
Keesokan harinya
Hendi memasuki rumah dengan tergesa-gesa ia segera naik ke kamarnya.
"Kamu tidur dimana?" Siska yang sedang berada di dapur menghadangnya.
"Bukan urusan kamu," jawabnya cuek.
Kaki jenjangnya menaiki tangga, wanita itu terus mengikutinya. Saat berada di depan kamar Hendi hendak menutup pintu, tapi kaki Siska mengganjalnya.
"Apa-apaan kamu? Minggir!" Hendi menendang kaki itu.
"Tidak! Ini juga kamarku."
"Jangan mancing-mancing emosi yah!" erang Hendi.
"Aku nggak mancing emosi, kamu sendiri yang terpancing kan?"
"Aku mau ganti baju, minggir!" bentaknya lagi mendorong pintu itu, tapi ia malah menerobos masuk.
"Kamarmu di bawah, ngapain di sini?"
"Ribut-ribut apa ini?" tanya Chandra keluar dari kamarnya diikuti Viona.
"Anak ini bersama Hanna kemarin, apa dia masih mencintai gadis itu? Biar aku tanya jujur ngga dia," tanyanya dalam hati.
"Kamu dari mana semalaman, Hen? Istrimu nungguin sampe ketiduran di sofa bawah loh."
"Ketemu temen," jawabnya singkat seraya menutup pintu.
Chandra dan Viona saling berpandangan.
Hendi segera membuka lemari untuk berganti pakaian, ia tak mempedulikan Siska yang masih berdiri di belakang pintu.
"Apa ini? Siapa yang suruh baju-baju kamu di lemariku?" tanyanya dengan mata yang membulat.
"Tante Viona, dia yang susun di situ."
"Mereka itu sudah terlalu ikut campur urusan pribadiku," gumam Hendi dalam hati.
"Aku sudah bilang, nggak mau sekamar denganmu. Kalo kamu di sini aku yang akan pergi!"
"Tak bisakah kamu bertahan sampe anak ini lahir, Hen. Jangan buat malu keluargamu dengan memaksaku untuk speak up ke publik tentang perlakuanmu ini."
"Kamu berani?" tantang Hendi mendekati wanita itu.
"Apa yang ditakutkan? Karier? Aku nggak punya. Kebangkrutan? Nggak punya harta juga. Popularitas? Juga nggak ada! Jadi nggak ada yang mesti aku jaga," ujarnya menatap tajam Hendi.
Hendi mendengus kesal dengan gigi gemerutuk menahan emosi.
Tiba-tiba ia teringat kejadian semalam, apa jadinya jika hal itu bocor ke publik. Banyak hal akan hancur di hidupnya.
"Aku harus bisa menjaga nama baik perusahaan dan om," bisiknya dalam hati.
Setelah berganti pakaian dia kembali keluar menuruni tangga mencari Chandra.
Terlihat omnya itu sedang sarapan di meja makan. Ia melirik jam dinding tepat di angka delapan.
"Baiknya gue katakan semuanya atau engga yah? Bisa-bisa kena amuk kalo sampe dia tau. Gue harap tuh cewek nggak akan buka mulut sesuai janjinya," bisiknya dalam hati.
"Hendi mau bicara om," ucapnya saat sudah di meja makan.
__ADS_1
"Hhmm," omnya hanya berdehem sambil menyuap nasi.
"Hendi mau beli rumah."
"Beli rumah? Terus?"
"Hendi mau coba tinggal mandiri di rumah sendiri," katanya seraya melihat Chandra hati-hati.
"Kamu udah nggak betah tinggal di sini?" tanya Chandra menghentikan makannya.
"Bukan-om, Aku hanya ingin mandiri saja."
"Kamu itu satu-satunya anak kakakku, dan lagi beliau berpesan untuk selalu menjagamu. Gimana om mau jaga kalo berjauhan? Deket aja masih kecolongan kaya gini, kan?"
Viona menyenggol lengan Chandra saat Siska baru saja bergabung di meja makan.
"Maaf om sebelumnya, mungkin maksud Hendi karena dia sudah berumah tangga dan tak ingin terus menjadi beban keluarganya. Terlebih, kita akan segera mempunyai anak tak ingin merepotkan dengan kehadiran anggota baru nanti," Kata Siska.
"Rumah ini cukup besar meskipun kalian memiliki 10 anak pun, akan om bangunkan di sebelah kalo kurang kamar."
Mereka terdiam saling melirik.
Tak lama Chandra menyudahi sarapannya dan segera berangkat ke kantor.
"Kalian nggak usah sungkan, anggaplah ini rumah sendiri. Daripada uangnya buat beli rumah mending ditabung untuk masa depan anak-anak nanti." Nasehat Viona.
Hendi menghela napas panjang dan kembali ke kamarnya.
Tinggalah hanya mereka berdua di meja makan.
"Reaksi dia gimana?" tanya Viona.
"Marah besar Tante," jawab Siska tertunduk.
"Ya sudah, Siska masuk kamar dulu ya."
Viona hanya mengangguk menatap punggung wanita itu merasa iba.
Di dalam kamar
Hendi terlihat sedang mengetik di meja kerjanya, Siska duduk di atas sofa setelah mengambil bantal dan guling dari kasur. Pria itu hanya meliriknya sekilas dan lanjut dengan pekerjaannya.
"Tenang aja aku akan tidur di sofa," ucapnya melihat Hendi yang cuek.
Kamar itu cukup besar ada tempat tidur dengan spring bed berukuran 200x200, sofa minimalis warna coklat muda, meja tv dan jejeran buku-buku bisnis. Serta meja kerja lengkap dengan kursi busanya. Di pojok terdapat kamar mandi dengan bathub warna coklat muda juga.
Hendi tak menjawab kata-kata Siska, dalam hati ia senang wanita itu tahu diri.
***
Di kantor
Sesampainya Hanna di kantor, wanita itu langsung menuju ruangan Hendi di lantai atas.
Namun ia tak mendapati pria yang dicarinya.
"Ada Han?" tanya Sinta yang baru menyusulnya.
"Nggak ada," jawabnya.
"Apa jangan-jangan dia nggak ngantor?"
__ADS_1
"Bisa jadi sih. Gue kira dia cuti kan, eh kemaren dateng dan gue baru aja selesai nulis surat resign langsung gue kasihin ke dia."
"Terus?" tanya Sinta penasaran, mereka berdua berdiri di balkon membelakangi ruangan itu.
"Dia nggak setuju."
"Baguuusss!" pekik Sinta kegirangan.
"Pelan-pelan suara lu. Gue nggak mau ada yang tahu dulu," kata Hanna sambil membungkam mulut Sinta.
"Lagian lu mau ngapain sih resign? Karirr lu lagi bagus, gaji juga udah di atas gue dan pasti di atas karyawan yang lain juga kan?"
"Gue jenuh aja, Sin. Pengen cari suasana baru, canggung banget sama Hendi. Nggak nyaman kan kerja canggung gini," keluhnya seraya tertunduk.
"Ehem." Sontak mereka berdua menoleh ke arah suara. Ternyata Chandra sudah berdiri di belakang mereka.
"Eehh Bapak, hehe. Maaf pak, ta-di saya cari Pak Hendi." Hanna berkata seraya gugup.
"Masalah itu dihadapi, bukan dihindari." Senyuman lembut tersungging di wajah bos mereka itu.
"Mati gue! Kayanya pak bos denger omongan gue deh," gumam Hanna dalam hati. Ia menyenggol lengan Sinta.
"I-iya Pak, maaf, kita pamit dulu yah." Sinta membungkukkan badannya setengah berlari menuruni tangga yang disusul Hanna.
"Hanna tunggu!"
"Aduh! Panjang ini urusannya," gumamnya pelan.
"Fighting," ucap Sinta mengepalkan tangannya sambil terkekeh.
Chandra membuka pintu dan Hanna mengekor di belakangnya.
"Kamu kemaren kemana sama Hendi?" tanyanya saat mereka sudah duduk berhadapan.
"Gadis ini adalah orang terakhir yang gue lihat bersama Hendi, apa mungkin mereka main di belakang?" tanyanya dalam hati.
"Ada sedikit keributan sih Pak kemaren itu. Jadi, saya kan ngajuin surat resign dan Pak Hendi menolaknya. Lalu saya dipaksa buat ikut ke mobilnya, setelah ngobrol panjang lebar di jalan ya akhirnya selesai. Lalu, saya minta diturunin di pinggir jalan," terang Hanna melihat ke arah bosnya.
"Jam berapa itu?"
"Sekitar jam 7 kurang, Pak."
"Lalu siapa yang ngejar mobil kalian?" tanyanya lagi.
Hanna tampak berpikir sejenak.
"Itu Reyhan, Pak."
"Reyhan? Kalian masih sering berhubungan?"
"I-iya pak," jawab Hanna ragu.
"Mungkinkah Hendi ketemu Reyhan, terus dia nginep di rumahnya? Tapi setahuku hubungan mereka tidak sedekat itu," kata Chandra dalam hati.
"Jadi setelah nurunin kamu di pinggir jalan, nggak tau lagi tuh kemana perginya?"
"Enggak Pak, memang ada apa dengan Pak Hendi?" tanya Hanna penasaran.
"Apa lagi yang kali ini dilakukan Hendi? Terakhir dia nggak pulang, terjadilah pernikahannya dengan Siska. Jangan sampai kali ini akan menyebabkan masalah yang lebih besar lagi."
Bersambung...
__ADS_1
Haaaii semuanyaaa, sudah pencet like belom? Atau vote gitu? Atau kasih hadiah buat othor🤠ngarep banget yak hihi
Yuk jangan lupa jempol tersayangnya ya buat othor biar tambah semangat nerusinnya 🤗 Terimakasih semoga Allah mudahkan selalu urusannya. Aamiin.