Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Taktik Bulus


__ADS_3

"Halo, Rey. Hanna udah ketemu?" Sinta berdiri di depan lobi kantornya.


"Iya, Sin, Alhamdulillah udah. Ini gue baru keluar dari kostannya. Doi kecapean lemes banget badannya, jadi gue suruh istirahat." kata Reyhan menoleh kembali pada pagar hitam di belakangnya.


"Oh, syukur deh kalo udah ketemu. Tapi dia baik-baik aja kan?"


"Baik sih, cuma ya itu lemes aja. Udah gue ajak ke dokter malah nggak mau."


"Ya udah biarin dia istirahat dulu, abis ini ... lu mau kemana?" tanyanya ragu.


"Gue? Nggak tau nih, balik kayanya dari kemaren belum balik. Nyokap juga udah telepon terus, kerjaan juga numpuk dua hari gue tinggal. Kenapa emang?"


"Gue nebeng dong males naik angkutan nih," rengeknya.


"Oke, lu mau kesini atau gimana?"


"Jemput gue ke kantor bisa?"


"Mmm, ya udah." Agak ragu menjawab tapi akhirnya Reyhan mengiyakan.


"Thanks yaa," ucapnya dengan mata berbinar.


"Yoi," jawabnya singkat.


Mobil itu melaju menuju kantor Sinta, sahabat Hanna. Pada saat itu, tak ada pikiran apa-apa yang terlintas di benak Reyhan. Lain hal dengan Sinta, yang entah kenapa hatinya seolah bergerak melawan arus.


Dia tak sadar, hatinya mulai membuncah bahagia saat mendengar suara pria itu. Pikirannya selalu tertuju pada kekasih sahabatnya. Ada yang mulai nyaman dari kebersamaan tak sengaja itu.


Sinta tampak berlari ke dalam kantor menuju kamar mandi. Bedak dan lipstik ia keluarkan, lalu mulai memoles wajahnya yang tampak glowing terkena keringat.


Senyum sumringah terpancar jelas di rona wajahnya. Tak sadar ia menghabiskan waktu hampir 30 menit di dalam sana. Hingga kemudian suara ponsel mengagetkannya.


"Iya Rey, udah sampe?"


"Lu dimana? Gue di lobi," jawab Reyhan celingukan.


"Oke bentar, gue turun. Tadi abis selesaiin kerjaan dulu nanggung," kilahnya.


Reyhan duduk di ruang tunggu seraya mengeluarkan ponselnya. Selang beberapa menit, Sinta keluar dengan riasan flawless di wajahnya. Ia langsung duduk di sebrang Reyhan.


"Eh, ceritain dong Hanna gimana? Ko bisa dia ngilang sih?" Sinta menelisik penampilan Reyhan yang sedikit berantakan hari ini.


"Reyhan kusut banget pasti gara-gara mikirin si Hanna itu," batinnya.


"Dia diculik partner perusahaan sini juga katanya," jelasnya.


"What? Serius? Siapa?" tanyanya kaget.

__ADS_1


"Namanya Michael, CEO Gemilang Grup."


"Astaga, gila! Terus-terus?" Penasaran dia menggeser duduknya ke samping Reyhan.


"Sambil jalan yuk, udah sore nih nanti macet makin parah lagi." ajak Reyhan bangkit dari duduknya.


Sinta pun mengekor di belakangnya keluar kantor. Mereka tak menyadari sepasang mata tengah mengintainya.


Ya, Hanna memergoki mereka berdua keluar dari kantor. Saat hendak mendekat dia kalah cepat, keduanya telah masuk mobil dan melesat ke jalan raya.


Dengan tatapan heran dan hati bergejolak Hanna mengesampingkan urusan pribadinya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah sang Mama.


***


Hanna mengemasi beberapa bajunya ketika sampai di kostannya. Malam ini juga dia berniat pulang. Awalnya dia ingin meminta tolong pada Reyhan, tapi diurungkannya karena masih enggan mengurusi kejadian tadi.


Sesampainya di terminal, ponselnya berbunyi ada pesan dari Hendi atasannya.


"Kamu baik-baik aja?" tulisnya.


"Saya baik, Pak. Tapi, maaf saya ijin cuti seminggu yah. Ada hal penting yang mendesak, seperti yang saya tulis di email." balasnya.


"Oke, kamu hati-hati. Nanti saya suruh Sinta handle kerjaan kamu dulu."


"Baik, Pak. Terimakasih sebelumnya," tulisnya.


Di saat bersamaan, keluarga, pekerjaan dan cintanya sedang dikorbankan.


Selang berapa lama, bis itu pun melaju membelah jalanan malam. Sunyi senyap di dalam sana, hanya suara deru mesin yang terus menggetarkan jantung. Hanna mencoba terlelap tapi, matanya tak kunjung bisa terpejam.


Bayangan pria itu terus berputar di kepalanya, kelakuan bejadnya terbayang di pelupuk matanya.


"Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu pria sekejam Michael? Apa lagi skenario yang ada di depan sana?" tanyanya dalam hati merasa lelah dengan semuanya. Dalam hati yang risau ia pun tertidur.


***


Mobil mewah itu sampai pada sebuah gerbang yang tinggi dan lebar. Bu Ratna terlihat tak berkedip saat mobil itu masuk melewati taman dan perlahan menuju sebuah bangunan besar nan megah.


"Kita sudah sampai, Bu." ucap Agra membukakan pintu.


"Maa Syaa Allah, ini rumah siapa Mas?" tanyanya terkesima melihat kemegahan bangunan di depannya.


Ratna yang menggendong Anin keluar melihat takjub. Gadis itu nampak tertidur di gendongan sang nenek.


Agra dan juga pengawal lainnya, membawakan beberapa barang milik Bu Ratna.


"Ini villa milik Tuan Michael, Bu." jawabnya.

__ADS_1


"Apa ada orang lain selain kita?"


"Ada, ada beberapa penjaga dan asisten rumah tangga di sini." jelasnya.


Lagi-lagi mulut wanita paruh baya itu menganga saat pintu tinggi itu dibuka. Lampu hias yang menggantung di tengah terlihat sangat besar dan berkilauan seperti permata. Serta tangga yang melingkar ke lantai dua terlihat penuh ukiran estetik.


"Ayo Bu, saya antarkan ke kamar." ajak Agra sopan.


Saat melihat pemuda itu menaiki tangga, Bu Ratna berhenti.


"Mas, boleh saya minta kamar di bawah saja?" tanyanya ia berpikir jika sesuatu terjadi ia tak perlu menuruni tangga yang banyak itu.


"Tapi di bawah kamarnya kecil Bu. Tuan sudah siapkan kamar yang besar di atas sana."


"Nggak papa, yang penting bisa untuk tidur."


Namun saat memasuki kamar yang terletak tak jauh dari ruang tamu Bu Ratna masih saja tertegun.


"Segini kecil? Ya Allah ini mah 3x kamar saya Mas luasnya," celetuknya.


"Tapi yang atas jauh lebih besar, Bu."


"Tidak papa saya di sini saja," pintanya.


Ia lalu merebahkan Anin yang masih pulas di atas kasur.


Setelah memasukkan barang-barang milik Bu Ratna. Dua orang pria itu keluar rumah dan berhenti di dekat mobil.


"Gimana? Dapet surat-suratnya?" tanya Agra pada pria di sampingnya.


"Beres," jawabnya seraya menunjuk pada dadanya.


"Kita harus segera hubungi Tuan," kata Agra merogoh ponselnya.


"Sebentar deh, sebenernya rencana Tuan apa sih?" tanya pria berkumis tebal itu.


"Rumit pokoknya, gue aja nggak ngerti pikiran orang kaya!" jawab Agra memegang kasar kepalanya.


"Rumah itu mau direnov tapi kita disuruh ngambil surat-suratnya. Emang mau diapain?"


"Gue juga nggak tau detailnya, yang penting kita kerjakan aja sesuai perintahnya." pungkas Agra.


"Tadi juga iseng gue lihat denahnya kaya dibangun kantor gitu, Gra?"


"Nah itu dia yang gue bingungin. Udahlah gue mau telepon Tuan dulu sebelum suaranya dia nyampe duluan," kata Agra sedikit menjauh dari temannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2