Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Psikopat Project


__ADS_3

"Kamu mau lari dari tanggung jawab? Apa itu yang selama ini om ajarkan?" Chandra menatap tajam keponakannya itu.


"Tapi om, Hendi tak ada niat melakukan itu. Dan om tau kan, aku sama Hanna,"


"Tak ada niat tapi sampe bikin anak gadis orang bunting, parah kamu Hen! Om kira kamu polos, karena nggak pernah keluar rumah dan bergaul dengan teman-teman yang bergajulan. Tapi diem-diem malah mencoreng nama baik keluarga! Otak kamu dimana hah? Gimana kalo sampe orang lain tau hal ini?" teriak Chandra dengan urat leher yang menegang.


Kali ini Hendi tertunduk, melihat omnya meluapkan kemarahannya. Baru ini Chandra bersikap kasar padanya. Jika saja Hendi menerima dan mau bertanggung jawab, mungkin ia tak akan semarah itu.


Siska yang sedari tadi diam, maju ke hadapan Chandra.


"Maafkan saya pak, saya sadar ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Hendi. Jika saja saya bisa menjaga diri hal ini mungkin tak akan terjadi." tutur Siska kembali berlinang air mata.


Semua terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Kamu tinggal dimana?" Viona mengalihkan pembicaraan panas itu.


"Saya tinggal di rumah kakak, Bu. Kebetulan rumah itu kosong jadi saya pakai," jelasnya.


"Kerja?"


"Saya sebenarnya sudah pernah menikah, tetapi suami mengkhianati saya dan akhirnya memutuskan untuk berpisah darinya. Saat ini, masih mencari pekerjaan." jawabnya tertunduk.


"Janda dan pengangguran. Oh my God Hendiii! Masalah bisnis kau pandai tapi soal pasangan zero! Benar-benar tak selevel." keluh Viona dalam hati.


"Silahkan kalian berdua selesaikan. Om rasa kamu sudah dewasa Hendi, apa pun keputusannya harus pikirkan konsekuensinya. Entah itu nama baik keluarga dan juga integritas perusahaan yang susah payah om bangun dari nol!"


"Satu hal yang ingin om tanyakan, Apa kau juga melakukan hal sama kepada Hanna?"


Hendi menggeleng, hatinya pilu jika mendengar nama itu.


"Jawab!" bentaknya menggebrak meja.


"Tidak om, seperti yang sering Hendi katakan. Hanna adalah wanita yang baik, dia selalu tau batasannya."


Rahang Siska mengeras, mendengar Hendi memuji saingannya itu.


"Berikan keputusanmu malam nanti!" seru Chandra sambil berlalu menuju parkiran diikuti Viona di belakangnya.


"Papi mau kemana?" tanyanya saat sudah di dalam mobil.


"Ke kantor, sebaiknya mami di rumah aja. Takut terjadi apa-apa sama mereka. Hendi keliatannya tidak terlalu suka sama wanita itu."


"Iya, yang mami nggak habis pikir kenapa harus nyantolnya ke janda lagi sih pi, si Hendi itu?"


"Ya mana papi tau! Kalo diliat dari caranya bicara papi yakin Hanna jauh lebih baik dari wanita ini."

__ADS_1


"Terus masalah WO yang sudah kita booking gimana, pi?"


"Nggak taulah mi, papi pusing kita serahin sama mereka ajalah. Sekarang turunlah, kerjaan sudah menunggu di kantor. Hendi juga kan di sini, nggak ada yang handle kantor. Si Hanna pasti juga udah balik dari Gemilang, papi harus cek laporannya."


"Baiklah, papi hati-hati yah." Tak lama wanita itu turun dari mobil dan langsung menuju ke lantai atas. Ekor matanya melirik kedua anak manusia yang tengah saling diam membisu.


"Apa mereka akan diem-dieman sampe malem begitu?" tanyanya dalam hati.


"Sudah puas buat semuanya jadi berantakan?" Hendi menatap Siska yang juga tengah melihat ke arahnya.


"Kamu egois Hendi, ini anak kamu kenapa cuekin pesan dari aku? Malah seneng-seneng sama perempuan lain." Wanita itu melengos, ada kegetiran di wajahnya.


"Dia tunanganku, salah aku pergi dengannya?"


"Aku ibu dari anakmu, salah menuntut tanggung jawabmu?"


"Aku tak menginginkan anak itu!" sergah Hendi. Tatapannya tajam melirik Siska.


"Oke, no problem! Tinggal kita tunggu aja kehancuran seorang Hendi dan perusahaanmu," ancamnya.


"Mau kamu apa sih?"


"Simple Hen, nikahi aku!"


"Gila! Kamu tau kan aku sudah bertunangan dan bahkan sudah mempersiapkan pernikahan, Siska!"


"Jika kamu pilih aku, berita ini cukup sampai di rumah ini aja. Tetapi, jika kamu pilih dia maka selangkah aku keluar dari sini, semua orang akan tau sebrengsek apa kamu!" lanjutnya.


"Hebat! Sepertinya perangkap kamu berhasil Siska. Oke, jika itu maumu. Tapi, apa kamu yakin bisa keluar dari sini hidup-hidup?" senyum devil Hendi membuat Siska berdiri dan mundur beberapa langkah.


"Kamu menjebakku, kan?" cecar Hendi.


"Tidak, sama sekali! Untuk apa aku menjebakmu? Bukannya kau memang tergoda denganku, Hendi!" sanggah Siska.


"Apakah Hendi akan berbuat nekat dan membunuhku?" tanyanya dalam hati. Mendadak wajahnya pucat, melihat tatapan tajam lelaki itu.


Hendi semakin melangkah maju, dan mencekam lengan Siska.


"Lepas Hendi!" Siska meronta.


"Ayo ikut ke kamarku! Akan kutunjukkan seganas apa aku. Hal yang kemarin, belum ada apa-apanya, Siska!" Dia terus menarik wanita itu menuju tangga. Tangan satunya lagi menekan tombol rekam suara pada ponselnya di dalam saku.


"Toloooonnggg!" teriak Siska. "Bu Viona, tolooonngg!" pekiknya semakin kencang.


Viona yang sedari tadi waspada di dalam kamarnya, segera keluar dan terperanjat melihat Hendi sedang menarik paksa Siska.

__ADS_1


"Hendi, apa yang kau lakukan?" tanyanya panik seraya menuruni tangga.


"Tante nggak usah ikut campur! Akan kuberi pelajaran dia, berani mengancamku dan juga keluarga kita!"


"Tapi Hendi, nggak gini caranya! Ini malah bikin masalah semakin runyam!" teriaknya mencoba menyadarkan keponakannya itu. Tapi, Hendi tak menghiraukannya dia menepis tangan Viona dan terus menariknya ke atas. Wanita itu dengan cepat menghubungi Chandra, tapi tak ada jawaban.


"Aduuhh, papi angkat cepaatt!" ucapnya dengan gemetar menyaksikan Hendi yang berubah brutal. Ia baru melihat kemarahan keponakannya itu.


"Tolooonggg, bu tolong Siskaaa!"


"Cepat katakan, apa kau menjebakku?" tanya Hendi saat mereka sudah ada di atas ujung tangga. Lalu, pria itu menyeretnya menuju aula lantai dua yang hanya ada pembatas pagar setengah meter.


"Apa maksudmu, Hendi?"


"CEPAT KATAKAN! ATAU AKAN KUBUAT KAU MENCIUM LANTAI ITU!!" bentak Hendi kasar.


Siska melihat ke bawah, jarak yang lumayan tinggi membuat lututnya gemetar.


"Ini hanya gertakan atau Hendi benar-benar akan membunuhku?" batin Siska berkecamuk.


"Kau mencampurkan apa ke dalam minumanku? Jawab Siska!"


"A-aku tidak mengerti maksudmu, Hendi!" teriaknya dengan terus melihat ke bawah.


Hendi pun mendorong tubuh Siska dari lantai atas membuat Viona terpekik.


"TIDAAAKK!!" teriak Viona menutup wajahnya, kakinya gemetar dengan sekujur tubuh lemas membayangkan apa yang selanjutnya terjadi.


"TOLOOONNGGG!!" pekik Siska dengan mata yang terpejam. Ia merasakan tangannya dipegang kencang seseorang. Saat dengan perlahan dan takut membuka matanya, terlihat Hendi tengah memegangi pergelangan tangannya.


"Hendi! kumohon jangan lakukan ini! Cepat tarik aku, Hendi!" teriaknya seluruh tubuhnya gemetar. Jantungnya hampir saja copot, membayangkan ia yang sudah tak bernyawa tergeletak di lantai.


"Jawab aku! Atau akan kulepaskan tangan ini!" ancamnya dengan mata yang memerah. Terlihat tonjolan urat di tangannya menahan beban tubuh Siska.


"Jika ini akhir dari segalanya, biarlah aku akan mati bersama wanita ini!" serunya dalam hati.


"I-IYA! A-AKU MENJEBAKMUUU!!" teriak Siska kencang ia memegang tangan Hendi kuat.


Dengan cepat Hendi menarik tangan Siska, hingga tubuh itu ambuk di atas dadanya.


"Gila! Dasar laki-laki psikopat! Akan kulaporkan kau ke polisi!" teriak Siska dengan napas terengah-engah ia terhuyung menuruni tangga.


"Silahkan! Rekaman ini akan menjadi pembelaanku di pengadilan nanti!" Ia memperlihatkan ponselnya yang sedang jalan merekam.


"Siska! Hendi! Tidak bisakah kalian menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin!" teriak Viona yang hampir saja kena serangan jantung melihat adegan yang baru saja membuatnya bergidik. Ia berpikir, akan terjadi pertumpahan darah di dalam rumah ini.

__ADS_1


"Kau tak tau, apa julukan Hendi dalam dunia bisnis?" Tiba-tiba Chandra muncul dari balik pintu. "psikopat project! Dia bisa melihat celah meski sedikit, untuk menghabisi lawannya." sambungnya seraya berjalan mendekati Siska yang masih gemetar.


Bersambung...


__ADS_2