
"Ha-hamil?" Bola matanya membesar, keringat dingin mendadak nangkring di dahinya.
"Bagaimana bisa Siska?" tanya Hendi menatap tajam wanita itu.
"Ya bisalah, kamu nggak inget malam itu kita melakukannya tanpa pengaman apa pun." tukas Siska dengan wajah yang dibuat sedih.
"Ya tapi, kenapa kamu nggak bilang kalo bisa sampe hamil?!"
"Hendi, kamu itu polos atau pura-pura sih? Aku ini wanita dan kamu juga pria normal kan? Tentu saja hal ini bisa terjadi," ucapnya seraya menggeser duduknya kesal. Bukan reaksi ini yang dia harapkan.
"Tapi Siska, aku sudah bertunangan. Dan ..."
"Dan apa? Dan kamu nggak mau tanggung jawab, gitu?" tanyanya nyolot memotong perkataan Hendi.
Pria bermata sipit itu sejenak terdiam, memijat pelipisnya yang terasa cenut-cenut. Ia tampak berpikir, langkah apa yang akan diambilnya.
"Apa bukti lain selain alat ini?" tunjuknya pada tespack yang kembali dipegangnya.
"Gila! Kamu berpikir aku membohongimu?" bentak wanita itu.
"Ya aku mau bukti lain, salah?"
"Oke! Ayo kita ke dokter," ajaknya beranjak dari tempat duduknya. Siska menyambar tas dan ponselnya di meja lalu berjalan mendahuli Hendi.
Mereka pun menuju mobil dan pergi menemui dokter kandungan di sebuah rumah sakit. Jalanan malam ini terlihat ramai, mungkin karena weekend hingga semua orang tumpah ke jalanan. Hendi gugup tak karuan, jemarinya mengetuk-ngetuk setir tak tenang. Lirikan Wanita itu terus memperhatikannya.
"Ah, sial! Sudah jam 7 pula, Hanna pasti menungguku!" gerutunya dalam hati. "alasan apa yang harus kukatakan padanya?" sambungnya sambil menyetir pikirannya berkecamuk.
"Aku laper, boleh kita makan dulu." ajak Siska yang sedari tadi melihat kecemasan di wajah Hendi.
"Dia pasti sedang ada janji, aku pastikan kau tak akan bisa bersama wanita lain Hendi!" gumamnya licik dalam hati.
"Haish! Aku sedang ada janji Siska, kenapa tadi kamu tak makan dulu?" tanyanya dengan nada yang mulai kesal.
"Kan aku tadi ngajak makan di rumah, kamu nggak mau." belanya dengan tangan menyentuh lengan Hendi.
"Nanti dokternya keburu pulang gimana donk?"
"Tenang aja, ada banyak klinik nggak perlu ke rumah sakit." jawabnya enteng.
"Drive thru aja yah?" pinta Hendi membelokkan setir di sebuah restoran ayam.
"Aku paling nggak bisa makan di mobil, perutku mual. Apalagi akhir-akhir ini, sering banget mual." rayunya kembali memasang muka so cute.
"Ya Tuhaaann, Hanna maafkan akuuu ... akan kuurus wanita satu ini." bisiknya dalam hati.
Hendi pun terpaksa memarkirkan mobilnya dan mereka pun turun memasuki resto. Kemudian duduk di dekat kaca, sesekali pria itu sibuk melirik arlojinya dan menimang ponselnya.
__ADS_1
"Apa aku ngabarin Hanna dulu yah? Ah tidak-tidak, apa yang akan kukatakan padanya?" tanyanya dalam hati. Dia menundukkan wajahnya frustasi sementara Siska sudah datang membawa nampan yang berisi 2 paket nasi ayam.
"Aku nggak makan, kamu habiskan aja semua!" suruhnya sambil mendorong nampan itu menjauh darinya.
"Ayolah, aku nggak mungkin juga kan ngabisin makanan sebanyak ini." gerutunya. kesal.
"Aku bilang nggak! Udah buruan makannya, aku ada janji Siska." ucapan Hendi terdengar pedas.
"Liat aja, akan kubuat kau bertekuk lutut kembali Hendi!" sentak Siska dalam hati.
Siska pun makan tanpa banyak kata. Sesekali ia memperhatikan Hendi yang tengah gamang menimang ponselnya. Ada keraguan di sorot mata sipit itu.
Setelah beberapa menit, mereka pun beranjak dari tempat duduknya. Siska akhirnya minta dibungkus bagian Hendi tadi. Selesai membayar pria itu segera menuju mobilnya yang disusul wanita seksi di belakangnya. Tanpa membuang waktu, dia menancap gasnya melaju kencang menuju sebuah klinik.
Sesampainya di sana mereka segera mendaftar untuk usg dan mengantri nunggu giliran di panggil. Jam tepat menunjukkan pukul delapan malam, nama Siska pun disebut mereka berdua segera berhambur menuju ruangan dokter.
Ini adalah pengalaman pertama bagi Hendi, hatinya gemetar tak karuan. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Siska naik ke atas tempat tidur. Dokter pun mulai menempelkan alat usg di atas perut wanita itu.
"Ya Tuhan, semoga ini tidak benar! Apa jadinya jika benar dia hamil? Bagaimana dengan Hanna? Aku sudah berjanji akan membahagiakannya, mengobati lukanya dan merangkai hari indah bersamanya." Pikiran Hendi meracau seraya menggoyang-goyangkan kakinya.
"Bapak jangan gugup gitu, tenang aja rilex." seloroh dokter yang melirik Hendi.
"Ah, hehe iya dok." jawabnya terkekeh.
Siska hanya tersenyum geli melihat ekspresi Hendi. "kau akan segera jadi milikku, Hendi!" soraknya dalam hati.
Hendi melongo melihat layar, rasa tak percaya tapi nyata menghinggapinya. Mendadak kepalanya sakit, matanya kunang-kunang. Terlihat genangan air di sudut matanya.
"Hellooww, paakk!" Dokter pria berkacamata itu melambaikan tangannya di wajah pucat Hendi.
"Eh, iya sorry pak! Terima kasih," Pria itu nanar meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Tak lupa ia mampir ke meja kasir membayar biaya usg. Langkah kaki jenjangnya menyusuri lorong klinik itu menuju parkiran. Pikirannya kacau, hatinya sakit dan tak terasa air mata mengalir di pipinya. Ya, Hendi menangis. Entah karna melihat calon bayinya, atau luka yang kembali ia torehkan di hati Hanna.
Dari belakang Siska tergopoh mengejarnya. Teriakan dari wanita itu, tak dihiraukannya. Ia terus saja berjalan menuju mobilnya. Sesampainya di dalam, tangannya memukul kasar setir mobil berulang kali.
"Aaarrgghhhh! Brengsek! Bajingan kau Hendi!" teriaknya parau, kali ini kepalanya yang ia hantamkan pada setir itu.
Siska yang baru saja tiba langsung menghentikan ulah Hendi.
"Hendi! Apa-apaan kamu? Sakit kan itu! Hentikan Hendi!" pekiknya memegangi pundak bidang itu.
"LEPAS DAN CEPAT TURUN, SISKA!! AKU INGIN SENDIRI!!" bentaknya keras membuat Siska terlonjak.
"TIDAK!! AKU TAK AKAN TURUN!!" tukas Siska tak mau kalah.
"Aaarrggghhh!! Brengseeekkk!!" Ia terus memukul kepalanya sendiri dengan emosi.
Sementara Siska terus berusaha memegangi tangan Hendi, dan meraih kepalanya.
__ADS_1
"Cukup Hen!! Hentikan!!" pekiknya.
"Aku bodoh Siska! Aku bajingan!" teriaknya frustasi.
Satu yang kini di pikirannya yaitu Hanna. Wanita yang dengan sabar ia dekati, dengan sabar ia ketuk pintu hatinya. Setelah pintu itu terbuka lebar, dia sendirilah yang akhirnya menutup keras pintu itu.
Siska meraih kepala Hendi dan menelungkupkan di dadanya. Entah kenapa ia menjadi sangat bersalah kepada pria ini. Ia tak menyangka reaksi yang berlebihan menurutnya bakal terjadi.
"Hendi, secinta itukah kau pada wanita itu?" bisiknya dalam hati. Kini, netranya yang berkaca-kaca.
"Aku tak akan mengulangi ini sekali lagi, jika kau bersikeras tetap di sini aku tak bisa menjamin keselamatanmu dan janin itu. CEPAT TURUN DAN PERGI! Ambil kartu ini dan GUGURKAN KANDUNGANMU!!" teriak Hendi sambil melemparkan kartu atm pada Siska.
"Bagaimana ini? Aku harus berpikir cepat, tujuanku memang uang. Tapi, apa pantas pergi dengan cara seperti ini? Hendi sekarang sedang keadaan yang tidak baik, gimana kalo dia bawa mobil ngebut dan kecelakaan? Aku tak mau mati sia-sia,"
Pria yang sedang emosi itu, menyalakan mobilnya. Pupil matanya memerah, antara kesal pada wanita di sampingnya dan juga pada kelakuan konyolnya. Cinta satu malamnya bisa merusak semua masa depan yang sudah dirangkainya.
"Tunggu! Aku akan segera turun! Tapi, aku tak mau menggugurkan kandungan ini!!" tukasnya seraya membuka pintu dan membantingnya keras.
"Setidaknya, Hendi tak mengira aku mengincar uangnya hanya karena aku sudah mendapatkan kartu ini," gumamnya melirik kartu kinclong yang digenggamnya erat.
Mobil Hendi melaju dengan kecepatan tinggi, diliriknya jam sudah pukul 10 malam. Hanna pasti kesal menunggunya, ia meraih ponsel di saku celananya. Dan benar saja, 5 panggilan tak terjawab nangkring di layar pipih itu.
"Maafkan aku Hanna," gumamnya lirih ia memutarbalikkan setir mobil mengubah tujuannya. Bukan lagi kostan wanita itu melainkan sebuah bar yang ramai tampak dari kejauhan.
Hendi memasuki bar itu, belum juga meneguk minuman kepalanya sudah terhuyung terasa berat.
"Dosa besar apa lagi yang akan aku lakukan setelah ini?" bisiknya dalam hati. Menggugurkan seorang janin yang sama sekali tidak berdosa adalah hal yang sama sekali tak diinginkannya. Apalagi ia sangat menyukai anak kecil.
Hati kecilnya mendadak goyah, tapi ketika pikirannya tertuju pada Hanna rasa sakit menjalar seluruh aliran darahnya.
"Satu gelas dengan es batu bang," pintanya pada bartender yang tengah asik membuat minuman.
"Waahh, ada koko-koko ganteng! Ayo kita taruhan, siapa di antara kita yang dipilihnya?" seru beberapa gadis yang duduk tak jauh dari Hendi.
Mereka pun berbondong mendekati pria malang itu.
"STOP!! JANGAN MAJU LAGI!!" teriaknya menyadari kedatangan para wanita penggoda itu.
Bersambung....
❤❤❤❤
Hai pembaca setia AYTD salam kenal dariku 🙏 si thor piyik tanpa palu 🤭 yang mau kasih saran, komen dan like sangat sangat boleh loh.
Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini 🙏 menelusuri alam khayalku hihi 😚😚😚 semoga suka
Masih belajar wajar yaa kalo karyanya masih minim ekspresi silahkan krisannya 🤗
__ADS_1