Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Mati Kutu


__ADS_3

Keluarga Santiago tiba tepat jam 1 siang di kediaman Delopez. Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga itu.


Terlihat pasangan setengah baya memakai jas hitam celana senada dan dress hitam selutut. Lalu di belakangnya, ada dua pria muda memakai setelan jas casual dengan kaos biru di dalamnya, serta celana jeans warna bio wash.


Meski menahan gejolak di dadanya, Laura berusaha setenang mungkin ketika bersalaman dengan Elmer dan keluarganya.


"Aslinya ternyata lebih tampan," gumamnya dalam hati.


Martin dan Belinda tentu saja tengah menampilkan sandiwara, mereka berusaha seolah tak mengetahui apa-apa soal calon menantunya itu. Senyum ramah dan pelukan hangat mereka tunjukkan dengan bibir melengkung.


Begitu pula Michael ia memperhatikan sejenak pemuda bernama Elmer itu.


Tuan rumah mulai memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya.


"Ini Michael, dia anak tertuaku dan di sebelah kanannya menantuku."


Kedua orang yang disebutkan kompak berdiri dan membungkukkan sedikit badannya.


"Dan itu Jessica, teman Laura dan di sebelahnya ... Dialah anak keduaku Laura Caroline," ucapnya dengan senyum mengembang.


"Waahh, cantik sekali calon menantu kita," ucap wanita tengah baya itu. Disambut senyuman simpul dari Laura dan kedua orang tuanya.


"Saya Santiago dan ini Esther. Sebelah kiri Elmer Santiago anak sulung kami lalu, sebelahnya Edzard anak kedua kami."


Kedua pria itu serempak membungkukkan badan menghadap Martin dan Belinda.


"Ooh, jadi ini yang namanya Elmer. Dulu terakhir bertĺemu masih sangat kecil, sekarang sudah sebesar ini. Aku tidak tahu kau punya dua anak, Sant?"


"Hahaha, kau kemana saja? Sejak sukses tak pernah lagi datang ke komunitas kita."


"Bukan begitu, aku hampir tak punya waktu untuk mengurusi hal selain pekerjaan."


"Ah, benar rupanya rumor yang beredar itu. Martin Delopez memang gila kerja. Lalu, bagaimana perusahaanmu sekarang?"


"Sejak penyakit ini datang, perusahaan dijalankan anak dan menantuku sekarang. Bagaimana denganmu?"


"Aku masih aktif menjalankan perusahaan, sambil mengajarkan Elmer. Bagaimanapun dialah nanti yang akan meneruskannya."


"Sudah ngobrolnya dilanjut nanti saja, sekarang kita makan siang dulu yuk."


Belinda menengahi pembicaraan mereka yang tak akan selesai berjam-jam jika dibiarkan saja.


"Oh iya, mari silahkan kita langsung ke meja makan saja," ajak Martin menunjuk ruang makan mereka.


Setelah semuanya duduk di kursi masing-masing makan siang pun di mulai. Obrolan ringan tampak terdengar di sela suapan sendok mereka.


Elmer tampak cuek meskipun Laura berulang kali mencuri pandang padanya. Sementara Jessica terus menelisik Hanna, yang ia rasa bukan tipe Michael. Tapi anehnya, pria itu bersikap sangat baik pada wanita itu. Dan ini kali pertama ia melihat sisi lembut dari seorang Michael.


"Mau nambah lagi?" tawar Michael pada istrinya.


"Tidak, perutku mual," jawabnya berbisik.


"Terus gimana, mau aku antar ke kamar?"


"Nanti saja, aku habiskan dulu ini."


Hanna mendadak gugup mendapat perlakuan manis dari Michael. Ia terus melirik suaminya itu, memastikan bahwa mereka tengah akting dalam situasi yang formal ini.


Mendadak perutnya pun terasa mual sekali, setelah memakan ikan. Bau amis yang terasa menyengat membuat kepalanya juga pusing. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat dingin mulai muncul di dahinya.


"Kamu kenapa, Hanna?"

__ADS_1


Tiba-tiba Martin bertanya karena melihat perubahan ekspresi menantunya itu. Semua mata tertuju padanya.


"Sepertinya saya kurang enak badan, Dad."


"Ya sudah kamu kembali ke kamar, Michael antar Hanna ke dalam kamar."


Tanpa menjawab pria itu langsung sigap memapah sang istri menuju kamar mereka yang tak jauh dari ruang makan.


"Apa dia tengah hamil?" tanya mamanya Elmer.


"Oh tidak, sepertinya hanya kecapean saja dia baru saja kembali dari rumah orang tuanya." jelas Belinda melihat menantunya yang berjalan terseok itu.


"Jangan-jangan benar dia sedang hamil, tadi terlihat seperti mau muntah." bisik Martin pada istrinya itu.


"Nanti kita tanyakan," jawabnya singkat.


Sesampainya di dalam kamar Hanna langsung menghamburkan diri ke kasur. Tubuhnya terasa sangat lemas tak bertenaga.


"Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini yah?" gumamnya.


"Kamu istirahat saja, setelah ini kita ke dokter untuk memeriksakan kehamilanmu dan sekalian minta obat untuk mualnya."


Michael menarik selimut menutupi perut Hanna, reflek dia menyentuh perut itu dan mengelusnya perlahan. Lalu, mencium lembut keningnya.


"Udah nggak ada orang kali, masih akting juga dalem kamar?" sindir wanita itu memalingkan wajahnya.


Meskipun jantungnya berdegup kencang sedari tadi, tapi ia tak mau kepedean dengan perlakuan suaminya hari ini.


"Terserah kamu mau anggep apa, yang jelas kali ini aku serius. Aku ingin mengakhiri semua ketegangan dalam hubungan kita. Memulai semuanya dari awal. Belajar mencintai dengan tulus," ungkapnya sembari bangkit dari ranjang empuk itu.


Michael melangkah menuju pintu dan keluar kamar. Entah kenapa perasaannya sedikit kecewa merasa tak dianggap oleh istrinya.


Lalu, ia pun kembali bergabung bersama yang lainnya meghabiskan sisa makanannya.


Elmer yang menyadari diperhatikan Laura melirik balik gadis itu, tatapan dan senyuman mautnya sukses membuat dia salah tingkah dan menjatuhkan sendoknya.


Laura memang gadis yang lugu, terlebih soal percintaan. Ia hanya pernah pacaran satu kali saat kuliah dulu dan itu pun tak berhasil, karena ia terus menolak ajakan agresif sang pacar untuk tidur bersama.


Meskipun lugu dan polos tapi ia mempunyai prinsip, tidur bersama sebelum pernikahan adalah hal yang dihindarinya. Hingga pada akhirnya sang ayah memilih jalan perjodohan, karena melihat anak gadisnya itu tak kunjung mengenalkan seorang pria pun padanya.


Setelah selesai makan siang mereka pun kembali berkumpul di ruang keluarga. Bahasan perjodohan pun akan segera di mulai.


"Elmer kenapa tidak satu mobil dengan papamu?" tanya Martin memulai pembicaraan kembali.


"Kemarin, kebetulan saya ada urusan pekerjaan Om, jadi langsung ke sini." jawabnya santai.


"Ooh begitu, sering keluar kota sendiri atau bersama Edzard?"


"Seringnya sih sendiri, dia lebih sering stay di kantor bantu-bantu papa juga."


"Selain perusahaan ini dia juga sedang getol belajar real estate, Tin. Entah apa yang akan diseriusinnya nanti terserah mereka. Selagi itu hal positif kita sebagai orang tua hanya bisa memfasilitasi saja benarkan?"


"Benar sekali, asalkan anak kita serius menggelutinya tanpa ada apa pun yang ditutupi semua akan sesuai dengan hasilnya."


"Bagaimana tanggapanmu terhadap Laura, Elmer?" Martin mengalihkan topik pembicaraan.


"Cantik, baik dan mempesona." ucapnya seraya menatap gadis itu.


"Hahahhaha ...!" Semua tertawa mendengar jawaban spontan Elmer.


"Matamu memang sangat jeli, El." goda Edzard sang adik.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana menurutmu Laura?" Santiago melihat gadis yang sedari tadi diam itu.


Gadis itu tersipu dan menundukkan kepalanya.


"Apa kamu bersedia menerima Elmer sebagai calon suamimu?" tanya orang tua itu lagi.


Tanpa banyak bicara gadis itu langsung menganggukkan kepalanya. Semua orang tampak tersenyum bahagia, kecuali Martin, Belinda dan Michael.


Perasaan mereka mulai khawatir kepada anak perempuannya. Mereka tak menyangka Laura akan secepat itu menerima Elmer.


"Saya ada satu pertanyaan untuk Elmer." Belinda buka suara dengan senyum simpul melihat pemuda itu.


"Silahkan, Tante."


"Apa kamu bersedia meninggalkan kekasihmu jika menikah dengan Laura?"


Sontak pertanyaan itu mengagetkan kedua orang tua Elmer dan dia sendiri.


"Kalian tenang saja, anakku ini masih sendiri. Tidak ada yang akan menghalangi pernikahan keduanya," jelas Santiago menepuk pelan pundak anak sulungnya itu.


"Benarkah begitu, Nak Elmer?" Martin menegaskan.


Pria itu tampak sedikit gugup menyapu pandangan ke segala arah. Sejenak suasana hening, menunggu jawabannya.


"Saya kebetulan sendiri Om, dan belum mempunyai kekasih. Tidak mungkin donk saya melamar Laura jika saya sendiri sudah memiliki kekasih."


lalu, ia mengeluarkan sebuah kotak merah dan membukanya. Terlihat benda berkilau warna putih.


"Waow, berlian Ra," bisik Jessica menyikut lengan sahabatnya.


Pemuda itu mendekati Laura dan berlutut di hadapannya.


"Maukah kau menikah denganku?"


Laura menutup mulut dengan tangannya saking terkejutnya mendapat perlakuan itu. Begitu pula kedua orang tua mereka yang tak menyangka Elmer akan secepat itu mengeuarkan cincin perikahannya.


Sebelum gadis itu menjawabnya Michael berdiri menghampiri Elmer.


"Tidak secepat ini Elmer," ucapnya membangunkan pria itu dan menyuruhnya kembali ke tempat duduknya.


"Bukankah lebih cepat lebih baik, jika memang mereka merasa sudah saling suka?" kata mamanya Elmer baru buka suara.


"Rasa suka saja tidak cukup Tante untuk memulai sebuah pernikahan, mereka perlu mengenal lebih dalam lagi tentang karakter masing-masing." ucap Michael kembali duduk.


"Bisa sambil berjalan kan itu, lagi pula Elmer tidak mempunyai siapa-siapa aku ingin dia memiliki hubungan yang serius dengan Laura." Santiago bersikeras.


"Gorda!" panggil Martin.


Lelaki yang dimaksud segera menghampiri tuannya. Ia menyodorkan ponsel kepada Elmer, membuat pemuda itu bingung.


"Lihatlah dan coba jelaskan," kata Martin dengan mimik wajah datar.


Sontak mata coklat itu membulat melihat beberapa fotonya bersama Grace.


Santiago yang penasaran merebut ponsel itu dan seketika ia terhanyak menyandarkan tubuhnya di sofa. Wajahnya memerah dengan pupil mata yang bergetar.


Laura yang penasaran hanya bisa menatap sang ayah meminta penjelasan.


"Bisa kamu jelaskan?" Martin kembali bertanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2