
Angin bertiup semakin kencang, pepohonan menari mengikuti arahnya. Dedaunan rapuh di ujung ranting berguguran dan terbang melayang berhamburan ke segala arah.
Hanna yang masih sibuk mencerna perkataan Reyhan terdiam sejenak merasakan sejuknya angin yang menusuk kulitnya.
"Jangan hiraukan perkataanku. Aku hanya mengungkapkan apa yang seharusnya tidak kau dengar," kata Reyhan tertunduk.
"Aku serius, Sinta pilihan yang tepat untuk mengkhianatiku. Aku rela jika kamu bersamanya."
"Dan cukup sampai di sini, aku tidak mau membahas masa lalu lebih jauh lagi." pungkasnya.
Wanita itu lantas berdiri hendak masuk ke dalam rumah.
"Baiklah, kalo itu maumu. Aku akan berusaha menuruti keinginanmu. Tapi, bisakah kau juga menuruti saranku?"
Alisnya berkerut membalikkan badan.
"Jangan merasa sendiri, jika hubungan kita tak berakhir di pelaminan masih ada pertemanan yang bisa kita jalani. Dari pada hidup saling membenci kenapa tidak kita coba untuk saling memberi?"
"Memberi?"
"Iya, memberi semangat, motivasi dan satu lagi aku tidak pernah mengkhianatimu."
Pria itu berdiri melihat Hanna lekat.
"Tidak. Bagiku masa lalu hanya ada di belakang tak akan bisa beriringan. Jangan lagi menemuiku atau kedua orang tuaku," tegasnya.
Reyhan menarik napas panjang.
"Oke, semoga di kehidupan selanjutnya kita tidak pernah lagi bertemu."
Pria itu berjalan di bawah rintik hujan, entah kenapa ada sesuatu yang menghujam jantungnya. Terasa sakit, tapi tak bisa dijelaskan. Tak akan ada lagi harapan antara dirinya dan cinta lamanya itu. Semua sudah berakhir seperti yang ia bayangkan.
Hanna adalah wanita istimewa baginya. Tak mudah mendapatkannya juga sulit melepaskannya.
Saat mobilnya keluar dari halaman rumah Hanna ia dihadang seseorang di bawah rintik hujan itu.
Reyhan keluar dan menghampiri pria itu.
"Siapa anda?" tanya Agra.
"Gue yakin, bukan dia suaminya Hanna. Tapi kenapa sorot matanya tajam seperti itu?" tanya Reyhan dalam hati.
"Gue Reyhan. Apa maksud anda berdiri di tengah jalan?"
"Ooh, jadi anda mantan kekasihnya. Saya peringatkan anda untuk yang pertama dan terakhir, jangan pernah lagi menemui wanita itu. Karena hal buruk akan terjadi kepada anda, jika kejadian ini diketahui olehnya," ancam Agra.
Reyhan manggut-manggut, bajunya mulai basah oleh dinginnya air hujan yang mulai merayap menusuk sekujur tubuhnya.
"Anda tenang saja saya cukup tahu diri, meski bos anda yang merebut wanita itu dari saya. Tolong sampaikan ini padanya, jika dia berani menyakiti seujung rambutnya saja saya tidak akan tinggal diam!" gertaknya.
"Minggir! Kalo tidak terpaksa tubuh kekarmu akan mencium mobilku," tegasnya lagi.
Pria itu kembali menuju mobilnya dan melaju melewati Agra yang sudah menepi ke sisi jalan.
"Punya nyali juga tuh anak," gumamnya.
__ADS_1
Dia pun menjalankan mobil menuju rumah Hanna kembali. Tapi, rumah itu sudah sepi di lantai atas pun tidak ada orang. Hanya ada dua orang tukang yang memang menginap di halaman belakang rumah.
"Mang, yang punya rumah tidur dimana?" tanyanya pada kedua orang itu.
"Di rumah sebelah Pak," jawab mereka.
"Oh ya sudah saya ikut tidur di sini yah."
"Iya silahkan."
Sementara di dalam kamar rumah sebelah, Hanna tak kuasa menahan tangisnya di pelukan sang ibu. Di belakangnya ada Adri yang tengah menyelimuti Anin yag sudah tidur lebih dulu. Mereka menggunakan kamar belakang yang punya rumah untuk sementara waktu ini.
"Bapak, tidur bareng para tukang aja yah." ucap Adri pelan kepada Ratna.
Wanita itu hanya mengangguk dan melihat suaminya keluar kamar.
"Sudah Nak, semua sudah takdir Allah. Kita tidak boleh terus meratapi apalagi menyesalinya," ucap Ratna.
"Lupakan semua masa lalumu. Bukankah banyak rencana dan keinginanmu yang masih harus diwujudkan?" sambungnya.
Hanna mengangguk, perlahan melepskan pelukannya. Ia menghapus air matanya.
"Maafkan Hanna ma," bisiknya.
"Iya sayang, sedih boleh, nangis juga nggak papa. Tapi ingat, jangan pernah menyesali apa pun yang sudah kau putuskan. Selalu berpikir baik dan berusaha menjalani hidup penuh syukur."
Wanita itu mencoba menguasai diri, menahan sesak yang sejurus tadi memenuhi rongga dadanya.
Terkadang hidup memang berjalan tidak sesuai keinginanmu. Tapi percayalah, Allah sudah mempersiapkan segala sesuatunya sesuai kebutuhanmu.
***
Seketika Michael langsung loncat dan berbalik menuju kamar. Mimik wajahnya berubah garang seolah hendak menerkam mangsa yang ditunggu-tunggu dari semalam.
"Hai Kak, gimana kabar orang tuamu?" sapa Laura saat Hanna sudah memasuki ruang tamu.
"Mereka baik," jawabnya dengan tersenyum.
Eh, kamu ko belum siap-siap?" tanyanya melihat Laura masih pakai piyama.
"Masih jam segini, kan mereka datangnya jam makan siang kata daddy."
"Makan siang di sini donk?"
"Iya kayanya. Eh iya kak, temenin aku ke salon yuk?"
"Cieeee, dari kemaren murung terus kaya nggak ada semangatnya mau ketemu dia. Sekarang tiba-tiba mau berdandan. Seganteng apa sii penasaran kakak," goda Hanna.
"Kakak tau aktor korsel Lee Min Hoo kan?"
"Ya taulah, mana ada yang nggak kenal doi?"
"Naah, cowok ini 11 12 sama dia Kaaaakk!" teriaknya gemes.
Tawa Hanna meledak seketika.
__ADS_1
"Serius? Ah, jangan-jangan karena kamu lagi jatuh cinta aja makanya keliatan kaya Min hoo!"
"Serius Kakak, nih coba liat." Laura meyodorkan ponselnya.
"Putih sama idungnya mirip tapi mukanya enggaaakk!" seru Hanna sambil terbahak.
"Iihh kakaaak! Mirip tau!" Mereka pun tertawa bersama.
Sementara Michael tampak gondok di atas ranjang. Niatnya mau memarahi sang istri jadi ambyar karena Hanna tak kunjung masuk. Dan ia malah mendengar pembicaraan mereka yang terdengar sampai ke dalam kamarnya karena cekikikan.
"Tapi ingat, wajah yang rupawan belum tentu hatinya juga. Kamu nanti harus jeli, perhatikan gelagat dari postur tubuhnya."
"Iya kak, nanti kakak kan juga ada. Kita liat apakah dia benar sebaik yang daddy bicarakan."
"Sebenarnya sih melihat karakter orang tidak bisa langsung terjawab ketika pertama kali bertemu. Butuh proses dan waktu. Tapi, setidaknya ketulusannya bisa terlihat dari sorot mata dan cara bicaranya."
"Kakak benar, ya udah sekarang kita ke salon yuk!"
"Kamu pergi sama Agra saja! Hanna pasti cape baru pulang," sergah Michael yang akhirnya tak tahan keluar kamar.
"Nggak ko, aku nggak cape!" pungkas Hana cepat.
"Dari pada meladenimu mending ikut Laura ke salon. Kartu yang kamu berikan beberapa minggu lalu masih terisi banyak. Sayangkan kalo nggak pernah dipakai," gumamnya dalam hati.
"Gini aja, gimana kalo Kak Mich yang anter kita? Aku perhatiin sejak Kak Hanna di sini dia nggak pernah ke salon loh," ucapnya.
"Aduuuhh, kenapa ngajak dia sih?" gerutu Hanna dalam hati.
"Nggak bisa aku ada kerjaan!" tolaknya seraya berbalik menuju kamarnya.
"Ah, syukur deh." Gumam Hanna menghela napas.
"Michael, nggak ada salahnya kan kamu antar adik dan istrimu dulu. Ini hari penting buat dia," kata Belinda yang muncul dari dapur.
"Ah, Mommy, kan ada Agra dan yang lainnya. Dia juga bisa nyetir sendiri. Kenapa harus Michael?"
"Karena kamu kakaknya dan suaminya," ucap sang ibu menunjuk bergantian pada Laura dan juga Hanna.
Tanpa jawaban pria itu masuk ke kamarnya dengan malas.
"Bentar yah, Kakak coba bicara sama dia."
"Oke kak, Laura ganti baju dulu yah."
Hanna menyusul suaminya ke dalam kamar. Baru saja ia menutup pintu pria itu sudah berada di depannya dengan tatapan tajam.
"Lain kali nggak ada acara menginap seperti tadi malam! Bertemu pria lain di belakangku! Kamu masih mencintainya?" cecarnya melihat Hanna yang tersudut.
"Agra pasti melaporkannya. Pemuda itu tidak sepenuhnya memercayaiku," batinnya.
"Aku sudah memilihmu, apakah pantas mempertanyakan cinta? Lagi pula, bukankah kau hanya butuh tubuhku saja, untuk apa peduli dengan hatiku?" jawabnya.
"Bukan cuma tubuhmu, tapi hidupmu. Aku sudah membelimu, sebagai gantinya rumah yang sedang kau bangun itu akan jadi hak milik keluargamu."
"Deg!" jantung Hanna seolah terhantam sesuatu.
__ADS_1
"A-apa dia sudah tahu aku merubah design-nya?" tanya Hanna dalam hati.
Bersambung...