
Anin yang sedang bermain di samping ruko, tiba-tiba berlari dengan gembira ke arah jalan raya. Tanpa disadari dari sisi kanan ada sebuah mobil melaju dengan cepat.
Hendi yang sedari tadi berdiri di dekat ruko, tercengang melihat mobil di depan sana dan Anin yang sebentar lagi sampe di bibir jalan. Baru saja ia hendak berlari, seketika dari arah belakang Reyhan langsung menyambar dan menggendong anak itu.
"Ya ampun, Dek, orang tuamu kemana? Ko anak sekecil ini dibiarkan sendiri di pinggir jalan!"
Hendi pun mendekat dan memastikan anak itu tidak tersrempet mobil tadi.
"Dia nggak papa kan?" tanyanya dengan wajah khawatir, ia memegang tangan dan mengusap kepala Anin.
"Aman, ini emaknya mana sih?" Mereka lupa jika keduanya sedang perang dingin sepulang gathering kemarin.
Reyhan celingukan melihat sekeliling, di ujung pinggir ruko terlihat Hanna dan seorang ibu membawa gendongan tengah menangis bersamaan. Reyhan mendekati mereka, sementara itu Hendi terlihat pura-pura menerima telpon.
"Maaf, ini anaknya, Bu?" tanya Reyhan.
Hanna terperanjat melihat Reyhan menggendong Anin.
"Oh iya, Mas." jawab Bu Ratna.
"Tadi sempet berlari ke pinggir jalan sana, dan hampir saja keserempet mobil Bu," jelasnya.
"Astagfirullah, maaf, Nak. Ibu tak sadar kalo Anin berjalan sampe ke sana, ya ampun terimakasih banyak ya, Mas."
Reyhan memberikan Anin kepada Bu Ratna dan perlahan ia melirik Hanna yang menyembunyikan wajahnya.
"Hanna, kamu kenapa menangis? Ada apa?"
Reyhan memegang pundak wanita itu dan menatap wajahnya.
Hanna yang sibuk mengelap air mata, mencoba menenangkan hatinya. Dia bingung apa yang harus ia katakan kepada Reyhan jika bertanya soal Anin.
"Oh engga, sorry aku tadi ... em- ini ibu aku Dateng nggak bilang dulu," jawabnya sedikit terbata.
"Oooh, jadi ini ibu kamu??" Raut wajah Reyhan terlihat sumringah dan ia mencium punggung tangan Bu Ratna.
"Kalian saling kenal?"
"Dia Reyhan mah, teman kantorku."
"Iya Bu, saya Reyhan." Dia membungkukkan badannya memberi hormat.
__ADS_1
"Jadi, ini adek kamu Han? Pantesan mirip banget ya, rambutnya pirang kaya kamu," ledeknya.
Reyhan mengelus lembut rambut Anin, sambil tersenyum.
Deg ... hati Hanna tersentak apa yang harus ia jawab, nggak mungkin menceritakan hal sebenernya pada Reyhan.
"Eh ... Bu ... mmm iya Rey, dia adekku." Sedikit nada berat terucap, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu saking gugupnya.
Bu Ratna mengernyitkan dahi, mendengar jawaban anaknya itu. Mendadak raut mukanya berubah sedih dan menunduk menahan air yang ingin mendobrak netranya.
Hendi terlihat sedikit kesal dengan kedatangan Reyhan, tangannya terlihat mengepal, dia memukul-mukul tembok dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Sorry Rey, aku harus nganterin ibuku dulu ya, minta tolong sampaikan pada Sinta kalo aku ijin pulang, bisa?
"Oh oke, bisa. Kamu hati-hati yah," ucapnya lembut.
Hanna segera menarik tangan Bu Ratna, mengajaknya pergi.
"Sekali lagi makasih ya, Nak Reyhan."
"Iya Bu sama-sama, hati-hati di jalan, Bu."
"Hanna, kamu kenapa bohong sama temenmu, Nak? Kamu harus tau, serapat apapun sembunyikan Anin suatu saat nanti mereka pasti akan tau!"
"Lha, terus maunya ibu aku cerita ke Reyhan? Maunya ibu, biar semua temen kantor dan atasanku tau statusku? Menikah siri dan mempunyai anak, gitu?"
"Ya nggak gitu juga, Nak."
"Terus apa Bu? Aku malu ibu dan anak ini datang!"
"Astagfirullahaladzim, Hanna, hatimu jadi keras tak punya sedikitpun empati pada ibu dan anakmu yang sudah jauh-jauh menemuimu." Pertahanan Bu Ratna tak terbendung, air mata tumpah ruah membasahi pipinya. Buru-buru ia menyeka, dengan jilbabnya. Bibirnya bergetar, hatinya terasa sakit.
Hanna terdiam seribu bahasa, pikirannya melayang kepada Reyhan dan jawabannya tadi.
Mereka menaiki angkot menuju ke kostannya. Setelah sampai di dalam kamarnya, Bu Ratna merebahkan Anin yang tertidur, dia membelai kepala Anin dengan wajah yang terlihat lelah.
"Aku nyari makan keluar sebentar, Mamah tunggu sini yah."
"Sebentar, tadi itu siapa? Pacar kamu?"
"Siapa, Mah? Reyhan maksudnya?"
__ADS_1
"Iya, Mamah lihat tatapannya beda kalo cuma teman dan kamu terlihat salah tingkah ta ...."
"Udah Mah, nanti aja dibahasnya sekarang aku cari makan dulu mamah belum makan dari pagi kan?"
"Ya sudah," jawabnya pelan.
Belum sampai keluar pintu Hanna berbalik dan memeluk sang mamah.
"Maafin Hanna, Mah. Udah kasar tadi," ucapnya di tengah tangisannya. Lagi-lagi mereka menangis bersama.
***********
Hendi membuka lemari penyimpanan data karyawan di kantornya. Perlahan ia mencari satu nama yang saat ini mengganggu pikirannya, mengganggu hatinya dan sepertinya telah berhasil mengusik kehidupannya.
Tak sulit mencari data karyawan di kantor milik adik dari papahnya ini, karena jumlah karyawan tak sampai 50 orang.
Semenjak papahnya meninggal 10 tahun lalu, saat ia baru saja lulus SMA, pak Chandra lah yang akhirnya mengurus dan membiayai kuliahnya. Tak ayal pada akhirnya setelah selesai dengan pendidikannya, Hendi pun mengabdi di kantor milik omnya itu. Sebagai bentuk rasa terimakasih dan membalas Budi baiknya.
Pak Chandra sangat mempercayai Hendi, karena dedikasinya yang tinggi dan mampu memberikan ide-ide cemerlang untuk ikut turut mengembangkan usahanya tersebut. Membuat rasa bangganya terhadap Hendi melebihi anaknya sendiri.
Matanya terhenti saat satu nama terlihat di sampul amplop coklat, Hanna Kartika. Perlahan ia buka lembaran demi lembaran, dia memegang KTP dan melihat statusnya "belum kawin".
Hendi terhenyak, bagaimana mungkin Hanna belum menikah dan memiliki anak? Apa yang sudah terjadi? Dan seperti apa masa lalunya? Banyak pertanyaan muncul dalam pikirannya. Hanna membuatnya semakin penasaran.
Mungkinkah ia hamil di luar nikah? Tapi jika dilihat dari sikapnya, dia selalu menjaga jarak dengan laki laki, dia juga sepertinya bukan tipe wanita gampangan. Lantas, bagaimana mungkin dia memiliki anak?
"Aku harus mencari tau," bisiknya dalam hati.
Pak Chandra tiba-tiba masuk, membuat Hendi terkejut segera ia menutup berkas milik Hanna dan membereskan semua amplop coklat yang berserakan di mejanya.
"Ada apa, Hen?" Tanya pak Chandra heran melihat Hendi sedang memegang CV milik karyawannya.
"Tidak Pak, rencananya saya butuh satu orang untuk membantu saya dalam proyek baru nanti dan ini sedang melihat CV mereka. Kira-kira bagaimana menurut Bapak? "
"Kalo kamu butuh orang, biar nanti saya Carikan karyawan baru aja untuk membantu kamu, gimana?"
"Tidak perlu Pak, proyek ini hanya beberapa bulan saja dan kita tidak mungkin memberhentikannya setelah proyek selesai kan?"
Hendi berusaha meyakinkan pak Chandra, dia mulai berpikir keras bagaimana jika beliau tetap akan merekrut karyawan baru. Sedangkan dia sudah punya kandidat yang akan menjadi asisten pribadinya nanti.
Bersambung....
__ADS_1