
Reyhan tampak putus asa, terduduk di lantai kostan kekasihnya. Setelah ia meminjam kunci serep pada pemilik kostan, untuk memeriksa keberadaan Hanna, hatinya semakin tak karuan melihat kamar itu kosong.
Wanita itu belum menampakkan dirinya dari kemarin sore. Semua nomor ponsel temannya sudah dihubungi, dan tak ada satu pun yang tahu keberadaannya. Termasuk Ratna, ibunya Hanna yang tak kalah terkejut saat dikabari anaknya tidak ada di kostannya.
"Tolong, Nak Reyhan. Carikan Hanna sampai ketemu yah? Kalo ada kabar apapun cepat beri tahu Ibu," perintahnya penuh harap.
Reyhan hanya mengiyakan tanpa banyak kata, karena ia pun bingung harus mencari kemana lagi.
Dari kemarin ia menunggu di depan kamar ini, namun hingga pagi menjelang sosoknya belum terlihat. Dan bahkan kamarnya pun kosong.
"Reyhan!" Sinta yang baru saja datang langsung memeluk Reyhan yang tengah berlinang air mata.
"Sin, Hanna nggak ada dimana-mana. Apa yang harus gue lakukin sekarang?" rengeknya terisak dalam pelukan gadis itu.
"Lu tenang, Rey. Kita lapor polisi aja mendingan," ujar Sinta menepuk pundak lelaki itu.
"Harus nunggu 24 jam kalo mau buat laporan." kata Reyhan seraya melepaskan pelukan tak sengaja itu dengan canggung.
"Berarti harus nunggu nanti sore gitu?"
"Sepertinya gitu. Lu coba gue anter ke kantor deh. siapa tau Hanna udah ada di sana."
Mereka berdua pun pergi menuju kantor, tapi di tengah jalan Sinta meminta Reyhan mampir di sebuah rumah makan. Karena dia belum sarapan dan mereka pun tampak makan bersama dengan akrab.
Tak sadar dua pasang mata terus memperhatikan mereka dengan kamera di tangannya.
"Yang bikin gue heran, ponselnya masih aktif tapi nggak ada yang jawab," kata Reyhan memegang pelipisnya.
"Lu coba lacak lokasi ponsel itu Rey," ujar Sinta mencoba menghubungi nomor Hanna.
"Nggak bisa Sin, gue udah coba. Hilang nggak jelas. Masa di tengah hutan?"
Mereka terdiam larut dalam pikiran masing-masing.
Sesampainya di kantor, Sinta diikuti Reyhan menuju ruangannya. Namun lagi-lagi Hanna belum terlihat di sana.
"Gue coba tunggu di lobi aja yah, lu lanjut aja kerja." kata Reyhan menuruni tangga.
Ia berpapasan dengan Hendi yang dengan gontai berjalan melewatinya.
"Sori, apa Hanna ada hubungi lu?" tanyanya saat pria itu sudah beberapa langkah di belakangnya.
Hendi menoleh, "Nggak ada, belum ada kabar juga dari Hanna?"
"Belum," jawabnya putus asa.
"Nggak biasanya tuh anak ngilang tanpa jejak gini."
"Nanti coba gue tanya Pak Chandra deh," lanjut Hendi sambil pamit menuju ruangannya.
Reyhan duduk di lobi dengan tampang kusut. Wajahnya khawatir berulang kali menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Hanna, kamu dimana sih? Perasaan aku nggak enak banget dari kemaren," keluhnya mengusap kasar wajahnya. Ia menghela napas panjang.
***
Tawaran sebagus ini kapan lagi ia dapatkan. Menikah dengan ceo perusahaan besar dan menjadi ratu dalam kerajaan bisnis yang sudah mengakar kemana-mana.
Namanya tak diragukan lagi, gemilang grup mempunyai anak cabang di beberapa kota. Dan juga salah satu investor perusahaan rintisan pengusaha muda.
"Suami saya tak akan mengulangi apa yang baru diucapkannya. Jika kamu menyetujuinya, besok kami akan menemui keluargamu." kata Belinda membuyarkan lamunan Hanna.
Tangan kanannya meraba pipinya, lalu mencubitnya keras.
"*Aw, ini bukan mimp*i!" pekiknya dalam hati.
"Kami anggap diammu itu tanda setuju," ucap Martin bangun dari tempat duduknya.
"Agra, antarkan dia pulang sampaikan pada keluarganya besok kita akan datang menemuinya."
"Daddy! Setelah ini selesai kan? Michael tidak mau terlibat terlalu jauh dengan wanita itu!" serunya mengejar sang ayah yang hendak menaiki tangga.
"Dia akan menjadi pengikatmu. Partner dalam perusahaan maupun di dalam rumahmu."
"What? Plis Dad! Ini nggak adil. Dia terlalu banyak menerima, Michael bahkan tidak menyentuhnya!" protesnya.
"Tenang saja, nanti akan ada saatnya kamu bebas menyentuhnya."
"No! Bukan itu maksud Michael, Dad."
Tapi pria itu tak menghiraukan teriakan sang anak.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu!" pekiknya menarik tangan wanita itu kasar.
"Lepasin nggak? Kamu pikir semua wanita akan diam dan tunduk dengan perintahmu! Kita liat aja, apakah setelah ini kamu bisa tetap melancarkan semua perbuatan psikopatmu itu!"
Hanna menghentakan tangannya hingga terlepas dari cengkraman pria itu. Michael yang geram hanya bisa menatap tajam wanita itu melenggang di hadapannya yang diikuti Agra dari belakang.
Dalam hati pemuda itu berkata, baru kali ini bosnya dikalahkan seorang wanita.
Mobil melaju membelah jalanan berkabut, benar-benar di tengah hutan dan sulit ditemukan bangunan itu. Sepanjang jalan Hanna tak menemukan rumah lain selain villa keluarga delopez tadi.
Setelah berjalan beberapa jam barulah mereka sampai di sebuah desa padat penduduk. Wanita itu bernapas lega, mengingat sepanjang perjalanan dia waspada takut-takut lelaki itu berbuat nekat lagi padanya.
"Mau diantar ke kostan atau ke rumah, Mba Hanna?" tanya Agra memecah kesunyian.
"Ke kantor polisi," ucapnya yakin.
Agra terperanjat menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa?"
"Mba, pikirkanlah sekali lagi, bisa lepas, bebas dan dikasih penawaran bagus aja udah anugerah bangetloh buat hidupmu. Jadi, jangan kurang ajar dan bertindak gegabah. Lagipula anda tak punya bukti apapun," kata Agra melihat Hanna dari spion.
__ADS_1
"Manusia kaya Michael tidak bisa didiamkan saja. Dia akan terus mengulang perbuatannya jika tidak diberi pelajaran."
"Jika anda melaporkan Tuan Michael ke polisi, saya yakin Bos Martin tidak akan tinggal diam."
"Jadi menurutmu, dia akan membela anaknya yang bersalah itu? Kita liat aja, apakah Michael pantas dibela setelah melihat bukti ini."
Agra yang serba salah tetap saja menuruti keinginan Hanna untuk menyambangi polisi. Dengan bekal rekaman di ponselnya, Hanna berniat memberi lelaki itu pelajaran.
"Ah, sial. Batre ponselnya tinggal beberapa persen lagi. Aku harus bisa menuju kantor polisi sebelum habis dan menghubungi Reyhan."
Sesampainya di kantor polisi, mobil Agra langsung beringsut menjauh kembali ke villa tadi. Ia harus melaporkan hal ini pada bosnya.
Sementara Hanna di dalam, tengah menceritakan semua kronologi penculikan, serta memberikan hasil rekaman di ponselnya. Setelah sebelumnya sempat menghubungi Reyhan untuk menjemputnya.
***
"Bos gawat, bos!" pekik Agra berlari dari pintu menghampiri Michael yang tengah ngegym.
"Ada apa sih?"
"Cewek tadi dia-dia lapor ke polisi!"
"Apa? Polisi?" Michael langsung terbangun menghampiri Agra.
"Lu ngapain aja? Kenapa tidak mencegahnya, hah?" teriaknya terdengar sampai di ujung tangga.
"Dia punya bukti apa?" Martin yang sudah siap hendak kembali ke rumahnya terhenti melihat pemuda itu.
"Saya tidak tau, Tuan. Tapi, sepertinya di ponsel itu dia menyimpan sesuatu. Dia berkata ingin memberi pelajaran kepada Tuan muda," kata Agra seraya tertunduk.
"Tuh kan, Dad. Wanita seperti itu licik! Dia serakah! Tidak cukup penawaran yang Daddy berikan, malah ngadu ke polisi. Kenapa tadi Daddy biarkan dia pergi!" teriak Michael.
"Diam!" bentak sang ayah.
"Kamu memang pantas mendapatkannya, terimalah hukumanmu." ujarnya seraya kembali ke kamarnya.
"Loh, Dad! Daddy! Mom!" pekiknya kesal melihat kedua orang tuanya tak berbuat apapun.
***
"Lihat. Gadis itu tidak seperti yang kita duga," kata Belinda terduduk di kursinya seraya memegangi dadanya.
"Lalu, apa rencanamu sekarang? Membiarkan Michael dipenjara, mommy tidak setuju."
"Anak kita memang bersalah, Dad. Tapi bukan seperti ini cara menghukumnya," sambungnya.
"Lalu seperti apa? Kita akan selalu menutup mata untuk setiap kenakalan yang dia lakukan? Memberikan kompensasi kepada mereka yang ditindasnya? Sampai kapan Belinda?"
"Pada akhirnya Michael menemukan lawannya. Kita biarkan saja, dan lihat proses hukum ini membawanya. Biarkan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya," lanjutnya memandang keluar jendela.
Sang istri yang masih belum menerimanya mendengus kesal.
__ADS_1
Bersambung.
Mohon maaf beberapa hari sedang tidak enak badan, jadi baru up sekarang. Terimakasih.