
Semuanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Michael terlihat mencoba menenangkan dirinya dengan dada yang naik turun.
Rasa bahagia yang baru saja dirasakanya, harus tergantikan dengan kesedihan dan dilema dalam hatinya.
Tak berapa lama kemudian, suara ponsel Martin terdengar. Pria itu segera membukanya dan melihat sebuah pesan masuk. Matanya menyipit saat tengah menonton sebuah video yang dikirim anak buahnya.
Lalu ia terlihat menghubungi seseorang.
"Halo, Santo! Tahan gadis itu di rumah, jangan sampai dia keluar dari rumah saya sejengkal pun!" serunya lalu mematikan ponselnya.
"Lihat video ini!" Martin menyerahkan benda pipih itu kepada Michael.
Seketika matanya membola melihat dengan jelas tangan Jessica mendorong kuat istrinya hingga kehilangan keseimbangan. Di belakangnya Belinda ikut menonton seraya menutup mulutnya terkejut. Ia memejamkan matanya saat melihat tubuh menantunya berguling menyusuri tangga hingga ke dasar.
"Keterlaluan Jessica! Ini jelas banget dia memang niat menyelakai Hanna," ucap wanita itu melihat menantunya yang tidur menghadap jendela membelakangi mereka.
Meskipun matanya terpejam, tapi Hanna mendengar dengan jelas pembicaraan mertuanya itu. Dalam hatinya ia sedikit lega ada bukti kuat atas tindak kejahatan gadis tu.
"Ayo kita pulang akan kubereskan masalah ini," ajak Martin pada istrinya.
"Mommy jagain Hanna aja biar Michael yang temani Daddy yah," tawarnya melihat Michael.
Pria itu dengan sigap berdiri dan menuju pintu.
"Itu Daddymu dipegangin! Dia tadi nggak mau pakai kursi roda." seru Belinda pada sang anak.
"Loh, Daddy udah bisa jalan?"
Michael terkejut melihat ayahnya sudah bisa berdiri meskipun belum senormal dulu. Dan berjalan perlahan meski tertatih-tatih.
"Iya, kalau dibiasakan seperti ini kemungkinan Daddy bisa normal lagi," sahutnya bersemangat.
Kemudian anak dan ayah itu keluar pintu berjalan beriringan menuju parkiran.
Di dalam ruangan mereka berdua diam tanpa kata. Hanna masih saja memejamkan matanya menahan sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Sementara mertuanya terus mondar mandir memikirkan nasib Jessica.
"Bagaimana kalo sampe dia buka mulut pada Martin? Habislah aku! Gadis itu terlalu gegabah," bisiknya dalam hati.
"Hanna ... mommy keluar sebentar yah." ucapnya pelan melihat menantunya terpejam.
Lalu, dengan langkah pelan ia menuju pintu keluar.
Hanna yang menyadari tak ada orang membuka matanya dan berusaha duduk.
"Aw," gumamnya menahan sakit.
Ia terus memegangi perutnya, tak bisa bergerak leluasa.
"Permisi," ucap seorang suster yang masuk membawakan alat tensi.
"Bu Hanna, besok pagi jadwal kuret yah. Jadi nanti malam sudah mulai puasa," lanjutnya seraya mengecek tekanan darah pasiennya.
"Baik, sus."
"Apa di luar ada orang, sus?" tanyanya kemudian.
"Tadi ada ibu-ibu yang keluar dari sini jalan ke depan. Tapi nggak tau mau kemana," jawabnya.
"Apa dia ada hubungannya dengan tindakan Jessica?" tanyanya dalam hati.
Sementara di luar Belinda tengah menghubungi Jessica dengan cemas. Kepalanya terus menengok kanan kiri melihat situasi.
"Jessica, kamu cepat pergi dari situ!" serunya saat panggilannya sudah terjawab.
"Ini aku udah di mobil ko Tante, ada apa?" Suara di sebrang telepon menjawab.
__ADS_1
"Syukur deh kalo kamu udah keluar dari rumah," sahut Belinda lega.
"Memangnya ada apa, Tante?" tanya Jessica penasaran.
"Om Martin sama Michael sedang menuju ke rumah untuk menangkapmu. Apa yang kamu lakukan tadi terekam jelas di cctc, Jessica!"
"A-apa? Jadi cctv itu sudah dikirim ke Om Martin?" tanyanya seraya menginjak rem mendadak membuat mobil di belakangnya menabrak mobilnya.
"Ya sudah, si Santo yang mengirimnya tadi."
"Ah, sial! Bre***ek! Pria itu mengkhianatiku," maki Jessica dalam hati.
Tak lama jendelanya digedor seseorang membuatnya terkejut.
"Lalu, keadaan wanita itu gimana, Tante?" tanya Jessica menghiraukan teriakan dari luar.
"Dia selamat hanya saja janin dalam kandungannya tak tertolong," ujarnya pelan seolah menyesali sesuatu.
"What? Jadi Kak Hanna lagi hamil? Kenapa Tante nggak bilang?"
"Tante juga baru tahu tadi," sahutnya seraya tertunduk.
"Oke Tante, makasih informasinya. Udah dulu yah," ucapnya sembari mematikan panggilannya.
"Buka pintunya!" teriak seorang pria di samping mobilnya seraya menggedor jendela.
"Apes banget sih hari ini!" gerutunya kesal.
Ia lantas membuka pintu mobilnya perlahan.
"Owalah ternyata perempuan yang nyupir," keluh beberapa pria yang sudah mengelilingi mobilnya lalu membubarkan diri.
"Kenapa anda rem mendadak? Lihat bumper saya mau copot!" seru seseorang dengan badan besar.
"Saya nggak mau tahu pokoknya anda harus mengganti rugi kerusakan mobil saya!" lanjutnya masih dengan nada tinggi.
"Pasti Pak, saya pasti ganti kerugian Bapak. Berapa biayanya?" tanya Jessica cepat enggan berdebat.
Pria itu diam sejenak melihat bumper mobil miliknya dan mengamati sekitar yang mulai sepi.
"Sekitar 2 jutaan," katanya menelisik gadis di depannya.
"Sepertinya anak orang kaya duit segitu pasti bukan apa-apa bagi dia," bisik pria itu dengan menarik sudut bibirnya.
"Oke, Bapak sebutin nomor rekeningnya biar saya transfer."
"Woy minggir! Bikin macet aja!" teriak pengendara lain.
Mereka merasa risih karena harus bergantian menggunakan jalan dua arah itu.
"Tolong pinggirin dulu mobilnya!" teriak yang lainnya.
"Sebentar Pak, saya pinggirin mobil dulu." ucap Jessica kembali masuk ke dalam mobilnya.
Begitu juga pria itu, mereka mencari tempat yang lumayan kosong untuk parkir.
Ingin rasanya Jessica kabur meninggalkan orang itu, tetapi keadaan jalanan macet membuatnya tak bisa berkutik. Padahal ia belum begitu lama meninggalkan komplek perumahan elit milik keluarga Delopez. Hatinya was-was takut mereka menyadari kepergiannya.
Tadi dia segera menyelinap keluar rumah saat kedua satpam itu tengah di dalam ruang kendali.
Setelah mobil terparkir di tempat yang cukup luas Jessica kembali keluar. Orang yang menuntut ganti rugi pun segera menghampirinya menyerahkan secarik kertas.
"Silahkan transfer kesini," ucapnya.
Belum sempat Jessica mengirimkan uangnya tiba-tiba tangannya ditarik seseorang.
__ADS_1
"Mau kemana kamu?" teriak suara bariton yang sangat dikenalnya.
"Michael!" pekiknya dalam hati. Hal yang ditakutkan akhirnya terjadi.
Sontak gadis itu mendongak, matanya membulat saat pandangannya bertemu dengan Michael.
"Kak-"
"Ayo ikut!" perintahnya menarik kasar tangan mulus itu.
"Eeehhh tunggu!"
Pria yang tengah meminta ganti rugi itu mencegat mereka berdua dengan merentangkan tangannya.
"Gadis ini belum selesai urusannya dengan saya!" pekiknya.
"Ada apa emang?" tanya Michael melihat Jessica.
"Dia berhenti mendadak tadi, jadi bumper mobil saya menabraknya hingga hampir saja copot!" jelasnya menunjuk pada mobilnya.
"Oke! Cepat transfer dia 1 juta," perintah Michael pada gadis itu.
"Tapi, tadi bapak ini meminta 2 juta, Kak."
"Heh, anda mau meras?" bentak Michael melotot.
Pria itu terdiam gelagapan, biaya mengganti kerusakan mobilnya memang tak sampai 2 juta. Ia hanya memanfaatkan situasi.
"Satu juta juga cukup! Cepat transfer," katanya melihat Jessica yang masih memegang kertas bertuliskan nomor rekening.
Sementara Martin tampak gelisah di dalam mobil. Tadi dirinya yang melihat gadis itu tengah berdiri di pinggir jalan bersama seorang pria dengan keadaan mobil di belakangnya mengalami kerusakan di bumpernya.
Dengan sigap Michael segera menepikan mobilnya dan mendekati Jessica.
"Sudah saya transfer," kata gadis itu menunjukkan resinya pada si bapak tadi.
"Sudah selesaikan? Ayo ikuti aku!" perintahnya menarik tangan Jessica.
"Tapi mobilku, Kak."
"Biar Agra yang mengambilnya!"
Mereka berdua tampak berjalan menuju mobil di sebrang jalan. Martin sudah bersiap dengan kemarahan yang sudah memuncak.
"Kak, saya benar-benar tidak sengaja! Saya cu-"
"Diam!" seru Michael.
Selang beberapa menit kemudian mereka sudah di dalam mobil.
"Cepat ke kantor polisi!" seru Martin pada Michael tanpa menoleh pada Jessica yang duduk di belakang.
"Maafkan saya om, saya benar-benar tidak sengaja." ucapnya menyatukan kedua tangannya memohon.
Mereka berdua terdiam tak menghiraukan rengekan Jessica.
"Om, tolong maafkan saya. Tolong ampuni saya, saya janji akan menanggung semua biaya perawatan Kak Hanna." lanjutnya lagi.
"Lalu, apa uangmu bisa mengembalikan calon cucu saya? Hah!" bentaknya masih dengan pandangan ke depan.
Gadis itu tampak diam sejenak.
"Mmm ... Tentu saja tidak om, tapi diri saya bisa memberikan berapapun cucu yang om Martin inginkan." ucapnya memberanikan diri melirik Michael lewat kaca spion.
Bersambung...
__ADS_1