ayahlah yang membuatnya mengubah keputusannya. Melihat begitu banyak selang terpasang di tubuhnya membuat ia merasa bersalah telah menambah beban untuk pria yang begitu ia hormati itu.
__ADS_1
"Michael akan menuruti kemauan Daddy, tolong sehatlah kembali seperti sedia kala. Ini adalah yang pertama dan terakhir aku melanggar prinsip hidupku. Meski wanita ini berbeda dari yang lain tetap saja dia adalah target permainanku. Tak akan pernah ada cinta untuknya walaupun nanti dia menjadi istriku," ucapnya dalam hati.
Bersambung....