
Pesta sudah berakhir, tapi kehidupan Siska di rumah mewah itu baru saja dimulai.
Dia memasuki kamar Hendi dengan tubuh yang luar biasa lelah. Matanya berbinar saat melihat hamparan mawar merah berserakan di atas kasur dan lantai. Wangi semerbak memenuhi kamar itu. Diliriknya jam pukul 11 malam.
"Apa Hendi yang meminta menyiapkan ini semua?" tanyanya dalam hati. Tangannya meraba kelopak mawar di atas kasur itu dan melemparkannya ke udara. Hujan mawar pun seakan mengguyur tubuh letihnya.
Kemudian ia melepaskan semua gaun dan perhiasan yang menempel. Lalu menuju kamar mandi untuk menghapus make up dan membersihkan tubuhnya.
Hendi yang baru saja tiba langsung terperanjat melihat kelopak mawar bertebaran di kamarnya.
"Ini pasti ulah tante Vio?" Matanya tajam melihat sekeliling, hingga tatapannya tertuju pada pakaian Siska yang berserakan di lantai.
"Apa-apaan dia? Beraninya masuk kamarku!" gerutunya seraya melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Karena memang terdengar suara shower dari sana.
"Siska! Keluar kamu!" teriaknya seraya menggedor pintu kamar mandi dengan keras.
Siska yang tengah mandi langsung mengambil handuk dan memakainya. Lalu, membuka pintu dalam keadaan setengah basah.
Sesaat Hendi terpana melihat paha mulus wanita yang sekarang telah sah jadi istrinya itu. Belum lagi, dua gunung kembar menyembul dari ikatan handuk yang longgar. Dia menelan salivanya. Namun, dengan cepat ia menguasai dirinya dan mengalihkan pandangannya.
"Cepat pakai bajumu dan keluar dari kamarku!" perintahnya.
"Maksud kamu apa? Kita loh udah sah jadi suami istri, apa kata orang kalo kita tidur terpisah?"
"Aku bilang pakai bajumu!" bentaknya. Dia segera menarik koper Siska dan mendorongnya mengenai kaki putih mulus itu.
"Aw!" teriaknya kesakitan.
__ADS_1
"Mau kamu apa sih? Aku harus gimana supaya kamu mau maafin aku Hendi?" pekiknya kembali mendorong koper itu.
"Kamu tidur di kamar tamu, ITU MAU AKU! Kalo kamu nggak mau pake baju sekarang juga, jangan salahkan aku kalo menyeretmu dalam keadaan kaya gini!"
Netra Siska berkaca-kaca, genangan air seakan mendobrak kaca penahannya.
"Kenapa kamu kaya gini sama aku, Hen?" tanyanya dengan suara pelan dan bergetar.
"Dengar baik-baik yah! Kalo bukan karena ulahmu itu, Hanna pasti yang sekarang ada di hadapanku bukan wanita picik kaya kamu! Dan satu lagi, aku tak sudi punya istri licik." ucapnya tepat di telinga Siska.
Seluruh hati wanita itu hancur berkeping-keping. Air matanya terasa panas mengalir deras. Dia memang menang mendapatkan status istri Hendi, tetapi hati pria ini bukanlah untuknya.
Hendi menuju lemari mengambil kopernya dan mengisi dengan barang-barang miliknya.
"Oke cukup! Aku yang akan keluar dari sini!" seru Siska menahan sakit hatinya mendengar nama Hanna disebut di malam yang seharusnya indah ini. Lantas dia membuka koper mengambil salah satu bajunya.
"Jahat banget kamu, Hen. Setidaknya biarkan aku semalam tidur di kamar ini agar tidak jadi pertanyaan banyak orang. Harus jawab apa nanti jika ada yang tanya?" gumamnya dalam hati.
Perlahan ia mendorong kopernya menuju tangga, saat ia melihat ke bawah kepalanya mendadak pusing. Terlebih, rasa letih yang menjalar tubuhnya membuat dia berjalan sempoyongan.
Dia pun meninggalkan koper di depan kamar Hendi, karena tak kuat membawanya menuruni tangga. Lalu, dengan cepat pergi menuju lantai bawah dan membuka salah satu kamar tamu.
Tak dihiraukannya tatapan heran dari beberapa orang. Dia sempat melirik pada Chandra dan Viona yang masih mengobrol dengan seseorang di depan pintu. Niatnya ingin mengadukan perbuatan Hendi tapi, itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan mengunci pintu.
Tangisnya pun pecah, meratapi nasib. Pernikahannya kali ini pun, sepertinya tak akan berjalan mulus.
Sesuatu yang dimulai dengan niat yang kotor, maka sepanjang perjalanan akan ada tugas berat menanti. Yaitu, membersihkan kotorannya.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar, Hendi segera mengunci pintu. Ia meraih gaun putih bertuliskan H&H itu, lalu membaringkannya di atas kasur.
"Hanna, ini adalah malam pertama kita. Ayolah lepas gaunmu, lihatlah bagaimana cantiknya mawar ini." ucapnya seraya membelai gaun yang terbentang di sampingnya dan memungut beberapa helai kelopak mawar.
Tiba-tiba hatinya pilu seolah tertusuk sembilu, air mata yang ditahannya mengalir membasahi pipi. Bahunya terguncang, menahan sesak di dada. Bayangan senyum Hanna terlintas di benaknya.
"Aaarrrgghh! Bre****k!" teriaknya seraya melempar gaun itu.
Kini ia juga melempar semua kelopak mawar yang berserakan di atas kasur. Menyeret paksa sprei dan semua hiasan yang dipasang Viona. Sedetik kemudian, kamar itu bak kapal pecah. Semua barang berserakan di lantai.
"Aaarrgghhh!" pekiknya lagi mengeluarkan amarah yang sedari tadi dipendamnya.
Chandra dan Viona yang baru saja hendak ke kamarnya mendengar keributan itu, kedua alis mereka berkerut. Sesaat berhenti dan heran melihat koper Siska di depan pintu.
"Pi, yang lagi malam pertama kayanya heboh banget yah?" ucap Viona pada suaminya itu.
"Sebentar deh mam, kenapa koper Siska di sini?"
"Iya, yah. Tadi kan waktu aku hias kamar Hendi koper ini ada di dalam."
Chandra pun berniat mengetuk pintu kamar, tapi Viona melarangnya.
"Besok ajalah pi, nggak enak. Takutnya lagi nanggung kan," ucapnya seraya terkekeh.
Laki-laki itu pun menurut dan mengurungkan niatnya. Lalu, mereka berdua menuju kamarnya.
Rembulan tepat berada di puncak singgasananya, sinarnya yang dingin menusuk kulit. Langit malam bertabur bintang seolah ikut merayakan pesta yang baru saja usai. Sebuah pesta semu, penuh dengan kepalsuan.
__ADS_1
Bersambung...