
"Sinta, sorry ... ini jadi canggung banget buat gue. Dan gue juga nggak ada perasaan lebih dari temen. Lagi pula semuanya belum berakhir, mana bisa memulai?"
"Belum berakhir menurut lu kan? Dia?"
"Ini sepihak dan gue yakin Hanna cuma lagi cape dan butuh istirahat. Lu sebagai temen deketnya kenapa malah ngejauh dan nusuk dia gini?" tegas Reyhan melihat gadis di sebelahnya tengah tertunduk.
"Gue juga ca...."
"Sebentar nyokap gue telepon," kata Reyhan memotong kata-kata Sinta.
"Iya, Ma, ada apa?"
"Rey, kamu udah pulang kantor kan?"
"Iya Mah, tapi Reyhan lagi ada urusan dan kayanya balik malem deh."
"Aduuhh, Mama lupa bawa dompet dan ini lagi di supermarket. Kamu nggak bisa mampir sebentar? Mama udah terlanjur belanja, pas mau bayar dompetnya nggak ada. Malu kan kalo dibalikkin lagi semuanya," keluh mama Reyhan.
"Lha ko bisa sih? Ketinggalan atau dicopet, Ma?"
"Nggak tau Mama lupa, seinget Mama sih dibawa tapi di tas nggak ada." Suara di sebrang telpon terdengar panik.
"Ya udah Mama tunggu yah, Reyhan mampir kesitu."
Pria itu pun mempercepat laju mobilnya, menghiraukan ucapan Sinta yang belum selesai itu.
"Gue mau jemput nyokap dulu, lu mau turun duluan atau gimana?"
"Mmm ... ngikut aja deh yah tanggung soalnya, ga papa kan?"
"Nggak papa sih, ya udh."
Akhirnya mereka terdiam larut dalam pikiran masing-masing.
Hati Sinta deg-degan nggak karuan, akan bertemu dengan mamanya Reyhan. Ia harus bisa memberikan kesan pertama yang baik, agar bisa mendapatkan hatinya. Jika lewat anaknya nggak mempan, maka jalan satu-satunya adalah lewat ibunya.
"Bentar ya gue masuk dulu," kata Reyhan setelah sampai di sebuah supermarket.
"Oke," jawab Sinta singkat.
Setelah Reyhan keluar ia cepat-cepat memperbaiki riasannya yang berantakan karena air mata tadi. Dan pindah ke jok belakang.
Beberapa lama kemudian terlihat Reyhan dan seorang wanita paruh baya tapi masih tetap cantik dan bugar menuju mobil.
Setelah di dalam mobil dan duduk di samping kemudi, ia kaget ada seorang gadis di jok belakang.
"Sore tante," sapanya ramah.
"Iya, sore," jawabnya singkat. Ia menantikan penjelasan Reyhan yang sedang menyimpan belanjaan di bagasi.
Tak lama kemudian pria itu sudah duduk di belakang kemudinya dan mulai menjalankan mobilnya.
Sejenak suasana menjadi canggung.
"Kenalin mah ini Sinta temen kantorku dulu," ucap Reyhan akhirnya memperkenalkan gadis di belakangnya.
"Salam kenal tante." Gadis itu menyalami ibunya Reyhan dengan sopan dan senyum yang terus mengembang.
"Temen kantor dimana?"
"Dulu waktu di Yukka."
"Ooh ... ini kalian lagi mau pergi kemana?"
"Engga ko tante, saya baru pulang kerja dan nebeng Reyhan. Kebetulan rumah kita searah," jelasnya.
"Oohh gitu," jawabnya singkat seraya melirik Reyhan yang merasa kaku.
"Jadi urusan kamu yang sampai malem apa? Ini maksudnya?" tanyanya pada anak laki-lakinya itu.
__ADS_1
"Kepo ih," jawabnya ngeledek.
"Ya kan kepo sama anak sendiri, bukan anak tetangga."
"Reyhan mau ketemu Hanna, Ma. Kasian dia lagi ada masalah," jelasnya kemudian.
"Masalah apa?"
"Nanti deh Reyhan cerita yah."
Mereka bertiga kembali saling terdiam.
Tak berapa lama kemudian Sinta turun karena sudah sampai di depan gang rumahnya.
"Thanks ya Rey. Tante mari mampir," ajaknya.
"Iya, lain kali yaa."
Sinta pun tersenyum ramah dan keluar dari mobil Reyhan.
"Dia sudah menikah?" tanya mama Reyhan saat mobil mereka sudah kembali melaju.
"Belum Ma,"
"Masih gadis?"
"Ya nggak tau gadis atau engganya mah, yang pasti sih belum pernah denger menikah apalagi punya anak."
"Ih kamu, jawabannya gitu amat."
"Ya mana Rey tahu, Mama nanyanya aneh-aneh aja."
"Mama kan cuma nanya udh gadis apa janda, masa aneh?"
"Ya iyalah, Rey mana tahu kehidupan pribadinya."
Reyhan terdiam, dia sudah bisa menebak ke arah mana bahasan sang mama.
Dalam pikirannya saat ini adalah Hanna.
"Jika kesempatan itu memang tidak ada, akan kubuat sendiri." pikirnya.
***
"Mom, David sudah sampai. Dia lagi di ruangan Daddy," ucap Laura.
Martin memang sudah dipindahkan dari ruang ICU, karena keadaannya sudah stabil.
"Oke, kamu jagain Michael ya, Mommy mau ketemu David."
"Aku ada kerjaan di kantor, Mom. Paling nanti Agra yang di sini, kerjaan Michael juga terbengkalai kan. Tadi sih David bilang mau coba ke kantor," terang Laura.
"What? David mau ke kantor? Serius?" Mata sang Ibu berbinar.
"Tadi sih yang Laura dengar begitu, Daddy juga yang nyuruh."
"Oke, Mommy mau kesana dulu yah."
Wanita itu pun keluar ruangan dengan antusias mendengar anak bungsunya sudah mau mengambil alih pekerjaan sang ayah.
"Daddy sudah siuman?"
Michael ternyata tidak tidur meski matanya terpejam.
"Sudah. Tadi mereka terlihat ngobrol serius," jawabnya sambil memainkan ponselnya.
"Kamu ke kantor aja, tolong titipkan dokumen yang ada di meja pada Agra."
"Udah Kakak istirahat. Nanti biar David yang coba handle."
__ADS_1
"Apa yang bisa dia handle? Anak ingusan itu ngerti apa soal perusahaan? Jangan pertaruhkan citra perusahaan hanya karena orang yang nggak kompeten!"
"Emang dia se-kompeten apa? Ngatain adiknya kaya gitu, dasar egois!" umpat Laura dalam hati.
"Kenapa Kakak nyolot gitu? Aku kan cuma menyampaikan apa yang Daddy bicarakan tadi," ucapnya kesal.
"Kuliah aja sering bolos mau ngelola perusahaan. Suruh dia balik, jangan sampai cuti kuliahnya molor sampe bertahun-tahun."
"Kalo lagi ngomongin orang nggak ngaca sendirinya, dulu pun kakak begitu kan?" ejek adiknya.
"Tapi Kakak bisa selesai sesuai target yang Daddy berikan," tegasnya.
"Tau ah, cape ngomong sama orang egois. Lagi sakit juga bukannya sadar masih aja nyolotan," tukas Laura hendak pergi menuju pintu.
"Panggil Agra ke sini," perintahnya lagi.
Laura paham betul sifat Kakaknya itu, apa yang ada di pikirannya harus dituruti.
Dia pun keluar ruangan disusul Ratna yang menggendong Anin dari belakang.
"Ibu mau kemana?" tanyanya.
"Suami saya sedang menunggu di bawah. Jadi saya mau nyusul beliau," jawabnya tergesa.
"Wah, sepertinya akan ada perang di ruangan ini. Harus pindahin Michael segera," batinnya.
Laura menemui Agra yang standby di depan ruangan kelas satu itu.
"Kamu dipanggil Michael," ucapnya pada pemuda itu.
Dengan segera ia memasuki kamar. Sedangkan Laura berlari ke ruangan ayahnya menyusul sang Ibu.
"Tuan memanggil saya?" tanya Agra saat sudah di depan bosnya itu.
"Bawakan dokumen yang ada di meja ruangan saya. Dan hubungi Ansell apakah dokumen dari dia sudah selesai," katanya sambil mencoba duduk dengan susah payah.
"Apa Tuan akan bekerja dengan keadaan seperti ini?"
"Nggak usah banyak omong, cepat bawakan! Jangan sisakan satu lembar pun," serunya lagi.
"Ba-baik, Tuan. Di luar ada Gerdy, jika tuan butuh apa-apa panggil saja."
Pria itu segera keluar kamar dan memerintahkan temannya untuk berjaga di ruangan itu.
Suasana hening sejenak, Michael tampak mendengus kesal.
"Jadi, Anda takut David akan mengambil alih perusahaan?"
Hanna yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka buka suara dari balik tirai.
Michael terlonjak kaget, ia tak menyadari bahwa ada pasien lain di dalam kamarnya.
"Ini bukan tugasnya," jawab Michael santai yang dipaksakan.
"Kesempatan akan berpihak pada siapa yang lebih kuat," tukas Hanna.
"Urus saja lukamu. Saya yakin lebih kuat dari siapapun," katanya sambil meringis menahan tangannya yang ia coba gerakkan.
"David tidak boleh menyentuh apa yang seharusnya jadi milikku. Aku harus secepatnya pulih dan menikah dengan wanita itu, agar Daddy tidak ragu mempercayaiku." gumamnya dalam hati.
"Rupanya kau sangat ketakutan jika perusahaan lepas dari genggamanmu. Baiklah, akan kuterima tawaranmu itu dan kubuat duniamu jungkir balik," kata Hanna dalam hati.
Terdengar suara pintu terbuka.
"Oohh jadi ini anak kurang ajar yang sudah membuat rumah saya hancur berantakan? Hari ini, akan kubuat hidupmu hancur!" umpatnya.
Tiba-tiba Adri suami Ratna datang ke bed Michael dengan berkacak pinggang. Dia semakin mendekat. Tangannya gemetar menahan emosi bersiap hendak melayangkan tinju ke wajah pria itu.
Bersambung...
__ADS_1