Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Rencana Besar


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian


Jalan menuju desa itu masih sama seperti dulu, bergelombang dan dipenuhi kerikil tajam. Dari tahun ke tahun warga hanya mengandalkan sukarelawan di antara mereka, untuk menutupi lubang-lubang yang ada akibat genangan air hujan.


Terkadang ada yang memberi kerikil, batu-batuan sisa membangun rumah dan beberapa tanah urukan. Mereka memanfaatkannya untuk meratakan jalan. Proposal demi proposal sering mereka ajukan tapi tak kunjung mendapat jawaban dari pemerintah daerah setempat.


Hanna melihat sekeliling yang masih tampak hijau menuju kampung halamannya. Jarak dari jalan raya besar ke rumahnya lumayan jauh, melewati beberapa desa dan pesawahan. Dan jika terus masuk ke dalam masih ada banyak desa lagi di sana.


Desanya terletak di tengah-tengah dan salah satu yang paling ramai di antara lainnya. Meski masih banyak tanah kosong di sana. Sudah terdapat masjid besar, tempat sholat jumat warga dari desa sebelah sampai acara-acara keagamaan lainnya. Minimarket milik salah satu warga dan juga pom mini. Serta ponpes salafi dan padepokan pencak silat.


Beberapa menit kemudian mobil terparkir di pinggir jalan. Agra yang bertugas mengantarkan Hanna tercengang melihat bangunan yang tidak sesuai dengan design yang diberikan Tuannya kepadanya.


"I-ini rumah Bu Hanna?" tanyanya dengan mata membulat.


"Benar, kenapa?" Wanita itu sudah menduga reaksi orang kepercayaan suaminya itu.


"Kenapa design-nya berubah?"


"Pak Agra, anda pikir saya bodoh. Ini tanah milik orang tua saya, siapa pun tidak berhak merampasnya dan mengubah bangunan seenak jidatnya sendiri."


"Apa ... Tuan Michael tahu?" tanyanya ragu.


"Belum. Silahkan saja kalo anda ingin memberi tahunya. Tapi, jika anda masih punya sedikit hati nurani biarkan seperti ini. Saya akan tetap membantu perusahaan di lantai bawah. Di sana sudah disiapkan untuk kantor cabang yang mengurus beberapa dokumen. Dan lantai atas untuk tempat tinggal keluarga saya," jelasnya.


"Dan rencananya, di tanah kosong sebelah sana akan dibangun pabrik cabang selanjutnya untuk model yang baru akan masuk di Gemilang." lanjutnya menunjuk tanah kosong yang tak jauh dari rumahnya.


Pemuda itu terdiam mengamati rumah dua lantai yang didominasi warna putih abu-abu itu. Meskipun belum sepenuhnya selesai tapi sudah dapat terlihat jelas bentuknya. Di lantai bawah terlihat begitu banyak kaca sedangkan di atas hanya ada dua jendela dan satu pintu menuju balkon.


"Tapi tidak akan mudah, Bu. Membangun pabrik kan butuh modal yang sangat besar," ucap Agra melihat ke tanah kosong di sudut jalan.


"Kamu tidak perlu khawatir memikirkan biaya, cukup dengan tutup mulut maka sudah cukup membantu. Semuanya akan saya urus sendiri," ucapnya kemudian.


"Jadi, apa kamu bisa mengkhianati tuanmu demi hati nuranimu?" tanyanya memastikan.


Lagi-lagi pemuda itu terdiam. Pikirannya bimbang. Hubungannya dengan keluarga Michael tidak sesederhana yang dipikirkan. Sangat tidak mungkin dia mengkhianati keluarga yang sudah banyak membantu keluarganya itu. Terlebih sang ayah tidak akan setuju.


Namun, jika dia buka mulut dan melaporkan rencana istrinya itu pasti hubungan keduanya akan berakhir dan dia akan kembali mencari mangsa untuk memuaskan hasrat sang Tuan. Dia juga yang akan repot membersihkan kelakuan kotor majikannya itu.


Sementara di dalam rumah dekat jendela, Adri tengah mengamati mobil yang berhenti cukup lama di depan rumahnya. Kedua alisnya berkerut.


"Kenapa Pak?" Ratna menghampiri sang suami.


"Itu mobil siapa? Dari tadi di situ terus?" tanyanya heran.


"Sepertinya itu milik Michael Pak, apa jangan-jangan mereka tengah mengamati rumah ini dan sedang melaporkannya?" Raut wajah panik tergambar jelas di sana.

__ADS_1


"Entahlah, kita coba tanya Hanna," katanya menuju lantai atas untuk mengambil ponselnya.


"Apa yang direncanakan, Bu Hanna?" tanya Agra kemudian.


"Perusahaan akan membangun gedung baru di lahan sebelah, saya akan memanfaatkan anggaran ini untuk memindahkan pembangunan gedungnya di sini. Selain bisa membuka lahan pekerjaan untuk warga sekitar sini, juga bisa mengurangi cost perusahaan terkait upahnya yang lebih kecil dari pada di kota sana." terangnya.


"Bagaimana cara anda mengelola anggaran itu? Saya pikir malah akan menambah biaya banyak. Jika di sana kemungkinan hanya akan memakai karyawan di gedung lama. Bukannya malah nanti akan membuat cost semakin membengkak?"


Agra yang sedikitnya paham soal perusahaan buka suara.


"Kamu tidak perlu tahu bagaimana caranya, saya memiliki kartu as yang tidak akan bisa Michael tolak."


"Lalu, bagaimana anda bicara pada Pak Martin?"


"Saya rasa setelah anaknya setuju, bapaknya pun tak akan bisa berbuat banyak."


"Wanita ini cukup pintar dan licik. Sepertinya dia ingin posisinya lebih kuat di perusahaan dan keluarga Delopez. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Terlebih, kartu yang dimilikinya entah apa aku harus mengetahuinya." batin pemuda itu.


"Apa alasan ini cukup untuk membuatmu mengkhianati tuanmu?"


"Begini Bu Hanna, hubungan saya dengan keluarga Delopez tidak semudah yang anda pikirkan. Bukan hanya antara atasan dan bawahan. Bapak saya dulunya juga merupakan supir Pak Martin," terangnya.


"Ooohh jadi Pak Riyanto itu ayahmu?"


"Tentu saja! Beliau sering beberapa kali mengantar saya meeting," ucapnya.


"Bagaimana kabarnya sekarang?"


"Alhamdulillah, semakin membaik Bu. Sejak kecelakaan dua tahun lalu bapak berhenti bekerja dan menyuruh saya menggantikanya."


"Ibumu? Saya dengar beliau sakit?"


"Ibu sudah meninggal, dari sanalah hubungan kami menjadi terikat dengan keluarga Delopez."


"Jadi, kalian hutang budi pada Pak Martin?"


Agra tak menjawabnya dia hanya mengangguk dan tertunduk.


Tak lama suara ponsel Hanna berdering. Ia sengaja tak menjawabnya fokusnya masih pada pemuda yang duduk di belakang kemudi itu. Ia tak menyangka dia adalah anak supir yang dulu begitu baik padanya.


"Sekarang terserah kamu, jika kamu dapat membantu saya. Akan saya pastikan tidak akan melibatkanmu. Cukup diam dan pura-pura tidak tahu tentang semua ini."


"Oke, pikirkan baik-baik." sambungnya mengakhiri pembicaraan siang itu.


Agra masih terdiam memikirkan perkataan majikan barunya.

__ADS_1


Hanna membuka pintu mobilnya dan berjalan menuju halaman rumah. Senyumnya mengembang puas melihat hasil bangunan di depannya.


"Sebentar lagi sempurna," gumamnya.


Di kejauhan Agra keluar dari mobilnya ia telah memutuskan apa yang harus dilakukan.


Sementara wajah Ratna berbinar bahagia saat melihat anaknya datang, ia yang tengah berada di dalam rumah segera keluar menyambut Hanna.


"Ya Allaaahh Nak, kamu datang!" serunya seraya memeluk anaknya itu.


"Iya Ma, ini Hanna. Gimana kabar Mama?" Sang anak menyambut pelukan hangat dari ibunya.


"Baik sayang, kenapa tidak bilang mau datang?"


"Paaak .. Bapaakk! Ini Hanna datang!" teriaknya memanggil sang suami.


Dengan tergopoh pria setengah baya itu keluar rumah dan tersenyum bahagia melihat anak sambungnya itu. Ia masih memegang ponsel dan terus menghubungi Hanna.


"Jadi dari tadi itu mobilmu? Bapak telepon tak diangkat-angkat?" tanyanya melirik mobil di pinggir jalan.


"Iya Pak, ada beberapa hal yang Hanna bicarakan sama Agra terkait rumah ini. Dia terkejut melihat perubahan design-nya," jelasnya melihat pemuda yang sudah ada di belakang Hanna itu.


"Ayo masuk jangan bicara di luar," ajak Ratna.


Hanna menyapu pandangannya ke segala arah. Progresnya cukup baik tinggal finishing-nya saja. Para tukang masih fokus bekerja hanya sesekali menoleh ke arah wanita itu.


Agra terlihat langsung mendekati seorang tukang dan bercakap dengannya.


"Kamu gimana kabarnya nak?" tanya Ratna.


"Aku baik, Ma. Aku datang mau ngasih kabar," ucapnya pelan. Ia menggigit bibir bawahnya terlihat raut kecemasan dalam wajahnya.


"Kabar apa?" Adri yang tak sabar mendengarnya terlihat mendekat.


"Eh sebentar, pemuda itu gimana? Apa dia akan melaporkan kita kepada bosnya?" tanya Ratna menyela.


"Entahlah, tergantung hatinya. Hanna tadi sih sudah menjelaskan panjang lebar rencana kita. Semoga dia dipihak kita," ucapnya melirik Agra.


"Iya semoga saja dia berbaik hati," ucap Ratna kemudian.


"Kamu tadi mau bilang kabar apa? Bapak khawatir ini," desak Adri masih menunggu ucapan sang anak tadi.


"Oh iya, Aku ... hamil," katanya dengan ragu melihat hati-hati kepada kedua orang tuanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2