
Hendi termenung di kamar, pikirannya sibuk menyusun kata untuk bicara dengan pak Chandra. Menurutnya ini masalah serius, antara masa depan dan bisnisnya. Dia tak ingin melepaskan Hanna untuk Ansell. Jangankan melepas, bahkan untuk memberikan nomor ponselnya pun ia tak sudi.
Tiba-tiba dia menemukan ide dan segera beranjak keluar, menuruni tangga sambil celingukan. Matanya mendapati adik dari papanya itu tengah menonton televisi.
"Om, ada yang ingin Hendi bicarakan," ujarnya seraya duduk di sebrang pria baruh baya itu.
"Hhmm ... bicaralah," Jawab pak Chandra tanpa menoleh.
"Om pernah bilang kan, untuk segera memikirkan cinta dan masa depanku?"
"Lalu?" Mata sipitnya mulai menatap keponakan satu-satunya itu, meski sejurus kemudian kembali terpaku pada layar kaca di depannya.
"Hendi mencintai Hanna om, dan ingin menikahinya." jawabnya cepat, jantungnya berdegup tak karuan menantikan reaksi pak Chandra.
"Hanna?" Dia menoleh dengan dahi yang berkenyit.
"Iya, sekertarisku di kantor." Dengan hati-hati Hendi menjawab.
"Ooh, si Hanna Kartika? Iya om tau, dia gadis yang baik, pekerja keras dan cantik juga." Senyumnya meledek melirik Hendi.
"Iya, Hendi liat juga seperti itu." Pria berkulit putih itu tertunduk malu. Dalam hatinya lega, karena tak ada reaksi penolakan seperti yang dipikirkannya.
"Sejak kapan kamu mulai menyukainya?"
"Entah, Hendi tak menyadari sejak kapan rasa ini ada. Tapi yang pasti, ngerasa nyaman aja dan seneng kalo lagi bareng dia, om." Pipinya merah tersipu mengalihkan pandangan.
"Wah waah, pantesan kamu ngotot minta Hanna jadi sekertarismu, ternyata kamu sudah jatuh hati sama gadis itu ya?"
Lagi-lagi dia tersenyum tipis, merasa tertangkap basah atas usahanya untuk mendekati wanita itu.
"Kurang lebih seperti itu om," Hendi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Om sih setuju-setuju aja Hen. Kamu udah ketemu keluarganya? Kalo belum ayo, segera atur waktu." ajaknya bersemangat.
Pak Chandra merasa sangat senang, akhirnya keponakan kebanggaannya itu sudah menemukan cintanya. Meski awalnya, ia sempat bingung memikirkan masa depannya yang tak pernah terlihat bersama wanita seperti kebanyakan anak remaja.
"Belum, tapi ada satu hal yang harus om tau." Seketika wajahnya berubah cemas.
"Soal apa itu?" tanyanya penasaran menegakkan duduknya.
Hendi menelan ludah, mendadak gugup dan merasa takut untuk meneruskan kata-katanya. Tapi, bagaimanapun ini harus diketahui pak Chandra. Ia tak ingin omnya tau dari orang lain.
"Mmm ... Hanna sudah memiliki satu anak ... dan dia adalah mantan istri dari Ansell Arian Rendra, manager perusahaan Gemilang Wijaya Group, om."
Pak Chandra tersentak, dia menggeser duduknya lebih serius menatap Hendi.
"What? Jadi, maksud kamu Hanna itu janda anak satu?" Riak muka pria itu berubah.
"Iya om," Hendi tersenyum getir.
Pak Chandra tampak tertunduk memegangi kening dan mengusap wajahnya.
"Apa alasanmu memilih dia?" tanyanya kemudian.
Chandra merasa ini hal yang tak bisa diteruskan, tetapi bagaimana cara menjelaskan pada keponakannya itu. Orang yang lagi kasmaran cenderung menolak nasehat perihal hubungannya.
"Tidak ada alasan khusus, bagaimana pilihan ini jatuh kepadanya, om. Tapi yang jelas, Hendi selalu ingin melihatnya tersenyum. Lagi pula, haruskah mencintai memiliki sebuah alasan?"
Pria berkaca mata itu terdiam, menatap sendu anak laki-laki yang kini sudah tumbuh dewasa. Meski yatim piatu, anak ini tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab.
"Hhmm ... Hendi, om mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi, kamu harus tau satu hal, hidup bersama bukan hanya soal senyum dan nyaman saja. Kamu juga harus melihat masa lalunya, karena bukan hanya kamu dan dirinya yang bersama, tapi juga keluargamu dan keluarganya."
"Aku mengerti om, tapi ini bukan kemauan dia juga menjadi janda. Hanna dikhianati suaminya yang ternyata sudah memiliki istri."
"Dan kamu percaya begitu saja ucapan wanita?"
"Aku bukan hanya mendengar dari dia, Ansell pun sudah mengakui hal itu. Jadi, kupikir dalam hal ini Hanna tidak bersalah, dan bukan wanita sembarangan. Dia berprinsip om," sanggahnya.
"Oh, jadi sudah sejauh itu kamu masuk dalam hidupnya, dan sudah sejauh itu juga kamu mengenalnya." Pak Chandra mengangguk-angguk, pikirannya buntu entah bagaimana cara menjelaskan ketidaksetujuannya.
"Karena laki-laki itu adalah Ansell Arian Rendra, orang yang sudah mengkhianatinya dan akan terus berhubungan dengannya jika kita kerja sama. Maka dari itu, aku membatalkan kontrak kerja dengan perusahannya."
"Jadi, kamu membatalkan kontrak kerja yang bernilai milyaran ini, hanya karena manager-nya mantan suami perempuan yang kamu cintai, gitu?"
"Bukan hanya itu om, laki-laki brengsek itu kembali menginginkan Hanna jadi miliknya, setelah apa yang dilakukannya. Dia berjanji, akan memuluskan kontrak ini jika aku membantunya. Picik kan?"
Chandra terdiam, terlihat berpikir keras.
"Tapi bagaimanapun, om tetap tidak setuju kalo kamu membatalkan kontrak itu Hendi. Perusahaan kita bisa berkembang lebih pesat dan banyak yang akan memandang kita, jika berhasil menggaet Gemilang Group. Lagipula, itu adalah masalah pribadi, jangan disangkutpautkan dengan pekerjaan."
Kali ini Hendi terdiam, pikirannya kalut. Dia pikir omnya itu akan bisa menerima Hanna dan masa lalunya. Tetapi, ternyata tidak segampang itu.
"Pikirkan itu baik-baik Hendi!" tegasnya.
Terlihat pria itu pergi meninggalkan Hendi sendiri dan naik ke atas menuju kamarnya.
"Ah, profesional apaan. Si brengsek itu pun juga sudah melibatkan urusan pribadi dengan memberikan syarat picik itu," ucapnya dalam hati.
Memang baru kali ini, Hendi bicara soal wanita dengan serius. Tetapi, Chandra merasa mega proyek ini tak sebanding dengan masalah yang tengah dihadapi keponakannya itu. Dia akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan bisnisnya dan dikenal kompetitor lain. Terlebih, Gemilang Wijaya Group merupakan perusahaan yang sulit diajak kerjasama.
Dia pun bimbang antara memperbesar bisnisnya atau membuat Hendi bahagia. Jika terus memaksa keponakannya untuk maju, akan sangat melukai hatinya. Tapi, dia pun tak rela kehilangan kesempatan emas untuk perusahaannya.
__ADS_1
Serta menjadikan Hendi dikenal banyak orang atas kemenangan kontraknya. Melihat begitu banyak perusahan kecil hingga menengah yang berebut kerja sama dengan Gemilang Wijaya group. Namun jarang sekali dari mereka yang berhasil.
**********
Matahari mulai muncul dari peraduannya, sinar yang menghangatkan dan sedikit menyilaukan mata membuat Hanna enggan beranjak dari tidur nyamannya. Perlahan dia meraih ponselnya dan melirik ada dua panggilan tak terjawab dari Hendi.
"Ada apa pagi-pagi ni orang udah telfon aja? Nggak tau hari libur apa yah," gerutunya.
Wanita berdaster midi itu beranjak menuju kamar mandi. Pagi ini, Hanna berniat untuk jogging. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, dia kembali meraih ponsel dan melihat sebuah pesan masuk dari Hendi.
["Selamat pagi, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini soal pribadi, jadi aku tunggu jam 8 di depan kostmu."] tulisnya.
"Kaku amat yak jadi cowo," batinnya, Hanna tersenyum tipis.
Dia melihat jam, tepat jam 8 segera merapihkan rambutnya lalu menyambar ponsel dan bergegas keluar kamar. Terlihat sebuah mobil sedan hitam, sudah terparkir di depan kost dan seorang laki-laki yang dia kenal keluar dari mobil lalu menghampirinya.
Dengan kaos hitam dan celana jeans warna senada, Hendi terlihat makin ganteng. Ditambah kaca mata hitam menutupi mata sipitnya. Rambutnya yang klimis silau diterpa matahari pagi.
"Maaf, pagi-pagi ganggu, bisa ikut denganku?"
"Kemana, pak?" tanyanya heran.
"Nanti aku beritahu di mobil, ayo kita berangkat sekarang," ajaknya.
Hanna menggangguk dan mengikuti Hendi dari belakang menuju mobilnya. Lalu, pria itu membukakan pintu mobil depan dan mempersilahkan Hanna masuk. Membuat wanita itu sejenak terpaku, dengan wajah yang memerah. Lalu, setengah berlari dia menuju kemudinya.
Mobil sedan itu pun melaju perlahan, memecah keramaian jalan raya yang sudah mulai padat dengan kendaraan lain.
"Ada masalah apa ya, pak?" Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Hanna membuka suara.
"Ada yang masih mengganjal dalam pikiranku ... soal Ansell."
Mendadak wajah ceria Hanna menjadi sendu, Hendi terdiam mencari kata yang pas agar tak menyinggung hatinya.
"Tolong, jangan ungkit masa lalu saya lagi pak. Saya sudah meninggalkannya jauh di belakang," pintanya lembut.
"Sorry, saya hanya ingin memastikan sesuatu."
"Soal apa?" Rambut hitam Hanna terkibas angin dari kaca mobil yang sengaja Hendi buka. Sejenak laki-laki itu meliriknya, jantungnya berdegup saat mata mereka bertemu.
"Mmm ... kamu tidak akan pernah berpikir untuk kembali pada Ansell, kan?"
"Sama sekali tidak terpikir oleh saya, untuk mengulang kesalahan yang kedua kalinya. Apalagi kembali menjadi bomerang dalam rumah tangga orang lain, pak."
Ada perasaan lega menyelinap masuk dalam hati Hendi, perlahan senyum tersungging di bibirnya.
"Tapi, untuk apa semua pertanyaan ini, pak?"
Hanna mengernyitkan kening, mencoba mengingatnya.
"Iya pak, saya ingat. Tapi, bukankah bapak sudah membatalkan kontrak kerja dengan perusahaan tersebut?"
"Iya betul, kamu tau apa alasanku?"
"Jelasnya sih saya kurang paham, kalo tidak salah bapak pernah bilang kalo perusahaan itu tidak sebagus yang kita lihat selama ini."
"Itu hanya alasanku saja, perusahaan mereka memang sudah lama merajai industri tanah air kita. Bahkan terkenal sampai mancanegara."
"Lalu, kenapa alasan bapak memutuskan kontrak secara sepihak?"
Hendi terdiam untuk sesaat. Matanya lurus memandang ke depan.
"Kamu yang jadi alasan utamanya." Hendi menatap mata wanita itu dengan tajam dan menghentikan mobilnya di sebuah taman.
Hanna salah tingkah di tatap seperti itu, terlebih wajah Hendi mulai mendekati wajahnya sontak dia mundur dan gelagapan.
"Maaf pak, saya tidak paham apa maksud bapak?"
"Kita ngobrol di taman ini yah, kamu mau joging kan?"
"O-oke pak." Hanna masih heran dengan hati bimbang kemudian dia membuka pintu dan melihat hamparan bunga di depan matanya.
"Indah sekali taman bunga ini," gumamnya.
Hendi mendekatinya, lalu mengajaknya untuk mulai berjalan-jalan mengelilingi taman.
"Ansell menginginkanmu kembali, Hanna."
"Apa?! Darimana bapak tau?" selidiknya.
"Dia sendiri yang bicara padaku, dia ingin menukar kontrak kerja ini denganmu, karena aku tunanganmu sepertinya." Senyum tipis melengkung di wajahnya.
Hanna mendadak diam, tak menyangka Ansell selicik itu.
"Lalu, bapak memutuskan kontraknya hanya karena hal ini?"
"Ini penting bagiku, karena aku tidak ingin hanya berpura-pura jadi tunanganmu." Hendi berhenti pada sebuah kursi dan mengajak Hanna duduk. Jantungnya berdegup kencang.
"Ma-maksud bapak?"
"Will you marry me?" Pria itu membuka kacamatanya dan memberikan sebuah kotak hati warna merah ke hadapan Hanna.
__ADS_1
Deg ... Hanna mendadak panas dingin, belum seberapa jauh jalan-jalan ini sudah membuat keringatnya bercucuran.
"Sebentar pak, saya masih kurang paham." jawabnya menggeser duduknya sedikit menjauh.
"Hanna, aku mencintaimu dan aku ingin kamu menjadi istriku."
"Tapi pak, maaf saya ...
"Aku tidak peduli dengan masa lalumu, yang aku tau saat ini aku mencintaimu dan ingin selalu ada untukmu." Hendi menggenggam jemari mungil itu dan mendekapnya.
Hanna terdiam, sebenarnya dia belum mampu bangkit dari keterpurukan ini. Dia belum bisa membuka hati untuk orang lain sekalipun Hendi. Pria sempurna yang diidamkan banyak wanita, meski dengan segala kekakuannya.
"Tapi pak, setau saya kontrak ini bernilai milyaran dan sangat sayang untuk dilewatkan." Hanna mencoba mengalihkan pernyataan Hendi tadi.
"Apa itu artinya, kamu mau kembali pada Ansell?"
"Bukan, maksud saya sayang sekali membatalkan kontrak ini, jika bapak tidak keberatan boleh saya usul sebuah rencana," pintanya.
"Sebentar, sepertinya jika di luar gini kamu nggak usah panggil bapak bisa?"
"Tapi pak, saya sudah terbiasa." Hanna menggaruk kepalanya meski tidak gatal.
"Dan aku tidak mau dipanggil bapak, apa sudah setua itu?"
Hanna tersenyum geli.
"Panggil saja namaku."
"Iya pak, eehh maksud saya iya Hendi. Rasanya nggak pantes, karena walau bagaimanapun pak Hendi lebih tua dari saya."
"Jadi, kamu bilang saya tua?"
"Bukan pak, aduuhh gimana yaaa."
Mereka tertawa bersama. Hendi terus mencuri pandang Hanna yang sedang tertawa lepas.
"Hanna," panggilnya pelan.
"Iya, pak. Eh, tuh kan saya butuh waktu sepertinya untuk terbiasa."
"Nggak papa, aku pun tak meminta jawaban sekarang dari pernyataanku tadi. Silahkan kamu diskusikan dengan orang tuamu. Jika kamu menerimaku pakailah cincin ini," ucapnya lembut seraya menyerahkan kotak itu ke tangan Hanna.
Wanita itu terdiam, memandang kotak merah.
"Jangan pikirkan apa pun. Aku menerimamu beserta anak dan semua masa lalumu. Aku berharap, hati itu akan terbuka perlahan tapi pasti untukku. Hanya untukku," lanjutnya.
Pelupuk mata Hanna memberat, terisi oleh cairan bening. Hatinya bergejolak tak karuan.
"Inikah takdirku?" bisiknya dalam hati.
Matahari perlahan semakin naik, pancaran sinarnya semakin terang. Mereka tak sadar, ada sepasang mata yang sedang mengawasi dengan wajah memerah dan rahang mengeras menahan emosi.
********
Lagi-lagi hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Saat mobil yang dikendarai Ansell tiba di parkiran rumahnya. Lelaki itu segera berlari memasuki rumah besar bercat putih bersih. Baru saja ia membuka pintu, Zea sudah berdiri di sana. Dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Silahkan tinggalkan rumah ini dan jangan bawa apa pun selain baju yang kau pakai!" teriaknya.
"Apa-apaan kamu! Di dalam rumah ini banyak barang berharga yang aku beli dari hasil keringatku sendiri!" sanggahnya. Rupanya peperangan dingin mereka masih berlanjut hingga hari ini.
"Di dalam rumah ini juga, ada anak-anakmu yang akan butuh biaya banyak, jangan kau lupakan itu!"
"Lagi pula, sertifikat rumah ini atas namaku dan aku berhak atas rumah ini beserta isinya." lanjutnya dengan ketus.
Ansell mengepalkan tangannya, sifat rakus Zea memang tidak pernah berubah. Dari dulu, dia selalu mementingkan dirinya sendiri dan keluarganya saja, tanpa perduli dengan mertua dan keluarga dari suaminya.
Ansell teringat pada brankas di dalam lemarinya, ada banyak uang dolar dan tabungan di sana. Sanggupkah ia meninggalkan semuanya hanya demi mengejar cinta lamanya? Yang belum tentu mampu menerimanya kembali. Sebenarnya bukan hanya soal wanita itu, dia sudah lelah dengan sifat istrinya yang tak pernah akur dengan mertua dan saudaranya.
"Baiklah, silahkan kau ambil semuanya. Ingat, itu untuk anak-anak. Jangan kau gunakan untuk keluargamu! Aku hanya akan membawa mobilku!" ucapnya seraya berjalan menuju kamar anak-anaknya.
Terlihat kedua anak kembarnya yang tengah tertidur pulas. Ada rasa sakit yang menghujam jantungnya, setelah penantian sekian lama kini ia memiliki anak dari Zea. Namun, dia sudah tidak bisa terus bersamanya. Dia merasa hubungan ini sudah tak bisa lagi dipertahankan. Terlebih, mati rasa yang dialaminya terhadap ibu mereka sudah cukup lama.
Perlahan dia usap kening dan rambut kedua anaknya secara bergantian dan mengecupnya. Bulir-bulir air jatuh membasahi pipinya, hatinya bergejolak mempertanyakan langkah yang akan dia ambil ini.
Tapi, otaknya tak mampu berpikir apapun selain pergi dari rumahnya ini. Rumah yang dia beli saat baru menikahi Zea dari keringatnya sendiri. Dan memang menggunakan nama istrinya, karna dia terus membujuknya untuk membeli rumah dan tidak mau tinggal bersama mertuanya.
"Papa tidak akan menelantarkan kalian nak, papa akan penuhi segala kebutuhanmu. Papa janji," Bisiknya tepat di telinga kedua anaknya.
"Papa sayang kalian,"lanjutnya.
Ansell bergegas kembali ke ruang tengah, dengan menyembunyikan wajahnya. Lalu, keluar rumah tanpa menoleh kepada wanita yang berdiri tepat di depan kamar anak-anaknya.
Dengan dada penuh sesak, Zea mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Berpura-pura kuat menghadapi badai rumah tangganya.
Setelah mendengar mobil yang melaju keluar gerbang, memecah derasnya hujan. Seketika pandangannya kabur, air yang sedari tadi ditahannya tumpah ruah. Dia masih tidak menyangka, kali ini Ansell benar-benar telah meninggalkannya. Meninggalkan luka yang sangat dalam, dengan pikiran kalut dia berteriak kencang. Meraih apa pun yang di dekatnya dan melemparkannya, dia mengamuk mengacak-ngacak rambut dan menangis meraung raung memanggil nama suaminya.
"Anseeeellll ... jangan tinggalkan akuuuu ...! Aaarrgghhhh ...!" pekiknya.
************
Bersambung
__ADS_1