Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Dingin yang Menghangat


__ADS_3

Saat bulan naik menggantikan sang matahari, langit pun menjadi gelap. Angin berembus sejuk menusuk kulit. Kerlipan bintang terlihat sayup di kejauhan.


Reyhan berjalan gontai menuju mobilnya, diikuti kedua orang tuanya dari belakang. Mereka tak berhenti bersungut menyayangkan sikap Hanna yang tak menghormatinya.


"Wanita seperti itu yang kamu pilih, Rey? Yang bahkan tidak bisa menghargai Mama dan Papamu ini," ucapnya lagi saat mereka sudah di dalam mobil.


"Papa mengerti hatinya mungkin terluka oleh wanita tadi. Tapi setidaknya dia bisa tetap duduk dan melanjutkan pembicaraan, bukan pergi meninggalkannya begitu saja." Sang Papa menimpali.


"Lagipula wanita itu wajar sakit hati, Rey. Sekarang istri mana yang tidak sakit hati, jika suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Apalagi sampai memiliki anak."


"Harusnya dia bisa ...."


"Cukup Mah! Pah!" teriak Reyhan menepikan mobilnya.


Sang Mama yang duduk di sampingnya terkejut mendengar bentakan dari anaknya. Begitupula papanya yang duduk di belakang, dia melirik sang istri.


Reyhan terlihat menyandarkan kepalanya di balik kemudi. Raut kesedihan terlihat jelas, ia memejamkan matanya dan mengusap wajah dengan kasar. Setelah semua terdiam, dia kembali menjalankan mobilnya.


"Kami membesarkanmu tidak untuk ini, Reyhan." Papanya membuka percakapan setelah mereka terdiam cukup lama.


"Maafkan Reyhan, Pah, Mah."


"Kamu memang sudah dewasa, punya pemikiran sendiri, keinginan sendiri sampai menentang saran dari kami. Tapi ingat, baktimu kepada orang tua jangan pernah kau tinggalkan." Papanya mengingatkan.


"Sekarang semua terserah kamu, jika masih ingin melanjutkan hubunganmu dengan Hanna Mama bisa apa?" Ia nampak pasrah bersender pada kursinya.


"Hanya saja, ada rasa tidak rela kamu lebih memilih wanita lain yang baru masuk di hidupmu beberapa tahun ini. Ketimbang wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanmu." lanjutnya lagi.


"Ma, Mama itu bukan pilihan tapi kewajiban. Tak akan ada satu wanita pun yang bisa menggeser atau bahkan menggantikan posisi Mama di hati dan hidup Reyhan." Mata lelaki itu tampak berkaca-kaca memandang lurus jalanan yang masih sepi.


"Mama dan Hanna itu berbeda tempat dan memang saling melengkapi. Jadi tolong jangan pernah menyuruhku memilih dalam hal ini." pinta Reyhan memelas.


Semua terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Sesulit inikah jalan yang kulalui untuk bersamamu, Hanna. Akankah takdir menyatukan kita dalam satu ikrar?" bisik Reyhan dalam hati.


***


Di Rumah Sakit


"Kamu bisa berenti nggak sih menatapku?" protes Hendi yang mulai pegal menyembunyikan wajahnya di balik laptop.


"Menatapmu? Aku loh liat tv, siapa yang menatapmu?" kilah Siska menunjuk pada televisi yang digantung di atas Hendi duduk.


"Nonton tuh matanya ke atas jelas-jelas dari tadi ke saya," jawabnya mengalihkan pandangan.


"Oohh jadi dari tadi kamu ngeliatin aku terus? Kenapa? Susah ya mau minta maaf?"


Hendi terdiam pandangannya kembali menyapu ke segala arah.


"Makasih yah, kamu udah peduli sama aku dan anak ini. Nggak perlu sulit untuk merangkai kata, aku sudah memaafkanmu." kata Siska dengan seutas senyum simpul.


"Terkadang, kata-kata manis akan kalah dengan perbuatan yang tulus." lanjutnya melihat Hendi yang masih saja terdiam.


"Jaga kesehatanmu, jangan sampai hal ini terulang lagi." ucapnya kemudian masih bersikap dingin.

__ADS_1


"Bisakah kamu menjaga sikap? Agar hal ini tak terpicu olehnya?" Siska bertanya balik, pandangannya penuh harap pada suaminya itu.


Hening tak ada jawaban.


"Aku akan mencobanya," jawab Hendi tanpa melihat Siska.


Sebuah garis lengkung terlihat di wajah wanita itu.


"Apa kita nanti akan pindah rumah?" tanyanya lagi.


"Iya, aku sudah siapkan semua."


"Itu artinya kamu akan meninggalkanku di sana? Seperti yang pernah kamu katakan," kata Siska sedikit bergetar.


Hendi terdiam lagi, kini dia melihat mata istrinya lekat.


"Mungkin kamu yang akan meninggalkanku jika tau penyakit ini bersarang di tubuhku," bisiknya dalam hati.


"Aku tak akan meninggalkanmu," jawabnya kemudian.


"Apa yang membuatmu berubah?" Matanya berkaca-kaca tak kuasa menahan haru.


"Penyakit ini," bisiknya lagi dalam hati.


Ingin sekali rasanya mengatakan semuanya pada Siska, tapi sekarang ini belum saatnya. Dia harus melihat wajah sang anak. Entah kenapa, hatinya menjadi rapuh dan berubah 180 derajat saat kematian membayang-bayangi hidupnya.


Meski ia ingat perkataan dokter, bahwa harapan hidupnya masih panjang. Dan belum tentu virus itu menjadi AIDS. Tapi, Hendi memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi.


"Kamu tak bisa menjawabnya?"


"Apa hakku juga bisa kau penuhi?" tanyanya lagi.


"Jangan meminta lebih dari apa yang saat ini aku berikan."


"Kenapa? Wanita itu masih memenuhi hatimu?" Tatapan Siska sendu melihat Hendi.


Hening sejenak, Hendi tampak sedang serius mengetik di laptopnya.


"Kau akan menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku," jawabnya tanpa menoleh.


"Apa? Kamu pikir aku percaya? Melihat sikap dinginmu padaku selama ini?" Siska terkekeh mendengar jawaban Hendi.


"Aku tak memintamu percaya," jawabnya.


Kini Siska yang terdiam, dia mencoba bangun dari tempat tidurnya. Tapi, baru saja kakinya menginjak lantai ia terjatuh karena masih lemah.


"Kamu apa-apaan?" tanya Hendi yang terkejut segera membantu istrinya bangun dan menempatkannya kembali di atas ranjang.


"Cium aku," pintanya memegang kemeja suaminya.


Deg. Hendi tersentak. Reflek mundur menarik kemejanya. Namun, Siska terlebih dahulu menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.


Bibir mereka tak sengaja bertemu. Sebuah kecupan lembut mendarat di sana. Segera Hendi menggeserkan kepalanya.


"Biarkan sebentar saja seperti ini, aku merindukanmu." bisik Siska tepat di telinga suaminya. Lalu ia menggantungkan tangannya di leher Hendi.

__ADS_1


Tubuh lelaki itu tampak kaku, kecanggungan terlihat jelas di wajahnya. Mulutnya diam membisu. Hanya debaran jantung yang seakan bekerja lebih keras.


"Badan kamu panas sekali, Hen?" Siska yang menyadari suhu tubuh suaminya segera melepaskan tangannya lalu menempelkannya pada dahi.


Tak berselang lama, pintu diketuk. Munculah Viona membawa tas dan dua kotak makan.


Hendi dan Siska sontak mundur saling berdehem. Viona memperhatikan gelagat aneh keduanya.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu di antara mereka, ah, harusnya aku menahan diri lebih lama lagi tadi." gumamnya dalam hati.


"Gimana keadaanmu, Sis?" tanyanya saat di tepi ranjang setelah menyimpan bawaannya di meja.


"Siska baik, Tante. Besok juga udah boleh pulang. Maaf yah jadi ngerepotin," ucapnya lirih seraya tertunduk.


"Kamu ini ngomong apa sih? Kalian kan keluarga kami jadi tak ada yang namanya direpotin. Oh iya Hen, tadi Om telepon katanya kamu nggak enak badan?"


"Enggak kok Tante, Hendi baik-baik aja."


Viona mendekati keponakannya dan meraba keningnya. Sontak Hendi mundur menghindarinya.


"Iya loh panas banget, Hen. Udah pulang sana, biar Tante yang jagain Siska." kata Viona menutup laptop Hendi dan memasukkan ke dalam tasnya.


"Tapi, Tante ...."


"Udah sana, kamu istirahat. Pasti kecapean kan? Atau mau sekalian berobat ke dokter dulu?"


"Nggak usah deh, Hendi langsung pulang aja. Setelah istirahat nanti juga bakalan membaik," kilahnya mengemasi barangnya.


Sekilas ia melirik Siska yang juga tengah melihatnya.


"Aku pulang dulu," ucapnya pada Siska yang dijawab anggukan kepala.


"Nanti malem biar Hendi aja yang jaga, kasian Om Chandra ditinggal sendirian."


"Kasian Om Chandra atau kangen istri kamu?" ledek Viona.


"Apaan sih, Tante." Hendi ngeluyur membuka pintu.


Di dalam Viona dan Siska terkekeh melihat Hendi dengan raut wajah yang memerah.


"Dia sudah berubah, Tante." Dengan wajah berbinar ia menatap punggung suaminya yang hilang di balik pintu.


"Benarkah? Syukur deh kalo gitu. Mungkin Hendi ngerasa bersalah karena sudah membuatmu sakit seperti ini," ucap Viona membuka kotak makan.


"Benarkah dia ngerasa bersalah? Bukan karena wanita itu yang mungkin saja sudah menolaknya? Atau bahkan membencinya?" tanya Siska dalam hati.


"Siska malah semakin khawatir, ada apa dibalik perubahannya ini?"


Bersambung...


Alhamdulillah, terimakasih readers baik hati sudah menyelami sampai sejauh ini. Sarangeeoo❤


Cieee, ada yang udah baikkan ya gaes. 🤭


Nggak lama kayanya bakal ada adegan hot ini mah 😆

__ADS_1


Nyookk udah pencet jempol kan? Kalo belom sok atuh 🤗


__ADS_2